
Pendekar tersebut tidak percaya saat melihat adik seperguruannya tewas ditangan seorang anak kecil.
Pendekar tersebut menatap Chinmi dengan tatapan kemarahan, "Kau harus mati..!" ucapnya kemudian melemparkan beberapa jarum kecil kearah Chinmi.
Chinmi yang baru menyerap separuh dari mustika abu-abu langsung menghidari jarum-jarum tersebut. Jarum-jarum kecil tersebut mengenai salju dan seketika itu juga salju tersebut berubah warna menjadi hitam.
"Kenapa mereka semua senang sekali menggunakan racun?" gerutu Chinmi saat melihat jarum tersebut mengenai salju.
"Jangan pikir kamu bisa lolos dariku..!" Pendekar tersebut terlihat sangat marah sehingga tidak berniat untuk melepaskan Chinmi.
"Kuku Jarum Laba-Laba."
Pendekar tersebut mengenakan sarung tangan berwarna hitam yang diujung jarinya ada jarum yang muncul, Pendekar tersebut segera menyerang Chinmi dari jarak dekat, dia berusaha untuk menusuk kulit Chinmi dengan jarum yang berada di jari-jarinya.
Chinmi sendiri tidak memiliki pilihan lain selain menghindari serangan tusukan jarum beracun tersebut dengan cara menghindar secepat yang ia bisa.
"Jika sampai aku terkena satu tusukan saja, maka habis sudah riwayatku."
Chinmi berusaha untuk tetap tenang dan berusaha menghindari serangan jarak dekat lawannya. Melihat lawannya lebih memilih untuk menyerang dari jarak dekat, Chinmi berasumsi jika pendekar tersebut tidak memiliki Ilmu Sihir.
Chinmi mulai membalas serangan pendekar tersebut dengan jurus pedangnya yang ia pelajari dari Ji Long.
Chinmi menebas telapak tangan pendekar tersebut berusaha memotong telapak tangannya, namun ternyata sarung tangan pendekar tersebut sangatlah keras seperti besi baja.
Chinmi merasa kesulitan untuk menggunakan jurusnya, itu semua karena Qi nya masih belum pulih, bahkan saat ini Qi yang ia miliki masih belum sampai separuh.
Pendekar Menengah yang menjadi lawannya memang tidak bisa menggunakan Sihir Elemen, namun kecepatan fisiknya sangat luar biasa, bukannya hanya cepat dan kuat, namun sarung tangannya juga mendukung kekuatannya.
"Energiku masih belum cukup untuk menggunakan jurus itu, jika begini..!"
Chinmi melompat sejauh mundur sejauh Lima meter kemudian menyarungkan kembali pedangnya. Chinmi berencana untuk menggunakan serangan tendangan serta pukulan yang ia pelajari dari Li Fang.
"Dasar bodoh, kamu pikir tanpa pedangmu kamu bisa menahan seranganku?" kata Pendekar tersebut kemudian kembali menyerang Chinmi.
Chinmi mulai mengepalkan kedua tangannya dan mengalirkan sedikit energi untuk kearah kaki serta tangannya.
__ADS_1
Dengan kaki yang sudah dialiri energi, gerakan Chinmi menjadi dua kali lipat dan dia segera maju menyambut serangan pendekar tersebut.
Pendekar tersebut mengangkat cakar jarumnya dan mengarahkan kearah kepalan Chinmi. Tanpa merasa takut membentur cakar jarum beracun tersebut, Chinmi pun melepaskan pukulannya dengan sangat keras.
"Sihir Bumi, Pukulan Penghancur Gunung."
Pendekar tersebut terkejut ketika Chinmi menyebut sihir Bumi, namun cakaran jarum berancunnya sudah dekat dengan kepalan tangan Chinmi sehingga merasa mustahil untuk bisa menghindari serangan dari Chinmi.
Jdarrr!!!
Kepalan tangan Chinmi yang sudah ditutup oleh gumpalan debu halus yang sudah memadat saling beradu dengan cakar jarum beracun milik pendekar tersebut, ledakan benturan segera mengisi udara dan setelah itu, Pendekar tersebut terpental hingga 3 meter kebelakang.
Sarung tangan pendekar tersebut ternyata baik-baik saja, namun pendekar tersebut merasakan sakit dipegelangan tangannya.
"Anak ini memiliki dua elemen pusat Roh?" pendekar tersebut terkejut, karena sejak awal ia memperhatikan Chinmi yang sering menggunakan energi angin, namun sekarang dia juga bisa menciptakan sihir elemen yang berbeda dan berlawanan.
"Sepertinya aku dan adikku terlalu meremehkannya."
Kini Pendekar tersebut mengerti kenapa adiknya bisa kalah dan mati oleh Chinmi, itu dikarenakan dia dan adiknya terlalu menganggap remeh kekuatan Chinmi.
