PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Kesepakatan


__ADS_3

Bing Mei mendengar pendekar yang menjadi lawannya memanggilnya pertapa Xie Wen terkejut, walau dia berada di dalam gelembung ciptaan Xie Wen, namun dia masih bisa mendengar suara dari luar.


Bing Mei mengeluarkan sebuah pil berwarna putih salju dan meminumnya kemudian duduk bersila. Bing Mei mengalirkan qi ke pembuluh darahnya agar racun tersebut tidak terus menyebar sekaligus berusaha mengeluarkan racun nya.


Bing Mei yang sudah aman berada di dalam gelembung bisa fokus untuk mengeluarkan seluruh racun dari dalam tubuhnya tanpa ada gangguan dari luar.


Hantu Merah dan kedua rekannya yang masih menghadapi Lou We, Bao Lang dan Mao Li berusaha mencari cara untuk kabur.


Hantu merah memang tidak mengalami luka serius,namu Lou We mengalami beberapa luka serius di tubuhnya, terlihat beberapa luka bekas cakaran di punggung, lengan dan dada bagian kanan, namun Lou We tetap mampu bertarung menghadapi Hantu Merah.


Pendekar yang menjadi lawan Bing Mei terpaksa mundur sedikit demi sedikit karena takut jika Xie Wen menyerangnya.


Siapa yang mau mengahadapi Xie Wen, bahkan Hantu Merah sendiri yakin jika Meng Yi sekalipun pasti berpikir sepuluh kali untuk menghadapi Xie Wen.


"Hari ini keberuntungan kalian! Tapi ingat, aku tidak akan melupakan kalian bertiga, dan suatu saat nanti kalian bertiga akan mati di tanganku!" kata Hantu merah kepada Lou We sekaligus melempar bubuk berwarna merah kearah Lou We.


Lou We mengira jika bubuk tersebut adalah racun sehingga dia menutup hidungnya dengan kain, Bao Lang dan Mao Li juga melakukan hal yang sama seperti Lou We.


Namun setelah beberapa saat terdengar benturan keras sekaligus erangan kesakitan dari jauh, begitu mengetahui jika bubuk tersebut ternyata hanyalah sebuah pengalihan untuk kabur, Bao Lang menggunakan kabut es nya untuk menghilangkan debu merah yang menghalangi pandangannya.


Setelah penglihatan mereka semua sudah jelas, mereka terkejut melihat tiga bawahan Hantu merah sudah terbaring sambil memegang kepala mereka.


"Dimana dia?" tanya Mao Li karena tidak melihat keberadaan Hantu Merah.


"Apakah kalian mencari orang yang tadi mengenakan baju berwarna merah? Dia masih berada disini, carilah karena dia tidak mungkin bisa keluar dari kurungan gelembung transparan yang ku buat ini," kata Xie Wen yang masih berdiri di samping gelembung Bing Mei.


Lou We melihat kesekitar nya, kini dia yakin jika tiga pendekar bawahan Hantu Merah berusaha lari keluar, namun mereka tidak tahu jika Xie Wen sudah memasang kurungan sehingga dahi mereka bertiga membentur kurungan tersebut.


Lou We dan kedua temannya sebenarnya ingin menanyakan kondisi Bing Mei, namun membatalkannya saat mengetahui jika Hantu Merah masih berada di sana.


"Ayo cepat kita cari!" kata Mao Li kemudian mulai mencari keberadaan Hantu Merah.


"Mungkin kamu bisa mengelabui mereka, tapi tidak bagiku, sebelum aku sendiri yang menangkap mu, sebaiknya kamu keluar dari persembunyian mu!" kata Xie Wen memandang ke arah bayangan pohon yang tidak jauh dari tempat Bing Mei berada.


Memang benar jika Hantu Merah saat ini sedang bersembunyi di bayangan pohon yang letaknya tidak jauh dari Bing Mei.


Hantu Merah melakukan itu agar tidak dicurigai jika dirinya sebenarnya masih belum keluar, namun sayang Xie Wen bisa mengetahui keberadaannya.


Mao Li dan yang lainnya juga menatap kearah bayangan pohon yang ditatap oleh Xie Wen, namun Hantu Merah tetap tidak terlihat.


