
***
Sungai Darah adalah sebuah organisasi besar di Benua Daratan Selatan, mereka adalah organisasi yang memiliki kekuasan serta kekuatan yang sangat besar.
Saingan terbesar mereka adalah organisasi Tujuh Bintang, atau lebih di kenal dengan Asosiasi Tujuh Bintang.
Perbedaannya adalah, Organisasi Tujuh Bintang lebih mengarah ke bisnis jual beli pusaka, pil, dan berbagai kitab sihir.
Sedangkan Organisasi Sungai Darah mengarah ke kekuasaan dan kekuatan. Walau begitu mereka juga memiliki bisnis Asosiasi yang sama, namun tidak sebesar Asosiasi Tujuh Bintang.
Sungai Darah terkenal karena memiliki banyak pendekar hebat, dan ketua dari organisasi Sungai Darah juga salah satu Pendekar yang di juluki sebagai Dewa Penghancur.
Walau begitu Dewa Penghancur tidak pernah menampakkan diri dan selalu berada di markasnya yang di jaga oleh Dua Pendekar Sihir Suci, dan Lima Panglima yang kekuatan berada di bawah Pendekar Sihir Suci, dua diantaranya adalah Panglima Gajah dan Panglima Elang.
Kini salah satu Penjaga Dewa Penghancur mendapatkan tugas untuk memimpin ribuan pasukan besar menuju ke Benua Daratan Tengah untuk menaklukkan Benua tersebut, penjaga itu bernama Sao Muchi, salah satu Pendekar berkekuatan Sihir Suci yang sudah berumur ratusan tahun, namun terlihat seperti berumur 60 tahun.
Sao Muchi saat ini sedang berdiri di depan kapal yang sangat besar, namun posisi kapalnya berada di tengah-tengah ratusan kapal.
"Tuan Sao, sebentar lagi kita akan segera sampai di pantai wilayah Kerajaan Angin Selatan," kata salah satu awak kapal.
"Kalau begitu berikan kode kuning untuk mempercepat laju kapal! Lagi pula perisai pelindung itu sangat lemah, aku yakin ada pendekar lemah yang berusaha melindungi Benua ini," kata Sao Muchi.
Awak kapal tersebut segera melayang cukup tinggi dengan membawa bendera besar berwarna kuning.
Sesampainya di udara, awak kapal tersebut memberikan kode kepada seluruh ratusan kapal untuk mempercepat gerak laju semua kapal, dan semuanya dapat melihatnya.
Belasan kapal yang ada di barisan depan segera mempercepat laju kapal mereka dan di ikuti oleh ratusan kapal yang ada di belakangnya.
Mereka menembus perisai pelindung yang terlihat lemah sehingga tidak kesulitan bagi mereka untuk menembus perisai tersebut.
"Panglima Gajah dan Panglima Elang pasti sudah lama menunggu kedatangan kita, jadi kita harus cepat, dan bunuh siapapun yang berani menghadang kita!" kata Sao Muchi.
Sao Muchi kembali masuk kedalam setelah dia yakin jika kapal-kapal berhasil menembus perisai yang menghadang di depannya.
Sao Muchi duduk disebuah kursi kayu dan menyadarkan badannya untuk melemaskan otot-otot nya.
Sao Muchi sebenarnya lebih memilih terbang dari pada harus menaiki kapal karena menurutnya terlalu lama untuk sampai.
Namun karena yang ikut terlalu banyak, dia hanya bisa menuruti perintah Dewa Penghancur. Alasan Dewa Penghancur adalah, agar semua anggotanya bisa bersantai dan beristirahat sebelum melakukan penyerangan.
Namun Sao Muchi juga khawatir karena sebelum dia berangkat, Dewa Penghancur sempat berkata jika Asosiasi Tujuh Bintang mengetahui rencana mereka, dan mungkin para Pendekar dari Asosiasi Tujuh Bintang akan menyusul untuk menghentikannya.
Karena itu setiap kapal juga sudah di lengkapi dengan persenjataan lengkap, dan para pendekar yang sudah terpilih juga sudah mempersiapkan diri mereka jika tiba-tiba saja ada penyerang di laut.
