PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Hukum yang adil


__ADS_3

Ketiga Pertapa hanya bisa menatap pertarungan Chinmi dengan Sang Gurita dari tempat yang lebih tinggi, mereka sebenarnya bisa sana pergi, namun mereka takut jika Chinmi mungkin sedang mengawasinya.


"Andai aku tahu dia sekuat ini, aku akan menolak taruhan yang tadi ia ajukan padaku!" seru salah seorang Pertapa yang sebelumnya sempat mengubah tawaran Chinmi.


"Kini kitalah yang akan mungkin di habisi olehnya, dia bisa menang atau tidak tetap saja kita akan mati di sini!"


Semuanya hanya bisa memasang wajah masam dengan tatapan mata penuh ke khawatiran dan terlihat putus asa.


Kali ini mereka melihat Chinmi yang sedang menyerang Gurita raksasa tersebut dengan semburan api yang sangat besar dan juga panas.


"Tuan ampun tuan jangan bunuh aku tuan!"


Suara Gurita mulai terdengar memelas karena takut menjadi gurita bakar, dia bersuara keras akar Chinmi bisa mendengarnya.


Chinmi segera menghentikan serangannya setelah Sang Gurita memelas memohon ampun padanya.


Chinmi mungkin bisa sangat keras dan juga bisa lebih lembut dari yang terlihat, menurut ajaran Li Fang, jika musuh sudah tidak berdaya dan mengaku kalah atau menyerah, maka sebaiknya jangan membunuh lawan yang sudah tidak berdaya.


"Baiklah, aku akan mengampuni, namun sebagai syarat nya, kamu jangan pernah lagi mengganggu kapal yang melintasi samudra ini!" kata Chinmi.


Gurita tersebut hanya mengedipkan mata saja sebagai tanda setuju, namun mulut yang tersembunyi di bawah tubuhnya seperti tersenyum licik.


Chinmi kini menatap ke langit ke arah ketiga Pertapa yang kini mulai berkeringat dingin, dia ingin menghampiri ketiga Pertapa tersebut, namun mendadak dia merasakan firasat buruk.


Chinmi hanya menghela nafas panjang kemudian mengangkat tangannya ke langit, "Sepertinya mengampuni mu adalah sebuah kesalahan!" gumam Chinmi.


Sang Gurita yang kini berada di bawahnya kini sudah mempersiapkan sebuah serangan berupa cairan hitam yang sangat besar dan membentuk sebuah bola cair raksasa.


"Dasar manusia bodoh, matilah kau..!"


Gurita tersebut melepaskan serangan bola cairan tersebut kearah Chinmi, sedangkan Chinmi yang sudah menyadari akan hal itu segera menarik kembali Cakram nya ke arah telapak tangannya dan kemudian dia melempar nya kearah bola cairan hitam tersebut.


"Cakram Halilintar Penghancur."


Cakram tersebut melesat dan mengeluarkan sambaran Petir Ungu yang sangat besar dan menyambar bola cairan hitam berkali-kali dan kemudian masuk kedalam cairan tersebut.


Cahaya kilatan ungu menyeruak keluar dari bola cairan hitam dan kemudian cairan tersebut meledak dan mengakibatkan hujan cairan hitam di sekitar tempat tersebut, sedangkan Cakram Chinmi masih berputar dari tempat hancurnya bola cairan hitam tersebut.


Gurita tersebut kaget bukan main karena ternyata Chinmi menyadari akan serangan nya yang ia lakukan secara diam--diam.


Gurita tersebut ingin segera kabur saat melihat kilatan ungu yang kembali muncul dari Cakram tersebut, dia tidak mau terkena Sambaran petir ungu karena dia tahu jika petir ungu tersebut akan mampu membinasakan nya.


"Jangan harap kau bisa kabur dariku setelah kamu menghianati kepercayaan ku!" kata Chinmi yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Gurita dengan tatapan penuh dengan kemarahan karena merasa kecewa.


"A-aku..!" Gurita tersebut kesulitan untuk bicara, namun setelah itu mata Gurita tersebut melebar saat melihat Chinmi mulai mengeluarkan Sihir Elemen Api nya.


