PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Mencapai tingkat Dewa Agung


__ADS_3

Chinmi merasa berada di dunia para Bodhisattva hanya beberapa jam saja, namun sebenarnya dia sudah berada di sana sudah hampir dua bulan.


Setelah cukup lama mendengarkan ceramah Sang Bodhisattva, Chinmi dan Ho Chen pergi beristirahat di sebuah pohon berdaun emas dan batangnya juga terbuat dari emas.


"Senior Chen! Aku merasa ada sesuatu dalam diriku saat mengerti arti dari makna pesan tadi!" kata Chinmi.


"Itu adalah akar dari dalam tubuh dimana setiap makna yang di ucapkan dapat membantu meningkatkan hati, pikiran, dan mensucikan jiwa! Aku juga merasakan hal itu juga!" jawab Ho Chen sekaligus menjelaskan makna yang terkandung dari setiap kalimat yang Bodhisattva sampaikan.


"Ho Chen, tinggal satu hari lagi bagi kamu dan Chinmi untuk menyelesaikan tahap akhir dari pencerahan Sang Bodhisattva!" kata Cao Yuan.


"Guru Cao, Setelah ini kita akan pergi kemana lagi?" tanya Ho Chen.


"Besok setelah kamu mendapatkan pencerahan Dharma, maka kamu akan mendapatkan anugerah dari Sang Budha, setelah itu pelepasan pusaka dan baru kita akan pergi untuk menemui Kaisar Langit Di Kahyangan," kata Cao Yuan.


"Pelepasan Pusaka? Apakah pusaka kami akan diambil?" tanya Chinmi yang terkejut setelah mendengar perkataan Cao Yuan.


"Tidak bukan seperti itu! Arti kata pelepasan bukan berarti melepaskan pusaka, melainkan mensucikan pusaka! Pusaka apapun yang kamu miliki pasti sudah pernah merenggut nyawa mahluk hidup, baik itu yang berdosa atau yang tidak berdosa, sama seperti hatimu yang sudah di sucikan!" kata Cao Yuan.


"Aku merasa betah tinggal disini, tempat ini sangat tenang, damai dan selalu dapat mendengarkan setiap khotbah Bodhisattva, apa lagi saat Bodhisattva membaca Sutra Budha! Ingin rasanya aku tinggal di sini selamanya," kata Chinmi.


Cao Yuan hanya bisa tersenyum, dia tahu jika Chinmi pasti akan mengatakan hal itu, sebab Dunia Nirwana dulu nya adalah tempatnya, jadi wajar jika dia merasa betah.


"Chinmi, jika kamu ingin tetap berada di sini, lalu bagaimana dengan tugas kita?" tanya Ho Chen.


"Itulah masalahnya Senior! Aku tidak memiliki pilihan lain dan tetap harus menyelesaikan tanggung jawab ini, andai jika bisa memilih, aku lebih suka berada disini dan akan memilih untuk tetap tinggal disini berada disamping Budha dan mendengarkan semua ajaran-ajarannya!" kata Chinmi.


"Baik anggap saja kamu memiliki pilihan dan kamu memilih ingin tinggal di sini, lalu bagaimana dengan Nona Qie Yin? Apa kamu tidak menghawatirkan nya?" tanya lagi Ho Chen.


"Itu adalah alasan utama ku tidak bisa tinggal disini karena Qie Yin adalah salah satu tanggung jawabku sebagai teman! Aku ingin dia kembali mendapatkan ingatannya kembali!" jawab Chinmi.


"Chinmi jawablah dengan jujur dengan perasaaan mu! Apakah kamu mencintai Nona Qie Yin?" tanya Ho Chen.


"Kenapa senior bertanya seperti itu?"


"Jangan membohongi diri sendiri! Dulu aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti mu, bahkan aku sempat terlambat menyadarinya jika aku mencintai seorang gadis!" kata Ho Chen yang mulai terbayang wajah istrinya Qiao Lin.


