
Panglima Gajah berdiri untuk menyambut kedatangan Gou Zhing, dia yang sudah tidak sabar melihat Gou Zhing membawa Mu Liyi tidak bisa melepaskan pandangannya kearah pintu masuk aula utama.
Tidak lama kemudian, Gou Zhing masuk kedalam dengan berjalan sedikit pelan dan juga terlihat seperti kelelahan.
"Gou Zhing, aku sudah lama menunggu kabar dan juga kedatangan mu, sekarang katakan padaku bagaimana, apakah kamu berhasil membawanya?" tanya Panglima Gajah.
Gou Zhing terdiam dengan menundukkan kepalanya, dia ingin mengucapkan sesuatu namun mengurungkannya.
Panglima Gajah memiringkan kepalanya karena Gou Zhing hanya terdiam, "Owh aku tahu, kami pasti sangat kelelahan, kalau begitu kamu bisa istirahat dulu, namun sekarang serahkan dulu padaku anak Shao Ming itu padaku! Jadi kemana dia, apakah dia berada di luar?" tanya Panglima Gajah sekaligus wajahnya menengok keluar.
"Pa-Panglima! A-aku minta maaf!" kata Gou Zhing dengan terbata-bata.
"Kenapa kamu meminta maaf Gou Zhing, sudahlah berhenti bercanda, sekarang kamu bisa pergi istarahat setelah kamu menyerahkan anak Shao Ming padaku!" kata Panglima Gajah.
"Aku...! Aku telah gagal panglima!" kata Gou Zhing dengan singkat, dia mencoba memberanikan diri untuk mengatakan jika dirinya sudah gagal melaksanakan tugas.
Senyum Panglima Gajah seketika itu juga lansung menghilang, dia menatap Gou Zhing dengan tatapan dingin.
"Gou Zhing, dalam aturanku tidak ada kata gagal, jika pun ada yang gagal dalam melaksakan tugas yang aku tugaskan, maka seharusnya orang tersebut tidak perlu kembali! Aku tahu kamu juga mengatahui aturanku ini," kata Panglima Gajah.
"Aku memang salah Panglima, sebenarnya aku juga tidak ingin kembali kesini karena telah gagal dalam tugas, namun aku tetap harus kembali karena aku memiliki informasi penting yang harus aku sampaikan kepada kalian semua!" kata Gou Zhing.
"Informasi penting? Sepenting apa informasi mu sehingga kamu berani datang kembali dengan kegagalanmu kesini?" tanya Panglima Gajah.
"Panglima, ketiak aku sedang mengawasi keempat Jendral itu, ada dua orang asing yang entah datang dari benua mana, namun yang jelas kedua orang itu bukan berasal dari Benua ini, dan mereka berdua bukanlah pendekar biasa!" kata Gou Zhing.
"Bukan pendekar biasa katamu? Lalu apa hubungannya kedua orang itu akan kegagalanmu?" tanya Mao Tse yang sejak tadi hanya diam.
Panglima Elang juga terlihat biasa-biasa saja akan kegagalan Gou Zhing, dia merasa tugas Gou Zhing tidaklah terlalu pentinga baginya.
"Salah satu dari mereka datang padaku, alasannya karena aku menatapnya, namun aku yakin orang itu pasti sudah bekerja sama dengan keempat Jendral itu untuk menjauhkanaku."
Gou Zhing mulai menceritakan semua yang terjadi padanya, dia juga mengatakan jika kekuatan pendekar tua yang di hadapinya memiliki kekuatan yang sama dengan Panglima Gajah dan Panglima Elang.
Gou Zhing juga mengatakan jika saat ini dirinya bukan lagi seorang pendekar karena pendekar tua yang di hadapinya melenyapkan seluruh kekuatannya.
"Ceritamu menarik juga!" Panglima Elang kini ikut angkat bicara, dia merasa tertarik dengan cerita Gou Zhing.
Panglima Gajah menoleh kearah Panglima Elang dengan menyipitkan matanya, dia sangat mengenal seperti apa sifat Panglima Elang, dia sangat suka jika mendengar ada orang asing memilki kekuatan yang setara dengan dirinya.
"Kamu tidak perlu memberikan hukuman pada Gou Zhing, sekarang aku akan mengambil alih semuanya dari sini! Kamu bisa duduk menunggu menunggu hasilnya saja!" kata Panglima Elang dengan tertawa kecil.