Namun sepanjang perjalanan, tidak ada satupun ada yang menyerang mereka, sehingga perjalanan menjadi lancar tanpa hambatan.
Jdarrr!!!
"Siapa yang memberi sinyal..?"
Sao Muchi terkejut ketika mendengar suara ledakan kembang api dari arah kapal barisan depan.
"Tuan, di depan ada seorang pemuda sedang berdiri di pinggir pantai!" kata salah satu awak kapal dengan memegang sebuah anak panah yang berisi surat yang sudah di baca oleh awak kapal tersebut.
"Hanya seorang pemuda saja kenapa harus menyalakan kembang api?" tanya Sao Muchi.
Sao Muchi ingin keluar untuk melihat dari langit, namun belum sempat dia melangkah keluar, tiba-tiba saja sebuah suara terdengar sangat keras dan juga memilki tekanan kekuatan yang mampu menciptakan energi angin.
"Tinggalkan Benua Daratan Tengah atau kalian akan menyesalinya..!"
Setelah suara tersebut berhenti, angin yang begitu kencang membuat semua kapal saling bertabrakan dan bahkan hampir membuat kapal di barisan depan terbalik.
__ADS_1
Kapal yang di naiki oleh Sao Muchi juga terkena imbasnya sehingga dengan cepat Sao Muchi keluar.
"Suara siapa itu?" tanya Sao Muchi, dia bisa melihat para anggotanya yang ada di bagian depan sudah melayang di udara.
Salah satu anggota yang berada di langit segera turun dan memberi laporan kepada Sao Muchi.
"Tuan, ada seorang anak muda di pantai, dia sudah membuat kapal-kapal kami rusak!"
"Hanya seorang pemuda saja? Apa kalian sedang bercanda padaku? Cepat singkirkan dia, lagi pula dia hanya sendirian, sedangkan kalian adalah para pendekar Sihir Elemen Alam, jadi cepat lenyapkan!" kata Sao Muchi.
"Sesuai perintah tuan!" ucapnya kemudian dia kembali terbang.
"Hai anak muda, kamu telah membuat tuan kami marah, jadi rasakan akibat perbuatan mu itu," kata salah satu dari mereka.
Semuanya berjumlah ratusan pendekar tingkat Sihir Elemen Alam, mereka adalah para pendekar dari lima kapal yang berada di barisan depan.
"Serang dan habisi dia...!"
Seruan tersebut segera ditanggapi oleh mereka semua yang sedang melayang di udara, mereka segera melesat kearah pemuda tersebut yang masih berdiri dan menatap mereka dengan tajam.
Pemuda tersebut adalah Chinmi, dia sama sekali tidak berpindah ketika ratusan pendekar menyerang kearahnya.
"Kalian memang Pendekar hebat yang keras kepala!" kata Chinmi kemudian dia mengerahkan sebelah telapak tangannya kearah ratusan pendekar tersebut.
"Ini sebagai peringatan bagi kalian semua," kata Chinmi kemudian semburan api yang sangat besar dan luas menyembur kearah ratusan pendekar yang melesat kearahnya dengan sangat cepat.
Ratusan pendekar tersebut terkejut melihat semburan api yang begitu besar mengarah kepada mereka, sebagian dari mereka yang menguasai sihir air segera membuat sihir air dan menghadang semburan api yang begitu besar.
Namun nyatanya kekuatan semburan api terlalu besar dan kuat sehingga mereka tidak mampu menghentikannya dan dalam waktu singkat, ratusan pendekar harus lenyap saat pertama kali tiba di wilayah Benua Daratan Tengah.
Tubuh mereka semua hangus dan berjatuhan di atas dek kapal, dan sebagian jatuh ke air laut.
"Panggil Pendekar Pertapa untuk melenyapkannya, pastikan aku tidak perlu turun tangan hanya untuk melenyapkan seorang pemuda saja!" kata Sao Muchi.
