
Dalam semua elemen yang ada, hanya ada empat elemen terkuat dari seluruh elemen, elemen tersebut adalah Api, Air, Angin, dan Bumi, dari keempat elemen tersebutlah terlahir elemen-elemen baru mulai dari kayu, Logam, Es dan Pasir.
Sebenarnya keempat elemen baru terlahir karena evolusi dari keempat elemen terkuat, bahkan bisa berevolusi lagi lebih dari itu jika kembali menyatukan dari setiap unsur elemen itu sendiri, karena itulah Chinmi ingin mengubah elemen api nya berevolusi menjadi petir.
Namun ada kasus lain dimana seseorang memang terlahir memiliki Pusat Roh Elemen Petir, dan itu terbentuk secara alami. Sedangkan Ho Chen harus melakukan tahap demi tahap untuk bisa menguasai semua elemen.
Chinmi memunculkan api dari telapak tangannya, dan api tersebut menyala, setelah beberapa saat Chinmi mencoba menambahkan tingkat panasnya sekaligus besarnya.
Qie Yin sendiri berada agak jauh dari Chinmi, dan itu juga atas permintaan Chinmi, dia takut salah melakukan latihan dan khawatir apinya akan nyasar mengenai tubuh Qie Yin.
"Sihir Api Tingkat Nirwana."
Chinmi melayang ke udara dan kemudian mengeluarkan api yang sangat besar dan juga luas dari kedua telapak tangan dan juga mulutnya secara bersamaan.
Jika dilihat dari jauh seperti seekor burung api yang terbang, dimana api dari kedua telapak tangannya terlihat seperti sayap dan api dari mulutnya seperti kepala burung.
Qie Yin melihat hal itu merasa takjub. Menurut Qie Yin, andai Chinmi berada lebih rendah lagi, mungkin api tersebut akan membakar sebagian hutan.
"Tidak ini masih belum cukup!" seru Chinmi kemudian kembali menambahkan energinya dan muncul lagi api dari kedua telapak kakinya.
Kini Chinmi terlihat sempurna seperti seekor burung api yang sangat besar sehingga membuat hutan serasa sangat panas.
Chinmi melakukan itu berkali-kali saat siang saja. Sedangkan saat malam, dia akan bermeditasi untuk memulihkan kembali energinya.
Semenjak dia sembuh dari kelumpuhannya, energinya serasa cepat sekali terkuras, padahal itu hanyalah sebuah latihan saja.
Tanpa terasa sebulan sudah berlalu sedangkan Chinmi sama sekali belum bisa melakukannya.
"Chinmi, aku tahu apa yang ingin kamu lakukan, kamu ini sebenarnya orang yang bodoh atau memang benar-benar bodoh?"
Saat sedang istirahat, Chinmi mengeluarkan Cakram Matahari nya, dan Diyu Hu mengetahui niat Chinmi dan bertanya sekaligus mengejeknya.
"Apa maksudmu Senior Diyu?" Chinmi bertanya dengan sangat sopan kepada Diyu Hu.
"Apa kamu lupa jika aku ini Diyu Hu dari neraka, jika kamu ingin mengubah elemen api mu, aku lah yang pantas untuk kamu tanyakan!" kata Diyu Hu.
"Benar juga kenapa terpikirkan sebelumnya!" batin Chinmi kemudian dia mulai mendapat latihan dan pencerahan dari Diyu Hu.
Qie Yin sama sekali tidak mengetahui akan keberadaan Roh Cakram Matahari sehingga tidak menyadari jika Chinmi saat ini berlatih di bawah bimbingannya.
Satu hari dua hari sudah berlalu dan Chinmi berhasil meningkatkan kekuatan Api nya ke tingkat yang lebih tinggi.
Setelah seminggu berlatih di bawah bimbingan Diyu Hu, Chinmi akhirnya mulai bisa mengubah Elemen Api nya menjadi Api biru.
"Chinmi sekarang kamu pusatkan api biru mu dalam satu titik saja, kamu bisa memusatkan di jari telunjuk mu," kata Diyu Hu.
"Baik senior!".
Chinmi segera mengikuti arahan dari Diyu Hu, dia mengangkat jari telunjuknya dan kemudian Api biru kecil mulai keluar.
