
Beberapa prajurit yang mengawal Ming Zai maju kedepan menghadang Chinmi yang terlihat ingin menyerang Ming Zai.
"Kau mau menyerangku? Aku ini seorang pangeran, apapun yang aku mau harus terwujud, dan siapapun yang ingin melawanku, maka hukumannya adalah mati, Prajurit! Tangkap dia dan potong kedua kakinya!" kata Ming Zai sambil menunjuk kearah Chinmi.
Prajurit yang berdiri di belakang Ming Zai langsung maju kedepan menyusul beberapa prajurit lainnya, mereka mengarahkan ujung tombak mereka kearah Chinmi.
"Minggirlah, aku tidak punya urusan dengan kalian," ucap Chinmi sambil menatap para prajurit yang berusaha untuk melindungi Ming Zai.
"Siapa tuan kalian? Sudahlah cepat tangkap dia dan potong kedua kakinya sekarang juga dan gantung tubuhnya di tengah-tengah kota!" seru Ming Zai sambil membusungkan dada dan kedua tangannya di pinggang.
"Ming Zai, jika kamu seorang pria sejati, jangan melibatkan mereka semua, ayo sini hadapi aku secara langsung! Jika kamu menolak maka aku akan memanggilmu Pangeran Ming Zai sang pecundang."
"Kurang ajar, kau benar-benar susah bosan hidup rupanya!" kata Ming Zai sambil menendang tempat duduknya hingga mengenai rak kayu tempat barang jualan hingga roboh.
"Lihat ulah mu, aku harap kamu membayar kerugian ini nantinya," kata Chinmi.
Ming Zai yang sudah dilanda amarah yang meluap-luap membuat mantra tangan dan kelima jarinya kini diselimuti oleh api.
"Owh sabar, sebaiknya kita bertarung di luar saja, tempat ini terlalu sempit bagi kita untuk bertarung!" kata Chinmi kemudian dia melangkah keluar melewati Ming Zai yang terus menatapnya dengan mata merah.
Ming Zai segera menyusul Chinmi keluar, sedangkan para prajurit saling berpandangan. Lio Long sendiri hanya sesekali memperhatikan mereka kemudian kembali melihat-lihat barang di sana.
Setibanya mereka berdua di luar, Ming Zai kembali membuat mantra tangan dan semua jari-jarinya mengeluarkan api.
"Kau akan merasakan akibat dari kemarahanku ini, jadi bersiaplah untuk menerima jurus Cakar Api milik ku ini!" kata Ming Zai kemudian melompat kearah Chinmi dan menyerangnya dengan cakaran tangannya.
Chinmi menahan serangan Ming Zai dengan menangkis lengannya sehingga cakar apinya tidak bisa mengenai dirinya, "Sepertinya kamu benar-benar serius ingin membunuhku," kata Chinmi sambil menahan serangan Ming Zai.
"Kenapa, apa kamu sekarang sudah tahu jika aku ini hebat? Sayang sekali kamu sudah terlambat, karena aku sudah memutuskan untuk membunuhmu," kata Ming Zai kemudian menambah kecepatan serangannya.
Walau kecepatan serangan Ming Zai semakin bertambah, namun dia tidak sadar jika sejak tadi Chinmi sama sekali tidak terdesak mundur maupun terkena jurusnya.
"Sihir Api Semburan Naga Api."
Ming Zai menyemburkan api yang begitu besar kearah Chinmi, semburan api itu juga meluas hingga Lima meter dan membakar Chinmi yang tidak siap akan serangan api yang sangat panas.
Namun anehnya api tersebut tidak membakar rumah warga penduduk yang terkena lidah api ketika dilewatinya, seolah-olah ada dinding tipis yang melindungi rumah-rumah tersebut sehingga tidak terbakar bahkan panasnya pun tidak terasa oleh para warga.
__ADS_1
"Hahaha.... Sekarang baru kamu tahu akan siapa aku ini bukan? Hanguslah kamu sekarang! Hahaha."
Ming Zai tertawa puas dengan terus menyemburkan api kearah Chinmi yang kini sudah tidak terlihat karena tertutup oleh kobaran apinya.
Ming Zai menaikkan sebelah alisnya ketika merasakan ada yang aneh, dia merasa semburan apinya yang luas mulai mengecil, padahal dia tidak mengurangi atau menghentikan serangannya.
Api yang begitu besar luas dan panas sekarang seperti mengecil di ujungnya dan kemudian api tersebut seperti terhisap ke suatu tempat yang ia tidak ketahui.
"Mustahil, bagaimana bisa dia melakukan itu?" seru Ming Zai yang merasa tidak percaya akan apa yang ia lihat.
Bukan hanya Ming Zai saja yang terkejut, bahkan para prajurit dan beberapa orang yang menyaksikan pertarungan tersebut juga ikut terkejut akan apa yang mereka lihat.
Semburan api tersebut ternyata terhisap kedalam mulut Chinmi seperti sedang menarik nafas, api Ming Zai yang luas kini terlihat hanya sebesar gagang tombak lurus yang ujungnya dihisap oleh Chinmi.