"Tu-tu.. Tunggu dulu, jangan bunuh aku, aku janji akan berobat!" kata Gurita tersebut berusaha memelas.


Namun nyatanya Chinmi seperti sudah tidak mau lagi mendengarkan perkataan Gurita tersebut, dia justru memperbesar api di tangannya.


"Sihir Naga Api Pelebur Jiwa."


Chinmi mengarahkan telapak tangannya yang sudah menyala besar, sedangkan Gurita tersebut tidak memiliki pilihan selain membuat pelindung dari air untuk menghindari serangan api milik Chinmi.


Namun sayang karena Petir Ungu dari Cakram Chinmi yang masih berputar langsung menyambar pelindung air tersebut sehingga membuat sang Gurita menjerit sangat keras dan pelindung airnya menghilang.


Saat pelindung air nya sudah menghilang dari tubuh sang Gurita, Chinmi segera melepaskan sihir apinya.


Sihir api yang di lepaskan Chinmi bukan lagi berbentuk semburan, melainkan membentuk sebuah bola besar yang melebihi tubuh sang Gurita.


Sang Gurita berteriak lebih keras dengan berputar-putar karena tubuhnya sudah sepenuhnya tertutup oleh bola api, dan api tersebut terus membakar sang Gurita hingga suara sang Gurita tidak di dengar lagi.


"Mulai hari ini, Samudra Naga Biru sudah aman!" kata Chinmi setelah bola api yang membakar sang Gurita sudah padam.

__ADS_1


Tubuh sang Gurita jatuh ke laut dengan kondisi hampir hangus dan pastinya dia mati karena tidak akan mungkin bisa menahan panasnya api yang membakar tubuhnya hingga hampir hangus.


Chinmi segera mengambil Cakram nya kembali kemudian dia menoleh kearah ketiga Pertapa.


"Sekarang adalah giliran kalian!" kata Chinmi.


Ketiga Pertapa buru-buru mendekati Chinmi dan berniat memohon ampunan pada Chinmi, namun setelah mereka tiba di hadapan Chinmi, dia justru menghilang dari hadapan mereka bertiga.


"Kemana dia?" tanya salah satu Pertapa sambil mencari-cari keberadaan Chinmi.


"Aku disini!" suara Chinmi mendadak muncul di atas mereka.


Mereka semua menoleh ke atas dan melihat Chinmi dengan Cakram nya yang berputar-putar di samping nya dengan kilatan ungu nya.


"Tu-tuan pendekar, mohon ampuni kami, kamu tidak bisa melihat kebesaran tuan Pendekar," kata salah satu dari mereka dengan suara gugup.


"Kalian bertiga adalah seorang pendekar yang berada di awal Pertapa, namun sifat kalian tidak menunjukkan jika kalian adalah Pertapa, aku mau bertanya pada kalian, bagaimana kalian bisa memiliki kekuatan Petapa?"


Chinmi yakin jika mereka mendapatkan kekuatan Pertapa dengan benar, seharusnya mereka bisa bersikap bijak, karena untuk bisa mencapainya mereka harus membuka pintu yang ketiga yaitu pintu Kebijakan walaupun pintu itu hanya sedikit terbuka.


"Ka-kami mendapatkan kekuatan ini dari salah satu mahluk aneh, dia ingin kami memiliki kekuatan ini agar kelak kami bisa membantunya!" kata salah satu dari mereka.


"Siapa, dan bantuan apa yang mahluk itu inginkan?" tanya Chinmi.


Chinmi curiga jika mahluk yang di maksud mungkin adalah si She Long, namun itu hanya perkiraannya saja.


"Dia mahluk seperti manusia, namun wajahnya menyerupai singa dengan bulu berwarna hitam, sedangkan bantuan yang ia inginkan akan ia katakan setelah waktunya tiba!"


Chinmi mengerutkan dahinya, sosok tersebut memang pernah ia dengar, namun dia belum pernah melihatnya dari dekat, dulu dia hanya bisa melihat dari jarak yang sangat jauh ketika berada di kerajaan Es Utara.


"Mahluk itu sudah sampai ketempat ini? Jika demikian ini akan sangat berbahaya," batin Chinmi kemudian dia mengamati ketiganya.


