
***
Ho Chen, Yinfei, Lio Long, Xi Liyi dan Lang Yu pergi sebelum Chinmi dinobatkan sebagai Raja oleh para Rakyat.
Chinmi sudah meminta mereka semua untuk kembali dalam tiga bulan lagi karena Chinmi akan menikahi Qie Yin dalam tiga bulan yang ia janjikan.
Semuanya segera kembali ke dunia mereka masing-masing kecuali Ho Chen yang tidak langsung kembali ke dunianya, melainkan pergi Ke Nirwana.
Ho Chen ingin mengetahui kenapa Dewi Kwan Im tidak datang saat dia dan yang lainnya sedang bertarung melawan She Long.
Sesampainya di Nirwana, ternyata Dewi Kwan Im sedang tidak ada disana sehingga Ho Chen terpaksa menemui Buddha Rullai secara langsung.
"Ada apa Ho Chen? Kenapa kamu seperti sangat khawatir sekali?" tanya sang Buddha dengan senyum khasnya.
"Buddha! Murid yakin Buddha sudah tahu akan apa yang murid khawatir kan," kata Ho Chen yang berlutut di hadapan Sang Buddha yang tubuhnya sangat besar dan bercaya penuh kemilauan dari sekujur tubuhnya.
Buddha tertawa mendengar perkataan Ho Chen kemudian dia mulai menjawab nya, "Jika dihati ada sedikit kebaikan, pasti masih ada kesempatan untuk merubahnya, namun jika tidak, maka tidak akan pernah ada harapan untuk bisa di rubah," kata Sang Buddha.
Ho Chen mengangguk pelan, dia mengerti maksud dari perkataan Sang Buddha. Jika saja ada sedikit harapan bagi She Long dan Ye Shi, pastinya Dewi Kwan Im akan datang menyelamatkan She Long serta Ye Shi sebelum di bunuh.
Karena She Long dan Ye Shi sudah tertutup hatinya, Dewi Kwan Im akhirnya tidak datang dan membiarkan She Long dan Ye Shi mati dengan membawa dosa-dosa nya.
Masalahnya baik She Long maupun Ye Shi tidak akan pernah bisa bereinkarnasi lagi kerena Roh mereka berdua sama-sama sudah di lenyapkan, Roh Ye Shi di lenyapkan oleh Lang Yu dengan kekuatan Roh Toya, sedangkan She Long di lenyapkan oleh Naga Emas.
"Buddha! Apakah Buddha kenal kepada Kaisar Kegelapan?" kini Ho Chen menanyakan Kaisar Kegelapan kepada Sang Buddha.
"Maksud mu An Huang Yi? Tentu saja aku mengenalnya, dulu dia juga Bodhisattva, namun sekarang dia berada di jalan yang berbeda."
Buddha mulai menceritakan tentang siapa itu An Huang Yi serta hubungan Sang Buddha dengan Sang Kaisar Kegelapan.
Ho Chen mendengarkan semuanya dan mulai memahami jika Kaisar Kegelapan dan Buddha memang memiliki hubungan walau sekarang ke-dua sudah berada di jalan yang berbeda.
Secara ringkas nya, An Huang Yi tetap sebagai Buddha, namun Buddha sesat sedang kan Buddha Rullai adalah Buddha Suci.
"Aku tahu jika An Huang Yi sudah menemui kalian, dan aku juga tahu jika Xi Jing Zi sudah melepaskan kekuatan suci nya karena dia sudah terkena tipu muslihat An Huang Yi," kata Sang Buddha.
Ho Chen terkejut mendengarnya kemudian bertanya pada Sang Buddha, "Maksud Buddha? Murid tidak mengerti!" kata Ho Chen.
"Suatu saat kekuatan An Huang Yi akan mengendalikan Xi Jing Zi, dengan memanfaatkan reinkarnasi putrinya, dia berhasil memperdayai nya!" kata Sang Buddha.
"Itu artinya suatu saat Chinmi..!?" Ho Chen mulai mengerti.
