PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Rubah putih dan Elang hitam


__ADS_3

"Chinmi, larilah secepat mungkin kearah pintu masuk!" kata Fan Yuzhen, dia sadar tidak ada pilihan lain selain bertarung dengan Rubah Putih tersebut.


"Bagaimana dengan Guru?"


"Jangan khawatir, aku akan segera menyusulmu, jadi cepatlah aku akan mengelihkan perhatiannya," kata Fan Yuzhen kemudian bersiap untuk bertarung dengan sang Rubah.


"Hmm, apa kamu pikir kamu bisa mengalahkanku!" kata Rubah putih kemudian meraung dengan keras.


"Groaarrr!!!"


Raugan Rubah putih sangat keras dan juga mengandung energi di dalamnya, seluruh Dunia Hewan Iblis bergetar hanya mendengar raungannya saja.


"Sekarang larilah!" kata Fan Yuzhen kemudian mencabut pedangnya yang sudah lama tidak ia gunakan kemudian melesat dengan sangat cepat ke arah sang Rubah.


"Pedang Nirwana Penakluk Iblis,"


Fan Yuzhen melayang ke udara dan mengangkat pedangnya keatas, seketika itu juga pusaran angin besar muncul dari langit kemudia jatuh tepat di ujung pedangnya.


Fan Yuzhen segera menebaskan pedangnya dan pusaran angin raksasa tersebut turun ke arah sang Rubah dengan sangat cepat.


"Groarrr!!"


Rubah Putih meraung lebih keras kearah pusaran angin yang sudah hampir mengenainya, alhasil pusaran tersebut kembali kearah Fan Yuzhen membuat Fan Yuzhen terpental mundur.


Rubah putih melirik Chinmi yang sudah menjauh kemudian berseru, "Percuma saja kamu membuat pengalihan, aku tidak akan membiarkan satupun dari kalian bisa meninggalkan Duniaku ini," ucapnya kemudian mengibaskan ekornya ke arah Chinmi.


"Celaka...!" Fan Yuzhen yang menyadari itu segera pergi ke arah Chinmi dangan panik.


Kibasan ekor sang Rubah mengeluarkan energi hitam berbentuk bulan sabit dan melesat ke arah Chinmi. Semua pepohonan terpotong oleh energi hitam ketika di lewatinya.


Fan Yuzhen lansung menciptakan perisai pelindung untuk menahan serangan energi hitam tersebut, sedangkan Chinmi baru mengetahui ketika banyak pepohonan yang tumbang akibat energi hitam tersebut.


Energi hitam membentur perisai yang dibuat oleh Fan Yuzhen sehingga menyebabkan ledakan yang cukup besar, bahkan efek gelombang kejutnya membuat pepohonan dalam radius 300 meter hancur.


"Boleh juga kamu, sekarang terimalah ini!"

__ADS_1


Rubah putih membuka mulutnya lebar-lebar dan terlihat energi hitam berkumpul di mulutnya, semakin lama energi hitam tersebut semakin membesar hingga membentuk bola padat.


Bola padat itu kemudian di lepaskan dengan sangat kuat dan juga cepat membuat tanah yang di lewatinya berlubang membentuk garis seperti sungai.


Fan Yuzhen merapatkan gigi kemudian segera menuju kearah Chinmi yang masih berlari, dia langsung mengambil kerah baju Chinmi dan membawanya terbang menghindari serangan bola energi hitam yang mengarah padanya.


Chinmi yang belum siap kaget karena tiba-tiba kerah bajunya ditarik kemudian dirinya sudah berada di udara, dia juga melihat bola energi hitam yang menghantam perisai pelindung milik Fan Yuzhen.


Perisai pelindung pecah dan bola energi hitam terus melaju dengan cepat melewati Fan Yuzhen yang berada di atasnya.


Bola energi hitam tersebut menghantam sebuah bukit besar dan,


Boom!!!


Ledakan yang sangat besar menghancurkan bukit tersebut, gelombang kejutnya mampu membuat Fan Yuzhen dan Chinmi terlempar cukup jauh, beruntungnya Fan Yuzhen tidak jatuh ke tanah dan dia masih memegang Chinmi.


Chinmi menelan ludahnya ketika melihat bukit yang hampir sebesar gunung hancur begitu saja hanya terkena bola energi hitam tersebut. Ini pertama kalinya dia melihat Kekuatan sedahsyat itu.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Jangan khawatir murid baik-baik saja," kata Chinmi walau sebenarnya dia merasa takut.


Ternyata bola energi hitam tidak hanya satu, Rubah putih kembali melemparkan bola-bola energi hitam, namun kali ini ukurannya lebih kecil dan kecepatannya lebih cepat dari bola energi hitam yang pertama.


