Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Terpaksa


__ADS_3

"TIDAK! Aku tidak bisa membantumu," tolak Miller mentah-mentah.


Miller berjalan ke sisi lain dan memalingkan wajahnya dari Jordan dan Katterine. Ia baru saja tiba di istana Cambridge. Tujuannya ke sana hanya satu. Meminta maaf dan menunjukkan rasa tulusnya kepada keluarga kerajaan. Tidak di sangka ia mendapat permintaan yang begitu unik dan membingungkan.


"Sebenarnya kalian ini kakak dan adik punya penyakit apa? Kau tampan dan kau sangat cantik. Kenapa dalam hal percintaan kalian diragukan oleh orang yang kalian cintai?" sambung Miller lagi.


Katterine melempar Miller dengan bantal kursi. Wanita itu beranjak dari duduknya. "Bilang saja kalau kau takut dengan Oliver," sindir Katterine. Wanita itu melipat tangannya di depan dada. "Aku tahu Oliver memang pria tangguh tak terkalahkan. Kau tidak akan berani menentangnya, bukan?" sambung Katterine lagi.


"Hei Putri, ini bukan masalah berani atau tidak berani. Tapi aku datang ke sini untuk minta maaf bukan larut dalam permainan ini," jawab Miller dengan wajah kesal.


"Kau harus ingat Miller, kalau kau datang ke sini untuk meminta maaf. Dan ... kami tidak akan memaafkanmu jika kau tidak membantu kami nanti," sambung Jordan dengan tatapan yang serius.


"What? Mana bisa seperti itu!" Miller membuang napasnya dengan kasar. "Entah apa yang merasuki pikiran kalian! Kalian memang cocok menjadi kakak adik. Selain suka memaksa kalian juga suka mengancam," sindir Miller lagi.


"Jadi, kau mau membantuku?" tanya Katterine dengan wajah bersungguh-sungguh. Wanita itu berdiri di hadapan Miller dan berharap mendapat persetujuan.


"Oke, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Miller dengan wajah serius. "Aku hanya bisa membantumu selama satu minggu. Setelah waktunya berakhir, berhasil atau tidak bukan urusanku lagi"


"Baiklah, terima kasih Miller. Selain tampan kau memang pria yang baik hati. Aku sungguh bahagia bisa mengenal dirimu dan menjadikanmu saudara," ucap Katterine dengan hati berbunga-bunga. Bibirnya mengukir senyuman bahagia.


Miller semakin kepedean ketika mendengar pujian Katterine. Pria itu merapikan jas yang ia kenakan. Ia berdiri di depan cermin yang tidak jauh dari sana untuk melihat penampilannya.


"Aku ini memang polisi terbaik yang memiliki paras nyaris sempurna. Kau tidak salah memilihku, putri. Kita akan menjadi pasangan yang sangat serasi mulai detik ini," ucap Miller lagi.


"Ya, kau memang tampan. Tapi sayang, kau tidak memiliki kekasih hingga sekarang," ledek Jordan sambil berlalu pergi.


Miller mengeryitkan dahinya. "Hei Pangeran! Kau juga belum resmi pacaran dengan Leona. Jadi jangan menyindirku seolah kau pria yang sudah memiliki pacar!" protes Miller tidak terima.


Jordan menghentikan langkah kakinya. Pria itu menatap Miller dengan tatapan yang tajam. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras hingga akhirnya membuat Miller ketakutan.


"Aku hanya bercanda, jangan serius seperti itu," ucap Miller dengan gugup. Pria itu menarik tangan Katterine. "Putri, ayo kita mulai berakting. Aku merasakan sebuah firasat buruk di ruangan ini."

__ADS_1


Katterine tertawa kecil. Ia mengikuti langkah kaki Miller yang saat itu membawanya menuju ke arah lapangan tempat Oliver biasa berlatih menembak.


Jordan kembali mengatur rasa kesalnya ketika melihat Miller dan Katterine menjauh. Tiba-tiba saja ia ingat dengan Leona lagi. Memang hingga detik ini wanita itu tidak juga mau menjawab pertanyaan. Leona seolah menggantung hubungan mereka saat ini.


"Sepertinya aku harus segera menagih jawaban agar mendapat kepastian darinya," gumam Jordan di dalam hati.


***


Oliver terlihat sangat serius dalam membidik targetnya yang ada di depan. Sorot matanya yang tajam berpadu dengan ekspresi wajahnya yang tenang. Dia memang pantas di bilang pria es.


