
"Krok-kok!!!"
Ternyata tebasan Chinmi sama sekali tidak berhasil menembus tubuh Kodok tersebut. Kodok tersebut terlihat marah. semua itu terlihat dari gerakannya yang berubah.
Kodok tersebut berlari memutari Chinmi dengan suara kokok nya yang keras yang ternyata suara tersebut memanggil kaum Hewan Iblis sesama kodoknya.
ada sekitar 70 kodok yang memiliki kekuatan yang sama dengan rekan-rekannya kecuali satu kodok berwarna putih dengan tubuh berbulu seperti kambing.
Kekuatan satu kodok sebesar kambing ini setingkat lebih tinggi dari lainnya, dan menurut perkiraannya, kodok yang terlihat berbeda tersebut pastilah ketuanya.
"Guru.." Chinmi menoleh kebelakang dan tidak melihat gurunya lagi.
Chinmi hanya bisa mengumpat sekaligus menelan ludah, dia akhirnya akan berusaha dengan caranya sendiri untuk bisa mengatasinya.
"Hanya ada satu cara untuk bisa melemahkan mereka," gumam Chinmi kemudian menatap kodok putih yang berdiri di atas batu besar.
Jalan satu-satunya untuk bisa melemahkan semangat mereka adalah membunuh pemimpin mereka, namun semua itu tidak mudah. Chinmi harus bisa melewati puluhan kodok hitam tersebut untuk bisa mendekati dan menyerang pemimpin mereka.
Chinmi mengalirkan Qi kepedangnya kemudian berlari dengan sangat cepat kearah para puluhan kodok besar tersebut.
Chinmi berusaha ingin menerobos kerumunan kodok untuk menyerang ketua mereka yang berada di atas batu besar dan berdiri di tempat paling belakang.
Chinmi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dengan melompat ke udara, dia berencana akan berlari diatas punggung puluhan kodok raksasa tersebut.
Namun semua tidak semudah seperti yang di rencanakan. Kodok-kodok tersebut ternyata tidak membiarkan Chinmi melewati mereka begitu saja.
Sekitar tiga ekor kodok melompat juga ke udara dan lompatannya lebih cepat dan juga lebih tinggi dari pada Chinmi.
Mereka bertiga langsung menghadang Chinmi dengan menyemburkan ludah mereka kearah Chinmi yang hampir menginjak pundak salah satu dari mereka.
Secara refleks Chinmi menghindar kebelakang dan melihat kearah ludah kodok tersebut dengan mata melotot.
"Ludahnya bisa melelehkan benda?" Chinmi terkejut karena air liur kodok tersebut ternyata mengandung Zat asam yang sangat tinggi.
__ADS_1
Kali ini giliran para kodok yang bergerak terlebih dahulu menyerang Chinmi, mereka semua melompat tinggi kearah Chinmi dan bersiap untuk menembakkan ludah mereka dari atas.
"Pedang Badai Angin,"
Chinmi terpaksa menggunakan jurus pedang Tiupan Angin tahap empat, dengan Qi yang dimilikinya saat ini Chinmi yakin setidaknya dia bisa menghalau tembakan ludah para kodok tersebut, berhasil atau tidak berhasil yang penting Chinmi sudah berusaha.
Chinmi memutar pedangnya keatas dan menciptakan energi Angin yang berputar-putar semakin lama semakin besar. Chinmi menggunakan seluruh Qi miliknya, dan memang benar ternyata Qi yang dimilikinya belum cukup untuk membuat Badai Angin yang besar.
Badai Angin tersebut mampu membelokkan air ludah para kodok tersebut namun tidak mampu melemahkan kodoknya, setidaknya dia berhasil selamat dari hujan air ludah mereka.
Nafas Chinmi memburu, Energi Qi nya benar-benar hampir habis hanya karena menggunakan satu Jurus saja, "Aku tidak akan menyerah,"
Chinmi merapatkan giginya kemudian kembali maju, kali ini dia menggunakan Jurus pedang yang dialiri sisa Qi yang dimilikinya sekaligus di gabung dengan ilmu meringankan tubuhnya.
"Pencari Angin,"
Tubuh Chinmi diselimuti oleh energi Angin yang berputar mengelilinginya, namun setiap pusaran bukan hanya berfungsi sebagai pelindung melainkan juga tidak bisa didekati karena putaran tersebut sangat cepat dan juga tajam.
Jurus Pedang Tiupan Angin tahap pertama ini ternyata cukup efektif karena para kodok tidak ada mendekati atau menghalanginya.
Salah satu kodok berusaha menahan Chinmi dengan menghadang langkahnya, namun saat Chinmi sudah dekat, kodok tersebut menjerit karena kulitnya serasa dicambuk dengan sangat keras oleh angin yang melindungi tubuh Chinmi, andai kulit kodok tersebut tidak keras, mungkin dia sudah terpotong-potong oleh putaran angin.