Andai saja tadi dia tidak menggunakan sarung tanganya, sudah pasti pergelangan tangannya pasti akan hancur saat berbenturan dengan energi Chinmi.
"Rasakan ini bocah."
"Jurus Seribu Jarum Beracun."
Pendekar tersebut melemparkan satu jarum tersebut, kemudian jarum merah tersebut merubah menjadi sangat banyak.
Chinmi tidak menyangka jika pendekar tersebut masih memiliki ilmu lain, bahkan sebelumnya Chinmi menganalisa lawannya tersebut seperti tidak bisa menggunakan serangan jarak jauh, namun sekarang pendekar tersebut ternyata juga bisa menyerang dari jarak jauh.
Chinmi tidak mau mengambil resiko untuk menyambut serangan jarum yang sudah banyak jumlahnya.
Chinmi berusaha menangkis dan menghindari jarum beracun yang tidak ada habis-habisnya, dengan wajah kesal Chinmi terpaksa melepaskan jurus pedangnya yang tidak ingin ia gunakan.
"Pedang Pusaran Angin."
__ADS_1
Chinmi menggunakan seluruh energi yang tersisa. Chinmi memutar pedangnya kedepan dan tercipta pusaran angin yang sangat besar menerjang ribuan jarum yang mengarah padanya.
Pendekar tersebut langsung menjauh secepat mungkin agar tidak terkena pusaran angin tersebut, sayangnya keberuntungan justru berpihak kepada Chinmi.
Pusaran angin besar tersebut memang tidak sampai mengenai lawannya, namun beberapa jarum yang digulung oleh angin Chinmi mengenai pendekar tersebut.
"Argh sialan..!" gerutu pendekar tersebut kemudian mengeluarkan botol kecil dari balik jubahnya.
Chinmi segera melemparkan pedangnya sehingga mengenai botol tersebut hingga terlempar jauh dan kemudian pecah.
"Ka... kau!" Pendekar tersebut sangat panik.
Di dalam botol tersebut adalah sebuah cairan penawar racun dari jarum merah tersebut, racun yang ada di jarum merah adalah jenis racun yang mematikan. Reaksi racun tersebut sangat cepat.
Jika terkena satu jarum saja maka korban harus secepatnya meminum penawar racunnya dengan cepat, jika tidak dalam hitungan lima tarikan nafas saja, maka racun tersebut sudah bisa mengeringkan seluruh bagian dalam tubuh.
Sedangkan jarum yang menganai Pendekar tersebut lebih dari satu, bahkan jumlahnya lebih dari sepuluh jarum.
Tidak perlu menunggu hingga Lima kali tarikan nafas saja, pendekar tersebut mulai kejang-kejang dan darah keluar dari mulut, hidung, mata dan telinganya sebelum akhirnya tubuhnya mengering dan terlihat hanya tinggal kulit dan tulang saja. Pendekar tersebut akhirnya mati akibat terkena racunnya sendiri.
Pandangan Chinmi mulai kabur karena karena dirinya sudah menggunakan semua Qi yang ia miliki, sehingga tidak ada Qi sama sekali di dalam dantiannya.
"Aku tidak boleh berhenti di sini karena mereka semua sedang dalam bahaya!" gumam Chinmi sembari berusaha untuk bangkit.
"Jika aku menyerap Qi didalam mustika lagi maka...!" Chinmi mulai khawatir, namun karena tidak memiliki cara lain, Chinmi akhirnya akan menyerap semua Qi yang ia punya nantinya.
Saat ini ia hanya menyerap sisa dari mustika yang ia serap sebelumnya sehingga Qi nya sedikit demi sedikit kembali terisi.
Sekarang sisa mustika abu-abu nya hanya tinggal enam, jika nantinya ia bertemu dengan lawan yang lebih kuat lagi, maka jalan satu-satunya adalah menyerap keenam mustika tersebut, karena Dantian yang ia miliki sangat besar, kemudian akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh energinya sendiri seperti kejadian saat di sekte Pedang Suci.
Chinmi sudah tahu akan resikonya, kemungkinan besar dirinya akan mati bahkan tubunya bisa hancur jika sampai menyerap Qi yang melebihi tingkat kekuatannya sendiri.
Namun demi menyelamatkan Yue Yin dan semua peserta yang di culik, Chinmi rela untuk mengorbankan nyawanya, karena Ji Long sudah mempercayakan keselamatan Yue Yin padanya.
"Racunmu telah mengambil nyawa tuannya sendiri," kata Chinmi yang berdiri di samping mayat Pendekar tersebut.
__ADS_1
"Semuanya bersabarlah, aku akan menyelamatkan kalian semua."
Chinmi mengambil kembali pedangnya dan kemudian kembali mengejar para peserta yang diculik.