PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
harga diri


__ADS_3

***


Chinmi terbang selama berhari-hari tanpa henti, namun saat malam dia akan berhenti di setiap pulau yang ia lewati. Jika dia tidak menemukan pulau maka dia terpaksa harus terus terbang walau dalam gelapnya malam dan terus terbang melintasi samudra yang sangat luas.


"Sudah hampir sebulan aku terbang melintasi lautan ini, akan tetapi aku tidak juga sampai ke Benua Daratan Tengah!" gumam Chinmi sambil terus terbang.


Chinmi berhenti di udara saat melihat gelombang besar air laut dari jauh, "Apakah aku salah arah?" tanya Chinmi dalam pikirannya.


Chinmi menoleh kebelakang dan kemudian melihat arah matahari, selama ini dia mengikuti arah dengan melihat arah matahari terbit dan juga tenggelam untuk menentukan arahnya.


"Tidak, aku harus tetap melanjutkannya!" batin Chinmi.


Chinmi berencana kembali karena khawatir jika dirinya salah arah, namun saat melihat matahari, dia yakin dia menuju kearah yang tepat.


Dengan cepat Chinmi kembali terbang, dia terbang melintasi lautan yang memiliki gelombang besar serta angin lebih kencang dari sebelumnya.


"Ternyata ada pulau di tengah-tengah samudra ini!"


Chinmi melihat ada pulau kecil di tengah-tengah air laut, di tambah lagi hanya ada satu pulau saja di tempat itu.


Chinmi tidak berniat untuk berhenti dan dia berencana hanya melewati pulau tersebut. Namun saat dia terbang di atas pulau tersebut, Chinmi langsung berhenti ketika dia merasakan kekuatan terpancar dari bawah nya.


"Ada dua pertapa di pulau sekecil ini?"


Chinmi bisa merasakan dua kekuatan Pertapa di pulau tersebut. Chinmi tahu jika tempat para Pertapa pasti berada di tempat yang tidak di ketahui oleh orang lain, namun dia tidak menduga jika di pulau kecil tersebut terdapat dua orang pertapa.


Chinmi segera turun kebawah sekaligus ingin beristirahat karena sudah empat hari dia belum beristirahat, lagi pula semenjak dirinya pergi dari Kerajaan Mutiara Emas, dia sama sekali belum bertemu dengan seorang pun sehingga dia berencana mampir sekaligus ingin melihat akan siapa dua Pertapa yang ada bawahnya.


Saat dia mulai dekat dengan pulau tersebut, Chinmi menyipitkan matanya saat melihat dua orang yang sedang berdiri menatap kearahnya.


"Nona Bing dan Senior Xie Wen?" batin Chinmi.


Chinmi tidak akan melupakan kedai orang tersebut, walau sudah lama tidak bertemu dengan Xie Wen, namun dia tidak akan pernah melupakannya, sedangkan yang satunya adalah cucu dari ketua sekte Pulau Es yaitu Bing Mei.


Chinmi tentu tidak akan pernah melupakan Bing Mei karena dia sudah bertemu dengannya sekaligus nenek Bing Mei sudah menjodohkan cucunya dengan dirinya.


"Nona Bing Mei sudah menjadi seorang pertapa juga! Tidak ku duga dia memiliki potensi yang sama dengan Nona Qie Yin!" batin Chinmi.


Chinmi mulai mendaratkan kakinya di tanah, sedangkan Xie Wen segera maju dan membelakangi Bing Mei.


"Siapa kamu?" tanya Xie Wen yang mulai waspada


Berbeda dengan Xie Wen, Bing Mei justru memandangi Chinmi dengan tatapan penuh takjub karena dia melihat aura berbeda yang terpancar dari tubuh Chinmi.


Aura tersebut seperti cahaya emas, namun terlihat samar-samar, namun aura itu membuat aura Chinmi terlihat berwibawa sekaligus sangat tampan.


"Senior Xie Wen, apakah kamu tidak mengenaliku?" tanya Chinmi dengan tersenyum lembut.


Xie Wen menyipitkan mata nya sambil mengamati Chinmi secara teliti, dia merasa jika pernah melihat Chinmi sebelumnya namun dia lupa.


"Wajah mu memang terasa tidak asing, namun aku tetap tidak bisa mengingat akan dirimu! Bing'er, apakah kamu mengenalnya?" Xie Wen bertanya kepada Bing Mei.


