PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pertempuran (4)


__ADS_3

"Apa kau pikir bisa mengalahkan kami semua anak muda?" kata salah satu Pendekar bertanya kepada Chinmi dengan senyuman sinis.


"Mungkin dia sudah gila, dia pikir dia itu Pendekar Dewa yang bisa mengalahkan kita semua seorang diri! Yang ada dia hanya ingin menyerahkan nyawanya saja kepada kita," kata rekannya.


Chinmi yang saat ini sedang di kelilingi sembilan pendekar hanya menatap mereka semua dalam diam. Walau terlihat percaya diri, namun Chinmi merasa khawatir, bukan mengkhawatirkan lawan-lawannya, namun dia khawatir tidak bisa menghentikan pertempuran tersebut karena hari sudah mulai sore.


"Sialan, anak muda ini sudah meremehkan kita, ayo kita habisi anak muda ini secepatnya!" kata salah satu pendekar yang menyadari jika pikiran Chinmi sedang tidak ada di tempatnya.


Kesembilan pendekar tersebut segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing, mereka sudah tidak mau lagi menganggap remeh Chinmi, karena Chinmi sudah membunuh salah satu dari mereka dengan sangat mudah.


Mereka bersembilan mengeluarkan ilmu andalan mereka masing-masing sekaligus melepaskan energi mereka sehingga membuat seluruh tempat pertempuran menjadi kacau akibat angin yang begitu dahsyat yang mampu membuat seekor kuda sekalipun terseret.


Padahal mereka bersembilan bersama dengan Chinmi berada di tempat yang begitu tinggi, namun kekuatan energi mereka mencapai kebawah.


Chinmi segera melepaskan energinya juga yang sejak tadi belum ia gunakan sepenuhnya.


Seluruh langit terlihat berubah warna lebih gelap ketika Chinmi melepaskan energinya, sebelumnya dia belum pernah mengeluarkannya, bahkan saat melawan monster gurita sekalipun dia tidak mengeluarkannya.


Seluruh para prajurit kedua belah pihak segera menghentikan pertempuran mereka saat bumi bergetar dan banyak batu kerikil yang terangkat ke udara seakan-akan tidak ada gravitasi.


Kedelapan Pendekar yang sedang melawan para Pertapa dan Naga sekalipun juga menghentikan pertempuran mereka, dan mereka segera terbang kearah kesembilan rekan mereka yang terlihat seperti tidak bisa bergerak.


"Apakah ini hasil latihan mu dengan pendekar itu Chinmi?" batin Fan Yuzhen yang terkejut saat merasakan energi Chinmi yang terus-menerus meningkat.


Xie Wen juga tidak kalah terkejut seperti Fan Yuzhen, sebelumnya dia sudah berlatih tanding dengan Chinmi, namun dia berhasil menang dari Chinmi karena Chinmi sengaja mengalah.


Andai saja saat itu Chinmi menggunakan kemampuannya seperti yang saat ini dia lepaskan, Xie Wen yakin jika Chinmi bisa mengalahkannya dengan mudah tanpa harus menggerakkan tangannya.


"Kami percayakan mereka padamu, dan kami juga akan menyelesaikan yang disini juga!" kata Wu Tong.


Saat semua masih tercengang akan kekuatan Chinmi yang luar biasa besar, para pasukan dari kerajaan Api Timur dan Es Utara datang dan segera mengepung mereka semua.


Pasukan dari kerajaan Es Utara di pimpin oleh Jendral Lao Shi dan Jendral Jin Yang. Sedangkan Pasukan dari kerajaan Api Timur di pimpin oleh dua jendral juga yaitu jendral Jin Hang dan Jendral Lo Wei Xhen.


Total jumlah pasukan kedua kerajaan yang baru datang berjumlah hampir Sepuluh ribu, dan kemunculan mereka membuat semua pasukan musuh terkejut.


Datangnya bala bantuan dari kedua kerajaan membawa angin segar bagi pasukan Kerajaan Bumi Barat dan para sekutunya.


Kini jumlah mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan para Pertapa segara menyerang mereka yang terkuat kecuali Pendekar dari Benua Daratan Selatan karena tujuh belas Pendekar tersebut saat ini sedang berhadapan dengan Chinmi.


