
***
Panglima Elang bersama sepuluh orang pendekar yang memiliki kekuatan Raja Bumi bahkan ada di antara mereka yang memilki kekuatan Raja Langit berjalan bersama.
Gou Zhing yang sudah tidak memiliki kekuatan juga bersama dengan mereka, dan tujuan mereka adalah mencari keberadaan pendekar tua yang memiliki kekuatan setara dengan Panglima Elang.
"Emm..! Jika tidak salah, di depan sana ada satu sekte besar aliran putih, bagaimana jika kita mampir kesana, siapa tahu ada bayi yang bisa aku jadikan makanan!" kata Panglima Elang.
"Panglima, apakah panglima juga berniat menghancurkan sekte itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Tentu saja, aku akan mengurangi satu per satu kekuatan Benua ini, dan aku akan memulainya dari sekte di depan itu!" kata Panglima Elang.
Mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka sedangkan Panglima Elang sesekali menatap ke arah langit, dia juga bisa melihat ada dinding perisai energi yang masih menutupi seluruh Benua Daratan Tengah.
"Sebenarnya siapa yang sudah membuat perisai ini?" batin Panglima Elang.
Panglima Elang adalah salah satu pendekar yang kekuatannya tidak di ragukan lagi, namun nyatanya dia dan Panglima Gajah tidak mampu menembus atau menghancurkan perisai tersebut.
Setelah sampai di depan pintu gerbang Sekte Pedang Suci, langkah Panglima Elang dan semuanya terhenti ketika mereka semua melihat seorang pemuda sedang berada di hadapan mereka.
"Panglima..!" Tian Xiang salah satu dari tiga pendekar yang lebih dulu berada di Kerajaan Angin Selatan mendekati Panglima Elang.
Panglima Elang mengangkat tangannya memberi isyarat kepada Tian Xiang untuk diam, "Anak muda, kenapa kamu menghadang jalan ku? Menyingkirlah jika kamu masih sayang terhadap nyawa mu!" kata Panglima Elang.
Panglima Elang marasa tidak punya waktu meladeni seorang pemuda tersebut, lagi pula pemuda itu hanya sendirian saja, dan Panglima Elang tidak merasakan kekuatan pemuda tersebut sehingga dia merasa hanya membuang-buang tenaga jika harus membunuhnya.
"Aku hanya tidak sengaja berdiri di sini, tapi kenapa nenek ingin malah mengancam ku? Bukankah jalan ini masih lebar untuk kalian lewati!" kata Pemuda tersebut berbicara dengan tenang dan tidak terlihat ada rasa takut sama sekali.
"Nenek kepalamu! Kamu jangan menguji kesabaran ku, jika kamu mengulanginya lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menginjak semut sepertimu!" kata Panglima Elang yang terlihat marah karena pemuda tersebut memanggilnya dengan sebutan nenek.
"Kenapa kamu jadi marah? Bukankah sudah jelas jika kamu adalah seorang nenek?" kata Pemuda tersebut.
"Chinmi, kami semua bingung mencarimu, tenyata kamu berada di sini!"
Ketika masih berbicara, Yue Yin, Lian Cao, Lian Mei datang dari arah pintu gerbang dan menegur pemuda tersebut yang ternyata adalah Chinmi.
Yue Yin dan yang lainnya terkejut ketika Chinmi tiba-tiba saja pergi begitu saja meninggalkan mereka semua, padahal dia belum memberikan penjelasan akan alasannya kepada Yue Yin.
Mata Panglima Elang melebar saat melihat Yue Yin, "Dua gadis yang cantik, aku yakin Tio Xiang akan sangat menyukainya dan dia pasti akan berterima kasih padaku dan akan memujiku!" kata Panglima Elang.
Tio Xiang yang ia maksud tidak lain adalah Panglima Gajah, selama ini dia sudah lama mencari perhatian Tio Xiang, namun apapun yang sudah ia lakukan, tetap saja Tio Xiang sama sekali tidak memperhatikannya.
"Jadi benar, kamu adalah salah satu dari dua Panglima dari kelompok Sungai Darah?" tanya Chinmi.
