
***
Kaisar Langit adalah Dewa tertinggi dari semua para Dewa, dia adalah Pemimpin sekaligus pengatur seluruh belahan Dunia di Alam semesta.
"Para Tujuh Dewa Penjuru Langit, siapkan sambutan untuk tamu yang akan tiba sebentar lagi!" kata Kaisar Langit dengan suara nya yang berwibawa.
"Tamu Yang Mulia?" semuanya tidak ada yang tahu atau mendengar kabar jika akan datang tamu ke istana Langit.
Biasa setiap ada tamu agung yang akan datang sudah di ketahui oleh semua penghuni Kahyangan.
"Aku mendapatkan pesan Dari Rullai jika sebentar lagi akan datang dua manusia kesini! Mereka adalah para murid Buddha, jadi segera sambut mereka di depan Istana!" kata Kaisar Langit.
Ketujuh Dewa membungkuk badan dan kemudian mereka segera keluar untuk menyambut kedatangan tamu yang di maksud oleh Sang Kaisar Langit.
"Yang Mulia, maaf hamba jika lancang bertanya! Kenapa kedua murid Buddha datang kesini? Apakah mereka membutuhkan bantuan Yang Mulia?" tanya Dewa Tai Pai.
"Nanti kalian akan tahu sendiri, ini juga atas permintaan Rullai sendiri, jadi aku harus memenuhinya!" kata Kaisar Langit.
Dewa Tai Pai mundur lagi kebelakang dan hanya berdiri dengan rasa penasaran yang tinggi.
Mereka semua saling berdiskusi masing-masing membicarakan akan tamu yang akan datang, semuanya merasa bingung karena untuk pertama kalinya akan datang Manusia ke Istana Langit.
Saat mereka semua saling berdiskusi, pintu besar istana mulai terbuka dan semua mata para Dewa menatap kearah pintu gerbang tersebut termasuk Kaisar Langit.
Kaki yang pertama kali memasuki pintu tersebut adalah kaki yang semua Dewa mengenalinya, dia adalah Cao Yuan.
Saat mereka semua mengira jika hanya Cao Yuan saja yang datang, tiba-tiba ada kaki lagi yang melangkah memasuki pintu Gerbang.
tatapan semua Para Dewa kini terarah ke dua manusia yang juga ikut masuk dan berjalan di belakang Cao Yuan.
"Bukankah manusia yang satu itu Ho Chen? Apakah dia juga sudah menjadi murid Buddha? Lalu siapa yang satunya?"
Semuanya saling bicara masing-masing membicarakan ke-dua manusia yang juga baru tiba, dan sebagian dari mereka ternyata mengenali Ho Chen.
"Cao Yuan datang menghadap kepada Kaisar, terimalah hormat hamba!" kata Cao Yuan sambil berlutut satu kaki dengan satu tangan di dada.
Ho Chen dan Chinmi juga mengikuti Cao Yuan di belakangnya. Ho Chen sendiri juga terpana melihat Kaisar Langit yang tubuhnya sangat besar bahkan besarnya sama seperti besarnya Siddharta Gautama, bahkan Kaisar Langit juga memancarkan Cahaya menyilaukan.
"Ho Chen, sudah lama kita tidak bertemu! Aku sudah mengira jika kamu pasti akan menjadi murid Buddha!" kata Kaisar Langit.
"Ini semua karena jodoh Yang Mulia!" jawab Ho Chen.
"Hahahaha...! Ternyata kamu sudah mendalami Dharma! Owh.. jadi siapa teman mu itu?" tanya Kaisar Langit sambil menatap Chinmi.
"Yang Mulia, hamba adalah Chinmi!" jawab Chinmi sambil membungkukkan badan.
"Chinmi! Kau dan Ho Chen adalah murid Buddha dan aku mendapatkan pesan dari Rullai untuk memberikan anugerah tinggi kepada kalian berdua!" kata Kaisar langit.
"Yang Mulia, kami sudah mengetahui itu, namun kami sama sekali tidak pantas untuk menerima anugerah ini. Anugerah ini terlalu besar bagi kami!" kata Ho Chen.
"Hahahaha... Kamu terlalu merendah Ho Chen, menurut ku kau dan Chinmi pantas mendapatkan anugerah ini jadi jangan menolak!" kata Kaisar Langit.
Sebenarnya untuk bisa di terima dan di nobatkan sebagai Dewa, ada beberapa ujian yang harus di jalani oleh para Dewa, namun untuk Ho Chen dan Chinmi tidak di beri ujian tersebut.
Ho Chen dan Chinmi sudah menerima penempaan langsung dari Buddha sehingga mereka memiliki tubuh dan jiwa yang bersih.
Dua Dewa dan Dua Dewi datang dengan membawa sesuatu di tangan mereka dan berjalan ke hadapan Ho Chen dan Chinmi.
"Ini adalah Zirah Panglima Langit, gunakanlah zirah itu sebagai pelindung sekaligus kekauatan baru kalian!" kata Kaisar Langit.
Ke-dua Dewi itu menyerahkan Zirah bagian atas lengkap dengan mahkota jendral kepada Chinmi dan Ho Chen, sedangkan ke-dua Dewa memberikan Zirah bagian bawah lengkap dengan sepatu emas kepada Ho Chen dan Chinmi.
Ho Chen dan Chinmi menerima semua itu, sedangkan Cao Yuan melihat itu tersenyum lembut, kini tugasnya untuk membimbing dan menuntun mereka berdua sudah selesai.