Xie Wen mengangkat jarinya kemudian gelembung kecil terlihat dari ujung jarinya dan dia mengarahkannya ke arah bayangan pohon tersebut.

__ADS_1


Hantu Merah merasa persembunyian nya ternyata sia-sia saja, dia terpaksa keluar karena melihat gelembung kecil dari telunjuk Xie Wen yang diarahkan ke arahnya.


"Baik... Aku menyerah!" kata Hantu Merah kemudian dia muncul dari bayangan kayu tersebut.


Xie Wen menghilang kan gelembung di jarinya dan kemudian menoleh kearah Bing Mei yang saat ini sudah mulai baikan.


Xie Wen menghilangkan gelembung yang menutupi Bing Mei, dan setelah gelembung tersebut sudah tidak ada, Bing Mei membuka matanya dan segera bangkit begitu melihat Xie Wen yang sudah berdiri di hadapannya.


"Terima kasih atas bantuan senior!" kata Bing Mei sambil memberi hormat pada Xie Wen.


"Siapa kamu gadis cantik, dan kenapa mereka ingin membunuhmu?" tanya Xie Wen sambil menunjuk kearah tiga pendekar yang saat ini diikat oleh Lou We dan yang lainnya kemudian menyatukan mereka dengan Hantu Merah yang saat ini juga terikat.


"Nama saya Liang Bing Mei dari sekte Pulau Es, dan saya juga tidak mengerti kenapa mereka ingin membunuh saya, padahal saya tidak kenal kepada mereka!" kata Bing Mei.


"Nona Bing, mereka adalah anggota sekte Lembah Hantu, dan yang memakai baju merah itu adalah Hantu Merah!" Mao Li menjelaskan.


"Sekte Lembah Hantu?" Bing Mei mencoba mengingat sekte tersebut, setelah beberapa saat barulah dia mengingatnya.


Sekte Lembah hantu juga pernah ikut terlibat saat penyerangan kerajaan Es Utara, walau Bing Mei tidak pernah melihat Meng Yi, namun dia sudah pernah melihat hantu-hantu yang sempat menyerang di kerajaan Es Utara.


"Gadis Cantik! Sebenarnya kamu mau pergi kemana, bukankah saat ini kamu berada jauh dari rumah?" Xie Wen kembali bertanya.


"Saya, eee...! Saya ingin pergi ke kerajaan Bumi Barat untuk menemui seseorang dan mau meminta pertolongan dari orang tersebut," jawab Bing Mei.


"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mencobanya!" kata Xie Wen membuat Hantu Merah terkejut karena rencananya untuk kabur sudah diketahui oleh Xie Wen.


"Baik mari kita lanjutkan, sampai di mana tadi?" Xie Wen berusaha mengingat dan kemudian, "Ah benar, jadi harus


"Lalu kita apakan ini Nona Bing?" tanya Mao Li.


"Aku serahkan mereka kepada kalian, sekarang aku akan melanjutkan perjalannya.


"Tunggu dulu! Jelaskan padaku, apa yang terjadi kepada sekte mu?" tanya Xie Wen.


Bing Mei merasa tidak enak untuk menceritakan masalah sekte nya kepada Xie Wen. Namun mengingat Xie Wen sudah membantunya, Bing Mei terpaksa menjelaskan akan masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh sekte nya, sekaligus niatnya untuk meminta bantuan Chinmi.


"Hem.. Kamu mau meminta batuan murid Fan Yuzhen ya, setahuku murid Fan Yuzhen itu tidak ada di Kerajaan Bumi Barat, atau lebih tepatnya dia pergi ketempat lain untuk berlatih, dan tidak satupun dari kami yang mengetahui tempatnya," kata Xie Wen.


Bing Mei merasa sedih setelah mendengar perkataan Xie Wen, Bing Mei rasanya ingin tidak mempercayai perkataan Xie Wen, namun jika benar yang dikatakan oleh Xie Wen, bukankah kedatangannya ke kerajaan Bumi Barat akan jadi sia-sia saja.


"Hei.. kamu jangan bersedih seperti itu! Begini saja, aku akan membantu sekte mu, bagaimana?" tanya Xie Wen yang menawarkan diri untuk membantu Sekte Pulau Es.

