PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Kematian Sao Muchi


__ADS_3

Semua pendekar mengarahkan berbagai sihir andalan mereka yang paling kuat untuk menyerang Diyu Hu, namun Diyu Hu justru menerimanya tanpa menghindari atau berusaha bertahan.


Semua berbagai sihir dari berbagai Elemen menghujani tubuhnya sehingga suara ledakan beruntun tidak bisa dihindarkan.


Nyatanya Diyu Hu hanya tertawa terbahak-bahak seolah-olah merasa geli saat menerima serangan mereka semua.


"Lagi-lagi aku suka sekali, rasanya seperti di pijat! Ini punggungku rasanya masih pegal, ayo arahkan ke sini juga!" kata Diyu Hu.


Mereka semua hanya menelan ludah, tidak satupun serangan gabungan dari pendekar sebanyak itu yang mampu mengalahkan atau melukai Diyu Hu.


Itu wajar saja karena Diyu Hu bukanlah manusia, dia adalah Penjaga Neraka dan tentunya tubuh aslinya hanyalah sebuah asap hitam yang menyatu, namun memiliki jiwa.


Terlebih lagi dalam segi kekuatan saja sudah terlampau jauh berbeda, Diyu Hu memiliki kekuatan Dewa Abadi tingkat Langit, sedangkan semua lawannya adalah manusia biasa yang kekuatannya hanya sampai di tingkat Raja Langit.


Namun kekuatan tersebut sebenarnya sangat kuat jika lawannya adalah para pendekar di Benua Daratan Tengah.


"Bagiamana ini? Kekuatan gabungan kita sama sekali tidak berpengaruh padanya!" kata salah satu dari mereka yang mulai ketakutan.


Sudah banyak korban jiwa hanya dalam waktu singkat saja, sedangkan mereka sama sekali tidak bisa membuat Diyu Hu kelelahan ataupun melumpuhkannya.


"Apakah kalian sudah tidak bisa memijat ku lagi? Kalau begitu sekarang giliran ku yang akan memijat kalian semua!" kata Diyu Hu membuat mereka semua berusaha menjauh dari Diyu Hu.


Diyu Hu mengarahkan kedua telapak tangannya ke langit, dan tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap seperti malam, bahkan seluruh Benua Daratan Tengah menjadi gelap gulita.


"Hujan Api Neraka."


Mereka semua tidak tahu akan apa yang akan terjadi dan juga apa yang akan di lakukan oleh Diyu Hu, namun tidak lama kemudian dari muncul banyak cahaya yang tidak terhitung jumlahnya.


Sekilas terlihat seperti bintang di langit, namun setelah semakin mendekat ternyata cahaya tersebut adalah api yang jatuh dari langit.


"Ini pasti bercanda bukan?"


"Ini bukan kekuatan manusia!"


"Mustahil, ini pasti ilusi!"


Semuanya hanya bisa melihat cahaya api yang siap untuk menghujani mereka semua. Tidak ada satupun yang ingat jika nyawa mereka sedang terancam.


Mereka semua masih terpana melihat Fenomena tersebut sebelum akhirnya salah satu dari mereka tersadar.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat selamatkan diri kalian, atau kalian lebih memilih mati karena di hujani api!" seru salah satu dari mereka sehingga membuat mereka semua tersadar dan situasi langsung berubah panik.


Ada yang menggunakan sihir air mereka untuk membuat Kuba Air raksasa dari air laut, dan ada juga yang membuat sihir logam untuk membuat dinding pelindung agar tidak terbakar.


Semuanya panik mencoba menyelamatkan diri dengan berbagai cara hingga akhirnya hujan api sampai juga di tempat mereka.


Hujan Api yang begitu banyak jatuh bagai air, mereka yang membuat perisai dari air yang berbentuk kubah yakin jika hujan api tersebut tidak akan mampu menembus Kubah air raksasa milik mereka.


Namun tenyata semua itu tidak seperti apa yang mereka yakini, karena ternyata Hujan Api tersebut tidak mati saat menghantam permukaan perisai kubah, melainkan hujan api tersebut menembusnya.