"Sial...!" Fan Yuzhen merasa kesal karena bola energi hitam itu datang secara beruntun.


Fan Yuzhen berusaha menghindari bola-bola tersebut dan terbang menjauhi ledakan yang pasti akan terjadi.


Ledakan demi ledakan terjadi hingga terlihat dari udara tanah-tanah yang berlubang akibat ledakan tersebut dan membentuk kawah-kawah dengan berbagai ukuran.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menghancur tempat ini? Hentikan jika kamu teruskan Singa Merah pasti akan marah padamu!" seekor burung elang raksasa berwarna hitam datang dan menegur Rubah putih dengan suara geram.


"Apa kamu tidak lihat aku sedang melakukan apa?" jawab Rubah putih.


"Aku tahu, apa tidak ada cara lain selain menyerang dengan membabi buta seperti itu?"

__ADS_1


"Apa kamu datang kesini hanya ingin berbicara seperti itu saja? Jika kamu tidak ingin membantu, sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu aku, biar aku urus sendiri manusia itu dengan caraku sendiri," kata Rubah putih dengan suara kesal.


"Hem!" suara Elang Hitam terdengar seperti sinis dengan memalingkan mukanya menatap Fan Yuzhen yang sudah terlihat sangat jauh.


"Mengurus dua manusia itu saja kamu harus merusak tempat ini, dasar rubah payah!" kata sang Elang kemudian terbang ke udara dan melesat ke menyusul Fan Yuzhen.


Rubah Putih sangat geram dengan perkataan Elang Hitam, dengan ke empat kakinya dia berlari dengan sangat cepat menyusul Fan Yuzhen dan kecepatan larinya hampir sama dengan kecepatan Elang Hitam.


***


Fan Yuzhen berhasil menghindari semua bola energi hitam itu, ketika semua bola energi hitam sudah habis, dia terkejut ketika melihat seekor burung elang raksasa berwarna hitam datang dan terlihat seperti sedang berdebat dengan Rubah putih.


Melihat ada kesempatan Fan Yuzhen mengambil keuntungan itu untuk secepatnya meninggalkan tempat itu. Melawan Rubah putih saja sangat sulit apa lagi jika ditambah dengan satu ekor Elang Hitam kemungkinan untuk selamat pasti cuma 5 persen, dan kemungkinan untuk mati lebih banyak.


Fan Yuzhen terbang menuju kearah pintu keluar dengan kecepatan tinggi, sedangkan Chinmi hanya bisa pasrah dirinya dibawa bagai seekor anak kucing.


Fan Yuzhen sesekali melihat mereka berdua yang semakin jauh, dia merasa lega karena kedua mahluk tersebut tidak mengejar dirinya. Fan Yuzhen beranggapan jika Rubah putih dan Elang Hitam sudah tidak ingin lagi mengejar dirinya dan juga Chinmi namun tidak menurunkan kewaspadaannya.


Pintu keluar sudah berada di hadapan, Fan Yuzhen menoleh kebelakang, dia terkejut karena melihat Rubah putih sedang mengejarnya dengan sangat cepat.


"Kemana Elang Hitam?" gumam Fan Yuzhen sambil mencari keberadaan Elang Hitam


"Guru..!"


Fan Yuzhen menatap Chinmi yang masih ia pegang kerah bajunya. Chinmi menunjuk ke atas dan Fan Yuzhen langsung ikut menoleh dan ternyata si Elang Hitam sudah berada tepat di atasnya.


"Chinmi, bersiaplah aku akan menggunakan terbang dengan kecepatan tinggi!" kata Fan Yuzhen.


Chinmi bingung harus bagaimana, dia disuruh bersiap, namun bersiap yang seperti apa Chinmi tidak mengerti, namun beberapa detik kemudian barulah terjawab.


Fan Yuzhen menambah kecepatan terbangnya sehingga membuat udara seperti ribuan pisau menghantam tubuh Chinmi. Oksigen juga terasa tipis membuat Chinmi kesulitan untuk bernafas.


Chinmi berusaha bertahan agar tidak hilang kesadaran, namun bajunya mulai robek karena terkena angin.


Fan Yuzhen dan Chinmi berhasil sampai ke pintu keluar, dia melihat mata tajam Rubah putih dan juga Elang Hitam yang juga hampir tiba di depan mereka.

__ADS_1


Dengan cepat Fan Yuzhen membuka pintu tersebut dan membawa Chinmi keluar dari Dunia Hewan Iblis itu, dia bisa melihat wajah Rubah putih yang seolah-olah tidak terima saat melihat dirinya yang sudah mulai menutup pintu portalnya, dan Fan Yuzhen dan Chinmi akhirnya bisa bernafas lega setelah berada di dalam Goa.


__ADS_2