"Apa yang ingin kamu rencanakan?" tanya Panglima Gajah.
"Rahasia, namun rencana ku tidak akan merugikan mu, sekaligus juga akan membuatmu semakin tertarik padaku dan akan memujiku!" kata Panglima Elang dengan mengedipkan mata kepada Panglima Gajah.
"Terserah kamu saja, yang aku mau hanya anak Shao Ming saja!" kata Panglima Gajah kemudian dia meninggal mereka semua dan pergi ke tempat lain.
"Gou Zhing, aku akan menjamin jika kamu tidak akan mendapatkan hukuman atas ke gagalanmu, namun semua itu juga ada syaratnya!" kata Panglima Elang.
"Terima kasih Panglima, apapun sayratnya akan aku laksanakan!" kata Gou Zhing.
"Bagus, sekarang hanya kamu yang mengetahui wajah kedua orang itu bukan, jadi aku, kamu, Mao Tse dan Tian Xiang akan pergi mencarinya, kamu hanya perlu menunjukkan saja siapa orang nya, dan sisanya berikan pada kami, kamu hanya perlu tinggal membawa lari anak Shao Ming dan membawanya ke pada Panglima Gajah!" kata Panglima Elang.
"Baik Panglima, aku akan menemani Panglima!" kata Gou Zhing.
"Kalau begitu kita berangkat dua hari lagi, jadi sekarang kamu istirahat saja karena sekarang kamu tidak ada bedanya dengan manusia biasa."
Panglima Elang meniggalkan ruangan tersebut setalah selesai berbicara, Mao Tse juga segera meningkatkan ruangan tersebut, pandangannya kepada Gou Zhing sekarang sangat berbeda, pandangan Mao Tse terkesan kecewa sekaligus sekarang dia menganggap Gou Zhing adalah semut kecil yang bisa dia bunuh kapan saja dia mau.
Gou Zhing tidak memperdulikan sikap Mao Tse, menurutnya bisa hidup setelah menyampaikan kegagalannya kepada Panglima Gajah adalah sesuatu keberuntungan baginya.
__ADS_1
***
"Cao, tahanlah dulu, bagaiamana aku bisa mengobati mu kalau kamu begini!"
"Kamu ini tidak tahu, ini sangat sakit sekali!"
"Sungguh memalukan punya kakak yang tidak bisa menahan sakit."
"Jaga ucapanmu Mei!"
Di salah satu bangunan Sekte Pedang Suci, Lian Cao dan Lian Mei saling berdebat dan beradu mulut.
Lian Cao mengalami luka yang sangat serius ketikan saat berperang, dia mengalami banyak luka sayatan pedang, dan kedau tulang kakinya juga patah sehingga dia menjadi lumpuh.
Saat di pertempuran, dia hampir kehilangan nyawanya saat di serang secara bersamaan oleh belasan pendekar dari sekte aliran hitam, dan ditambah lagi serangan dari beberapa Hewan Iblis, sehingga Lian Cao juga sempat terkena racun dari salah satu Hewan Iblis yang memilki efek pelumpuh.
Lian Cao benar-benar tidak berdaya ketika kedua tulang kakinya di patahkan oleh para pendekar tersebut, namun ketika nyawanya benar-benar sudah berada di ujung tanduk, Xian Fai segera berusaha melindunginya, walau dia sendiri juga mengalami banyak luka di tubuhnya.
Pertarungan yang berat sebelah itu hampir membuat mereka merasa putus asa, namun Xian Fai tetap berusaha melawan dan melidungi Lian Cao.
Untungnya Angin segar segera datang, mata Xian Fai melebar setelah melihat pemuda yang seumuran dengan Lian Cao datang, dia hampir tidak mengenalinya sebelum akhirnya pemuda tersebut mengeluarkan pedang yang tidak asing baginya.
Kedatangan Chinmi membuat semua yang merasa putus asa menjadi kembali bersemangat, di tambah lagi para pertapa juga datang dan kedelapan Naga juga datang membantu dan berada di pihaknya.
"Kau hanya merepotkanku saja!" gerutu Lian Mei.
"Mei, kenapa kamu tega padaku! Jika bukan kamu, siapa lagi yang akan merawatku?" kata Lian Cao dengan wajah sedih.