"Buat api itu menjadi lebih kuat namun pertahanan kan agar bentuknya tetap kecil seperti itu!" Diyu Hu memberikan arahan.
Chinmi mengikuti arahan Diyu Hu, dia menambahkan energi yang lebih besar dan berusaha untuk membuat ukuran api nya tetap kecil.
Ternyata tidak mudah untuk mempertahankan api biru tersebut tetap kecil, setiap kali Chinmi menambahkan energinya, api biru di jarinya justru ikut membesar.
"Fokuslah Chinmi...!" suara Diyu Hu mengganggu konsentrasi Chinmi sehingga dia hampir mengubah api birunya menjadi api berwarna merah.
"Senior Diyu, kalau ingin mengatakan sesuatu bisakah ketika aku tidak sedang mengaktifkan sihir ku?" kata Chinmi.
"Kamu payah, jika konsentrasi mu gagal hanya karena suara saja, bagaimana cara mu ketika berhadapan dengan lawan mu nanti?" gerutu Diyu Hu dari dalam Cakram Matahari.
"Senior, inikan masih dalam pelatihan, jika aku sudah bisa menguasai nya, tentunya gangguan kecil sudah tidak berarti lagi padaku!" jawab Chinmi.
"Kau pintar sekali berbicara, baiklah terserah kamu saja!" suara Diyu Hu terdengar kesal.
"Apa kamu marah atas ucapan ku senior?" Chinmi bertanya karena merasa nada Diyu Hu yang terdengar marah.
"Marah padamu tidak ada untungnya bagiku, yang ada aku hanya akan ikut-ikutan jadi payah seperti dirimu!" jawab Diyu Hu.
Chinmi hanya terkekeh kecil dan kembali melakukan latihannya, sedangkan Qie Yin hanya melihat Chinmi yang sedang berlatih sendiri dari jauh.
***
Seminggu kemudian Chinmi berhasil menahan api birunya agar tetap pada ukuran kecilnya, dia sudah menambahkan energi nya ke api birunya, dan sesuai yang di katakan oleh Diyu Hu, api biru tersebut bercahaya terang dan juga mengeluarkan percikan-percikan kecil bagai petir yang sangat kecil.
"Bagus-bagus, sekarang kamu sudah bisa mengubah api mu menjadi petir, sekarang coba kamu arahkan ke suatu tempat untuk melihat hasilnya!" perintah Diyu Hu.
Chinmi mengikuti arahan Diyu Hu, dia mengarahkan api birunya yang sudah menjadi petir kearah sebuah kayu, dan tiba-tiba saja lagi tersebut terbelah dan di bekas belahan kayu terlihat ada api yang terbakar.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah menguasai elemen petir, jika suatu saat kamu bisa membuat cabang Pusat Roh nya, maka buatlah!" kata Diyu Hu.
Chinmi berjalan kearah tenda kecil yang atap nya terbuat dari dedaunan, tenda tersebut adalah milik Qie Yin.
"Nona Yin, aku akan mencoba membuka penghalang ini, ayo ikut dengan ku!" kata Chinmi.
"Apakah kamu yakin akan berhasil?" tanya Qie Yin karena merasa tidak yakin.
"Entahlah, namun tidak ada salahnya untuk mencoba, mari kita segera kesana!" kata Chinmi.
Karena sudah mengetahui posisi penghalang itu berada, Chinmi sudah tidak lagi kebingungan dan langsung terbang menuju ketempat pinggir penghalang tersebut.
Chinmi dan Qie Yin tiba di tempat yang di yakini pinggiran batas penghalang tersebut, Chinmi menyentuhnya sesaat untuk memastikan apakah dia sudah berada di tempat yang tepat atau tidak, dan ternyata memang benar.
"Mundurlah sedikit Nona Yin!" perintah Chinmi kemudian dia mulai membuat api birunya.
Setelah beberapa saat, api biru Chinmi bercahaya putih terang kemudian percikan petir kecil mulai menyebar keberbagai arah.
Karena ini adalah ilmu sihir yang ia ciptakan sendiri, dia belum memberikan nama atas sihir elemen petir nya tersebut.
Chinmi segera mengarahkan jari telunjuknya yang bercahaya tersebut dan kemudian sambaran Petir mulai menghantam penghalang tersebut.