"Benar sekali Ho Chen! Namun untuk saat ini Xi Jing Zi masih belum berada di bawah pengaruh nya!" kata Buddha.
"Kalau begitu aku harus kembali untuk memberitahukannya!" kata Ho Chen yang ingin pergi.
"Ho Chen tenanglah! Duduklah kembali karena aku masih belum selesai bicara!" kata Sang Buddha menahan Ho Chen agar duduk dan tetap tenang.
"Tapi Buddha, aku harus memberitahukan ini kepada Chinmi sekaligus mengembalikan kekuatan Suci nya!"
Buddha hanya tersenyum lembut kemudian dia kembali berbicara, "Menurut mu kenapa bisa ada ada Terang dan Gelap? Dan mengapa dulu aku tetap membiarkan An Huang Yi berada dalam Kegelapan?" tanya Sang Buddha.
"Murid tidak mengerti! Murid mohon pencerahan dari Buddha!" kata Ho Chen.
"Segala sesuatunya sudah berjalan mengikuti garis takdir nya masing-masing, jika sesuatu tidak memiliki lawan, maka apa artinya Alam Semesta yang aku ciptakan ini?
Surga dan Neraka, Siang dan Malam, Baik dan Jahat, Cahaya dan Kegelapan, Atas dan Bawah, Darat dan Lautan! Semuanya sudah aku atur sesuai dengan jalannya masing-masing," kata Sang Buddha.
"Tapi Buddha..!" Ho Chen ingin bertanya namun Sang Buddha lebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Apa kamu mau bertanya apakah An Huang Yi akan mampu merebut Surga dan Seluruh Alam Semesta?"
Ho Chen mengangguk karena pertanyaan Sang Buddha memang sangat tepat dengan apa yang ingin dia tanyakan.
"Aku hanya bertahan dan tidak berniat untuk melenyapkan siapapun, apa lagi An Huang Yi adalah salah satu Buddha yang jadi penghuni Galaxi Bayangan."
"Jadi kenapa Buddha masih membiarkan Buddha sesat itu tetap hidup jika suatu hari nanti dia akan kembali berulah?" tanya lagi Ho Chen.
"Jadi kamu masih belum mengerti juga? Baiklah kalau begitu, aku akan menjelaskan lebih rinci lagi agar kamu mengerti," kata Sang Buddha kemudian dia menjelaskan lagi kepada Ho Chen, namun dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh Ho Chen.
Sang Buddha sangat penyayang dan penuh welas asih, dia bahkan tidak akan membunuh seekor semut walau sudah tahu jika semut itu sudah menyakiti mahluk lain.
Jadi Sang Buddha tidak mungkin membunuh An Huang Yi karena dia memang tidak suka membunuh, dan An Huang Yi sudah memilki takdir nya sendiri dan akan ada yang akan membunuhnya suatu saat nanti.
Jika bicara soal kekuatan, tentu saja Kiasar Kegelapan masih berada jauh di bawah kekuatan Sang Buddha, karena kekuatan Sang Buddha tidak hanya sebatas kekuatan Ilahi saja, melainkan lebih tinggi lagi, hanya saja dia sengaja menunjukkan kekuatan yang setara dengan An Huang Yi agar dia sadar jika dirinya masih memberikan kesempatan bagi An Huang Yi.
Namun ternyata An Huang Yi memiliki pemikiran yang berbeda dan menganggap jika tanpa bantuan para Bodhisattva yang lain, pasti Buddha akan kalah, padahal An Huang Yi sudah merasa memiliki kekuatan Ilahi dan mampu mengendalikan hati Sang Kaisar Langit.
"Apakah kamu mengerti?" tanya Sang Buddha karena dia menjelaskan sekaligus menceritakan dengan bahasa yang lebih sederhana.
"Itu artinya yang terjadi kepada Chinmi..?"
"Ini sudah di takdirkan dan semua itu terjadi bukan karena sebuah kebetulan, melainkan kerena takdir, apakah kamu mau melanggar Takdi?" kata Sang Buddha kemudian dia mengeluarkan sesutu berwarna biru bercahaya.
