PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pangeran Buron


__ADS_3

Sebenarnya tidak hanya Chinmi saja yang baru pertama kalinya melihat Dewi Kwan Im secara langsung, melainkan hampir semua baru melihat nya kecuali Ho Chen dan Cao Yuan.


"Dewi, apakah kedua mahluk yang tersisa juga akan Dewi ampuni?" tanya Yinfei.


"Setiap mahluk berhak mendapatkan kesempatan untuk bertobat, tidak ada makhluk yang tidak pernah melakukan dosa ataupun kesalahan, jadi berikanlah waktu kepada mereka untuk menyadari kesalahannya!" kata Dewi Kwan Im.


"Bagaimana jika ternyata mereka tidak mau berubah?" Lio Long juga ikut bertanya.


"Jika demikian lakukanlah apa yang menurut kalian pantas di lakukan!" jawab Sang Dewi.


Dewi Kwan Im memandang kearah Chinmi dengan senyumnya yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa damai.


"Sifatmu di kehidupan ini sangat jauh berbeda dengan sifatmu yang dahulu, kelak jika kamu sudah memiliki kembali kekuatanmu gunakanlah untuk membantu mahluk hidup dan melindungi alam semesta!" kata Dewi Kwan Im kepada Chinmi kemudian dia menatap kearah Cao Yuan.


"Panglima Cao, aku serahkan dia padamu! Sekarang aku akan pergi," kata Dewi Kwan Im.


Cao Yuan segera memberi hormat dan di ikuti oleh yang lainnya dan kemudian Dewi Kwan Im pergi meninggalkan mereka semua.


"Mari kita kembali dulu!" kata Cao Yuan mengajak mereka semua untuk kembali ke dunia Chinmi.


***


Ratapan Isak tangis terdengar hampir di seluruh Benua Daratan Tengah, banyak bangunan yang roboh dan tidak sedikit pula banyak manusia yang mati menjadi korban dari pertempuran antara Ketiga mahluk melawan para manusia Dewa.


Yang paling parah kerusakannya adalah wilayah Kerajaan Api Timur dimana banyak korban jiwa di sana, bahkan beberapa bangunan disana juga roboh dan istana Kerajaan Api Timur sendiri juga terlihat retak.


Saat guncangan sedang terjadi, semua tahanan yang berada di dalam penjara terpaksa di keluarkan karena khawatir penjara tersebut bisa ambruk dan menimpa semua yang ada di dalamnya.


Hal itu di buat kesempatan oleh Ming Zai untuk kabur, sudah cukup lama Ming Zai berada di dalam penjara, dan begitu melihat ada kesempatan untuk kabur, maka dengan cepat dia melarikan diri dan pergi dan pergi meninggalkan Kerajaan Api Timur.


"Tunggulah kalian, suatu saat nanti aku akan membuat perhitungan dengan kalian, dan aku akan merebut istana dari tanganmu Ayah!" kata Ming Zai kemudian dia pergi sejauh mungkin.


Ming Zai tidak tahu harus pergi kemana, namun saat ini dia memiliki satu tujuan, yaitu akan berlatih meningkatkan kekuatannya entah kepada siapa dan dimana.


Sesekali dia melihat kebelakang karena khawatir jika para prajurit sedang mengejarnya, Ming Zai sangat hafal jalan-jalan pintas untuk pergi tanpa satu orang pun yang mengetahui jalan tersebut kecuali Ming Zai sendiri.


"Ihh.. Tempat ini bau bangkai!" gerutu Ming Zai saat dia melewati sebuah desa kecil dimana desa tersebut sangat sepi karena sebagian penduduk desa sudah pergi dan beberapa mati tertimpa bangunan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, apakah gempa dan beberapa bencana ini hanya di alami di Kerajaan Api Timur saja?"


Ming Zai berjalan terus dan tidak berniat untuk beristirahat di desa tersebut karena bau bangkai, walau mayat-mayat tersebut belum terlalu membusuk dan bau juga belum terlalu menyengat, namun tetap saja itu membuat Ming Zai merasa tidak nyaman.


"Semoga di desa berikutnya tidak seperti ini!"


Ming Zai mempercepat langkahnya berharap di desa berikutnya masih ada penduduknya, setidaknya itu yang di harapkan saat ini.


Ming Zai berjalan hampir semalaman dan hanya beristirahat sebentar, dia tidak mau berlama-lama di jalan karena takut para prajurit mengejarnya dari belakang.


Setelah fajar mulai terlihat, Ming Zai melihat desa dari jauh, dia sudah tidak tahan lagi karena merasa letih dan juga lapar sehingga dia mempercepat langkahnya.


"Apakah penduduk semua desa di Wilayah ini sudah pindah semua? Kenapa tidak ada satu orang pun disini?"