"Kamu tidak perlu menyangkalnya! Bukankah kamu sudah mendapat pencerahan dari Budha tentang makna dari Cinta!" Cao Yuan juga ikut berbicara.


"Aku paham dan aku tidak menyangkalnya!Cinta adalah sebuah anugerah yang sangat besar bagi semua mahluk hidup, namun masalahnya aku malu untuk menyatakan perasaanku kepada Qie Yin! Apalagi dia masih belum mengingat ku, walau ingatannya sudah kembali sekalipun, aku takut dia tidak menerima perasaanku ini!" kata Chinmi.


Ho Chen dan Cao Yuan sama-sama tertawa kecil setelah mendengar perkataan Chinmi yang secara tidak langsung sudah mengakui jika dia mencintai Qie Yin.


"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu dari perkataanku?" tanya Chinmi.


"Tidak-tidak!" jawab Ho Chen.


Chinmi hanya menggaruk-garuk alisnya walaupun alisnya tidak gatal, dia sama sekali bingung kepada Ho Chen dan Cao Yuan yang masih tersenyum-senyum melihat kearahnya.


Setelah mereka cukup lama saling berbincang, cahaya-cahaya emas mulai beterbangan menuju ke Vihara Mahabodhi untuk mendengarkan Kitab yang akan langsung di ucapakan oleh Sang Budha dan akan mengajarkan Dharma.


"Sudah waktunya bagi kalian untuk pergi kesana!" kata Cao Yuan.


Chinmi dan Ho Chen mengangguk kemudian mereka berdua pergi ke Vihara Mahabodhi, sedangkan Cao Yuan berniat pergi untuk mempersiapkan keperluan berikutnya setelah Chinmi dan Ho Chen selesai disana.


Di Vihara Mahabodhi sendiri sudah berkumpul semua pengikut Budha termasuk semua para Bodhisattva yang lain, semua para pengikutnya mengenakan kain sederhana termasuk Ho Chen dan Chinmi.


Setelah semuanya sudah berkumpul, Sang Budha mulai mengajarkan Dharma dan menjelaskan akan makna dari seluruh Kitab Sutra.


Setiap kalimat yang di ucapkan seperti mengeluarkan energi besar yang mampu menembus dan menenangkan hati para pengikutnya.


Setelah hampir satu hari semuanya sudah selesai dan para pengikut sekaligus Bodhisattva kembali ketempat mereka masing-masing, dan kini hanya tersisa Chinmi Ho Chen dan Siddharta Gautama.


Dengan tersenyum lembut kepada mereka berdua, "Apakah kalian sudah siap untuk pelepasan tubuh jiwa sekaligus dengan semua pusaka kalian?" tanya Siddharta Gautama.


"Murid sudah sangat siap menerima pelajaran berikutnya!" jawab Chinmi.

__ADS_1


"Kalau begitu bersiaplah, aku akan membacakan kitab Sutra Teratai untuk kalian berdua!" kata Siddharta Gautama kemudian dia mulai membacakan Kitab Sutra Teratai.


Huruf-huruf setiap kalimat yang dibacakan oleh Siddharta Gautama seperti hidup dan bahkan seperti ada setiap huruf yang beterbangan dan masuk ke tubuh mereka berdua.


Cahaya tubuh Chinmi dan Ho Chen kini bertambah satu lagi sehingga ada empat cahaya dengan warna yang berbeda terpancar dari tubuh mereka berdua.


"Kalian bisa memahami semuanya dengan singkat, namun aku tidak terkejut akan hal itu! Sekarang lihatlah tubuh kalian, sekarang tubuh dan jiwa kalian sudah satu dan suci, ini adalah tahap untuk sampai ke tahap Arahat."


Siddharta Gautama menatap Chinmi dengan tatapan penuh kasih dan kemudian dia mengucapkan sebuah pesan kepada Chinmi.