"Owh, jadi nama kelompok kami sudah kalian ketahui? Itu artinya seluruh Benua Daratan Tengah pasti akan mengetahui nya juga bukan? Jika demikian aku tidak perlu lagi memperkenalkan diri, dan sebaiknya kamu pergi dan biarkan kedua gadis itu di bawa oleh anggota ku untuk di serahkan kepada kekasihku!" kata Panglima Elang.
"Chinmi, kamu tidak perlu meladeninya, biar kami saja yang mengurus mereka!"
Feng Ying datang bersama dengan Hanzi dan diikuti oleh Ji Long dan beberapa anggota Sekte Pedang Suci termasuk Yong Chun dan Wang Shing.
Mereka semua datang karena Xian Fai yang memberitahukan kepada mereka, Xian Fai yang awalnya melihat Lian Mei dan yang lainnya pergi keluar segera mengejarnya.
Namun belum sempat dia sampai ketempat Chinmi dan yang lainnya berada, Xian Fai bisa melihat ada beberapa orang asing yang sepertinya bukan penduduk Benua Daratan Tengah.
Xian Fai menduga hal itu karena melihat baju yang di kenakan oleh para orang-orang tersebut. Xian Fai mengurungkan niatnya untuk menghampiri Chinmi dan lebih memilih melaporkan kepada Ji Long.
Kebetulan disana juga ada keempat Jendral bersama Mu Liyi, keempat Jendral segera mengenali ciri-ciri pakaian yang di jelaskan oleh Xian Fai dan Xian Fai ingin bergegas menuju ke tempat Feng Ying.
Namun belum sempat Xian Fei keluar, Feng Ying sudah lebih dulu berada di sana, dia juga melihat kedatangan Panglima Elang bersama anggotanya dengan mata dewa nya, dan dia sangat mengenali salah satu dari orang-orang tersebut.
__ADS_1
Chinmi hanya mengangguk setelah Feng Ying memintanya untuk tidak perlu meladeni Panglima Elang dan anggotanya.
Gou Zhing menghampiri Panglima Elang dan berbisik padanya, "Apa kamu yakin?" tanya Panglima Elang setelah Gou Zhing selesai membisikkan sesuatu padanya.
Gou Zhing mengangguk dan kemudian dia mundur beberapa meter kebelakang sedangkan Keempat Jendral memperhatikannya dengan tatapan tajam.
"Jadi kamu yang sudah berani menyerang salah satu anggota kami?" tanya Panglima Elang kepada Feng Ying.
"Aku tidak menyerangnya! Justru dia yang lebih dulu menyerang ku, dan aku hanya membela diri saja!" jawab Feng Ying dengan santai.
Panglima Elang terkekeh mendengarnya kemudian dia maju ke hadapan Feng Ying, "Kau lebih tua dari yang aku duga, begini saja! Aku akan mengampuni mu asalkan kamu mau menyerahkan dua gadis itu padaku dan sebelah tanganmu juga tinggalkan di sini! Bagiamana sangat mudah bukan?" kata Panglima Elang.
Ji Long segera maju membelakangi Yue Yin dan Lian Mei untuk melindungi mereka berdua setelah Panglima Elang berkata demikian.
Hanzi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Panglima Elang, menurutnya panglima Elang sangatlah lucu.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Panglima Elang.
"Kamu ini sangat lucu! Mana ada orang yang mau meninggalkan tangannya untuk mu? Hahahaha!" kata Hanzi dan kembali tertawa terbahak-bahak.
Panglima Elang merasa kesal atas ucapan Hanzi, "Semuanya kalian kelilingi mereka, pastikan tidak satupun dari mereka yang kabur! Aku akan mengurus orang ini agar dia tahu siapa sebenarnya Panglima Elang!" kata Panglima Elang kemudian dia berniat maju menyerang Hanzi.
"Tidak perlu repot-repot maju ke arahku!"
Panglima Elang terkejut karena Hanzi ternyata sudah berada tepat di hadapan, dia tidak tahu sejak kapan Hanzi bergerak secepat itu.
Chinmi hanya bisa menggelengkan kepala pelan sebelum akhirnya dia menjentikkan jarinya dan kemudian perisai pelindung segera tercipta menutupi seluruh bangunan Sekte Pedang Suci.
Panglima Elang segera melepaskan sebuah serangan tapak biasa, namun serangan tapak tersebut sudah di aliri energi yang mampu menhancurkan satu rumah besar hingga rata.