Memang tidak ada suara gemuruh dari petir yang keluar dari jari Chinmi, namun hantaman petir tersebut membuat penghalang tersebut bisa terlihat jelas, dan selanjutnya retakan setinggi dua meter dan lebar satu meter mulai terlihat.
Retakan tersebut semakin lama semakin banyak hingga akhirnya hancur dan membentuk sebuah pintu.
"Kau berhasil..!" seru Qie Yin yang merasa kagum atas pencapaian Chinmi.
"Ayo Nona Yin!" Chinmi mengajak Qie Yin untuk keluar, dia segera meraih tangan Qie Yin dan membawanya keluar dari dalam dinding Penghalang tersebut.
Mereka berdua berhasil keluar setelah hampir dua bulan terjebak di dalam hutan yang memiliki dinding Penghalang buatan Long Wang.
Mereka bergegas terbang ke udara dan mereka berdua bisa melihat batas pinggiran hutan dari udara.
"Itu adalah batas pinggiran hutan ini, akhirnya kita bisa keluar juga dari dalam hutan itu!" kata Chinmi kemudian dia segera memegang Qie Yin dan menambah kecepatan terbangnya.
Chinmi yang sudah tidak sabar ingin segera tiba di pinggir hutan merasa jika Qie Yin terlalu lambat sehingga dia memegangnya dan membawanya terbang lebih cepat.
"Lepaskan tanganku Chinmi," Qie Yin memarahi Chinmi karena tiba-tiba saja meraih tangannya dan membawanya terbang lebih cepat sehingga membuat pergelangan tangannya serasa sakit.
Chinmi segera berhenti dan menyadari jika dirinya telah menyakiti Qie Yin, "Ma-maafkan aku Nona Yin, aku tidak bermaksud menyakiti mu, aku hanya ingin segera tiba di luar hutan ini!" kata Chinmi.
"Nona Yin, bukankah aku sudah minta maaf? Kenapa kamu masih marah?" Chinmi baru kali ini melihat Qie Yin marah padanya.
"Sudahlah, aku akan kesana dengan kecepatan ku sendiri, dan jika kamu merasa tidak sabar? Kamu bisa pergi duluan!" kata Qie Yin kemudian dia terbang lebih dulu meniggalkan Chinmi yang masih tidak percaya jika Qie Yin juga bisa ngambek seperti itu.
Chinmi hanya bisa diam dan terbang menyusul Qie Yin, dia sudah tidak mau mendahului atau berada sejajar dengannya sebelum kemarahannya mereda.
***
Di salah satu Desa besar yang berada di wilayah perbatasan Benua Daratan Tengah dan Utara, dan letaknya juga berada di wailayah Kerajaan Es Utara namun cuaca disana berbeda dengan cuaca di kerajaan Es Utara.
Cuaca di sana hampir sama dengan di wilayah Kerajaan Angin Selatan, yaitu ada tanah yang subur dan sebagian lagi terlihat membeku.
Desa tersebut bernama Desa Tianqi. Desa tersebut adalah desa yang besar, namun masyarakat disana tidak terlihat senang dan bahagia.
"Tuan, tolong jangan ambil semua harta kami tuan, hanya ini harta yang kami miliki!" salah satu penduduk desa terlihat berusaha menahan salah satu orang yang memakai pakaian prajurit Kerajaan Es Utara dan ditangan prajurit tersebut ada sebuah kotak kecil.
"Mau ini harta yang kamu miliki atau tidak, aku tidak peduli, yang aku tahu sekarang perhiasan ini adalah milik Tuan Tan Xia Lan!" kata prajurit tersebut.
Tuan Tan Xia Lan yang dimaksud adalah seorang yang sangat berkuasa, bahkan kepala desa sekalipun tidak berani kepada nya.
Tan Xia Lan yang memiliki kekuatan lumayan kuat di percaya untuk melindungi Desa Tianqi, awalnya biasa saja, namun lama-kelamaan Tan Xia Lan meminta upah setiap minggunya.
Para penduduk desa merasa itu sangat wajar sehingga menurutinya, namun semakin lama upah yang di minta oleh Tan Xia Lan semakin tinggi dan pada akhirnya menjadi upeti rutinan setiap bulannya.