Akhirnya tidak ada yang berani mendekati Chinmi hingga akhirnya Chinmi berhasil tiba dihadapan Kodok putih yang di duga sebagai pemimpinnya.
"Krokk!"
Kodok putih tersebut seperti berbicara namun dengan bahasanya dan kemudian melompat turun dari atas batu.
"Sekarang aku harus bagaimana?"
Chinmi merasa bingung, kini dia sudah berada di hadapan pemimpin kodok tersebut sesuai yang di inginkannya. Namun masalahnya dia kehilangan banyak Qi sehingga dia ragu apakah dia akan mampu mengalahkan pemimpin kodok itu atau tidak.
"Krokk.."
__ADS_1
Kodok tersebut tidak mau menunggu Chinmi yang masih berpikir lama, dia langsung menjulurkan lidah panjangnya kearah Chinmi membuat Chinmi yang belum siap terkejut.
Lidah kodok putih tersebut seperti karet yang bisa memanjang dan berniat menangkap tubuh Chinmi.
Chinmi dengan cepat melompat ke samping dan kembali mengangkat pedangnya. Dengan sisa Qi nya yang tinggal sedikit, mustahil bagi Chinmi untuk bisa menggunakan jurus Pedang Tiupan Angin.
Kodok tersebut seperti tidak mau memberikan jeda serangannya kepada Chinmi, dia sudah tahu jika Chinmi sudah banyak kehabisan Qi sehingga berencana membuat Chinmi semakin terpojok dan akhirnya kelelahan.
Chinmi hanya berdecak kesal dan akhirnya berusaha semampunya dengan menggunakan pedangnya untuk bertahan dan melawan kodok putih tersebut.
Kodok lainnya yang menyaksikan itu bersuara dengan bersahut-sahutan seperti sedang bersorak menyemangati pemimpin mereka.
Untungnya Chinmi sudah mempelajari jurus pedang dari Ji Long, dimana dia bisa bertahan dan menyerang tanpa harus mengeluarkan banyak Qi, dan justru berusaha kembali mengumpulkan Qi untuk memberikan serangan balasan.
Setelah berusaha menghindar dan bertahan selama hampir tiga puluh menit, Chinmi akhirnya sedikit memiliki Qi yang diserapnya.
Mengumpulkan Qi saat bertarung dengan mengunakan Teknik pernapasan ternyata tidak semudah mengumpulkan Qi dengan cara meditasi, namun bagi Chinmi itu sudah cukup untuk memberikan serangan balasan.
Chinmi bukan hanya berusaha bertahan dengan mengumpulkan Qi nya, dia juga mengamati dengan seksama bagian-bagian terpenting yang mudah untuk diserang, secara singkat Chinmi berusaha mencari kelemahan kodok tersebut.
"Sekarang giliranku!" kata Chinmi kemudian maju memberikan serangan balasan.
Chinmi mengalirkan Qi yang sudah ia kumpulkan. Walau sedikit namun itu sudah cukup banginya untuk membunuh kodok tersebut karena dia sudah menemukan kelemahan kodok tersebut.
Chinmi menggunakan pedangnya yang sudah bercahaya putih terselimuti oleh energi Angin, jurus yang ingin Chinmi gunakan adalah jurus ketika dia latihan membelah batu.
Chinmi mengincar bagian dalam mulutnya karena Chinmi sebelumnya sudah mencoba menyerang mulutnya ketika lidahnya berusaha untuk menangkapnya.
Melihat kodok tersebut dengan sigap menutup mulutnya, Chinmi akhirnya mengerti jika kelemahan kodok tersebut berada di bagian dalam mulutnya.
Chinmi maju berlari dengan sangat cepat kemudian bersiap untuk menusuk mulut Kodok putih tersebut yang terbuka karena berusaha mengeluarkan ludahnya sekaligus mengeluarkan lidahnya untuk menangkap Chinmi.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Chinmi bisa dengan cepat berada dihadapan Kodok tersebut.
__ADS_1
Kodok putih tersebut tidak siap dengan pergerakan Chinmi yang tiba-tiba itu, dia terlambat menutup mulutnya dan dengan cepat Chinmi berhasil menancapkan pedangnya kerahang bagian atas kodok putih tersebut dan kemudian menariknya dengan posisi pedang masih menancap sehingga rahang bagian atas hingga kepala terbelah menjadi dua, dan akhirnya Kodok putih tersebut hanya bisa menggelepar dan kemudian tewas.
Kodok yang lain terdiam dan hanya menatap kejadian tersebut dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya lari menjauh karena pemimpin mereka sudah mati.