PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Mengawasi


__ADS_3

***


Li Xiang dan Ho Chen tiba di depan istana, "Ayo kita masuk ke dalam!" kata Li Xiang.


"Paman, sebaiknya aku menunggu disini saja!"


"Ada apa? Bukankah kamu sendiri yang bilang jika ingin melihat istana?" tanya Li Xiang.


"Aku memang ingin melihat istana, namun bukan ingin melihat Raja! Sudahlah sebaiknya paman masuk saja dan biar aku di sini, aku lebih suka berada diluar dari pada di dalam," kata Ho Chen.


"Baiklah jika itu keinginanmu, kalau begitu aku masuk kedalam dulu!" kata Li Xiang yang dijawab dengan anggukan oleh Ho Chen.


Li Xiang segera masuk kedalam, sedangkan Ho Chen menunggu di luar dengan para prajurit yang menjaga pintu istana dan juga ada yang mondar-mandir dengan membawa tombak dan perisai.


Li Xiang sendiri saat ini sudah berada di dalam bersama dengan ketiga Jendral lainnya, mereka semua sudah berada di hadapan Raja Tao.


"Zu Yujiu, Li Fang, Li Xiang, Mei Xin! Aku mengumpulkan kalian semua di sini karena kerajaan kita sedang dalam masalah besar," kata Raja kepada semua Jendral yang hadir.


Mereka berempat langsung berlutut dihadapan Raja Tao.


"Yang Mulia, ada masalah apa sehingga Yang Mulia mengumpulkan kami berempat?" tanya Li Xiang.


"Penasehat Yen Wong, jelaskan kepada mereka!" Raja Tao memberi perintah kepada Yen Wong untuk menjelaskan masalah yang di maksud.


"Tiga hari yang lalu, kami mendapatkan laporan jika kerajaan kita akan diserang oleh gabungan semua sekte aliran hitam, dan mungkin nanti malam mereka akan segera tiba di sini!"


"Maaf jika saya memotong penjelasan Penasehat Yen! Jika boleh saya tahu, dari mana Penasehat mendapatkan laporan ini?" tanya Li Fang.


"Beberapa prajurit yang tidak sengaja melihat mereka di daerah selatan! Mereka semua berjumlah lebih dari dua ribu," kata Yen Wong.


"Selatan, apa mungkin mereka semua berkumpul di sekte Kalajengking Merah?" kata Li Fang sambil bertanya.


"Saya tidak tahu Jendral Li Fang, yang saya ketahui mereka adalah gabungan dari berbagai sekte aliran hitam, termasuk sekte Golok Setan yang juga ikut dalam rombongan pasukan tersebut," kata Yen Wong.


"Jika kabar itu benar, sebaiknya kita segera mempersiapkan semua pasukan dan segera menghadang mereka sebelum tiba di sini," Mei Xin.


"Yang dikatakan Jendral Mei benar! Sebaiknya kita bergerak sekarang untuk menghadang mereka sebelum mereka tiba lebih dulu disini," Li Xiang membenarkan.


Li Xiang jelas berpikir jika sampai mereka tiba lebih dulu ke istana, maka pertempuran besar akan terjadi di istana.


Jika sampai pertempuran tersebut terjadi di istana, maka keselamatan para penduduk lah yang terancam.


Meminta seluruh penduduk kota untuk mengungsi dalam waktu sehari saja itu tidak mungkin, karena waktunya sudah sangat mendesak.


"Apa yang harus kita khawatirkan? Mereka hanya berjumlah dua ribu saja, sedangkan kita memiliki ratusan ribu prajurit, jadi kitalah yang lebih unggul bukan?" kata Zuo Yujiu.


"Jendral Zuo, kita memang memiliki banyak pasukan. Namun musuh bukanlah pasukan biasa seperti pasukan kerajaan kita, mereka adalah para pendekar."


Li Fang menjelaskan jika satu orang dari pihak lawan kekuatannya sebanding dengan sepuluh para prajurit istana, karena itu jumlah saja tidak cukup untuk dijadikan patokan kekuatan.


"Jika kita terus berbicara disini, lalu kapan kita akan segera pergi mencegah mereka?" tanya Mei Xin.


"Jika demikian segeralah kalian berangkat dan bawa semua pasukan kita ke medan pertempuran, aku akan juga akan mengirimkan elang pembawa pesan untuk meminta bantuan ke kerajaan Es Utara," kata Raja Tao.


"Maaf yang mulia jika saya lancang, namun sebaiknya kami membawa sebagainya pasukan saja, dan sisanya tetap disini untuk menjaga istana," kata Li Xiang.


"Apa kamu yakin?" tanya Raja Tao.


"Yang mulia, jika kami sampai gagal dan para sisa musuh menyerang ke istana ini, lalu siapa yang akan melindungi istana dan seluruh penduduk desa?"