"Ini kekuatan Dewa, kekuatannya sama dengan kekuatan Panglima Gajah!" kata salah satu pendekar yang membatalkan serangannya saat Chinmi melepaskan energinya.


"Pantas dia terlihat tidak takut menghadapi kita semua, ternyata dia adalah pendekar yang sudah mencapai tingkat Dewa, jika begini kita semua bukanlah tandingannya," salah satu pendekar paling muda dari semuanya terlihat seperti tidak mau bertarung lagi.


Tubuh Chinmi terselimuti oleh sebuah aura emas yang begitu menyilaukan sehingga semuanya tidak bisa melihat tubuh nya.


Setelah beberapa saat, aura emas yang menyelimuti tubuh Chinmi pecah menjadi butiran-butiran cahaya emas yang sangat halus, dan seketika itu juga seluruh batu yang melayang di udara jatuh kebawah.


Chinmi membuka matanya dan menatap ke tujuh belas pendekar yang saat ini berada di hadapannya.


"Kalian sudah jauh-jauh datang kesini dan membuat kekacauan di Benua ini, jadi jangan pernah berpikir kalian bisa datang dan pergi begitu saja!" kata Chinmi kemudian dia menghilang dari hadapan mereka semua.


"Dimana dia..!" salah satu pendekar mencari keberadaan Chinmi.


Namun naas karena tiba-tiba saja pundaknya terkena pukulan yang begitu kuat sehingga membuat pendekar tersebut jatuh terhempas ketanah dengan sangat keras.


Tanah tempat jatuhnya pendekar tersebut langsung membentuk cekungan yang sangat dalam, namun pendekar tersebut bisa kembali bangkit karena dia memiliki kekuatan yang cukup tinggi.


Tidak hanya pendekar satu itu saja, melainkan satu persatu mereka semua mendapatkan serangan tersebut tanpa ada yang bisa melihat atau mengetahui gerakan Chinmi.

__ADS_1


Mereka semua berdiri di tempat jatuhnya mereka masing-masing dengan menahan rasa sakit, dan mereka jatuh jauh dari tempat pertempuran.


Mereka ingin kembali melayang namun mendadak sebuah tekanan menahan tubuh mereka semua sehingga mereka di paksa berlutut.


Mereka berusaha menoleh ke atas dan ternyata Chinmi sudah di atas mereka dengan memegang pedangnya dan aura emas dan biru bersatu dan menekan mereka semua.


"Hari ini kalian sudah berani ikut campur urusan Benua ini, dan sekarang apapun yang akan terjadi di masa depan aku tidak peduli, aku akan tetap membunuh kalian semua disini," kata Chinmi kemudian dia mengangkat pedangnya.


Angin di seluruh wilayah pertempuran seolah terhisap kearah pedang Chinmi saat dia mengangkatnya keatas.


Bahkan semua benda ringan seperti debu dan daun beterbangan ke arah pedang Chinmi.


"Pedang Angin Pencabut Nyawa."


Chinmi mengayunkan pedangnya kebawah dari tempat yang begitu tinggi, sedangkan ke tujuh belas pendekar tersebut merasa seperti ada tekanan yang jauh lebih kuat menekan mereka sehingga membuat semuanya tidak bisa bergerak untuk menghindari serangan yang akan datang.


Boooom!!!


Ledakan yang sangat dahsyat tercipta saat energi angin dari pedang Chinmi menghantam tanah tempat ketujuh belas pendekar tersebut berada.


Ledakan tersebut membuat seluruh arena pertempuran para prajurit langsung berantakan akibat dari daya kejutnya yang begitu kuat, bahkan ke empat kerajaan bergetar hebat dan gunung-gunung kecil yang terdekat harus musnah akibat daya kejut ledakan tersebut.


Pertempuran pun terhenti seketika, walau ledakannya sangat jauh dari tempat mereka, namun tempat meraka juga hancur dan banyak bongkahan tanah besar berserakan.


Semuanya menahan telinga mereka karena suara ledakan tersebut membuat telinga mereka semua kesakitan.


Fan Yuzhen dan pertapa lainnya segera datang ketempat Chinmi sekaligus ingin mengetahui akan apa yang terjadi.


Sedangkan She Chin lebih memilih untuk pergi namun Qie Yin jelas tidak melepaskannya dan mengejar She Chin yang saat ini sudah terluka akibat serangan dari Qie Yin.


