
Panglima Elang semakin kesal karena di ejek oleh Hanzi, dia tidak peduli lagi dengan penampilan yang acak-acakan dan dengan kondisinya yang sudah mulai pulih kembali, Panglima Elang kembali menyerang.
"Cakaran Elang Hitam."
Panglima Elang berusaha menyerang Hanzi dengan cakarnya, dan setiap cakarannya mengeluarkan energi hitam yang cukup besar.
Hanzi menghindari setiap cakaran tersebut tanpa kesulitan sama sekali, dia merasa Panglima Elang terlalu bernafsu ingin membunuhnya sehingga serangannya tidak beraturan.
"Jika hanya seperti ini, mengalahkan mu bukanlah hal yang sulit!" kata Hanzi kemudian dia memberikan satu pukulan bercahaya.
"Pukulan Matahari."
Cahaya di kepalan tangan Hanzi membuat Panglima Elang menutup matanya karena silau, dia tidak sempat menghindari serangan tersebut sehingga pukulan telak mengenai perutnya dengan sangat keras.
Tubuh Panglima Elang kembali terlempar dan jatuh kembali di tempat pertama kali dia berhadapan dengan Hanzi.
Gou Zhing dan yang lainnya hanya bisa melihat Panglima Elang yang jatuh dengan keras menghantam permukaan tanah.
Mereka hanya bisa menelan ludah ketika tubuh Panglima Elang terbenam kedalam tanah dan membuat cekungan dalam di tanah tersebut.
"Uhuk.. uhuk.!' Panglima Elang terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar, dia merasa perutnya seperti terbakar, dan seluruh isi perutnya seperti mau hancur terbakar.
"Sampai kapan kalian hanya bisa menonton saja? Cepat serang orang itu!" kata Panglima Elang membentak Gou Zhing dan yang lainya yang hanya menonton saja.
Semenjak Hanzi menyusul Panglima Elang, tekanan aura Raja juga sudah mulai menghilang, namun mereka tidak berbuat apa-apa karena mereka menunggu perintah langsung dari Panglima Elang.
Tidak jauh dari tempat mereka, Feng Ying dan Chinmi sepertinya sedang asik menikmati pertarungan Hanzi dan Panglima Elang.
Chinmi menatap ke arah langit yang ternyata Pagar pelindung nya sudah berubah menjadi perisai tipis.
Saat ini bayangan Chinmi sudah berada di empat sudut Benua Daratan Tengah menggantikan para pecahan energi yang menjaga.
"Feng Ying, kenapa kamu hanya menonton saja?" tanya Ming Hao setelah melihat Hanzi mulai di serang oleh sepuluh pendekar secara bersamaan.
"Senior Hanzi tidak minta bantuan ku, jika dia minta dia tidak meminta bantuan ku dan aku tetap ikut campur, bukankah nanti dia akan kesal padaku!" jawab Feng Ying.
Satu persatu pecahan energi mulai berdatangan kecuali Niu dan Yu, mereka masih berada di rumah Chinmi atas permintaan Hanzi sendiri.
"Tuan Han..! Apakah bisa aku ikut bermain?" Kun bertanya dari bawah.
Semua pendekar yang menyerang Hanzi terkejut dan menoleh kebawah, mereka bisa melihat ada empat orang yang terlihat baru tiba yang entah dari mana datangnya.
Sedangkan Panglima Elang juga melihat kearah mereka. Panglima Elang menahan nafas setelah merasakan kekuatan masing-masing dari mereka kecuali Chinmi yang tetap tidak bisa dia rasa.
Dari arah lain juga terlihat tiga orang datang secara bersamaan dan dari arah lain juga ada dua orang yang datang mendekat kearah mereka dan tidak lama kelima orang yang baru tiba kini turun kearah Chinmi.
Mereka semua ada lima, dan mereka adalah lima pertapa dimana salah satunya adalah guru Chinmi Fan Yuzhen.
"Guru!" Chinmi segera memberi hormat kepada Fan Yuzhen.
"Sekarang kekuatanmu sudah melebihi ku, sekarang aku tidak tahu lagi apakah aku masih cocok untuk kamu panggil guru atau tidak!" kata Fan Yuzhen.
"Guru, apapun yang terjadi tidak peduli sekuat apa aku saat ini, namun kamu tetap adalah guruku yang harus aku hormati!" jawab Chinmi.
Chinmi menatap kearah Pertapa muda yang sedang menatap kearahnya, dia adalah Bing Mei.