Ming Zai segera menghentikan serangannya sambil memandang Chinmi dengan penuh heran, dia sama sekali tidak menduga jika sihir elemen Api andalannya akan semudah itu dihisap oleh Chinmi.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Ming Zai namun tetap dengan nada angkuh.
"Sejak dulu kamu tidak pernah berubah, kamu tidak memperdulikan apapun dan menyerang lawanmu tanpa peduli akan dampak dari serangan mu itu, kau sungguh putra mahkota yang benar-benar sangat bodoh," kata Chinmi yang tidak menjawab pertanyaan Ming Zai.
"Pemikiranmu sungguh mengerikan, kau tidak pantas untuk menjadi seorang Raja jika memiliki pemikiran seperti itu, jika kamu tetap menjadi Raja, maka seluruh rakyat pasti akan menderita akibat keangkuhan dan kebodohan mu itu, karena itu aku aku membuat mu menyadarinya," kata Chinmi dan membuat mantra tangan juga.
"Ayo kita lihat siapa yang paling hebat diantara kita, jika perlu tunjukkan seluruh kemampuanmu padaku!" kata Ming Zai kemudian bergerak maju dengan pedang apinya yang sudah jadi.
Chinmi hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya dia menghilang dari hadapan Ming Zai ketika serangannya masih belum ia arahkan kepadanya.
"Kemana kamu pengecut? Ayo keluar dan jangan hanya bisa menghindar saja!" kata Ming Zai sambil mencari keberadaan Chinmi di sekitarnya namun tidak juga di temukan.
"Aku disini Ming Zai."
Suara Chinmi mengejutkan Ming Zai dan semua para prajurit sekaligus orang-orang yang menyaksikan itu, mereka semua melihat kelangit dan menemukan Chinmi melayang di udara dengan kedua tangannya tertutup oleh api.
"Dia sudah bisa terbang? Mustahil dia tidak mungkin mencapai tingkat Sihir Elemen," gumam Ming Zai yang tidak percaya jika Chinmi sudah berada di Tingkat Sihir Elemen di usianya yang masih muda, bahkan lebih tua dirinya dibandingkan dengan Chinmi.
"Kamu akan tahu seperti api kekuatan Api yang sebenarnya pangeran!" ucap Chinmi disertai dengan serangan yang sangat cepat.
"Sihir Api Tapak Raja Api."
__ADS_1
Chinmi mengarahkan satu tapaknya yang diselimuti api kearah Ming Zai yang masih mematung melihat Chinmi. Ketika tapak apinya hampir mengenai Ming Zai, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan.
"Hentikan..!"
Suara tersebut sangat kuat dan menekan semua orang yang ada disana termasuk Ming Zai, namun tekanan tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap Chinmi.
"Ayah...!" kata Ming Zai dengan suara berat karena merasa ada tekanan yang begitu kuat.
Suara tersebut ternyata adalah suara Raja Ming Shan yang datang bersama dengan tiga jendral nya, salah satu Jendral tersebut adalah Jendral Jin Hang.
Raja Ming adalah satu-satunya seorang Raja dari keempat kerajaan yang mencapai tingkat Sihir Elemen Alam, dan Raja Ming menjadi Raja terkuat dari seluruh Kerajaan yang ada.
"Anak muda, kenapa kamu menyerang anak ku? Bahkan aku lihat kamu ingin membunuhnya!" tanya Raja Ming setelah berada dihadapan Chinmi.
Jendral Jin Hang segera membantu Ming Zai agar menjauh dari Chinmi dan kemudian dia segera berdiri disamping Raja Ming.
"Maafkan hamba Yang Mulia, dari pada Yang Mulia berprasangka buruk kepada Hamba, lebih baik Yang Mulia bertanya sendiri kepadanya," kata Chinmi.
"Lancang mulutmu! Berani-beraninya kamu berkata seperti itu kepada Raja," salah satu Jendral membentak Chinmi.
Ketiga Jendral yang menemani Raja Ming sama-sama berada di tingkat Sihir Elemen, dan mereka semua sudah siap untuk menyerang Chinmi.
"Jendral Jin, apakah perkataan saya salah? Kalau begitu katakan pada saya bagaimana seharusnya saya berbicara yang sopan kepada seorang Raja?" tanya Chinmi kepada Jendral Jin Hang.
Chinmi tentu sangat ingat kepada Jendral Jin Hang yang pernah menemani Ming Zai saat di Kerajaan Es Utara.
"Kau mengenalku?" tanya Jin Hang.
"Jendral katakan padanya agar berlutut di hadapan Raja!" kata Jendral yang membentak Chinmi.
Chinmi hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jendral tersebut kemudian menatap kembali Jendral Jin Hang.
"Apa Jendral tidak mengenali saya? Ini saya Chinmi, kita pernah bertemu Enam tahun yang lalu di Kerajaan Es Utara," kata Chinmi.
"Chinmi?" Jin Hang berusaha untuk mengingat nama Chinmi yang pernah ia temui di Kerajaan Es Utara.
Setelah beberapa saat barulah ia teringat akan nama tersebut, "Owh jadi kamu adalah anak kecil yang waktu itu!?" Jendral Jin Hang tidak percaya jika pemuda yang ada dihadapannya adalah Chinmi yang pernah menyelamatkan Ming Zai.
__ADS_1