PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pengejaran (2)


__ADS_3

Xian Fai beserta puluhan peserta lainnya segera menyerang ke 20 Pendekar tersebut secara bersamaan membuat ke 20 Pendekar juga bersiap untuk menyambut serangan dari para pendekar yang masih muda.


"Jurus Langkah Petir."


"Apa yang terjadi..!?" ke 20 Pendekar kebingungan ketika dua anak muda melesat dengan sangat cepat dan menghilang dari pandangan mereka semua.


Dua murid dari sekte Lembah Petir melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata. Mereka melewati dua orang Pendekar yang sudah bersiap menyambut serangan mereka, namun kedua pendekar tersebut tidak siap dengan serangan yang memiliki kecepatan bagai petir.


Dua Pendekar langsung jatuh dengan luka sayatan di kedua paha mereka, ke 18 rekan mereka terkejut setelah melihat dua rekannya terjatuh dengan luka sayatan di paha mereka.


Mereka semua menoleh kebelakang dan melihat dua orang pemuda sudah berdiri dengan memegang pisau tangan masing-masing.


"Sial, bagaimana dia bisa memiliki kekuatan secepat itu?" tanya salah seorang dari mereka ketika rekannya sudah tidak lagi berdaya.


"Ayo lumpuhkan mereka semua!" seru Xian Fai dengan sangat keras.


"Jangan meremehkan mereka, cepat panggil anggota kita yang lain..!" seru salah satu dari mereka.


Ke 18 Pendekar tersebut melihat puluhan anak muda yang bersiap untuk menyerang mereka langsung menjadi panik. Merasa tidak pilihan lain, salah satu dari mereka meniup peluit dengan sangat keras dan terdengar keseluruh pusat kota.


Xian Fai dan yang lainnya menghentikan langkah mereka setelah mendengar suara peluit tersebut, mereka yakin jika peluit tersebut pasti memanggil bala bantuan.


Selang berapa saat, terlihat 30 Pendekar yang berpakaian hitam juga mulai berdatangan. Walau mereka sudah bertambah sekitar 30 orang, namun jumlah Xian Fai lebih banyak dari mereka.


"Jumlah mereka bertambah!" seru anak yang berada di paling belakang.


"Jangan takut, jika kita bekerja sama kita pasti bisa menang!" seru Jui Heng.


Mereka semua segera menyerang para pendekar tersebut. Satu pendekar harus berhadapan Dua sampai Tiga pendekar muda yang rata-rata memiliki kekuatan Pendekar Pemula.


Dua murid dari sekte Lembah Petir bertarung dengan salah satu Pendekar Sekte Kelelawar Hitam. Dengan kecepatan dan kombinasi serangan yang bersamaan, mereka berhasil menyudutkan lawannya.


"Akan aku buat kalian menyesal karena telah mengacaukan pertandingan kami," seru salah satu murid sekte Lembah Petir.


"Jurus Pisau Terbang."


"Jurus Pisau Sayatan Petir."


"Kalian akan aku bu..! Arghh!" pendekar tersebut tidak bisa menyelesaikan kaliamatnya setelah merasakan sesuatu mengenai kulitnya.


Mereka berdua menyerang secara bersamaan sehingga pendekar sekte Kelelawar Hitam tidak bisa menghindari serangan mereka yang sangat cepat itu. Dalam sekali gerakan, pendekar tersebut mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya namun tidak mati karena mereka tidak mau membunuh.

__ADS_1


Jiu Heng dan Lian Cao juga menyerang dengan menggabungkan kekuatan mereka.


"Kalian berdua akan aku gantung," kata pendekar yang berhadapan dengan Lian Cao dan Jiu Heng dengan tertawa keras.


"Sihir Api Lingkaran Cincin Api."


"Pedang Malam Tebasan Kegelapan."


Jiu Heng dan Lian Cao secara bersamaan menyerang me gunakan jurus serta sihir mereka berdua hingga tercipta Cincin Api yang membesar ketika terkena Angin milik Lian Cao.


Cincin Api tersebut bergerak maju dengan sangat cepat dan mengenai lawannya hingga pakaiannya terbakar.


"Sihir Api Tapak Melebur Jiwa."


Jiu Heng menyerang dengan menggunakan telapak tangan yang sudah diselimuti oleh api dan memberikan serangan terkahir kepada lawannya.


Pendekar sekte Kelelawar Hitam tersebut terpental sejauh 3 meter dan hanya bisa menahan rasa sakit di tubuhnya yang seperti terbakar dari dalam.


Pertarungan antara puluhan pendekar muda melawan 38 Pendekar Sekte Kelelawar Hitam berlangsung cepat, itu karena kerja sama mereka semua sehingga berhasil menumbangkan para Pendekar dari Sekte Kelelawar Hitam dalam waktu singkat.


***


Chinmi terus berlari kearah pelabuhan untuk mengejar para peserta yang diculik. Chinmi yakin jika mereka belum tiba di pelabuhan karena jarak pelabuhan dan kerajaan cukup jauh.