"Xin Jing Zi dengarkan pesanku baik-baik! Kebencian tidak akan berhenti dengan kebencian lagi, hanya dengan cinta, ini adalah aturan yang abadi, kamu terlahir ke dunia sebagai raja kebenaran demi keselamatan dunia," kata Siddharta Gautama dengan tersenyum lembut.


"Buddha, bagaimana hamba bisa memimpin dunia jika hamba sendiri tidak bisa jujur kepada diri hamba sendiri?" tanya Chinmi.


"Hahaha..! Kau belum mengerti juga! Bisakah ada kegembiraan dan tawa ketika dunia selalu terbakar? Terselubung dalam kegelapan Bukankah seharusnya mencari terang? Kau harus disiplin dan mengendalikan pikiran mu sendiri. Jika kamu bisa mengendalikan pemikiran mu, kamu bisa menemukan jalan keselamatan. Dan semua kebijaksanaan dan kebaikan akan datang sendirinya kepada mu."


"Terima kasih Budha, Murid akan selalu berpegang teguh pada pesan Buddha!" jawab Chinmi.


Siddharta Gautama yang tubuhnya sangat besar menengadahkan sebelah telapak tangannya dan kemudian Kalung Chinmi dan gelang Ho Chen berada di telapak tangan Siddharta Gautama.


"Kalung dan Gelang ini sudah aku sucikan gunakanlah nanti dengan bijak," kata Siddharta Gautama kemudian kalung serta gelang tersebut terbang dan terpasang kepada Chinmi dan juga Ho Chen.


Setelah kalung dan gelang tersebut sudah berada pada mereka, dua cahaya putih menyilaukan kembali muncul di hadapan mereka berdua.


"Xin Jing Zi, pilihlah salah satu dari dua Pusaka itu, sekarang pusaka mu yang sebelumnya sudah tidak bisa lagi kamu gunakan!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi terkejut, bagaimanapun dia lebih suka dengan pusaka sebelumnya, Yaitu Pedang Naga Langit dan Cakram Matahari, namun masalahnya pusaka tersebut bukanlah sebuah pusaka, melainkan senjata biasa yang di dalam ada jiwa seekor mahluk.


Karena itu Siddharta Gautama tidak memberikan kedua pusaka itu kembali kepada Chinmi.


"Kamu jangan ragu lagi, pusaka ini lebih baik dari pusaka mu yang sebelumnya, jadi pilih dan ambillah!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi memilih salah satu cahaya tersebut dan kemudian cahaya tersebut berubah menjadi sebuah pedang berwarna putih.


"Pedang ini tumpul!" kata Chinmi setelah melihat ujung mata pedang tersebut.


"Itu pusaka namun bukan sebuah pedang!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi dan Ho Chen kebingungan, jelas-jelas yang mereka lihat adalah pedang sedangkan Siddharta Gautama bilang itu bukanlah Pedang.


"Kamu usaplah pusaka itu maka kamu akan mengetahuinya!"


Chinmi menuruti arahan Siddharta Gautama dan kemudian dia mengusap pedang tersebut, setalah dia usap pedang tersebut berubah warna menjadi emas dan kemudian berubah bentuk menjadi seekor naga emas namun ukurannya tetap sebesar pedang tersebut.


"Naga Emas!" Chinmi dan Ho Chen sama-sama terkejut karena pedang tersebut ternyata adalah seekor Naga.


"Naga itu tidak seperti naga yang ada di dalam pedangmu sebelum nya, dia bukan roh melainkan asli wujud dan tubuhnya sendiri!" kata Siddharta Gautama.


Naga Emas adalah salah satu Naga yang berada di Nirwana, kekuatan dari Sang Naga Emas lebih kuat dan lebih besar dari semua Naga yang ada di seluruh Alam semesta karena Naga Emas adalah Naga peliharaan para Bodhisattva.