Lian Mei yang merasa kesal kini berubah menjadi iba, hanya Lian Cao keluarga satu-satunya yang ia miliki, jadi jika salah satu dari mereka terluka, siapa lagi yang akan merawatnya.
"Berhentilah memasang wajah sedih seperti itu, kamu hanya membuatku ingin menangis saja!" kata Lian Mei.
Walau bicaranya terdengar kasar, namun air matanya tetap keluar menetes melewati pipinya. Sudah lebih dari dua bulan sejak pertempuran besar itu berakhir, hanya luka-luka luar saja yang berhasil di sembuhkan, dan efek racun pelumpuh juga sudah berhasil di hilangkan.
Masalah tidak hanya Lian Cao saja yang mengalami cidera seperti itu, masih ada puluhan murid lainnya yang hampir mengalami hal serupa seperti Lian Cao.
"Bagaimana keadaanmu Lian Cao?" Xian Fai berdiri di depan pintu rumah mereka menatap Lian Cao dengan tersenyum lembut.
"Kau ini hanya datang dengan tersenyum padaku seperti itu, jika kamu terus-menerus seperti itu, aku tidak akan pernah merestui hubungan mu dengan adik ku!" kata Lian Cao.
"Aduhhh..! Mei'er, apa yang kamu lakukan?"
Lian Mei langsung memukul kaki Lian Cao saat mendengar perkataan kakaknya sehingga Lian Cao berteriak dan air matanya keluar karena menahan sakit.
"Salah mu sendiri bicara seperti itu pada Xian Fai!" kata Lian Mei dengan melotot pada Lian Cao.
"Dia belum menjadi tunangan mu atau suamimu, tapi kamu sudah berani memukul kakakmu hanya demi membelanya! Ini sungguh menyakitkan!" kata Lian Cao.
Xian Fai tertawa kecil melihat hal itu, dia segera menghampiri Lian Cao dan berdiri di samping kursi tempat Lian Cao duduk dengan kedua kakinya yang berada di kursi lainnya.
"Sudahlah, apa kamu tidak kasian melihatnya kesakitan seperti ini?" kata Xian Fai kepada Lian Mei.
"Lihat, bahkan calon adik ipar ku saja mengerti akan penderitaanku, tapi kamu?"
"Makanya kalau bicara jangan sembarangan!" jawab Lian Mei dengan ketus.
Xian Fai dan Lian Mei memang memiliki hubungan, dan seluruh penghuni Sekte Pedang Naga Suci mengetahui itu.
Umur Xian Fai dan Lian Cao hanya berbeda Enam tahun, saat ini umur Lian Mei sudah 19 tahun, dan umur Xian Fai sudah 25 tahun.
Walau mereka saling mencintai, namun mereka masih belum berencana untuk buru-buru menjalin hubungan yang lebih jauh, itu karena mereka masih harus sama-sama berlatih agar lebih kuat dan bisa menjadi pilar pertahanan Sekte Pedang Suci.
__ADS_1
"Mei, kenapa kamu tidak menemani Nona Yue Yin, dia sekarang sedang bersama dengan Tuan Putri itu di samping rumah Nona Yue Yin," kata Xian Fai.
"Aku..!" Lian Mei melirik kearah Lian Cao.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan nya, aku datang kesini memang untuk menemani nya, dan akan menggantikan mu, jadi pergilah!" kata Xian Fai.
"Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu, dan tenang saja, aku tidak akan lama," kata Lian Mei kepada Lian Cao.
Lian Mei segera keluar untuk menemui Yue Yin. Hanya Yue Yin yang menjadi satu-satunya sahabat terbaik yang dimiliki oleh Lian Mei, setiap ada masalah apapun, dia hanya menceritakan semuanya kepada Yue Yin, begitu juga sebaliknya.
"Lian Cao, kemarin saat aku kembali dari misi, aku berhasil mendapatkan Pil ini, namanya Pil Daun Bunga Kristal, menurut penjualnya, pil ini berkhasiat bisa memulihkan tulang-tulang yang patah, namun aku hanya bisa membeli dua butir saja!" kata Xian Fai sekaligus menyerahkannya kepada Lian Cao.
"Ini..! Berapa harga dari setiap butirnya? Aku yakin ini pasti sangat mahal!" kata Lian Cao, dia ragu untuk menerima pil tersebut.