Chinmi ingin menyapanya, namun tiba-tiba dia merasakan siluit energi yang sangat besar terasa dari arah yang sangat jauh.
Walau hanya sesaat, namun Chinmi bisa merasakannya jika ada energi yang kekuatan setingkat dengan Dewa Abadi.
"Apakah ini energi Naga Batu itu?" batin Chinmi.
Dia bangkit dan menatap kearah sumber energi yang sempat ia rasa dengan mata dewa nya, namun masalahnya energi tersebut kini sudah hilang kembali sehingga sulit bagi Chinmi untuk melihatnya.
"Ada apa? Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Fan Yuzhen.
"Guru, sebenarnya aku ingin pergi mencari seseorang dan menolong nya! Namun aku juga tidak tahu dimana dia sekarang!"
"Siapa yang ingin kamu tolong?" tanya Bing Mei yang saat ini sudah berada di sampingnya.
"Teman ku!" jawab Chinmi.
__ADS_1
Mereka saling berbincang-bincang di tengah-tengah pertarungan Hanzi melawan sepuluh pendekar, namun Hanzi terlihat tidak kesulitan melawan semuanya walau hanya sendirian saja.
Panglima Elang berniat menyerang kembali, dia tetap menginginkan kematian Hanzi, namun sayang karena Kun kini sudah berada di depannya.
"Jika kamu ingin bertarung, bertarunglah dengan ku!" kata Kun.
"Minggir lah, aku tidak ada urusan denganmu! Urusanku saat ini hanya dengan orang itu!" kata Panglima Elang menunjuk kearah Hanzi.
"Musuh tuanku berarti musuhku juga, urusan tuanku adalah urusanku juga, dan jika kamu tetap ingin menyerangnya, maka akulah yang akan menjadi lawanmu!" kata Kun.
"Baik jika itu yang kamu inginkan, jangan salahkan aku jika kamu harus mati!" kata Panglima Elang kemudian dia langsung menyerang Kun.
Panglima Elang sudah mengetahui seberapa besar energi yang dimiliki oleh Kun, walau begitu dia tetap harus bertarung hidup atau mati.
Menurutnya lari adalah tindakan yang pengecut karena itu dia lebih memilih tetap bertarung dan dia lebih senang jika harus mati di pertarungan, karena mati saat bertarung lebih terhormat dari pada harus lari menjadi seorang pengecut.
Panglima Elang kini harus menggunakan seluruh sisa energinya untuk melawan Kun, mereka bertukar bermacam serangan di langit membuat suara dentuman keras yang begitu keras terdengar di seluruh langit.
"Teman mu yang mana? Apakah si gadis debu itu?" tanya Bing Mei kepada Chinmi.
Mereka seolah-olah tidak terganggu akan pertarungan Hanzi dan sepuluh pendekar dan Kun melawan Panglima Elang.
"Namanya Qie Yin, dia...!"
"Jadi kamu sudah memanggil namanya juga?"
Chinmi belum selesai memberikan penjelasan namun Bing Mei sudah memotongnya dengan pertanyaannya.
"Bing Mei, aku tahu kamu masih mencurigai Qie Yin, namun dia sudah berusaha untuk menebus semua kesalahannya, dan aku akan membantunya agar dia tidak lagi berjalan di jalan yang salah!" kata Chinmi.
"Bilang saja kamu menyukainya! Kenapa justru memberi penjelasan yang berbelit-belit?" kata Bing Mei.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, namun yang pasti saat ini dia dalam masalah serius, jika sampai aku tidak bisa menemukannya atau menyelamatkannya, maka bersiap-siaplah karena bencana yang lebih besar akan segera terjadi!" kata Chinmi membuat semua yang ada di sana terkejut termasuk Fan Yuzhen.
"Apa maksudmu?" tanya Fan Yuzhen.
"Guru, Qie Yin di culik oleh Naga Batu, dia akan di jadikan sebagai Dewi Kegelapan, dan jika itu terjadi, besar kemungkinan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya, bahkan diriku sekalipun tidak bisa menghentikan nya!" kata Chinmi.
Di pertarungan, Kun berhasil membuat Panglima Elang terpojok dan membuatnya harus bertahan.
Memang Panglima Elang memiliki kekuatan tubuh yang sangat kuat, namun Kun memiliki stamina yang jauh lebih besar dan kuat dari Panglima Elang sehingga dia bisa membuat Panglima Elang tidak mampu mengimbanginya.
Tidak jauh dari mereka, pertarungan antara Hanzi melawan para pendekar yang bawa oleh Panglima Elang juga masih berlangsung.