Chinmi merasa takjub melihat itu, di Benua Daratan Tengah seorang Pertapa adalah hal yang sangat langka, sangat sulit untuk bisa mencapai ke tingkat Pertapa.
Namun melihat puluhan Pertapa di hadapannya, Chinmi sungguh sangat kagum, namun dia masih bisa merasakan kekuatan para Pertapa yang masih berada didalam kapal.
"Jika guru dan para Naga sekalipun datang kesini, itu tidak akan banyak membantu!" gumam Chinmi.
"Anak muda, kamu sudah berani membunuh ratusan anggota kami, jadi kamu harus menerima balasan nya dari kami!" kata salah satu dari mereka.
"Bukankah aku sudah memperingatkan kepada kalian untuk meninggalkan Benua ini, namun kalian tidak mau, jadi kalian jangan menyesalinya karena sekarang aku tidak akan membiarkan kalian semua pergi, karena kesempatan yang aku berikan sudah tidak ada lagi!" ucap Chinmi.
"Hahaha..! Apa kamu dengar itu? Pemuda ini tidak tahu seberapa besar kekuatan kita, terlebih lagi kekuatan Tuan Sao Muchi dan...!"
"Aku tahu, namun aku kecewa karena Dewa Penghancur tidak datang sendiri kesini! Jadi aku pastikan Dewa Penghancur kalian hanya akan mendengar kabar kegagalan kalian saja!" kata Chinmi memotong perkataan mereka.
"Kau! Siapa kamu sebenarnya, dan mengapa kamu tahu akan ketua kami?" tanya salah satu dari mereka.
Chinmi hanya tersenyum sinis, dia tidak perlu bertanya kepada siapapun akan siapa ketua Organisasi mereka, cukup mendengarkan akan apa yang mereka pikirkan saja itu sudah cukup.
"Apa yang kalian lakukan, cepat habisi dia!" seru Sao Muchi dari jauh.
"Dari pada kamu hanya bicara dari jauh, kenapa tidak kamu sendiri saja yang menghabisi ku?" kata Chinmi yang membalas perkataan Sao Muchi dari jauh.
Sao Muchi terkejut karena merasa mata Chinmi bisa mencapai ke tempatnya, bahkan dia merasa mata Chinmi seperti memenuhi seluruh langit dan memandangi mereka semua dari atas.
"Apakah ini hanya perasaanku saja? Ini pasti adalah ilmu ilusi, itu artinya pemuda disana itu adalah seorang pendekar yang ahli dalam ilusi.
"Jangan lancang mulutmu! Ayo kita habisi dia," ajak salah satu Pertapa.
__ADS_1
Chinmi menggelengkan kepalanya kemudian dia mengeluarkan Cakram Matahari dari ruang hampa.
Semua para Pertapa yang berada dihadapannya terkejut karena Chinmi mampu mengeluarkan sebuah senjata yang entah dari mana datangnya, namun mereka tetap akan menyerang Chinmi dan tidak memperdulikan akan apa yang akan Chinmi lakukan.
"Senior Diyu Hu, apakah kamu bisa mendengar suaraku?" panggil Chinmi.
"Kenapa kamu mengeluarkan ku? Kamu sudah terlalu lama menyimpan ku di dalam kalung mu, setiap kali kamu membutuhkan bantuan ku, kamu baru mau mengeluarkan ku!" suara Diyu Hu terdengar kesal.
"Senior, maaf atas perlakuanku ini, aku berjanji setelah ini, senior tidak akan aku masukkan lagi dan akan tetap berada di luar!" kata Chinmi.
"Aku akan pegang janjimu itu! Sekarang bantuan apa yang kamu inginkan?" tanya Diyu Hu.
"Senior, urus mereka ini!" kata Chinmi.
"Chinmi, dengan kekuatan mu sekarang, bukankah tidak akan sulit untuk mengalahkan mereka semua?"
"Aku tahu itu senior, namun bertarung sendirian tidak akan seru, jadi aku hanya menginginkan senior ikut bertarung degan ku!" kata Chinmi.