Ming Zai bejalan menelusuri Desa tersebut, banyak rumah-rumah yang roboh, namun tidak ada mayat maupun bangkai di desa tersebut.


"Baju, Celana dan sandal jadi satu, apakah mereka buru-buru pergi hingga barang mereka tertinggal seperti ini!"


Ming Zai meraih baju yang lengkap dengan celana dan sandal di tanah, dari dalam baju keluar banyak debu halus.


Karena tidak ada bau bangkai sama sekali, Ming Zai mencoba masuk kedalam sebuah rumah besar yang sebagian bangunannya sudah ambruk.


Di dalam rumah tersebut tenyata masih banyak baju yang juga komplit dengan seluruh bawahannya, terlebih lagi ada sebuah ayunan bayi yang di dalamnya ada pakaian bayi yang di penuhi dengan debu.


"Sepertinya ada yang aneh!" batin Ming Zai karena merasa ada yang salah, namun dia tidak mengerti apa yang salah.


"Dimana dia! Cepat cari aku yakin pangeran pasti istirahat disini!"


"Kenapa mereka lama sekali menyusul kita kesini, sudah ku bilang agar jangan mengurusi mayat-mayat di desa itu agar kita tidak kehilangan jejak pangeran Ming!"


Saat Ming Zai masih belum bisa mengerti akan keanehan di desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar ada beberapa prajurit Kerajaan Api Timur datang dengan membawa tiga ekor anjing.


"Sial, ternyata mereka masih mengikuti ku sampai sejauh ini!" gerutu Ming Zai.


Ming Zai yakin kali ini dia tidak mungkin lagi bisa kabur melihat tiga ekor anjing yang bisa mencium keberadaanya.

__ADS_1


"Hanya Sembilan prajurit, aku harus membereskan mereka secepat mungkin sebelum prajurit berikutnya datang!" kata Ming Zai.


Ming Zai sanggup untuk mengalahkan mereka semua, namun dia harus cepat karena dia khawatir jika di belakang ada prajurit lain yang mungkin ada salah satu jendral bersama mereka.


"Kalian mencari ku?" kata Ming Zai yang keluar dari rumah persembunyian nya.


Kesembilan prajurit segera mengelilingi Ming Zai dengan mengarahkan ujung tombak mereka kearah Ming Zai.


"Pangeran! Sebaiknya pangeran ikut kami tanpa perlawanan karena kami tidak mau menyakiti pangeran!" kata salah satu Prajurit.


Ming Zai tersenyum mendengar perkataan prajurit tersebut kemudian menjawabnya, "Apa kamu lupa siapa aku! Seharusnya kalian datang dengan membawa salah satu Jendral atau kesatria yang lebih kuat, jika hanya kalian saja itu masih belum cukup untuk bisa menangkap ku!" kata Ming Zai.


Semuanya saling berpandangan ke rekan mereka masing-masing, meraka semua sadar jika mereka saja tidak akan cukup untuk bisa menangkap Ming Zai.


"Pangeran! Mungkin kami tidak akan bisa menangkap pangeran, namun Jendral Lo Wei Xhen akan segera datang menyusui."


"Owh.. Kalau begitu Jendral Lo akan datang dan akan melihat mayat kalian semua!" Ming Zai segera memotong perkataan Prajurit tersebut dan kemudian tangannya terlihat mengeluarkan api.


"Pangeran kami mohon jangan melawan, jika tidak maka kami terpaksa akan menangkap pangeran dengan cara kekerasan!" kata prajurit tersebut.


"Hahahaha... Coba saja jika kalian mampu!" kata Ming Zai kemudian api di tangannya berubah menjadi bentuk seperti pedang.


"Semuanya cepat tangkap pangeran..!" kata salah satu Prajurit tersebut.


Dengan merasa ragu dan takut, mereka tetap maju menyerang Ming Zai dengan tombak di tangan mereka.


"Dasar prajurit bodoh! Kalau begitu mari saja kalian semua!" seru Ming Zai kemudian dia menyambut serangan mereka semua dengan pedang api nya.


Pedang Api Ming Zai melepaskan energi api yang mampu menyebar hingga beberapa meter kedapan dengan sekali ayun saja.


Tidak satupun dari para prajurit tersebut yang menjadi lawan sebanding Ming Zai, karena itu dengan sekali tebasan saja, semua ujung tombak mereka terpotong dan bekas potongannya terbakar.


Ming Zai kembali mengayunkan pedangnya kearah tiga prajurit yang tidak jauh darinya. Ketiga prajurit tersebut terkejut dan ketakutan.


Mereka berniat ingin kabur namun api yang keluar dari tebasan Pedang Ming Zai sudah lebih dulu mengenai tubuh mereka dan tubuh mereka bertiga terbakar.