Tidak ada yang menang atau kalah dari mereka, terlihat dengan jelas jika mereka berimbang.
"Tuan, ijinkan kami membantu tuan!" kata Ying.
Hanzi menghela nafas panjang, dia melihat Yang juga terbang ke arah nya, "Baiklah, sebaiknya kita selesaikan semua ini dengan cepat!" kata Hanzi.
Tian Xiang menggerutu kesal, namun dia tidak protes karena sadar jika dirinya dan anggotanya yang terkenal memilki kekuatan besar mengeroyok seorang pendekar.
Kini dengan ke ikutsertaan Ying dan Yang pertarungan tambah semakin sengit, sedangkan yang paling meresahkan adalah kondisi Panglima Elang yang sudah tidak mampu lagi melawan Kun.
"Ada yang menerobos perisai dari luar!" kata Chinmi.
Chinmi bisa merasakan jika ada sesuatu yang menerobos perisai yang ia buat, Chinmi segera mengaktifkan mata dewa nya, dan dia melihat ada ratusan kapal besar datang dari arah Benua Daratan Selatan.
"Sepertinya ini adalah bala bantuan mereka!" kata Chinmi.
Feng Ying, Ming Hao juga melihatnya. Mereka melihat kapal layar yang sangat besar dan ada bendera berwarna merah berkibar di tiang depan.
"Ini sangat berbahaya Chinmi, sepertinya para pendekar yang ada di dalam kapal itu memiliki kekuatan yang setara dengan gurumu, dan yang terendah setara dengan Ketua Ji Long!" kata Ming Hao.
Mereka bisa merasakan kekuatan bala bantuan yang datang membawa pasukan yang sangat kuat, Ming Hao yakin dengan kekuatan mereka semua, Benua Daratan Tengah akan dapat di kuasai hanya dalam satu malam saja.
Sedangkan bantuan Ming Hao dan yang lainnya tidak akan bergitu berarti jika harus melawan mereka semuanya, karena di dalam kapal masih banyak pendekar yang memiliki kekuatan setara dengan Tian Xiang dan juga ada belasan pendekar yang kekuatannya sama dengan kekuatan Hanzi.
Namun ada satu orang lagi yang ada di barisan kapal paling besar dan berada di tengah-tengah ratusan kapal lainnya.
Orang tersebut memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan Hanzi maupun mereka semua, Ming Hao yakin kemungkinan besar dia adalah pemimpin Rombongan Ratusan Kapal tersebut.
__ADS_1
"Ini adalah penyerangan terbesar, baru kali ini Benua Daratan Tengah akan mendapatkan serangan sebesar dan sekuat ini, andai seluruh sekte dan pendekar di seluruh Benua ini bersatu, itu masih belum cukup mampu untuk bisa menghentikan mereka," kata Chinmi.
Para pertapa termasuk Bing Mei tidak bisa berkata-kata lagi, bukannya mereka tidak mau percaya.
Semenjak pertempuran melawan dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan, mereka sadar jika kekuatan dari Benua Daratan Selatan benar-benar sangat kuat.
"Chinmi, apakah kamu memliki saran atau rencana?" tanya Wu Tong yang sejak tadi hanya diam saja.
"Senior, aku butuh bantuan senior semua termasuk guru dan Bing Mei!" kata Chinmi.
"Katakan saja, kami akan selalu siap membantumu," Fan Yuzhen maju mewakili semuanya.
"Guru, guru pergilah ke dunia bawah laut, suruh semua Naga untuk berpencar keberbagai sekte, desa dan kota, buatlah perisai pelindung untuk melindungi tempat mereka karena setelah ini akan ada kehancuran yang bisa membuat Benua Daratan Tengah hancur," kata Chinmi.
"Biar aku bantu, aku akan membawamu dengan cepat!" kata Ming Hao.
Chinmi mengangguk dan kemudian Ming Hao dan Fan Yuzhen menghilang dari tempat tersebut.
Walau merasa takjub dan kaget kerena Fan Yuzhen dan Ming Hao menghilang begitu saja, namun tidak ada satupun yang bertanya akan kemana mereka pergi.
"Bing Mei dan senior Xie Wen, kalian pergilah ke Kerajaan Es Utara, lindungi Desa dan kota sekaligus istana dengan perisai terkuat kalian, dan yang penting kabarkan berita ini ke seluruh wilayah Kerajaan Es Utara untuk bersiap-siap, termasuk sekte-sekte disana, pastikan mereka membuat perisai dan jangan keluar dari sana."