"Kamu sangat pandai beralasan saja! Tapi baiklah aku akan melakukannya!" kata Diyu Hu.
Tidak ada yang bisa mendengar kan pembicaraan mereka berdua, karena Chinmi berbicara dengan pikirannya.
"Tunggu apalagi? Bunuh dia..!"
Mereka semua mulai mengeluarkan energi mereka sehingga membuat air laut bergejolak dan memaksa semua awak kapalnya untuk keluar.
Chinmi mengalirkan qi ke Cakram Matahari nya, kali ini qi yang ia alirkan sangat besar sehingga Diyu Hu merasa jika dirinya sudah bisa memisahkan diri dengan Cakram nya.
"Hahahaha..!"
Sosok hitam besar dengan dua tanduk merah di kepala dan juga sangat kuat keluar dari dalam Cakram. Dia adalah Wujud asli Diyu Hu yang tertawa dengan sangat lantang.
Tawa Diyu Hu membuat seluruh dunia bergetar dan langit berubah menjadi merah. Semuanya terkejut karena kemunculan Diyu Hu, terlebih lagi Sao Muchi.
Ribuan anggota yang masih berada di dalam kapal dan di luar kapal tepaksa mundur menjaga jarak, karena tawa Diyu Hu mengandung energi yang mampu menhancurkan kapal mereka.
Tawanya juga membuat gelombang besar yang mampu menggulingkan dan menenggelamkan semua ratusan kapal, sedangkan puluhan Pertapa yang sudah bersiap kini harus terlempar akibat dorongan energi Diyu Hu.
"Mahluk apa lagi itu? Kekuatannya sungguh sangat mengerikan!" kata salah satu dari mereka.
"Aku tidak pernah melihat ada kekuatan sebesar ini sebelumya di seluruh Benua Daratan Selatan," Sao Muchi juga bersuara dan keraguan kini menyelimuti hatinya.
Tidak satupun dari mereka yang berani maju menyerang Diyu Hu maupun Chinmi, padahal Chinmi sendiri belum menunjukkan kekuatannya.
Sao Muchi sempat berpikir jika Chinmi adalah jalan satu-satunya untuk melenyapkan mahluk aneh tersebut, dia yakin jika bisa membunuh tuan mahluk tersebut, pasti mahluk yang di panggil nya juga akan lenyap.
"Semuanya, gunakan seluruh kekuatan kalian dan bersatulah untuk menghadapi mahluk itu, dan aku akan membunuh anak muda itu!" kata Sao Muchi.
Sebenarnya dia takut untuk menghadapi Diyu Hu, karena itu dia memerintah semua anggotanya untuk menyatukan kekuatan mereka melawan Diyu Hu, sedangkan dia sendiri memilih untuk menghadapi Chinmi, karena dia merasa Chinmi masih berada di tingkat yang sama dengan Mao Tse dan dua Pendekar lainnya yang saat ini berada di Kerajaan Angin Selatan.
"Kalian semua ingin menghadapi ku? Majulah! Aku akan menghadapi kalian semua," kata Diyu Hu dengan mata hitamnya yang membuat siapapun yang menatapnya akan gemetar ketakutan.
Mereka semua merapatkan gigi dengan keringat mulai mengalir di pelipis mereka semua sebelum akhirnya semuanya maju menyerang secara bersamaan.
"Seranng...!" seru salah satu Pendekar berkekuatan setara dengan Panglima Gajah, dia adalah Panglima Singa, salah satu dari lima Panglima.
Ribuan anggota yang kekuatannya mampu menghancurkan satu benua kini menyerang Diyu Hu yang hanya seorang diri.
"Majulah! Hahaha...!" tawa Diyu Hu semakin kencang dan disertai dengan hembusan angin yang sangat panas.
Diyu Hu menghilang dan muncul di tengah-tengah mereka semua, dan kemunculannya membuat semuanya kaget.
__ADS_1
Diyu Hu dengan sangat cepat dan gesit memberikan serangan mematikan kearah mereka yang terdekat, dan setiap serangan yang mengenai target akan langsung hangus terbakar dan mati seketika itu juga.