__ADS_1


"Benarkah senior?" tanya Bing Mei dengan wajah yang kembali ceria, namun setelah itu dia kembali terlihat sedih.


"Terima kasih senior, sepertinya senior tidak bisa membantu kondisi sekte kami!" kata Bing Mei.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Xie Wen dengan heran.


"Senior, kami butuh seseorang yang memiliki Roh Elemen Es dan setidaknya orang tersebut sudah berada di tingkat Sihir," kata Bing Mei menjelaskan.


"Hanya itu saja? Kalau begitu aku adalah orang yang tepat!"


Ucapan Xie Wen membuat Bing Mei mengangkat kepala serasa mendapatkan kabar gembira, "Apakah senior memiliki Pusat Roh Elemen Es?" tanya Bing Mei.


"Tentu saja, aku memiliki tiga Pusat Roh, yaitu Air, Es, dan Angin, saat ini aku hanya sering menggunakan air dan angin yang aku gabungkan menjadi satu," kata Xie Wen kemudian dia mengeluarkan energi es dari tubuhnya.


Bing Mei merasa lega setelah mengetahui jika salah satu dari pertapa ada yang memiliki Pusat Roh Elemen Es.


"Baiklah senior, kalau begitu mari kita segera pergi ke sekte kami!" Bing Mei sudah tidak sabar ingin segera kembali membawa Xie Wen.


"Hei sabar dulu. Sebaiknya kita melakukan kesepakatan terlebih dahulu!" kata Xie Wen.


"Maksud senior?"


"Aku akan ikut denganmu untuk memulihkan kondisi sekte mu, namun sebagai bayarannya, aku mau kamu menjadi murid ku! Bagaimana?" tanya Xie Wen.


Bing Mei terlihat berpikir sejenak, dia jelas sangat senang jika harus menjadi murid salah satu dari para pertapa, namun dia harus lebih dulu meminta ijin kepada Zhihui.


"Senior, mengenai itu, saya akan membicarakannya dengan nenek nanti, jadi saya tidak bisa memberikan jawabannya sekarang!" kata Bing Mei.


"Jawaban mu sudah itu sudah cukup bagiku, kalau begitu bagaimana dengan mereka itu?" Xie Wen menunjuk kearah Hantu Merah yang masih terikat dengan ketiga anggotanya.


"Ikat saja mereka disini, jika mereka beruntung mereka mungkin bisa selamat. Namun jika tidak, mungkin mereka akan mati diterkam oleh Hewan Iblis!" kata Bing Mei yang sudah tidak peduli kepada Hantu Merah.


Mendengar Bing Mei berkata seperti itu, Lou We segera mengikat mereka masing-masing di satu pohon, Hantu Merah hanya bisa pasrah karena tidak berani berbuat apa-apa.


Andai tidak ada Xie Wen, mungkin dia sudah melawan. Namun saat ini dia sama sekali tidak mau melakukannya. Hantu Merah yakin jika Xie Xie Wen jelas tidak akan membiarkan mereka hidup jika dirinya memaksa untuk tetap bertarung.


Bing Mei, Xie Wen dan ketiga pendekar yang menjaga Bing Mei segera kembali ke sekte, sedangkan Hantu Merah hanya bisa berdecak kesal. Hantu Merah jelas tidak menduga akan bernasib sial dan di permalukan oleh sekte Pulau Es.


"Kalian sudah melakukan kesalahan karena tidak membunuh ku, lihat saja kalian akan menyesalinya nanti!" gerutu Hantu Merah dan sekarang dia hanya bisa menunggu bantuan.


Andai tali yang mengikatnya adalah tali biasa, mungkin Hantu Merah bisa lolos dengan sangat mudah.

__ADS_1


Namun tali yang mengikatnya bukanlah tali biasa, setiap pendekar pasti memiliki tali khusus untuk mengikat para pendekar lain yang berhasil mereka kalahkan.


Hantu Merah hanya bisa menunggu seseorang datang membatunya, namun dia tidak tahu harus sampai berapa lama dirinya akan tetap terikat seperti itu, yang pasti Hantu Merah harus bisa bersabar saja.


__ADS_2