"Guru, dia adalah Li Chinmi, murid Guru Fan Yuzhen!" kata Bing Mei.

__ADS_1


Xie Wen terkejut setelah mengetahui jika ternyata pemuda yang ada dihadapannya adalah murid Fan Yuzhen.


"Guru?" Chinmi terkejut karena Bing Mei memanggil Xie Wen dan Fan Yuzhen dengan sebutan guru.


"Jadi kamu murid si Yuzhen, pantas wajahmu sangat tidak asing bagiku, lagi pula kamu sudah dewasa jadi aku sedikit lupa karena perubahan wajahmu itu!" kata Xie Wen.


Xie Wen hanya bertemu dengan Chinmi dua kali, pertama saat dia menemui Fan Yuzhen, dan yang kedua saat pertempuran di kerajaan Es Utara, dan saat Chinmi masih berumur 12 tahun.


Namun sekarang Chinmi sudah dewasa dan banyak sekali perubahan pada wajahnya sehingga membuat Xie Wen sedikit lupa.


"Nona Bing, kenapa Nona Bing berada di pulau ini?" tanya Chinmi kepada Bing Mei yang berdiri di belakang Xie Wen.


"Aku disini berlatih dengan Guru Xie!" kata Bing Mei.


"Pantas!" kata Chinmi.


"Pantas? Apanya yang Pantas?" tanya Bing Mei.


"Kamu memanggil senior Xie Wen dengan sebutan guru tadi bukan?" Bing Mei menjawab dengan anggukan.


"Tapi kenapa kamu juga memanggil guru Fan Yuzhen dengan sebutan guru juga?"


"Beliau juga mengajariku, bukan hanya beliau saja, bahkan guru Wu Tong dan guru Tian Xiang juga terkadang datang untuk mengajariku!" jawab Bing Mei.


"Mereka semua? Hemm.. Pantas saja kamu bisa mencapai tingkat pertapa secepat ini, jadi kamu menjadi murid keempat Pertapa," kata Chinmi.


"Chinmi, aku dengar kamu sedang berlatih dengan pendekar yang bernama Kultivator, kenapa sekarang kamu berada di sini?" tanya Xie Wen.


"Senior, nama orang yang melatih ku adalah Senior Lio Long dan Kultivator itu bukan namanya, melainkan nama seperti gelar pendekar seperti kita, dan tingkatannya jauh lebih tinggi dari kekuatan kita!" kata Chinmi.


"Benar sekali Senior!" jawab Chinmi.


"Jika demikian seharusnya saat ini kamu juga memiliki kekuatan yang sama bukan?"


"Tidak senior, aku masih jauh untuk menyusul kekuatan senior Lio!" jawab Chinmi.


Xie Wen merasa tidak percaya, masalahnya dia sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan Chinmi, jika Chinmi berada di tingkat pertama mau awal atau puncak, seharunya dia bisa mengukurnya.


Namun nyatanya dia sama sekali tidak bisa mengukur atau merasakan seberapa besar kekuatan Chinmi, dan berada di tingkat apa dia sekarang kecuali hanya Aura emas yang samar-samar terpancar dari tubuh dan wajah Chinmi.


"Maafkan aku Chinmi, jika boleh orang tua ini meminta, maukah kamu menunjukkan kekuatanmu padaku?"


Xie Wen sangat penasaran akan kekuatan Chinmi, dia ingin tahu se sakti apa dia sebenarnya sehingga dia ingin berlatih tanding dengan Chinmi.


Bing Mei terkejut mendengar permintaan gurunya, selama ini dia tidak pernah melihat gurunya se penasaran seperti itu.


"Maafkan aku senior, bukannya aku tidak mau, namun kekuatanku tidak sekuat seperti yang senior pikirkan!" jawab Chinmi yang menolak secara halus sekaligus beralasan.


"Aku akan tahu setelah membuktikannya sendiri!" kata Xie Wen kemudian dia segera menyerang Chinmi.


Bing Mei ingin mengehentikan gurunya namun telat karena gurunya sudah lebih dulu memberikan serangan nya kepada Chinmi.


Chinmi yang terkejut dengan serangan mendadak tersebut segera menahan semua serangan Xie Wen dengan menghindari setiap serangan yang di arahkan padanya.

__ADS_1


Chinmi merasa heran karena niatnya untuk beristirahat harus tertunda karena keinginan Xie Wen yang ingin berlatih tanding dengannya.