Semuanya menjadi kacau, api yang jatuh ke air tenyata masih menyala walau sudah masuk kedalam air laut.


Jerit kesakitan memekakkan telinga terdengar memilukan akibat rasa sakit dari tubuh mereka yang terbakar, walau tidak semua anggota terbakar, namun korban jiwa lebih banyak dari pada yang selamat.


"Itu adalah Hujan Api Neraka yang tidak akan mati walau berada di dalam air sekalipun, karena itu jangan kalian beranggapan jika api ku itu lemah," gumam Diyu Hu.


***


Di sisi lain, Sao Muchi sudah berhadapan dengan Chinmi, walau belum saling menyerang, namun Sao Muchi yakin jika dia pasti bisa mengalahkan Chinmi.


"Tarik kembali mahluk itu atau kau akan aku bunuh!" kata Sao Muchi.


"Jika kamu bisa, kenapa tidak kamu lakukan sendiri?" kata Chinmi.

__ADS_1


"Kamu terlalu percaya diri anak muda! Baiklah jika itu keinginanmu."


Sao Muchi mengeluarkan sebuah tongkat pendek yang hanya memiliki panjang dua jengkal, namun begitu Sao Muchi mengayunkannya, muncul sebuah besi panjang dengan ujung yang sangat runcing, dan besi runcing tersebut bisa berpindah dari ujung depan dan kemudian mundur dan muncul di ujung belakang.


Sao Muchi tidak memiliki kecepatan seperti para pendekar lainnya, namun ada satu yang tidak di miliki oleh pendekar lain, Sao Muchi mampu berubah menjadi asap dan bisa muncul di mana saja dan menyerang dari mana saja yang ia inginkan.


Sao Muchi segera berubah menjadi asap putih dan kemudian asap tersebut berpencar keberbagai arah.


Chinmi memperhatikan gerakan asap tersebut kemudian dia berbalik kebelakang dan tangannya dengan sangat cepat menangkap sesuatu.


Chinmi berhasil menangkap senjata Sao Muchi yang ternyata menyerang Chinmi dari belakang dalam wujud asapnya.


"Apakah begini caramu bertarung? Sungguh memalukan!" kata Chinmi.


Chinmi berniat menarik senjata tersebut, namun senjata tersebut lagi-lagi menghilang dari tangan Chinmi dan berubah menjadi asap.


Chinmi sama sekali tidak terkejut, dia tidak khawatir karena tidak bisa melihat keberadaan Sao Muchi, itu karena dia sudah tahu dimana saat ini Sao Muchi berada.


Chinmi dapat merasakannya dari pikiran Sao Muchi yang bisa ia dengar, dan itu tidak di ketahui oleh Sao Muchi jika Chinmi bisa mengetahui bahkan mendengarkan akan apa yang ia pikirkan.


"Mustahil! Bagaimana mungkin dia bisa mengatahui keberadaan ku? Tidak, ini pasti kebetulan saja!" batin Sao Muchi yang masih dalam wujud asap nya.


Dia terkejut karena tatapan Chinmi tepat kearahnya, saat ini dia berada di udara dalam wujud asapnya.


Namun Chinmi justru menatap ke langit, dan tatapannya mengarah padanya, "Aku yakin ini hanya sebuah kebetulan saja!"


Sao Muchi bergerak kembali untuk berpindah tempat, kini dia berada di samping kanan Chinmi, dan dia yakin Chinmi tidak akan mengetahuinya.


Namun lagi-lagi Sao Muchi dibuat kaget oleh Chinmi karena Chinmi kini kembali menatapnya dengan tersenyum lebar kearahnya.


"Ini tidak mungkin, padahal aku sudah menyebarkan energi disemua asap ini!"


Sao Muchi sudah tidak habis pikir dan juga kehabisan akal. Selama ini tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya dalam bentuk asap, bahkan Dewa Penghancur sekalipun tidak akan bisa menemukannya.


"Ilmu tipuan mu tidak berguna padaku, jadi tunjukkan saja wujud mu!" kata Chinmi.


"Aku akui kau memang berbeda dari semua Pendekar yang aku hadapi, namun jangan senang dulu karena ini bukan satu-satunya ilmu andalan ku!" suara Sao Muchi terdengar menggema di udara, dia memang belum menggunakan seluruh kekuatannya.