Chinmi mengerutkan dahinya saat melihat salah satu diantara mereka sedang melepaskan sesuatu kearahnya.


Sebilah pisau kecil dilempar dengan menggunakan energi sehingga melesat dengan kecepatan tinggi kearah Chinmi.


Chinmi menghidari lemparan pisau tersebut, melihat dari lemparannya yang cukup jauh, Chinmi yakin yang melemparnya adalah seorang pendekar Menengah.


"Sepertinya mereka menyadari jika aku mengejar mereka," gumam Chinmi.


Chinmi semakin mempercepat larinya dan tiba-tiba dua orang Pendekar sudah berdiri menghadang jalannya.


"Aku kira siapa yang mengikuti kami, ternyata hanya seorang bocah saja!" kata salah satu dari mereka setelah mengetahui jika yang mengejar mereka ternyata hanyalah seorang anak kecil.


"Kakak, sebaiknya kita tangkap saja anak ini!" ucapnya kepada temannya.


"Mereka berdua berada pendekar Menengah tingkat 2. Jika aku melawan mereka berdua sekaligus, maka aku pasti akan kalah," batin Chinmi setelah mengukur kekuatan keduanya.


"Anak kecil, sebaiknya kamu jangan melawan, tidak akan menggunakan kekerasan kepadamu!" kata salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Maaf aku tidak berniat untuk menyerahkan diri, jadi tolong menyingkirlah dari jalanku."


Mereka berdua melotot mendengar perkataan Chinmi, "Anak kecil kurang ajar, akan ku bunuh kau!" kata salah seorang dari mereka kemudian menyerang Chinmi dengan mengunakan senjata berbentuk rantai.


Chinmi segera melompat mundur menghindari rantai tersebut yang berwarna hitam. Rantai tersebut mengenai salah satu pohon kecil hingga patah.


Chinmi terkejut karena daun pohon tersebut langsung layu kemudian kering seketika ketika setelah terpotong oleh rantai hitam tersebut.


"Rantainya beracun..!" Chinmi kini semakin waspada, dia mencabut pedangnya karena musuh memiliki senjata yang cukup berbahaya.


"Owh, jadi kamu mau bermain-main denganku? Baik semoga kamu bisa menghiburku," ucapnya kemudian bergerak lebih cepat dari sebelumnya.


Chinmi merasa lega karena yang menyerangnya hanya satu orang, sedangkan rekan dari lawannya justru hanya jadi penonton saja.


"Dengan begini, aku masih memiliki peluang untuk bisa menang," batin Chinmi kemudian mengambil jarak dengan lawannya.


"Tidak peduli seberapa kuat dirimu, selama kamu bukan seorang pendekar Sihir Elemen, maka kamu tidak akan sanggup menerima seranganku ini," kata Chinmi yang kini memiliki jarak 10 meter dari lawannya.


"Wah-wah, baik ayo tunjukkan padaku ilmu apa yang akan kamu gunakan," kata pendekar tersebut yang terdengar meremehkan.


Chinmi tersenyum lebar karena senang akan kebodohan dan kesombongan lawannya. Chinmi mengangkat pedangnya tinggi-tinggi kemudian mengalirkan energi Qi yang sangat besar ke pedangnya.


"Pedang Angin Pencabut Nyawa."


Chinmi menebas lurus kearah depan, dan tercipta energi Angin berbentuk bulan sabit namun sangat tipis sehingga hampir tidak terlihat.


Pendekar tersebut awalnya hanya tersenyum mengejek, namun begitu merasakan energi yang dilepaskan oleh Chinmi setara dengan Pendekar Puncak Tingkat 3, pendekar tersebut baru sadar jika serangan yang Chinmi lepaskan benar-benar sangat berbahaya.


"Energi yang ia lepaskan kenapa bisa sebesar itu?"


Pendekar tersebut yang baru sadar terlambat untuk menghindar dari serangan energi pedang tersebut sehingga hanya bisa bertahan menggunakan rantainya.


Namun semua pertahanannya sia-sia karena energi pedang milik Chinmi berhasil memotong rantai tersebut dan menembus tubuhnya.


Pendekar tersebut ternyata masih berdiri tegak setelah energi pedang Chinmi menembus tubunya, sedangkan rekan satunya yang hanya menonton menjadi sangat heran melihat temannya hanya berdiri mematung.


"Adik kenapa kamu diam saja, cepat habisi anak itu!" ucapnya kepada temannya yang masih berdiri mematung.


Pendekar tersebut menghampiri rekannya kemudian menepuk pundaknya, "Ada apa dengan..! Apa...!"


Pendekar tersebut kaget setelah menepuk pundak rekannya. Setelah mendapatkan satu tepukan di pundaknya, tubuh rekannya langsung terbelah menjadi dua bagian dan darah langsung menyebar kemana-mana.

__ADS_1


Chinmi bernafas lega kemudian dengan cepat ia menyerap mustika abu-abu agar secepatnya pulih karena lawannya masih tinggal satu lagi, dan ini akan semakin menghambat dirinya untuk meneruskan pengejaran.


__ADS_2