__ADS_1


Raja Tao terdiam, dia masih keberatan jika harus mengirim separuh prajurit saja, dia tidak mau kehilangan salah satu dari keempat jendral terbaiknya.


Namun mengingat keselamatan seluruh penduduk kota, akhirnya dia setuju untuk mengirimkan separuh prajurit nya untuk pergi bersama dengan keempat jendral, dan separuh lagi harus menjaga istana dan juga seluruh kota.


***


Ho Chen sama sekali tidak merasa terganggu dengan tatapan para prajurit penjaga dan juga prajurit yang mondar-mandir tidak jelas.


Mereka semua sebenarnya penasaran kepada Ho Chen karena cara berpakaian Ho Chen berbeda dari yang lain.


"Sebaiknya aku pergi saja dari sini, lagi pula aku sudah memberikan seruling Chinmi kepada mereka, dan aku tidak mau ikut terlibat dalam pertempuran ini!" batin Ho Chen.


Ho Chen jelas tidak mau ikut campur dalam pertempuran yang akan terjadi, dia lebih memilih untuk pergi mencari informasi akan keberadaan Ye Shi.


Ho Chen sudah tahu jika Li Xiang dan yang lainnya akan pergi untuk berperang, karena itu dia ingin pergi mencari informasi di kota, atau mencari di kerajaan lain.


"Akhir-akhir ini para Hewan Iblis sudah tidak lagi aktif menyerang, apa mereka sudah takut atau apa ya?"


"Entahlah, sepertinya para Hewan Iblis itu takut akan kekuatan manusia sepeti kita!"


Ho Chen yang ingin beranjak pergi mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan beberapa prajurit yang lokasinya sedikit jauh darinya.


"Apakah yang mereka maksud adalah para siluman? Jika benar demikian, besar kemungkinan ini ada hubungannya dengan keempat mahluk itu!" batin Ho Chen.


Ho Chen kembali duduk sambil mendengarkan perbincangan mereka dari jauh, namun setelah itu Li Xiang sudah terlihat keluar dan pergi ke arahnya.


"Maaf jika kamu menunggu ku terlalu lama! Mari kita pulang karena aku harus pergi hari ini ke suatu tempat!" kata Li Xiang.


Ho Chen tidak mungkin menolaknya sehingga hanya bisa mengangguk dan mengikuti Li Xiang.


"Paman, apakah siluman disini pernah mengamuk atau pernah menyerang desa-desa dalam skala besar?" tanya Ho Chen saat dalam perjalanan pulang.


"Eh... Maksud ku Hewan Iblis," kata Ho Chen sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Hewan Iblis ya! Memang mereka sering menyerang orang-orang di berbagai desa, namun selama beberapa hari terakhir mereka sudah tidak pernah terlihat atau terdengar membuat masalah.


Owh iya, aku dengar kerajaan Api Timur tidak pernah di serang oleh para Hewan Iblis ini, sungguh kerajaan yang sangat beruntung!" kata Li Xiang.


"Apakah paman pernah mendengar ada mahluk seperti manusia namun memiliki tubuh Hewan? Contohnya seperti burung elang, singa, atau Srigala."


Li Xiang memegang dagunya sambil mengingat-ingat kemudian dia menggelengkan. kepalanya, "Tidak, namun putraku Chinmi dan keempat pertapa pernah melihatnya!" kata Li Xiang.


"Chinmi sudah pernah menceritakan itu kepada ku, namun aku tidak tahu jika para pertapa juga pernah melihatnya, namun dimana para pertapa itu sekarang?" tanya Ho Chen.


"Ho Chen, apakah kamu benar-benar tidak tahu atau bagaimana? Bukankah sudah sangat umum di ketahui oleh semua orang jika para pertapa tidak pernah diketahui keberadaanya," kata Li Xiang.


Ho Chen terdiam, dia benar-benar sangat kesulitan untuk bertanya, dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah.


"Ho Chen, aku akan pergi hari ini untuk menghentikan serangan gabungan sekte aliran hitam, kelak jika nanti aku tidak kembali atau gugur, aku minta tolong padamu untuk menyampaikan salam ku kepada Chinmi."


"Apa maksud paman? Jadi para pasukan yang akan datang menyerang itu adalah gabungan dari sekte aliran hitam?" tanya Ho Chen.


"Iya..! Kenapa kamu tahu jika ada pasukan yang akan datang menyerang," tanya Li Xiang yang kaget karena dia belum mengatakan jika yang akan datang adalah para pasukan gabungan.


"Paman sendiri tadi yang bilang begitu!" jawab Ho Chen.


"Benarkah? Perasaan aku tadi hanya bilang akan menghentikan serangan gabungan!" kata Li Xiang yang terlihat bengong.


"Sama saja paman, jika serangan gabungan itu berarti sekumpulan pasukan bukan?"

__ADS_1


Li Xiang mengangguk sambil terlihat linglung, "Benar juga, Hahahaha..!" kata Li Xiang dengan sedikit malu.