"Kalian akan aku ampuni, namun sebagai gantinya kekuatan Pertapa kalian akan aku ambil, dan kekuatan kalian akan kembali seperti sebelum menerima kekuatan ini!" kata Chinmi.


Mereka bertiga terdiam sesaat seperti sedang memikirkan hal itu, "Kita sebaiknya setuju saja, dari pada kita mati, lebih baik kita selamat walau kehilangan kekuatan kita!" kata salah satu dari mereka.


"Baiklah tuan Pendekar, silahkan!" kata salah satu dari mereka mewakili kedua rekannya.


"Aku ingin tahu, ada di tingkat apa kalian sebelum memiliki kekuatan Pertapa ini?" tanya Chinmi.


"Sebelum memilki kekuatan Pertapa, kekuatan kami sebelumnya berada di tingkat Menengah!" jawab mereka.


"Kalau begitu aku tidak bisa mengambil kekuatan kalian di tempat ini, ayo kita kembali, aku akan membebaskan kalian di sana!" kata Chinmi.


Jika Chinmi mengambil kekuatan mereka bertiga di Samudra tersebut, bisa-bisa mereka bertiga mati tenggelam karena tidak mungkin mereka bisa terbang lagi.


Chinmi dan ketiga pertapa segera kembali ke wilayah kerajaan Mutiara Emas, namun mereka tidak kembali ketempat saat mereka bertemu, Chinmi justru membawa mereka bertiga ke depan istana.


"Tu-tuan, kenapa tuan membawa kami kesini?" tanya salah satu dari mereka.


"Nanti kalian akan tahu jawabannya!" jawab Chinmi kemudian dia menyentuh dahi salah satu dari mereka dan mulai menyerap kekuatan pertapa mereka satu persatu.


"Baiklah, sekarang kekuatan Pertapa kalian sudah aku hisap, dan sekarang kalian harus pergi bersamaku menemui Raja di dalam untuk mem pertanggung jawabkan perbuatan kalian selama ini!" kata Chinmi.


"Tuan, bukankah tuan sudah bilang jika tuan akan melepaskan kami setelah mengambil kekuatan kami?"


"Aku memang akan melepaskan kalian, namun kalian tetap harus mem pertanggung jawabkan perbuatan kalian kepada seluruh rakyat, dan bukan aku yang akan menghukum kalian, melainkan Raja yang akan menghukum kalian!" kata Chinmi.


"Saudaraku, ternyata kamu sudah berada disini?"


Alkin datang dari dalam saat Chinmi dan ketiga pendekar tersebut sudah selesai bicara!"


"Panglima, maaf jika aku datang tanpa sepengetahuan Panglima atau Raja Li."

__ADS_1


Alkin segera menolak permintaan maaf Chinmi saat Chinmi belum menyelesaikan semua kalimatnya.


"Saudaraku, aku sudah tahu akan apa yang telah terjadi, aku tahu kamu sudah menyelamatkan dua orang wanita dari tangan kelompok Darah Hitam!" kata Alkin.


"Bagus lah jika Panglima tahu, ini mereka bertiga adalah ketua dari kelompok tersebut, bawalah mereka kedalam, aku akan pergi menjemput dua wanita malang itu sebagai saksi atas perbuatan mereka!" kata Chinmi kemudian dia segera pergi tanpa menunggu jawaban dari Alkin.


"Bukankah kalian bertiga adalah para Pertapa itu? Sungguh menyedihkan, sekarang kalian harus menerima hukuman dari Paduka Raja, ayo cepat masuk ke dalam," bentak Alkin.


Mereka bertiga hanya bisa menurut tanpa bisa melawan karena kekuatan mereka bertiga saat ini berada di bawah kekuatan Alkin yang memiliki kekuatan Sihir Elemen Bumi.


***


Chinmi segera pergi menemui Jian Jing Mi dan Jian Ling Kiew yang ia tinggalkan bersama bayangannya.


"Nona Jian, bagaimana keadaan saudari mu?" tanya Chinmi yang baru tiba.


Jian Jing Mi terkejut akan kemunculan Chinmi, dia menoleh kearah banyangan Chinmi dan kemudian menoleh lagi ke arah Chinmi yang asli.