Hanzi dengan tenang menahan serangan tapak tersebut dengan tapak yang sama. Dentuman keras segera terdengar mengisi udara dan gelombang kejut menyerupai angin dahsyat membuat seluruh wilayah Sekte Pedang Suci seperti terkena badai dahsyat yang menumbangkan banyak pohon-pohon besar.
Beruntungnya Chinmi sudah membuat perisai pelindung sehingga di dalam Sekte tidak terkena imbasnya.
Ji Long sendiri hanya bisa melihat semua itu dengan terpana, andai dirinya yang mendapatkan serangan sekuat itu, dia yakin jika dirinya pasti akan mati seketika itu juga.
"Anak ini selalu saja memiliki teman-teman yang luar biasa!" batin Ji Long dengan mamandang kearah Chinmi yang seolah-olah tidak terkejut melihat kejadian tersebut.
Panglima Elang mulai melayang keudara dan kemudian melepaskan energinya yang sangat besar.
Seluruh wilayah Sekte Pedang Suci berguncang dan langit mulai gelap di sertai dengan petir yang menyambar keberbagai arah.
Ji Long, Yue Yin dan keempat Jendral merasa kesulitan untuk berdiri karena guncangan besar tersebut, terlebih lagi tanah yang menjadi pijakannya mulai terlihat retak.
Chinmi segera muncul di hadapan mereka kemudian menghentakkan kakinya ketanah. Seketika itu juga guncangan dahsyat langsung berhenti.
"Terima kasih..!" kata Ji Long kepada Chinmi.
"Ketua, sebaiknya ketua masuk kembali ke sekte, bawa mereka semua masuk karena di dalam lebih aman!" kata Chinmi.
Ji Long segera menurut kemudian dia dan yang lainnya segera masuk kedalam, Ji Long sadar dengan kekuatan saat ini tidak akan bisa membantu pertarungan yang melebihi kekuatan para Pendekar pada umumnya.
Tian Xiang melihat itu segera bergerak untuk menghentikan Ji Long dan yang lainnya, namun Feng Ying segera menghadangnya.
Kesembilan lainnya juga berniat untuk menghentikan Ji Long, namun ternyata mereka terlambat karena Ji Long dan yang lainya sudah berada di dalam perisai.
Tubuh Panglima Elang mulai diselimuti aura hitam yang sangat pekat dan kemudian aura tersebut mulai berkumpul di belakang nya membentuk sebuah sayap hitam yang sangat lebar.
Hanzi hanya tersenyum tipis melihat hal itu, dia sama sekali tidak kaget maupun merasa takut setelah mengetahui betapa besarnya energi Panglima Elang.
__ADS_1
"Jadi karena ini kamu di juluki sebagai Panglima Elang? Menarik!" gumam Hanzi kemudian dia juga melayang di udara hingga dia sejajar dengan panglima Elang.
Secara perlahan-lahan aura putih di tubuh Hanzi mulai terlihat dan semakin lama aura tersebut semakin membesar dan juga memancarkan kekuatan yang sangat kuat.
Hanzi menggunkan Aura Raja nya, sehingga seluruh gravitasi di seluruh wilayah Sekte menjadi berkali-kali lipat beratnya, bahkan Tian Xiang dan kesembilan Pendekar yang di bawanya kesulitan untuk bergerak.
Tian Xiang berusaha mencari kendaraan Gou Zhing, namun dia tidak melihatnya, Tian Xiang yakin jika Gou Zhing pasti lari lebih dulu karena dia takut kepada Feng Ying.
Tian Xiang menoleh ke atas melihat kearah Hanzi, dia bisa merasakan kekuatan Hanzi yang sangat besar.
"Kekuatannya sama dengan kekuatan Panglima Elang," batin Tian Xiang namun dia sendiri masih belum bisa mengerakkan tubuhnya dengan leluasa.
Panglima Elang sudah selesai meningkatkan seluruh kekuatannya, kini dia terlihat seperti seekor burung elang raksasa karena sayap energi hitam yang ada di belakangnya.
Hanzi sendiri kini terlihat seperti manusia cahaya, karena tubuhnya di si selimuti aura putih, aura tersebut adalah gabungan dari iara Raja dan juga energi matahari.