Para Naga juga tidak mau ketinggalan, mereka segera menyusul para pertapa untuk mengetahui akan apa yang sudah terjadi di tempat Chinmi berada.


Tidak ada siapapun di sana selain hanya Chinmi seorang diri saja yang saat ini sedang berdiri di atas sebuah bongkahan tanah besar dengan pedangnya sebagai penahan tubuhnya.


"Chinmi apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Fan Yuzhen.


Bing Mei segera menghampiri Chinmi yang terlihat kehabisan energi, kini aura emas yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya sudah memudar, dan kekuatan mulai menurun.


"Aku..!"


Chinmi berhenti berbicara saat Mu Long sang Naga kayu menyentuh kepalanya dengan kuku panjangnya.


"Kamu kehabisan energi, jadi jangan dulu banyak bicara, biar aku mengembalikan energi mu terlebih dahulu," kata Mu Long.


Chinmi mengangguk, ini untuk pertama kalinya ia menggunakan kekuatan Puncak Raja Alam. Selama ini dia tidak menggunakannya karena tahu jika dirinya belum bisa membiasakan diri dengan kekuatan tersebut, dan jika dia memaksa menggunakannya tanpa memiliki energi yang cukup, akibat nya akan seperti sekarang ini.


Walau begitu dia masih sanggup untuk bertarung untuk menghadapi para pendekar yang ada di tingkat pertapa.


Secara perlahan-lahan energi Chinmi mulai kembali, Mu Long memang tidak bisa mengembalikan energinya seperti semula, namun Chinmi bisa melakukannya sendiri karena dia juga memiliki cabang Akar Roh Elemen Kayu.


"Terima kasih senior Mu, sekarang biarkan aku meditasi sebentar untuk mengembalikan kekuatanku!" kata Chinmi.


"Baiklah, mari kita kembali ke Medan pertempuran! Bing'er, kamu disini saja menemani Chinmi!" kata Xie Wen.


"Tidak senior Xie, biar aku sendiri saja, ini tidak lama, jadi sebaiknya Bing Mei ikut membantu di sana!" kata Chinmi.


Bing Mei memang tidak menjawab apapun, namun dia merasa kesal karena Chinmi menolak tawaran gurunya agar dirinya menemani Chinmi.


Xie Wen tidak memaksa lagi, dia tidak mau perasaan Bing Mei kecewa jika terus memaksa Chinmi dan Chinmi sendiri pastinya akan tetap menolaknya.

__ADS_1


Huo Long sendiri masih terbang di udara mengelilingi lubang besar dan dalam tersebut. Huo Long sebenarnya mencari keberadaan para Pendekar dari Benua Daratan Selatan, namun dia sama sekali tidak melihat keberadaan mereka.


Huo Long kembali ketempat Chinmi, dia ingin bertanya namun Fan Yuzhen melarangnya karena Chinmi saat ini sedang meditasi untuk memulihkan energinya.


"Mari kita kembali!" kata Tian Xiang mengajak semuanya untuk kembali ketempat pertempuran.


Mereka semua bergegas pergi kembali ketempat pertempuran, sedangkan Bing Mei merasa tidak enak jika harus meninggalkan Chinmi sendirian.


***


Pertempuran sudah tidak terjadi lagi setelah kejadian ledakan tersebut, saat semuanya masih merasakan rasa sakit di telinga dan tubuh mereka.


Tong Liung segera menarik kembali sisa para pasukannya sekaligus para anggota sekte sekutunya karena pertempuran mustahil bisa dilanjutkan lagi karena ke dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan tidak terlihat lagi setelah ledakan tersebut.


"Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah semua yang terjadi?"


Li Xiang, Li Fang dan semua Jendral dari ketiga Kerajaan menghadang Tong Liung dan ketua sekte aliran hitam lainnya.


Tidak hanya Li Xiang, bahkan Ji Long dan ketua sekte dari sekte aliran putih dan netral juga menghadang mereka semua.


Tong Liung merasa geram, dia berusaha mencari keberadaan She Chin, dan dia melihat She Chin sedang di sibukkan melawan Qie Yin, dan terlihat jika posisi She Chin tidak di untungkan.


"Lagi-lagi harus mengalami kekalahan, ini benar-benar di luar perkiraan!" batin Tong Liung.