Prajurit yang lain hanya bisa melihat ketiga rekan mereka yang berguling-guling di tanah dengan teriakan rasa sakit karena tubuh mereka terbakar tanpa bisa memberi bantuan apapun.


"Pangeran Ming, sebaiknya kamu tidak perlu membunuh mereka!"


Ming Zai berhenti menyerang ketika suara seseorang yang menyapa dirinya. Ming Zai segera menoleh dan melihat Jendral Lo Wei Xhen dengan membawa beberapa puluh prajurit dengan persenjataan lengkap.


"Jendral Lo..!"


Ming Zai segera melompat mundur, dia berusaha menjaga jarak karena dia tahu jika dia bukanlah tandingannya.


"Pangeran! Dengan membunuh ketiga prajurit ini, maka hukuman pangeran akan semakin berat!" kata Lo Wei Xhen kemudian dia turun dari kudanya.


Ming Zai terdiam, dia berusaha mencari cara agar bisa lolos dari Lo Wei Xhen sekaligus para prajurit yang ia bawa.


Lo Wei Xhen mengeluarkan sebuah cambuk yang masih tergulung di pinggangnya. Setelah cambuk tersebut dia lepas, cambuk tersebut berubah menjadi Cambuk api.


Lo Wei Xhen mengayunkan cambuk nya ketanah dengan sangat keras sehingga api di cambuk tersebut menyebar dan juga membuat tanah tersebut meledak dan terbakar.


"Lo Wei Xhen, apakah kamu tidak malu! Apa kata dunia jika seorang Jendral kuat sedang menakuti seorang anak muda dengan pusaka Cambuk Api nya?"


Lo Wei Xhen, Ming Zai dan semua para prajurit melihat ke arah sumber suara yang sedang menegur Lo Wei Xhen, mereka semua melihat ada seorang pria paruh baya dengan wajah yang ditutupi oleh topeng sedang mendekat dengan menunggangi kuda hitam.


"Siapapun kamu sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur urusan ku, ini adalah urusan Kerajaan kami untuk menangkap pangeran!" kata Lo Wei Xhen.


Sebenarnya Lo Wei Xhen merasa mengenali suara pria bertopang tersebut, namun suaranya terdengar sedikit lebih bulat di balik topeng nya.


"Aku sudah terlanjur melihatnya, jadi aku terpaksa harus ikut campur walaupun ini bukanlah urusanku!" kata pria bertopang tersebut.


Ming Zai menyipitkan matanya karena dia juga seperti mengenali suara pria tersebut, namun suaranya terdengar sidikit berbeda.


"Apa mungkin dia itu Jendral Jin Hang? Ah tidak mungkin, suaranya sedikit berbeda!" batin Ming Zai.


"Prajurit, cepat kepung dia!" kata Lo Wei Xhen menyuruh semua Prajurit nya untuk mengepung pria bertopeng tersebut, sedangkan dia sendiri akan menangani Ming Zai.


"Jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian sebaiknya kaian mundur!" kata pria bertopeng tersebut.


Semua para Prajurit merasa ragu untuk terus maju setelah mendengar perkataan pria bertopeng tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kalian berhenti? Cepat kepung dia!" kata Lo Wei Xhen membentak semua prajurnya.


Semua para prajurit langsung bergerak mengepung Pria bertopeng tersebut.


"Maaf aku sudah memperingatkan kalian semua," kata pria bertopang tersebut kemudian dia melompat dari kudanya.


Pria bertopeng tersebut melepaskan banyak energi api berbetuk pisau kearah prajurit, dan satu persatu para Prajurit terkena pisau terbang pria bertopeng tersebut.


Namun pisau tersebut hanya menancap di beberapa bagian tubuh yang tidak mengancam nyawa mereka, bisa terlihat jika pria bertopeng tersebut tidak berniat membunuh para prajurit-prajurit yang tidak tahu apa-apa dan hanya mengikuti perintah dari pemimpin mereka saja.


Dalam waktu singkat, puluhan prajurit berhasil di lumpuhkan denhan kondisi luka di beberapa tempat seperti paha, Lengan dan beberapa titik tertentu yang tidak membunuh mereka.


"Kau tidak akan aku maafkan!" Lo Wei Xhen terlihat marah karena semua prajuritnya sudah di lumpuhkan


Lo Wei Xhen tidak jadi untuk menyerang dan menangkap Ming Zai, dia justru mengangkat Cambuk api nya dan menyerang pria bertopeng tersebut.


Pria bertopeng segera menyambut serangan tersebut dengan pisaunya yang saat ini sudah di aliri energi api juga.


Mereka berdua bertarung dengan bertukar berapa jurus dan juga beberapa sihir yang sama-sama menggunakan Sihir Api.