Tidak hanya Naga Emas saja yang menjadi hewan peliharaan para Bodhisattva, melainkan masih banyak lagi yang lainnya dan Naga Emas adalah satu dari sekian banyak Hewan yang menjadi peliharaan para Bodhisattva.


"Kamu bisa menggunakan Naga Emas ini jika menghadapi kesulitan, namun jika tidak, jangan pernah kamu gunakan! Jika kamu merasa kesulitan untuk membawanya, biarkan dia melingkari jari mu dan menjadi cincin!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi mengarahkan telunjuk nya kearah Naga kecil tersebut dan kemudian menjadi lebih kecil lagi kemudian naga tersebut melingkar di jari Chinmi.


"Hebat sekali! Naga ini bisa berubah menjadi apapun, Pedang, Cincin! Aku sungguh terkesan sekali!" kata Chinmi.


Siddharta Gautama tersenyum sambil menggelengkan kepala kepada Chinmi, "Xin Jing Zi, Semua yang kau lihat hanyalah sebuah kehampaan, semuanya adalah Fana! Dan ingat jangan terpengaruh terhadap hal duniawi!" kata Siddharta Gautama.


"Murid akan mengingatnya Buddha!" kata Chinmi kemudian dia bersusjud, Ho Chen ikut bersujud namun Siddharta Gautama kembali berbicara, dan kali ini dia bicara kepada Ho Chen.


"Ho Chen, aku tahu kamu tidak membutuhkan pusaka apapun, namun kamu tetap akan aku berikan satu pusaka!" kata Siddharta Gautama dan kemudian dia memberikan satu cahaya lagi yang tersisa kepada Ho Chen.


"Ambillah, ini akan berguna di saat kamu sedang mengalami kesulitan!" kata Siddharta Gautama.

__ADS_1


"Murid mengucapkan terima kasih kepada Buddha!" kata Ho Chen kemudian dia mengambil bola Cahaya tersebut.


Bola Cahaya tersebut berubah menjadi sebuah Pedang yang sama seperti milik Chinmi, namun bedanya pedang milik Ho Chen sangat tajam.


"Itu adalah Pedang Cakrawala, pedang tersebut sangat tajam, bahkan pedang itu sanggup membelah logam terkuat di alam semesta!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi merasa menyesal karena salah memilih bola cahaya, namun Siddharta Gautama mengetahui isi hati Chinmi.


"Semuanya bukan karena kebetulan atau kesalahan, namun semua terjadi karena kalian berjodoh!" kata Siddharta Gautama.


Chinmi segera tersadar akan kesalahannya dia segera bersujud dan meminta maaf kepada Siddharta Gautama karena kelalaiannya yang hampir terpengaruh terhadap yang Fana.


"Sekarang kalian bisa menemui Cao Yuan, pergilah ke Kahyangan untuk menemui Kaisar Langit, di sana nanti kalian akan mendapatkan sesuatu darinya!" kata Siddharta Gautama kemudian dia mempersilakan keduanya untuk pergi menemui Cao Yuan yang sudah menunggu mereka berdua di luar.


Setelah Siddharta Gautama mengijinkan mereka untuk pergi, Ho Chen dan Chinmi segera pergi keluar untuk menemui Cao Yuan.


"Guru!" panggil Chinmi.


"Kalian berdua! Eh.. Kenapa aku tidak merasakan kekuatan kalian sama sekali?" tanya Cao Yuan yang terkejut karena sama sekali tidak merasakan kekuatan Chinmi dan Ho Chen.


Namun setelah beberapa saat barulah dia sadar setelah empat cahaya yang memiliki warna berbeda terpancar dari tubuh mereka berdua.


"Jadi kalian berdua sudah berhasil mencapai tingkat Dewa Agung! Pantas saja aku tidak bisa merasakan apapun dari kalian berdua!" kata Cao Yuan dengan tersenyum lebar.