"Ho Chen! Apakah kamu bersedia menerima tugas penting dari ku?" tanya Sang Buddha.
"Murid akan dengan senang hati menerima nya Buddha!" jawab Ho Chen tanpa keraguan.
"Ingat jangan ceritakan apapun kepada Xi Jing Zi, biarlah dia melakukan apa yang menurutnya itu benar, dan nantinya dia t
pasti akan berhadapan dengan mu, di saat itulah tugas mu untuk menghilangkan pengaruh dari An Huang Yi," kata Sang Buddha kemudian benda mirip mustika berwarna biru terang melayang kearahnya.
Ho Chen sedikit terkejut saat Sang Buddha berkata jika suatu saat nanti dia dan Chinmi akan bertarung, dan itu artinya dia dan Chinmi tidak hanya ditakdirkan menjadi Dua Dewa bertentangan, melainkan juga di takdirkan untuk saling berhadapan.
Katakan padanya jika dia harus mengumpulkan dua benda lagi yang nantinya akan mampu mengalahkan An Huang Yi.
Semuanya ada tiga Benda Pusaka, namun sebenarnya itu adalah satu Pusaka yang aku pecah jadi tiga bagian, satu adalah Gagang Tombak dan kamu pasti sudah tahu, dan ke-dua adalah mata Tombak, dan yang terakhir adalah Mustika yang ada padamu itu!" kata Buddha.
Ho Chen memperhatikan Mustika Biru tersebut kemudian dia mencoba mengingat kapan dia pernah melihat Gagang Tombak yang di jelaskan oleh Buddha.
"Sepertinya murid tidak pernah melihat Gagang Tombak itu Buddha!" kata Ho Chen.
"Apa kamu yakin?" tanya lagi Sang Buddha.
"Murid sangat yakin!" jawab Ho Chen.
"Kalau begitu, pernahkah kamu melihat pusaka berbentuk Tongkat Emas?" tanya lagi Sang Buddha.
"Kalau Tongkat Emas murid mengetahui nya, itu adalah Toya Emas milik Jendral Lang Yu!" jawab Ho Chen.
"Itu yang aku maksud tadi, Toya Emas adalah wujud dari Gagang Tombak yang di dalamnya dan ada satu Pelindung yang menjaganya, begitu juga dengan mustika di tangan mu itu."
"Baikah murid mengerti Sang Buddha, kalau begitu Murid akan segera mencari orang yang memiliki takdir ini," kata Ho Chen.
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu, sebab manusia itu saat ini belum di lahirkan, dan manusia itu berada di dunia galaxi yang lain!" kata Sang Buddha.
Merasa urusan nya sudah selesai, Ho Chen pun akhirnya segera kembali ke dunianya, namun tetap dengan banyak pertanyaan di pikiran nya.
"Buddha ini terlalu berwelas asih, dan juga sering membuat teka-teki yang sulit untuk di pahami!" gumam Ho Chen.
__ADS_1
Menurut Ho Chen jalan yang paling mudah adalah memperingatkan Chinmi lebih awal sebelum terlambat, namun setelah di pikir lagi, sepertinya Chinmi tidak akan mempercayainya.
Jika di ajak langsung menemui Buddha, Chinmi pasti akan menolak, dan Buddha juga pasti tidak akan menemui Chinmi.
Jika hal itu sampai terjadi, bukankah takdir untuk membuat mereka saling bertarung akan terjadi lebih awal sebelum Manusia yang memiliki Takdir untuk mengalahkan Kaisar Kegelapan itu terlahir.
"Sebaiknya aku ikuti saja perintah Sang Buddha!" kata Ho Chen yang sudah tidak mau sakit kepala karena memikirkan lagi akan semua itu dan akan mengikuti semua yang sudah di gariskan.
***
Lang Yu dan Xi Liyi akhirnya menikah setelah berada di dunia mereka selama satu bulan, dan yang hadir saat itu tidak hanya para Rakyat dari kerajaan nya, melainkan Yinfei, Lio Long dan Ho Chen yang datang bersama Hanzi dan ke-enam pecahan energi nya serta Feng Ying.