Sao Muchi tidak tahu jika Chinmi juga masih belum menggunakan separuh dari kekuatannya.


Sao Muchi meningkatkan energinya sehingga asap putih yang sebelumnya menyebar mulai menyatu dan membentuk sesosok manusia asap dengan cahaya kilatan petir di tangannya.


Tongkat yang di pegang oleh Sao Muchi berubah menjadi tongkat petir yang siap menyambar siapa saja yang ada di hadapannya.


"Apa kamu pikir hanya kamu saja yang bisa berubah menjadi manusia asap? Aku juga bisa melakukannya!" kata Chinmi.


Tubuh Chinmi secara perlahan-lahan tertutupi olah asap yang keluar dari bawah kakinya, asap tersebut menebal dan kemudian membentuk manusia asap yang lebih besar dari Sao Muchi.


Tidak hanya sampai di situ, Chinmi juga mengeluarkan pedang petir yang ia buat dari Elemen Api yang sudah ia rubah menjadi petir.


Sao Muchi jelas kaget melihat hal itu, dia sama sekali tidak menduga jika Chinmi tenyata juga bisa merubah tubuhnya menjadi asap.


Tentu saja Chinmi bisa melakukanya karena dia memiliki delapan elemen yang sudah sempurna.


Merasa tidak memiliki pilihan lain, Sao Muchi tetap maju menyerang Chinmi dengan tongkat petirnya, dan Chinmi menyabut serangan Sao Muchi dengan pedang petirnya.


Kedua senjata beradu dengan sangat keras sehingga pecahan petir menyebar dan menyambar keberbagai arah.


Getaran hebat dari suara gemuruh petir yang menyambar terasa di seluruh Benua Daratan Tengah, bahkan angin topan dan pusaran angin tercipta akibat kekuatan Diyu Hu.


Dan pertarungan mereka membuat banyak hutan hancur dan habis terbakar, bahkan gunung-gunung mulai aktif dan sebagian ada yang longsor.


Chinmi dan Sao Muchi bertarung sambil menghindari Hujan Api yang muncul dari langit, mereka berdua tetap melanjutkan pertarungan mereka walau hujan api secara terus menerus menghujani tempat mereka, atau lebih tepatnya sebagian Benua Daratan Tengah harus terbakar karena Hujan Api.

__ADS_1


"Kurang ajar, dasar moster sialan!" gerutu Sao Muchi saat melihat sebagian anggota yang ia bawa harus mati karena terbakar, dan terlebih lagi banyak yang mati karena serangan Diyu Hu.


"Jangan alihkan perhatianmu saat sedang bertarung dengan lawanmu!" kata Chinmi kemudian dia memberikan serangan tebasan petir yang sangat kuat dan juga besar.


Sao Muchi tidak sempat menghindar dan terkena tebasan tersebut. Tebasan pedang petir tidaklah membelahnya, namun mengikat tubuh asap Sao Muchi.


Seluruh tubuh Sao Muchi tertutup oleh petir yang menjalar memenuhi tubuhnya. Sao Muchi terlempar dan jatuh di atas tanah sekaligus mengerang kesakitan.


"Itulah akibatnya jika kamu lengah saat berhadapan dengan lawan yang sebanding dengan mu!" kata Chinmi kemudian tubuhnya secara perlahan-lahan kembali normal.


Tubuh Sao Muchi juga mulai kembali ke wujud semula, dan petir yang mengikatnya juga hilang bersamaan dengan menghilangnya asap di tubuh Sao Muchi.


Sao Muchi bangkit dengan kondisi kesakitan, tubuhnya terasa seperti terbakar, dan dia merasa seperti mati rasa.


"Si-siapa kamu sebenarnya?" tanya Sao Muchi sekaligus berusaha memulihkan tubuhnya.


"Aku hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak ingin tanahnya di jajah oleh kalian! Aku sudah memberi kalian kesempatan sebelumnya, namun kalian mengabaikan semuanya."