Sebenarnya Ho Chen mulai sedikit ragu, apakah dia harus membantu Li Xiang atau tidak, namun jika sampai terjadi apa-apa dengan Li Xiang saat dirinya mengetahuinya namun dia tidak membantunya, bukankah Chinmi akan sangat kecewa jika mengetahui hal itu.


"Paman, jika paman mengijinkan, bolehkah aku ikut membantu paman?" tanya Ho Chen yang berniat ingin membantunya.


Sebenarnya Ho Chen bisa mengatasi mereka semua sendiri, namun dia harus meminta ijin terlebih dahulu.


"Ho Chen, ini terlalu berbahaya, dan lagi pula kamu bukanlah asli penduduk kerajaan ini, jadi ini sudah menjadi tugas kami sebagai para pelindung kerajaan," kata Li Xiang kemudian dia masuk kedalam untuk mengambil baju Zirah nya dan sekaligus menemui Zhinie.


Ho Chen memandang ke arah langit dengan mata bercahaya terang menembus langit terang. Ho Chen melihat Chinmi yang berada di dunia ciptaan Lio Long, dan saat ini dia melihat Chinmi sedang berbaring di atas batu besar.


Tidak lama Li Xiang kembali muncul bersama dengan Zhinie. Ho Chen segera menutup mata dan membukanya kembali dan memandangi Li Xiang dengan mata normal.


"Paman, memang benar ini bukanlah urusanku dan juga bukan tempat ku, namun kamu adalah orang tua temanku, jadi sudah sepantasnya aku membantumu, dan aku yakin jika Li Chinmi pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi seperti ini!" kata Ho Chen.


Li Xiang menatap Ho Chen lebih teliti, alasan dia menolak Ho Chen karena dia sama sekali tidak merasakan kekuatan apapun dari tubuh Ho Chen sehingga dia mengira jika Ho Chen hanyalah manusia biasa.


"Xiang, sebaiknya kamu biarkan dia ikut dengan mu, aku yakin dia bukan orang biasa!" bujuk Zhinie.


"Aku bukannya ingin menolak, tapi dia ini..!"


Li Xiang masih tetap ragu untuk membawa Ho Chen, walau Zhinie sudah membujuknya.


"Paman, jika kamu masih keberatan, maka aku tidak akan pergi!" kata Ho Chen.


"Benarkah? Kalau begitu aku pergi sekarang karena semua pasukan pasti sudah siapa untuk berangkat."


Li Xiang merasa lega karena Ho Chen tidak jadi ikut, dia tidak mau menunda lebih lama lagi dan segera berpamitan.


"Berhati-hatilah Xiang, pastikan kamu kembali dengan selamat dan meraih kemenangan!" kata Zhinie dengan perasaan sedikit khawatir.


Li Xiang hanya tersenyum lembut sambil memegang pipi Zhinie kemudian dia segera menaiki kudanya dan pergi meninggalkan Zhinie dan Ho Chen.


Zhinie terus menatap kepergian Li Xiang dengan perasaan was-was, sedangkan Ho Chen bisa mengetahui ke khawatiran Zhinie.


Setelah Li Xiang sudah tidak lagi terlihat, Zhinie berpamitan untuk masuk lebih dulu ke dalam, sedangkan Ho Chen tetap berada diluar.


Ho Chen mengeluarkan baju berwarna putih dan topeng yang juga berwarna putih kemudian menghilang dari halaman rumah.


***


Matahari sudah hampir terbenam di arah barat, terlihat dua orang sedang melayang di udara sambil mengamati kebawah. Mereka berdua tidak lain adalah Fu Shen dan She Chin.


"Sebentar lagi kita segera sampai ke kota, aku sudah tidak sabar ingin segera bertarung!" kata She Chin.


"Kamu ini terlalu bersemangat! Tenang saja, lagi pula tidak akan ada satu orang pun di sana yang bisa mengalahkan kita," kata Fu Shen.


"Bagaimana kalau Pertapa Pedang sampai datang, apakah kamu akan masih bisa bersikap tenang?" tanya She Chin.


"Tentu saja tidak!" jawab Fu Shen.


"Tunggu Fu Shen, sepertinya ada yang sedang mengawasi kita sejak tadi," kata She Chin yang merasa ada mata yang sedang mengawasi dirinya.


"Mana mungkin, kita ini melayang sangat tinggi dan tidak mungkin ada yang melihat atau bahkan mengawasi kita!" kata Fu Shen.


"Lihatlah itu, sepertinya kedatangan kita sudah di ketahui!" She Chin menunjuk kearah bawah, walau jauh namun mereka berdua bisa melihat dari jarak sejauh itu.


"Hem... Biarkan mereka mencegah pasukan gabungan dan bertempur, sedangkan kita teruskan saja untuk menyerang istana."

__ADS_1


She Chin hanya bisa tersenyum, namun dia tetap merasakan jika ada yang sedang mengawasi dirinya dari jauh.


__ADS_2