"Apakah kamu bayangan juga?" Jian Jing Mi justru bertanya balik.


"Owh.. Maaf, aku ini yang asli!" kata Chinmi kemudian dia menghilang kan bayangnya.


Jian Jing Mi jelas terkejut karena bayangan Chinmi tiba-tiba berubah menjadi asap dan menghilang.


"Nona Jian, saat ini ketiga pendekar yang memimpin para kelompok Darah Hitam sudah tertangkap dan akan diadili oleh Raja, kalian harus kesana bersamaku sebagai saksi!" kata Chinmi.


"Tentu-tentu, ayo aku sudah tidak sabar ingin melihat mereka di hukum!" kata Jian Jing Mi kemudian dia segera menemui Jian Ling Kiew yang berada di balik tembok kayu.


Jian Ling Kiew masih terlihat syok, tatapannya terlihat kosong, dan dia berjalan dengan digandeng dan di peluk oleh Jian Jing Mi.


Mereka bertiga tiba beberapa saat di dalam istana, dan di sana ternyata sudah banyak orang, mereka semua adalah para pejabat.


"Chinmi untung kamu cepat datang," kata Raja Li yang langsung bangkit dari singgasananya.


"Yang Mulia, aku datang kembali membawa para korban sekaligus saksi mata dari kejahatan mereka!" kata Chinmi.


"Emm, jadi mereka berdua adalah korban sekaligus saksi? Kalau begitu mari kita dengar cerita dan kebenaran dari mereka berdua!" kata Raja Li


Jian Jing Mi segera maju dan menceritakan semua pengalaman pahit yang dia dan saudarinya alami, semua merasa sedih setelah mendengar cerita dan kisah hidup Jian Jing Mi dan saudarinya kecuali satu orang, dia adalah penasehat Raja Li yang bernama Penasehat Basel.


"Tunggu, dia mungkin bercerita bohong! Lihatlah saudarinya itu, dia mungkin seperti itu mungkin sengaja di pukul agar bisa mendapatkan perhatian dari kita semua," kata penasehat Basel dengan bahasa nya sendiri sehingga Chinmi tidak mengerti sama sekali.


Jian Jing Mi segera bangkit dan menerjemahkan kepada Chinmi akan apa yang dikatakan boleh penasehat Basel.


"Ada apa dengan mu Penasehat?" tanya Chinmi yang kemudian di terjemahkan oleh Jian Jing Mi.


Penasehat Basel menatap Chinmi dengan tajam dan penuh amarah, tidak ada yang tahu jika sebenarnya Basel lah yang selama menjadi pelindung dari anggota kelompok Darah Hitam.


"Jika kalian merasa Nona ini berbohong, sekarang biar kita dengar pengakuan dari ketiga mantan Pertapa," kata Chinmi kemudian dai menatap kearah ketiga pendekar tersebut dan bertanya kepada ketiganya.


"Sekarang jawablah pertanyaan ku ini! Apakah kalian pernah menculik dan menganiaya wanita ini?" tanya Chinmi.


"Bukan kami yang melakukannya, kami bertiga hanya mengawasi anggota kami yang sedang bekerja!" kata salah satu dari mereka.


"Itu sama saja!" Kata Chinmi kemudian kembali bertanya.


"Sekarang jawablah lagi dengan jujur, apakah anggota Darah Hitam mendapatkan perlindungan dari salah satu pejabat istana atau tidak?" tanya lagi Chinmi.


Mereka bertiga saling berpandangan dan kemudian dia menoleh kearah Basel yang sedang menatap meraka dengan memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala.


Mereka kembali menatap Chinmi, "A-ada tuan, dialah orangnya!" kata salah satu dari mereka sambil menunjuk kearah Basel.


"Kurang ajar kau, berani sekali kamu menuduhku seperti itu!" seru Basel.

__ADS_1


Semua orang yang hadir di sana segera menoleh ke arah Basel dengan tatapan tidak percaya.


"Sekarang sudah jelas bukan jika semua itu adalah perintah orang lain, sekarang terserah kepada Yang Mulia saja untuk memutuskan hal ini! Yang aku inginkan hanyalah hukum yang adil!" kata Chinmi.


__ADS_2