Xie Wen dan Bing Mei mengangguk, mereka segera melesat kearah Kerajaan Es Utara dengan kecepatan penuh.
"Senior Tan Xiang, pergilah ke Kerajaan Api Timur, lakukan seperti apa yang dilakukan oleh senior Xie Wen, dan senior Wu Tong, pergilah Ke Kerajaan Bumi Barat dan lakukan lah hal yang sama!"
Mereka berdua mengangguk dan tidak banyak bicara, mereka segera pergi seperti yang Chinmi minta, namun Chinmi lupa jika di Kerajaan Bumi Barat saat ini masih ada Yu dan Niu yang menjaganya.
"Guru Feng, bantulah mereka dan cepat selesaikan semuanya! Aku akan pergi menghadang mereka, jika urusan kalian disini selesai, kalian bisa menyusuiku!" kata Chinmi kemudian dia menghilang.
"Dia sama saja dengan Ho Chen, selalu memberikan keputusan sendiri dan bertindak sendiri!" gumam Feng Ying kemudian dia menoleh kearah Panglima Elang yang sudah tidak lagi mampu melawan Kun.
"Aku akan menghabisi yang disana saja!" kata Fan Yuzhen kemudian dia muncul di tengah-tengah pertarungan Hanzi yang melawan keenam pendekar karena keempat pendekar lainnya sedang menghadapi Ying dan Yang.
"Feng Ying, apa yang kamu lakukan?" tanya Hanzi yang terkejut karena Feng Ying tiba-tiba muncul sehingga serangannya hampir mengenai Feng Ying.
"Senior, situasi nya sekarang lebih buruk, jadi sebaiknya kita selesaikan semuanya dengan cepat!" kata Feng Ying kemudian dia menatap keenam pendekar di hadapannya.
"Sudah cukup main-mainnya, mari kita akhiri semuanya!" kata Feng Ying membuat Tian Xiang terkejut saat merasakan energi milik Feng Ying mendadak meningkat.
Feng Ying dan Hanzi sama-sama mengarahkan tapak mereka, dan keenam Pendekar termasuk Tian Xiang merasakan firasat buruk akan hal itu.
"Tehnik Matahari-Ledakan Matahari."
Feng Ying dan Hanzi sama-sama mengarahkan tehnik matahari mereka kearah mereka berenam yang terlihat panik.
"Lari... Selamatkan diri kalian!" seru Tian Xiang namun sayang kecepatan serangan Feng Ying dan Hanzi tidak akan mampu mereka hindari.
Kedua energi cahaya putih melesat bagai anak panah kearah mereka dan kemudian keduanya meledak dengan sangat dahsyat membuat separuh hutan harus hancur.
Ledakan tersebut juga membuat keempat pendekar yang berhadapan dengan Ying dan Yang juga terkena imbasnya, dan Ying dan Yang juga melepaskan tehnik mereka berdua kepada kawannya.
"Tehnik Api Bumi-Membakar Jiwa."
"Tehnik Es-Pembekukan Alam."
Mereka berdua melepaskan kedua tehnik mereka secara bersama-sama sehingga membuat keempat pendekar tersebut harus mati.
Kini hanya tersisa Panglima Elang yang sudah tidak berdaya lagi. Kun sengaja tidak membunuhnya dan justru lebih bermain-main dengannya.
"Kumohon bunuhlah aku, kamu jangan pernah mengampuniku! Jadi ku mohon segera akhiri semua ini," pinta Panglima Elang.
"Kun, biar aku yang urus! Sebaiknya kamu susul Chinmi, dan aku akan pergi bersama dengan Senior Hanzi menuju ke Kerajaan Angin Selatan!" kata Feng Ying.
Feng Ying berencana akan membawa Panglima Elang kembali ke Kerajaan Angin Selatan sekaligus membereskan kekacauan yang ada di sana.
Sedangkan Chinmi saat ini sudah berada di depan ratusan kapal yang hampir mencapai ke pesisir wilayah Kerajaan Angin Selatan.
Chinmi berdiri di tepi pantai dengan tatapan tajam kearah ratusan kapal di hadapannya dan Kemudian dia berseru dengan menggunakan energinya yang mampu menciptakan angin kencang.
"Tinggalkan Benua Daratan Tengah atau kalian akan menyesalinya..!" seru Chinmi.
__ADS_1
Angin yang begitu kuat dan kencang berhembus kearah kapal dan membuat kapal-kapal tersebut hampir terbalik.