Xie Wen sendiri hanya ingin membuktikan apakah Chinmi sudah mencapai tingkat Pertapa atau bahkan melebihi nya, dia hanya ingin memastikan apakah Chinmi adalah seorang pendekar yang berbakat atau muridnya Bing Mei yang berbakat.


Setiap serangan Xie Wen mengandung butiran air yang sangat halus namun mematikan, Chinmi yang hanya berusaha untuk bertahan kini mengeluarkan kekuatannya.


Namun tidak seluruhnya, melainkan dia mengeluarkan kekuatannya setara dengan kekuatan Xie Wen.


"Jadi benar kamu sudah mencapai ke tingkat Pertapa? Baiklah mari kita buat latihan ini semakin seru!" kata Xie Wen kemudian dia melepaskan seluruh energinya yang mampu membuat pulau Bukit Harapan bergetar.


Chinmi hanya bisa menghela nafas panjang, dia berniat untuk mengalah karena dia tidak mau mempermalukan Xie Wen dihadapan muridnya sendiri.


Xie Wen mengarahkan kedua telapak tangannya dan kemudian sebuah gelembung kecil yang sangat banyak mengarah ke Chinmi.


Chinmi membuat perisai energi yang tidak terlihat dan membiarkan gelembung itu mengenai tubuhnya.


Bing Mei terlihat resah saat gelembung kecil tersebut mengenai tubuh Chinmi dan membuat banyak ledakan beruntun.


Xie Wen mengerutkan dahinya saat melhat hal itu, dia bisa melihat Chinmi yang mulai jatuh kebawah karena terkena serangannya.


Dia dan Bing Mei segera menghampiri Chinmi yang berpura-pura merintih kesakitan, sedangkan Bing Mei segera membantu Chinmi untuk berdiri.


"Guru, seharusnya guru jangan menyerang Chinmi dengan kuat karena kekuatan Guru dan Chinmi sangat jauh berbeda! Andai saja Chinmi terluka parah bagaimana?" kata Bing Mei.


Xie Wen mengangkat sebelah alisnya mendengar pembelaan Bing Mei kepada Chinmi, sepintas dia bisa melihat jika Bing Mei ada ketertarikan kepada Chinmi.


"Maafkan aku Bing'er, aku terlalu bersemangat tadi karena sudah lama aku tidak berlatih tanding seperti ini! Maafkan aku Chinmi!" kata Xie Wen.


"Tidak apa-apa Senior, lagi pula lukaku tidak terlalu serius!" kata Chinmi.


Xie Wen hanya tersenyum penuh makna melihat Bing Mei yang seperti sangat khawatir kepada Chinmi.


Xie Wen melangkah pergi menjauhi mereka berdua menuju ke kursi kayunya, sedangkan Bing Mei segera membersihkan baju Chinmi yang kotor.


"Apa kamu yakin tidak apa-apa? Apa kamu terluka?" tanya Bing Mei.


"Nona Bing, aku baik-baik saja, dan terima kasih karena Nona sudah membantuku!" kata Chinmi.


Bing Mei hanya tersenyum dengan perasaan sedikit canggung, sedangkan Chinmi bisa merasakan kecanggungan Bing Mei.


Setalah mereka berdua saling berbincang sambil menanyakan kabar masing-masing, Xie Wen datang menghampiri Chinmi yang saat ini sedang berdiri sendiri karena Bing Mei sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.


"Terima kasih Chinmi!" kata Xie Wen.


"Kenapa Senior berterima kasih padaku?" tanya Chinmi yang keheranan.


"Aku tahu jika kamu tadi sengaja menerima serangan ku tadi, aku mengerti kamu melakukan semua itu hanya demi menjaga harga diriku di hadapan murid ku," kaya Xie Wen yang dari awal sudah menyadari jika Chinmi sebenarnya hanya mengalah.


Xie Wen yakin jika Chinmi sebenarnya menyembunyikan kekuatannya yang sesungguhnya.


"Jadi senior sudah menyadari nya? Hahaha..!" kata Chinmi dengan perasaan malu karena ternyata niatnya untuk mengalah dari Xie Wen ternyata sudah disadari oleh Xie Wen.


***

__ADS_1


Maaf jika telat, untuk besok malam saya akan usahakan untuk bisa update dua Bab, jadi terima kasih atas pengertiannya.


__ADS_2