Tan Xia Lan semakin lama semakin berkuasa, dia bahkan menipu para penduduk bahwa sekarang Raja Bao sudah memberinya tugas untuk menjadi pelindung desa Tianqi.
Tan Xia Lan juga mencuri baju para prajurit yang ada di kota dan kemudian dia menyuruh tujuh anak buah setianya untuk menyamar dan berpura-pura sebagai seorang prajurit kerajaan yang di kirimkan oleh wali kota dan menagih upeti yang semakin lama semakin naik.
Padahal semua itu hanyalah akal licik Tan Xia Lan, dan semua yang dia lakukan hanya semata-mata demi sebuah kekayaan saja, dan dia akan terus memeras para penduduk desa dengan ancaman.
"Tuan, itu adalah perhiasan peninggalan kedua orang tuaku, jadi ku mohon jangan diambil tuan!" kata orang tersebut.
"Apa kamu mau kepalamu menjadi gantinya?" tanya prajurit palsu tersebut.
"Jika itu yang tuan inginkan silahkan ambil kepala saya, namun saya mohon, kembalikan perhiasan harta warisan itu kepada keluarga saya!" jawab orang tersebut.
"Hahahah...! dasar orang bodoh, apa yang membuatmu yakin jika kepala mu sudah aku potong aku akan mengembalikan perhiasan ini? Jangan bermimpi," ucapnya sekaligus mencabut pedangnya.
__ADS_1
"Kamu sendiri tadi yang bersedia untuk menyerahkan kepalamu, maka aku tidak akan sungkan lagi!" kata prajurit tersebut sekaligus mengayunkan pedangnya.
"Ayah...!" seorang anak kecil berumur delapan tahun berteriak histeris saat melihat ayahnya akan di bunuh oleh prajurit palsu tersebut, bahkan semua para penduduk desa hanya bisa menutup mata tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tersebut.
"Matilah kau manusia bodoh..!" seru prajurit tersebut dengan ayunan pedangnya yang sangat cepat dan disertai dengan tertawa keras.
Trankk...!!
Ketika pedang tersebut hampir sampai ke leher orang tersebut, tiba-tiba saja sekumpulan debu halus menutupi leher orang tersebut sehingga pedang tersebut membentur nya dan patah menjadi dua.
Semuanya terkejut melihat kejadian tersebut, bahkan pria yang hampir terpotong lehernya segera membuka matanya dan juga kaget karena ada debu yang menutupi lehernya.
"Siapa yang sudah berani melindunginya? Ayo keluar tunjukkan wajah mu dan jangan pernah berani menggunakan sihir murahan seperti ini di hadapan ku!" kata Prajurit tiruan tersebut sambil mengamati semua orang yang ada di sana.
Tidak satupun penduduk desa yang menjawabnya karena mereka semua merasa tidak ada yang melakukan apa-apa.
"Akan aku hitung sampai tiga, jika tidak juga kamu tidak juga menampakkan diri, maka seluruh penduduk desa akan aku musnahkan!" seru Prajurit tiruan tersebut.
Semua orang semakin takut, mereka takut perkataan Prajurit tiruan tersebut akan benar-benar di lakukan olehnya.
"Satu..!"
Prajurit tersebut mulai menghitung pelan sambil melihat ke sekelilingnya.
"Dua..!"
Tiga Prajurit tiruan lainnya segera datang menghampiri rekannya yang sudah menghitung sampai dua.
Sudah sampai hitungan kedua, namun tidak ada tanda-tanda kemunculan orang yang telah menolong penduduk desa tersebut.
"Tiga..!"
Sampai di ke hitungan ketiga, tiga Prajurit lainnya juga datang, mereka segera menyalakan obor dan berniat membakar seluruh rumah di desa Tianqi.
Namun anehnya ketika obor tersebut sudah dilempar ke atap rumah warga, tiba-tiba saja ada angin aneh yang berhembus sangat dingin sehingga obor tersebut mati dan membeku.
Ketiga Prajurit tiruan yang tersisa mengangkat pedang mereka dan mereka berniat membunuh semua orang secara membabi buta.
Namun tetap saja ada debu di setiap warga yang hampir terkena tebasan pedang dan juga membuat pedang mereka ada yang patah dan ada juga yang terlempar.