Chinmi mendekatinya dan melepaskan aura Kaisar kearah Sao Muchi membuat Sao Muchi kembali jatuh berlutut karena tidak mampu menahan Aura Kaisar dari Chinmi.


"Aku sudah berjanji tidak akan membiarkan kalian keluar dari tempat ini, jadi sekarang terimalah takdir kalian!" kata Chinmi kemudian tangannya mengeluarkan api berwarna biru.


"Kamu sudah membuat kesalahan besar dengan membunuhku dan semua anggota yang ku bawa! Apa kamu pikir hanya aku yang terkuat di kelompok Sungai Darah?"


"Aku tidak peduli akan sekuat apa kelompok kalian, ini hanya sebagai alasan agar ketua kalian mengerti dan harus berpikir dua kali untuk menyerang Benua ku ini!" kata Chinmi.


"Kau akan menyesalinya..!" seru Sao Muchi, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena Chinmi sudah menekannya dengan Aura Kaisar.


Chinmi mengarahkan api birunya kearah Sao Muchi dan kemudian api biru tersebut menyembur dengan sangat besar, dan apinya menyebar hingga ratusan meter jauhnya.


Jeritan kesakitan Sao Muchi terdengar cukup lama dan kemudian suaranya menghilang, dan salah satu dari Pendekar pelindung Dewa Penghancur tewas di Benua Daratan Tengah.


Dan saat yang bersamaan, Kun, Ying dan Yang juga datang, dan kedatangan mereka berdua sedikit terlambat karena ribuan pendekar kini hanya tersisa sedikit saja.


"Kamu bersenang-senang disini tanpa menunggu kedatanganku?" kata Kun, namun pandangannya terjatuh kepada Diyu Hu.


"Apakah dia lawan terkuat kita? Tapi kenapa dia membunuh anggotanya sendiri?" tanya Yang.


Baik Kun, Ying dan Yang sama-sama merasakan kekuatan yang sangat besar dari Diyu Hu, mereka merasakan kekuatan yang sama dengan kekuatan Ho Chen.


"Tidak, dia adalah temanku!" kata Chinmi kemudian dia mengaktifkan mata dewa nya untuk melihat dampak kehancuran dari pertempuran.


"Sukurlah semua desa kota dan sekte-sekte sudah terlindungi lebih cepat, jadi jika kalian ingin bersenang-senang, maka masih ada yang tersisa, habisi mereka dan jangan biarkan satupun yang lolos!" kata Chinmi.


Mata Kun melebar, dia tidak mau menunggu lama lagi. Begitu Chinmi menyuruhnya dia langsung terbang dan menyerang para anggota yang tersisa.


"Kun ini..!" Ying menggelengkan kepalanya dan pada akhirnya dia menyusul Kun begitu juga dengan Yang.


Dengan kematian Sao Muchi, maka tidak ada lagi yang memiliki kekuatan besar seperti Sao Muchi lagi, dan kebanyakan dari mereka yang tersisa berkekuatan Sihir Elemen Alam dan Pertapa, dan juga ada yang masih berkekuatan Raja Bumi.


Diyu Hu menaikkan alisnya ketika melihat Kun datang menyerang anggota yang tersisa dengan bringas dan penuh semangat.


"Siapa lagi ini?" tanya Diyu Hu.


Ying dan Yang muncul di samping Kun membuat Kun hampir menyerang mereka berdua.


"Tahan dulu wahai temanku! Kami adalah teman-teman Chinmi, dan kami berada di pihak yang sama denganmu!" kata Ying.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah dan maafkan aku karena telah hampir menyerang kalian berdua!" kata Diyu Hu.


"Kalau begitu mari kita melenyapkan mereka!" kata Yang.


"Tentu saja..!" jawab Diyu Hu.

__ADS_1


Mereka bertiga berpencar dan menyerang bagian mereka masing-masing, dan sesuai yang dikatakan oleh Chinmi, akan mudah bagi siapapun masuk kedalam perisai, namun tidak mudah bagi mereka akan keluar, karena perisai itu tidak bisa di tembus dari dalam, dan pada akhirnya mereka semua di bantai oleh Kun, Ying, Yang, dan Diyu Hu tanpa tersisa.


__ADS_2