Ming Zai terkejut karena di tengah-tengah pertarungan, pria bertopeng tersebut memberi isyarat agar dia secepatnya kabur.


Melihat ada peluang untuk kabur, Ming Zai dengan sangat cepat lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh nya, sedangkan Lo Wei Xhen melihat itu tidak bisa menyusulnya karena pria bertopeng tersebut terus menghalanginya.


"Apa sebenarnya yang kamu mau?" tanya Lo Wei Xhen setelah dia menjaga jarak dengan pria bertopeng tersebut.


"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya tidak suka melihat orang yang lebih kuat harus menghadapi seorang anak muda yang lemah!" kata Pria bertopeng tersebut dengan tenang.


"Dia bukan anak muda sembarangan, dia adalah seorang pangeran sekaligus buronan dari Kerajaan Api Timur! Sekarang kamu sudah membiarkan buronan kerajaan lolos, jadi kamu harus bertanggung jawab!" kata Lo Wei Xhen kemudian dia mengeluarkan energi api yang lebih besar dari cambuknya.


Pria bertopeng tersebut terlihat seperti malas untuk bertarung dan kemudian dia berjalan kearah kudanya.


"Mau kemana kamu? Kamu sudah mengacaukan semuanya dan sekarang kamh mau pergi begitu saja? Aku tidak akan membiarkan mu!" kata Lo Wei Xhen kemdian dia melompat tinggi dengan memutar cambuknya dan menjatuhkan cambuknya ke tubuh pria bertopeng tersebut.


Pria bertopeng yang sedang berjalan kearah kudanya tenyata tidak mengurangi kewaspadaanya.


Pria bertopeng tersebut segera menghindari serangan cambuk tersebut sehingga cambuk tersebut mengenai tanah dan tanah yang terkena cambukan langsung meledak.


"Aku sudah tidak mau bertarung lagi, jadi biarkan aku pergi, kita sudahi semua ini!" kata pria bertopeng dengan tenang.


"Apa katamu? Kamu tidak mau bertarung, namun aku akan tetap menangkap mu walau kamu tetap tidak mau bertarung lagi!" kata Lo Wei Xhen yang semakin marah.


Pria bertopeng hanya menghela nafas panjang kemudian dari kakinya keluar api dan dengan kecepatan yang sulit untuk dilihat mata, kaki pria tersebut sudah menendang Lo Wei Xhen hingga sebagian baju Lo Wei Xhen terbakar.


Lo Wei Xhen juga tidak tahu akan apa yang terjadi karena tiba-tiba saja dia sudah terkena tendangan pria tersebut begitu saja.


Lo Wei Xhen membuka bajunya yang terbakar dan terlihat tubuhnya yang kekar bisa terlihat.


Lo Wei Xhen mengikat sebagian bajunya yang tersisa di pinggang dan kemudian dia mulai menatap tajam kearah pria tersebut.


"Kau akan menyesalinya!" kata Lo Wei Xhen.


Lo Wei Xhen mengeluarkan seluruh energinya sehingga aura panas segera menyebar membuat seluruh area menjadi sangat panas.


Pria bertopeng manatap kearah perginya Ming Zai kemudian dia bergumam dengan sangat pelan, "Teruslah lari anakku, carilah tempat berlindung yang aman!" gumam pria bertopeng tersebut.


Lo Wei Xhen juga mendengar sedikit dari gumaman pria bertopeng tersebut namun tidak terlalu jelas.


"Jangan mengalihkan perhatian saat sedang menghadapi ku!" kata Lo Wei Xhen kemudian dia menyemburkan api dari satu telapak tangannya kearah Pria bertopeng tersebut.


"Baiklah jika kamu masih ingin bertarung, aku akan meladenimu!" kata pria bertopeng tersebut kemudian dia juga mengarahkan telapak tangannya kearah Lo Wei Xhen.


"Tapak Api Bumi - Semburan Lava."


Cairan lava juga menyebur keluar dan menabrak semburan api Lo Wei Xhen, namun lava Pria bertopeng lebih kuat dan berhasil menembus semburan api tersebut dengan sangat mudah.


Lo Wei Xhen jelas terkejut, dia belum pernah menghadapi pendekar yang bisa menyemburkan Lava sekuat pria bertopeng tersebut.


"Siapa kamu sebanarnya?" tanya Lo Wei Xhen.


"Aku hanyalah seorang yang tidak sengaja lewat, atau kamu bisa memanggilku Pendekar Topeng Lava!" kata Pria bertopeng tersebut.


"Aku tidak pernah mendengar nama itu!" kata Lo Wei Xhen, namun dia tetap tidak berniat untuk melepaskan pria tersebut karena pria tersebut sudah menggagalkan dirinya untuk menangkap sang Pangeran Buron.

__ADS_1


__ADS_2