Keduanya saling berpandangan tanpa ada yang memulai untuk menyerang, namun seluruh wilayah semakin berat karena mereka berdua saling beradu energi.
Angin berhembus secara acak dan tidak beraturan, bahkan anginnya terasa bagai sayatan pisau yang sangat tajam dan banyak daun yang terpotong menjadi dua.
"Aku tidak peduli kamu dari Benua mana, yang aku mau sekarang hanyalah tangan kakek tua itu, dan kedua gadis yang tadi sekaligus kepalamu!" kata Panglima Elang kemudian dia maju menyerang lebih dulu.
Hanzi sama sekali tidak menjawab dan kemudian dia juga maju menyambut serangan Panglima Elang.
Kini keduanya saling beradu serangan sehingga seluruh Benua Daratan Tengah begetar membuat seluruh Kerajaan panik, bahkan para Pertapa juga keluar dari tempat mereka dan segera terbang menuju kesumber pertarungan.
Panglima Elang memiliki kekuatan fisik yang cukup besar, dia memang tidak telalu mahir dalam ilmu sihir, namun dia sangat mahir dalam menggunakan berbagai jurus yang mematikan.
Namun Hanzi jelas lebih unggul karena dia tidak hanya mampu menggunakan ilmu sihir, melainkan Hanzi juga ahli dalam menggunakan berbagai jurus dan ilmu beladiri.
"Kepakan Sayap Hitam."
Panglima Elang mengepakkan kedua sayap hitamnya sehingga mengakibatkan hembusan angin hitam yang sangat kuat yang sangat mampu untuk menghempaskan sebuah gunung.
Hanzi tidak hanya menjentikkan jarinya dan kemudian waktu berhenti begitu saja. Semua berhenti tidak bergerak dan yang hanya bisa bergerak hanyalah Chinmi dan Hanzi.
"Penghentian waktu? Jadi senior menguasai ilmu seperti ini!" kata Chinmi.
Hanzi menoleh kearah Chinmi yang juga memandangnya dengan tatapan kagum, dia mengangguk kemudian dia berpindah tempat ke tempat panglima Elang yang saat ini tidak bisa bergerak.
"Kamu merasa bangga dengan kekuatanmu bukan? Bagaimana jika kamu merasakan kekuatanmu sendiri?" kata Hanzi kemudian dia memindahkan tubuh Panglima Elang kearah angin hitam.
Kini tubuh Panglima Elang akan menerima serangannya sendiri, dan setelah semuanya sudah siap, Hanzi kembali menjentikkan jarinya.
Feng Ying terkejut ketika waktu sudah kembali bergerak, dia melihat posisi Hanzi dan Panglima Elang sudah bertukar tempat.
"Apa yang...? Arghh...!"
Panglima Elang terkejut setelah waktu kembali bergerak karena tiba-tiba saja dia melihat angin hitam sudah berada di hadapannya dan tanpa bisa menghindari serangannya sendiri.
Panglima Elang terhempas sangat jauh dan jatuh di tengah hutan dengan sangat keras. Sekujur tubuhnya di penuhi banyak luka dan darah segar juga mengalir di tepi bibirnya.
Panglima Elang kembali bangkit dan kedua sayapnya masih terlihat tidak menghilang walau kondisinya sudah tidak baik.
Hanzi kini sudah berada di atasnya, dia menatap kearah Panglima Elang yang terlihat masih menahan sakit.
Panglima Elang bangkit dan dia mengalirkan energi nya untuk memulihkan luka-lukanya. Dia kembali melayang keudara namun kondisinya juga belum sepenuhnya pulih.
"Lihatlah dirimu, kau terlihat 50 tahun lebih tua dengan kondisimu itu!" kata Hanzi dengan tertawa kecil melihat wajah Panglima Elang yang terlihat lebih tua dengan rambut acak-acakan.
__ADS_1
***
Semalam saya ada urusan keluarga, mungkin kedepannya saya akan lebih sibuk sehingga terkadang akan tidak update, namun saya akan tetap berusaha meluangkan waktu untuk tetap update dan jika tiba-tiba saya tidak update itu tandanya saya sedang ada kesibukan yang menyangkut masalah keluarga.