Semua warga merasa heran karena tidak melihat sosok apapun yang menolong mereka sebelum akhirnya salah seorang anak kecil melihat dua orang pemuda sedang berdiri di ujung desa menatap kearah mereka, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih namun wajah mereka bukanlah penduduk desa Tianqi.
"Mungkin kakak disana yang menolong kita!" seru anak tersebut sekaligus menunjuk kearah yang ia maksud.
Semua orang segera menoleh kearah yang di tujukan oleh anak kecil tersebut, bahkan ketujuh prajurit tiruan juga segera menoleh kearah yang sama.
"Jadi mereka berdua yang sudah berani menganggu dan ikut campur urusan kita! Baiklah kita beri mereka pelajaran agar mereka tahu siapa sebenarnya kita dan seberapa kuat pengaruh tuan Tan Xia Lan di waliyah ini!" kata prajurit tersebut kemudian dia dan keenam rekannya segera menuju kerah kedua muda mudi yang terlihat seperti sepasang kekasih.
"Siapa kalian dan kenapa kalian berani ikut..!" salah satu prajurit tersebut menghentikan pertanyaannya saat melihat gadis yang sangat cantik sedang berdiri di samping pemuda di samping nya dengan mata melebar dan tanpa terasa air liurnya keluar.
"Cantik sekali wanita ini!" seru salah satu dari mereka tanpa memalingkan wajahnya sama sekali.
Gadis yang mereka lihat tidak lain adalah Qie Yin dan di sebelahnya adalah Chinmi, mereka berdua sudah berada di sana sebelum salah satu prajurit tersebut berniat menebas leher salah satu warga tersebut.
"Hai anak muda, jika kamu masih ingin hidup tinggalkan desa ini, dan tinggalkan pelacur mu itu untuk kami, jika kamu menurut maka kami akan jamin jika kamu bisa pergi dari sini tanpa menerima luka sedikitpun!" kata salah satu dari mereka sekaligus menjilati bibirnya saat menatap ke arah Qie Yin.
"Kalian ini bodoh atau apa? Ah sudahlah aku malas untuk menjelaskan atas kebodohan kalian!" kata Chinmi.
Menurut Chinmi mereka bertujuh sungguh sangat bodoh, bagaimana mungkin mereka bisa lupa jika semua yang mereka perbuat untuk membunuh dan membakar desa Tianqi gagal karena kekuatan dirinya dan Qie Yin dengan sangat mudah.
Namun tetap saja, mereka bertujuh tidak juga menyadarinya dan lebih menuruti hawa nafsu mereka kepada Qie Yin.
"Chinmi sudahlah, biar aku yang mengurus mereka!" kata Qie Yin yang tatapannya berubah menjadi dingin kepada mereka bertujuh.
"Rasakan kemarahan seorang wanita!" gumam Chinmi yang menurutnya seorang wanita jika marah akan terlihat menakutkan.
Chinmi mengalihkan perhatiannya kearah para penduduk desa yang kini sudah berkumpul di satu tempat.
"Nona Yin, aku serahkan mereka padamu, aku sendiri akan pergi menemui para penduduk desa!" kata Chinmi kemudian dia menghilang dari hadapan Qie Yin dan juga ketujuh prajurit tiruan tersebut.
Ketujuh Prajurit tiruan terkejut saat Chinmi tiba-tiba saja menghilang begitu saja tanpa jejak, sedangkan Qie Yin sendiri segera bersuara kepada mereka.
"Kalian sudah menyebutku tadi dengan sebutan apa? Aku lupa coba kamu ulangi lagi!" kata Qie Yin dengan nada dingin.
Mereka terkejut saat mendengar perkataan Qie Yin dan akhirnya tersadar jika sebenarnya Chinmi dan Qie Yin adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi.
"Ma-maafkan atas perkataan saya tadi Nona pendekar, saya tadi tidak sengaja berkata seperti tadi!" kata pendekar yang tadinya menyebut Qie Yin sebagai seorang wanita pelacur.
"Maaf..? Setelah apa yang sudah kamu katakan dan juga dengan tatapan kalian semua padaku seperti itu kalian mau minta maaf? Bukan pemberian maaf yang akan aku berikan, justru kematian yang akan kalian dapatkan!" ucap Qie Yin kemudian lingkaran debu halus mulai mengelilingi tubuh Qie Yin.
__ADS_1