"Kamu tidak perlu menanyakan harga, yang terpenting kamu bisa sembuh, walau tidak sepenuhnya, namun pil ini akan sedikit memulihkan tulang-tulang mu yang patah!" kata Xian Fai.
"Terima kasih, aku tidak tahu lagi sudah berapa banyak hutangku padamu," kata Lian Cao.
"Tidak perlu dipikirkan, lagi pula pil ini masih belum seberapa, andai aku memiliki uang yang cukup, aku pasti akan mencarikan Pil Matahari Merah itu untukmu," kata Xian Fai.
Pil Matahari Merah terkenal akan khasiatnya yang sangat ampuh, namun setiap butirnya sangat mahal, bahkan setiap sekte besar saja terkadang hanya memiliki sebutir saja, dan bahkan ada yang tidak memilikinya sama sekali.
Penjual pil tersebut hanya ada di Asosiasi Tujuh Bintang saja, namun untuk membelinya, butuh uang sebanyak 100 ribu koin perak hanya untuk sebutir saja.
Harga yang semahal itu bukan hanya karena khasiatnya yang sangat ampuh, melainkan karena stoknya yang terbatas, karena itu harganya sangat fantastis.
"Tidak-tidak, aku tidak mau lagi menambah hutang lagi, jadi biarkanlah, siapa tahu Pil Daun Bunga Kristal ini bisa berkhasiat!" kata Lian Cao.
Mereka berdua saling mengobrol, dan setelah cukup lama, mereka terkejut karena di depan halaman mereka rumah Lian Cao, tiba-tiba saja muncul tujuh orang asing di halaman rumah Lian Cao.
Mereka bisa melihat itu karena pintu rumah tidak tertutup. Setalah beberapa saat, Xian Fai mengenali salah satunya.
"Itu..! Bukankah itu Chinmi?" seru Xian Fai.
Lian Cao yang juga melihat itu juga ikut terkejut, dia sampai lupa jika tulang kakinya sehingga dia menurunkan kakinya berniat untuk berdiri.
"Arghh..! Aduh.. Siaal..!" seru Lian Cao dengan meringis menahan rasa sakitnya.
Xian Fai segera membantu Lian Cao kembali duduk di kursinya, "Tunggulah sebentar disini Lian Cao, aku akan kesana!" kata Xian Fai.
"Eh.. Xian Fai...!" Lian Cao ingin menghentikannya, namun Xian Fai keburu pergi untuk menyusul Chinmi yang sudah melangkah pergi bersama keenam orang yang tidak di kanal menuju ke arah Ji Long.
"Chinmi, tunggu..!" panggil Xian Fai sekaligus menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar Chinmi.
Chinmi berhenti melangkahkan kakinya begitu juga keenam orang yang bersamanya, dia segera menoleh kebelakang dan melihat seorang pemuda sedang menuju kearahnya.
Chinmi menyipitkan matanya, dan kemudian dia tersenyum lebar, "Ternyata teman lamaku!" kata Chinmi.
"Saudara Xian Fai,sudah lama kita tidak bertemu, Bagaimana kabarmu?" tanya Chinmi.
Xian Fai tersenyum kecut, mungkin bagi Chinmi sudah lama tidak bertemu, namun bagi Xian Fai, dia sudah pernah bertemu dua kali, yang pertama di pertemuan seluruh Sekte aliran putih dan netral, dan yang kedua di medan perang, saat itu dia tidak sempat bicara karena situasi nya saat itu sedang di medan Perang.
"Aku baik-baik saja, tapi tidak untuk Lian Cao!" kata Xian Fai.
"Em.. Kenapa dengan saudara Lian Cao?" tanya Chinmi.
"Dia sekarang lumpuh karena tulang kedua kakinya patah, dan itu terjadi ketika saat perang besar itu!" kata Xian Fai.
"Benarkah? Kalau begitu..!" Chinmi berhenti berbicara kemudian dia teringat kepada Hanzi dan Feng Ying yang berdiri di samping nya.
"Begini saja, aku akan menolong sauadara Lian Cao sekarang, dan kamu tolong antarkan mereka untuk menemui ketua Ji Long!" kata Chinmi.
__ADS_1
"Baiklah, mari ikut saya!" kata Xian Fai, dia merasa senang karena Chinmi akan membantu Lian Cao, walau dia tidak tahu obat apa yang akan Chinmi berikan kepada Lian Cao, namun Xian Fai yakin Chinmi pasti bisa menolongnya.