Ada satu lagi yang tidak pernah Xi Liyi dan Lang Yu duga, salah satu wanita yang sering mereka dengar namanya, namun tidak pernah melihat nya, dia adalah Qiao Lin.
Untuk pertama kalinya Qiao Lin pergi ke dunia lain di Alam Semesta sehingga dia terkejut saat Ho Chen memperlihatkan seluruh Alam Semesta yang luas secara langsung.
Ho Chen sudah melapisi tubuh Qiao Lin dengan energi agar bisa bernafas di luar angkasa, dan kini Qiao Lin menjadi tamu istimewa bagi Xi Liyi.
"Ho Chen sering bercerita banyak tentang mu, sekarang aku bisa melihat nya secara langsung jika kamu benar-benar sangat cantik!" kata Xi Liyi.
"Anda terlalu memuji Tuan Putri!" kata Qiao Lin.
"Terlalu memuji? Tidak, ini adalah fakta, kau benar-benar sangat cantik sekali, aku sendiri sampai iri padamu!" kata Xi Liyi sambil tertawa kecil.
"Itu sebabnya alasan Tuan Ho Chen tidak bisa berpisah darinya! Dia terlalu cantik untuk di lepas!" Niu juga ikut berbicara sekaligus menggoda Qiao Lin.
"Niu.. Kau..!" Qiao Lin langsung mencubit lengan Niu sambil tertawa kecil.
Ho Chen dan yang lainnya juga saling mengobrol bersama Lang Yu sekaligus meningmati hiburan tarian.
"Lang Yu, sebenarnya terpaut berapa tahun umur mu dengan Xi Liyi?" tanya Feng Ying.
"Umur? Em.. sekitar belasan tahun jika tidak salah!" jawab Lang Yu.
"Kalau sekarang sudah berapa umurmu?" Kun juga ikut bertanya.
"Entahlah aku sudah tidak bisa menghitung lagi, yang jelas sudah jutaan tahun!" kata Lang Yu yang kesulitan untuk menghitung umur nya dari awal.
"Jadi pernikahan ini bukan lagi pernikahan remaja, melainkan kakek buyut kebuyut dan banyak buyut!" kata Feng Ying.
Semuanya tertawa mendengar perkataan Feng Ying, termasuk Yinfei mereka berpesta tanpa peduli waktu, karena saat ini adalah saat yang sangat bahagia dan menyenangkan untuk mereka.
"Setalah dari sini, kita akan pergi ke tempat Chinmi, dia akan menikah sekitar dua bulan lagi!" kata Lio Long.
"Tapi kenapa dia juga tidak datang kesini?" tanya Feng Ying.
"Kami sengaja tidak mengundangnya karena dia pasti memiliki banyak urusan di dunianya?" Lang Yu menjawab
Xi Liyi dan Lang Yu sudah sepakat untuk tidak mengundang Chinmi, karena mereka yakin jika saat ini Chinmi pasti sibuk memperbaiki Benua Daratan Tengah.
"Sudahlah, sebaiknya kita nikmati saja yang ada disini!" kata Kun kemudian dia segera bergabung dengan orang-orang yang sedang asik menari.
Ho Chen sendiri terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sehingga tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum sesaat dan kemudian termenung kembali.
"Chen'er! Ada apa denganmu? Apakah kamu tidak menyukai acara pesta temanmu ini?" tanya Feng Ying saat melihat Ho Chen yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Ho Chen tersadar dari lamunannya dan kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak ada guru, aku sangat senang dengan pesta ini!" jawab Ho Chen.
"Kalau begitu tersenyumlah! Jika wajahmu terus telihat seperti itu, maka semuanya akan mengira jika kamu tidak menyukai acara ini," kata Feng Ying kemudian menatap Kun yang sangat v
__ADS_1
Ho Chen memaksakan diri untuk terlihat tersenyum, namun hatinya sama sekali tidak bisa tenang.
Dia masih memikirkan tentang Chinmi. Tubuh Ho Chen memang disana bersama mereka, namun pikiran Ho Chen berada di tempat lain.