"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak merasakan kekuatan apapun dari dalam diriku?" Ho Chen terkejut saat Cao Yuan mengatakan jika dia dan Chinmi sudah mencapai Tingkat Dewa Agung.


"Tunggu, sepertinya tidak juga!" kata Chinmi.


Ho Chen melihat Chinmi dan melihat tubuhnya sekali lagi dan beberapa saat kemudian dia juga menyadari sesuatu yang sama seperti yang dirasakan oleh Chinmi.


"Ini..!"


Ho Chen dan Chinmi merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam tubuhnya, rasanya sangat sejuk namun mengandung tekanan energi yang sangat kuat.


Mereka berdua yakin jika tekanan itu dilepaskan maka dampaknya akan sangat buruk jika tidak di kendalikan dengan hati-hati.


"Kalian sudah bisa merasakannya?" tanya Cao Yuan.


Chinmi dan Ho Chen sama-sama mengangguk, kemudian Cao Yuan menyerahkan pakaian mereka berdua.


"Itu adalah kekuatan Seluruh Alam Semesta, dengan bimbingan dan pemahaman yang mendalam dari Bodhisattva, sekarang Seluruh Alam Semesta sudah bisa kalian kendalikan!" kata Cao Yuan menjelaskan sambil menunggu mereka yang baru selesai mengganti pakaian mereka masing-masing.


"Aku mengerti guru, tapi kenapa guru juga tidak ikut tadi? Andai guru tadi ikut pasti guru juga akan memiliki kekuatan tanpa batas ini!" kata Chinmi.


"Tidak Chinmi! Aku ini adalah Dewa, jadi kalianlah yang pantas untuk memiliki kekuatan ini!" kata Cao Yuan.


"Tapi semua ini tidak akan terjadi tanpa Bimbingan mu guru!"


"Aku hanya menuntun kalian berdua saja, sisanya adalah cara kalian sendiri untuk bisa memahami akan maksud yang akan di sampaikan oleh sang Buddha, hanya dengan demikian kalian akan bisa mengerti arti makna dari seluruh alam semesta dan arti bagi jiwa kalian!" kata Cao Yuan kemudian dia berbalik.


"Sudahlah, sebaiknya kita pergi Kahyangan, ini tahap terakhir kalian untuk menerima gelar dewa kalian dari Kaisar langit!" kata Cao Yuan.


"Gelar Dewa!? Jadi yang akan di berikan Kaisar Langit adalah pengangkatan kami menjadi Dewa?" Ho Chen dan Chinmi sama-sama terkejut.


"Benar! Memangnya kalian berpikir apa, apa kalian mau di beri oleh-oleh sebagai suvenir? Sudahlah ayo kita pergi!"


Cao Yuan segera melesat pergi dan disusul oleh Ho Chen dan Chinmi, namun Ho Chen dan Chinmi sama-sama menjadi bingung, mereka tidak tahu jika mereka akan di angkat menjadi Dewa, padahal mereka tidak berniat ingin menjadi Dewa.


Mereka berdua memang murid Buddha namun bukan berarti mereka bisa menjadi Buddha secepat itu karena untuk bisa menjadi Buddha harus bermeditasi yang membutuhkan waktu hingga ratusan, ribuan atau bahkan jutaan tahun, dan membutuhkan pemahaman yang sangat dalam.


Walau kekuatan mereka berdua sangat besar dan pastinya akan menjadi yang terkuat dari para Dewa, namun bukan berarti tidak ada Dewa yang bisa mengalahkan mereka.


Para Dewa juga memiliki banyak pusaka sakti yang mampu untuk mengalahkan siapapun, namun pastinya tidak mungkin ada Dewa yang mau berurusan dengan mereka karena mereka berdua juga tidak mungkin menantang para Dewa.


Mereka bertiga terbang di Alam Semesta dengan kecepatan tinggi, bahkan dalam waktu singkat mereka sudah tiba di Kahyangan.

__ADS_1


__ADS_2