Saat bersamaan, para pertapa dan kedelapan Naga juga datang dan ketempat mereka. Tong Liung merasa khawatir jika pertempuran kembali terjadi sudah pastikan jika kekalahan berada di pihaknya, belum lagi masih ada Tao Xi Lun disana.


Pasukan yang tersisa dari pihak Tong Liung sekitar lebih belasan ribu pasukan, sedangkan dari pasukan Hewan Iblis hanya tersisa dua ribuan.


Dan sisa dari pasukan Kerajaan Bumi Barat juga tersisa belasan ribu, di tambah dari para prajurit dari ke dua kerajaan sehingga kekuatan mereka berimbang dari segi pasukan.


Namun dalam segi kekuatan, mereka masih kalah karena masih ada lima pertapa dan kedelapan Naga besar di tambah dengan Tao Xi Lun, belum lagi Qie Yin dan Chinmi yang masih belum juga muncul.


"Tong Liung, Lung Wai dan kalian semua para ketua sekte harus bertanggung jawab atas peperangan ini, jadi jangan coba-coba lari dari pertempuran ini!" kata Li Xiang.


"Li Xiang, sebaiknya kita sudahi dulu sampai disini, dan biarkan kami pergi, kami akui jika kami sudah kalah!" kata Tong Liung.


"Di sudahi begitu saja? Apa kamu pikir hanya kalian pihak kalian saja yang jatuh banyak korban, pasukan dan sekutu kami juga banyak yang menjadi korban, jadi jangan kamu pikir hanya pihak kalian saja yang kehilangan banyak pasukan!" kata Li Xiang.


Mereka berdua sama-sama mengalami kerugian besar jadi tidak ada yang merasa menang atau kalah, namun kejadian tersebut adalah ulah Tong Liung dan para ketua sekte aliran hitam lainnya.


"Kalian sudah membuat kekacauan sebesar ini, jadi kenapa kalian pikir ini bisa berakhir begitu saja?" Fan Yuzhen ikut bersuara.


"Benar sekali, kalian tahu sendiri jika mereka para Pertapa tidak pernah ikut campur akan masalah apapun kecuali mereka benar-benar menganggap ini sebagai kekacauan yang bisa menghancurkan Benua ini," Ketua sekte dari Bukit Matahari juga ikut bersuara.


"Apa yang sudah kalian lakukan hari ini tidak akan bisa di maafkan begitu saja, jadi aku akan menahan kalian, sedangkan para Prajurit dan pasukan kalian boleh pergi!" Tao Xi Lun datang dan berbicara tepat dihadapan Tong Liung.


Tong Liung hanya bisa menahan nafas saat merasakan tekanan kuat dari Tao Xi Lun, Seorang Raja yang sebelumnya dia anggap lemah dan bodoh ternyata adalah seorang pendekar yang memiliki kekuatan melebihi dari para Pertapa.


"Kalian semua boleh pergi, dan tidak satupun dari kalian yang boleh menjadi tahanan disini!"


Tiba-tiba terdengar suara besar dan juga kuat menekan mereka semua, seluruh tanah bergetar hanya dengan suara tersebut.


She Chin yang saat ini sudah hampir di ujung tanduk untuk menemui ajalnya langsung tersenyum lebar saat mendengar suara tersebut.


Semua Naga yang berada di udara langsung jatuh dengan sangat keras ke tanah, bahkan Qie Yin dan Tao Xi Lun juga tidak kuat dengan tekanan suara misterius tersebut.


"She Chin, aku sudah mendapatkan pesan darimu, jadi sekarang dimana murid gadis mu itu!" kata suara kuat tersebut.


Semua para pasukan yang berada dibawah pendekar Sihir langsung jatuh tidak sadarkan diri, namun anehnya itu terjadi pada pasukan Kerajaan Bumi Barat dan para sekutunya saja, sedangkan para pasukan di pihak Tong Liung sama sekali tidak terkena dampaknya.

__ADS_1


Tao Xi Lun dan yang lainnya termasuk Qie Yin merasakan ada mata yang sangat besar menatap mereka dari langit, sedangkan Chinmi yang sudah selesai bermeditasi juga merasakan jika ada mata yang sangat besar sedang melihat mereka semuanya.


__ADS_2