DUARRR


Oliver melepas tembakan ke arah bidik sasarannya. Seperti biasanya. Hanya sekali saja menarik pelatuk senjata apinya, ia sudah berhasil melumpuhkan targetnya. Bibirnya mengukir senyum puas ketika buah jeruk yang ada di hadapannya terpental hingga jauh.


"Bravo!" Miller tiba-tiba muncul. Pria itu bertepuk tangan untuk memberikan ucapan selamat kepada Oliver. Di sampingnya ada Katterine yang mengukir senyuman indah sambil memandang wajah Oliver.


Oliver memandang wajah Miller sejenak sebelum membidik lagi sasarannya. Ia tidak ingin latihannya yang belum selesai segera berakhir hanya karena kehadiran Katterine dan Miller.


Miller memperhatikan koleksi senjata api Oliver yang tertata rapi di atas meja. Ia kenal dengan semua senjata yang ada di sana. Selain diminati karena modelnya, senjata itu juga tidak sembarang bisa dimiliki. Hanya aparat negara yang bisa memilikinya. Berbeda dengan Oliver yang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Lakukan saja jika kau bisa," ucap Oliver sebelum membidik lagi sasarannya.


Katterine memandang wajah Oliver tanpa berkedip. Semakin hari perasaannya terhadap Oliver semakin bertambah. Katterine ingin segera menjadi kekasih pria tangguh itu. Ia ingin bermanja layaknya wanita pujaan dan mendapat perhatian lebih dari Oliver.


Miller mengatur napasnya. Pria itu juga terlihat serius saat memikirkan sesuatu. Hingga tiba-tiba saja. Ia bernyanyi. Ya, Miller bernyanyi. Tidak tahu tujuannya apa menyanyi saat itu.


I need somebody to heal


Somebody to know


Somebody to have

__ADS_1


Somebody to hold


It's easy to say


But it's never the same


I guess I kinda liked the way


you numbed all the pain


Lagu : Someone you loved by Lewis Calpadi


Hanya beberapa lirik saja yang ia nyanyikan sudah berhasil membuat Oliver menghentikan aktifitasnya. Pria itu memandang wajah Miller dengan tatapan yang serius. Sama dengan Oliver, Katterine juga memandang wajah Miller dengan wajah kagum. Ia tidak menyangka kalau Miller memiliki suara yang sangat bagus.


"Jangan memujiku karena kalian bukan orang pertama yang mengatakannya," ucap Miler penuh percaya diri.


Oliver mendengus kesal mendengar perkataan Miller. Pria itu meletakkan senjata apinya dan berjalan mendekati posisi Miller berada. Ia memandang wajah Katterine sejenak sebelum memandang Miller lagi.


"Untuk apa kau ke sini? Apa kau merencanakan sesuatu?" ledek Oliver dengan tatapan menyelidik.


Miller mengangguk pelan. "Ya." Tiba-tiba saja Katterine menyenggol lengan Miller. Wanita itu tidak mau Miller membongkar rahasia mereka. Miller tersadar. Pria itu memandang wajah Katterine sebelum Oliver lagi. "Aku ke sini untuk meminta maaf. Kau pasti tahu mommyku bukan? Dia yang memaksaku untuk melakukan semua ini. Padahal sejak awal aku sudah bilang kalau semua orang pasti sudah memaafkanku."


"Kau terlalu percaya diri!" ucap Katterine tidak setuju.


"Oliver, apa kau sibuk? Aku ingin jalan-jalan. Istana ini memang luas, tapi cukup membosankan. Tadinya aku ingin membawa Katterine untuk menemaniku. Tapi, setelah aku pikir-pikir. Membawamu juga tidak jadi masalah. Kau bisa menjadi supir pribadiku nanti." Miller menarik turunkan alisnya dengan wajah meledek.


Oliver membuang tatapannya ke arah lain. Sejak kenal dan akrab dengan Miller, pria itu tidak lagi mau mempermasalahkan sikap Miller yang terbilang konyol itu.


"Oke, baiklah. Ayo kita jalan," ajak Oliver. Pria itu memegang tangan Katterine dan membawanya pergi.


Katterine memutar kepalanya dan memandang wajah Miller. Ia mengukir senyuman penuh arti. Miller melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah puas. Ia merasa kalau pekerjaan yang kini ia terima tidak sesulit yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Hanya sedikit percikan saja maka semua akan beres dan aku bisa pulang," gumam Miller di dalam hati sembari mengikuti langkah kaki Oliver dan Katterine dari belakang.


__ADS_2