Kedua Zirah yang berwarna emas itu bercahaya terang kemudian bergerak ke tubuh Ho Chen dan Chinmi dan dalam waktu singkat, Ho Chen dan Chinmi sudah mengenakannya.
Ho Chen dan Chinmi sama-sama bingung karena Zirah tersebut terpakai sendiri tanpa mereka berdua harus mengenakan Zirah tersebut dengan tangan mereka seperti pakaian pada umumnya.
"Dengan ini aku nobatkan kalian menjadi Dewa Pelindung Alam semesta, masing-masing dari kalian bisa memimpin pasukan langit kalian sendiri, dan masing-masing dari kalian akan memiliki Lima belas Ribu pasukan langit!" kata Kaisar Langit.
Ho Chen dan Chinmi saling berpandangan karena merasa canggung, mereka berdua tidak pernah menyangka akan benar-benar menjadi Dewa, namun mereka tetap tidak merasa senang atau sombong.
Hati mereka berdua sedikit ragu apakah semua itu pantas untuk mereka dapatkan atau tidak?"
"Terima kasih atas anugerah yang di berikan oleh Yang Mulia!" kata Mereka berdua sambil berlutut.
Tubuh mereka terlihat besar pengaruh besarnya Zirah tersebut, namun mereka tidak terganggu dengan besarnya zirahnya yang melekat dengan tubuh Mereka, dan mereka tidak merasa terbebani dengan beratnya.
Mereka berdua tidak tahu jika Zirah mereka berdua masing-masing memiliki berat Tujuh Ratus Ribu Pon atau setara dengan Tiga ratus Lima puluh Ton.
Kaisar Langit mengamati Cincin yang melingkar di jari Chinmi, "Apakah Rullai yang memberikan Cincin itu padamu?" tanya Kaisar Langit.
Chinmi melihat Cincinnya sendiri kemudian menjawab pertanyaan Kaisar, "Benar sekali Yang Mulia, Cincin ini diberikan oleh Bodhisattva kepada hamba!" jawab Chinmi.
__ADS_1
"Begitu, jika demikian kamu sudah tahu akan wujud Cincin itu bukan?"
Chinmi mengangguk, namun dia heran kenapa Kaisar Langit membicarakan Cincinnya itu?
"Aku juga memilki Naga Emas! Lihatlah disana, dia juga sama seperti Naga Emas di jarimu itu!" kata Kaisar Langit.
Chinmi menoleh kearah yang di maksud oleh Kaisar Langit, dia bingung karena dia tidak melihat apa-apa selain Awan putih yang dan ada jalan lebar berwarna emas yang bentuknya naik turun.
Jika dilihat lebar jalan berwarna emas itu cukup untuk Dua Ratus Kereta yang berbaris, dan selain jalan emas dan awan putih tersebut.
"Maaf Kaisar, hamba tidak melihat Naga Emas itu!" kata Chinmi.
Kaisar langit tertawa sambil kembali menatap Chinmi, "Lihatlah baik-baik, mustahil kamu tidak bisa melihat tubuh Naga Emas sebesar itu!" kata Kaisar Langit.
Chinmi kembali menatap awan itu lagi namun tidak melihat bentuk Naga Emas sama sekali, saat masih berusaha mencari nya, tiba-tiba saja jalan emas tersebut bergerak secara perlahan dan kemudian kepala Naga Emas muncul dari balik awan tersebut.
"Jadi jalan tadi itu adalah tubuh Naga Emas?" kata Chinmi yang terkejut serta tidak menduga jika tubuh Naga Emas sangat besar dan panjang, bahkan Delapan Naga Pemimpin Hewan Iblis sekalipun masih belum ada sepertiganya jika dibandingkan dengan Sang Naga Emas.
"Jadi sebesar itukah Naga Emas ku ini?" batin Chinmi sambil mengelus-elus Cincinnya.
Chinmi tidak bisa membayangkan jika Naga yang melingkar di jarinya berubah menjadi sebesar itu di dekatnya, bukankah dia hanya seperti Manusia yang ukurannya tidak lebih dari sekedar debu bagi Naga Emas.
"Sudah-sudah, sekarang kalian akan di antarkan ke paviliun kalian sendiri, nanti kalian bisa saling berinteraksi dengan para Dewa yang lain! Sesuai dengan jabatan besar kalian.
Mulai saat ini kalian sudah bisa melaksanakan tugas dengan memeriksa seluruh Alam semesta agar tetap aman, dan kalian juga bisa kembali kerumah kalian di dunia kalian masing-masing!
Kalian juga bebas kapan akan kembali ke paviliun kalian, namun kalian tetap harus memprioritaskan tugas kalian sebagai Dewa!" kata Kaisar Langit.
"Terima kasih atas kemuliaan Hati Yang Mulia, hamba akan berusaha untuk melaksanakan tugas hamba sebagai Dewa Pelindung Alam semesta, begitu juga dengan Chinmi!" kata Ho Chen.
"Baiklah, kalian bisa pergi ke paviliun kalian, disana sudah ada pelayan Dewa yang akan membantu mengurus paviliun kalian serta semua keperluan kalian!" kata Kaisar Langit.
Ho Chen dan Chinmi sama-sama membungkukkan badan memberi hormat kemudian mundur beberapa langkah kebelakang dan berbalik melangkah pergi di temani oleh beberapa Dewa termasuk Cao Yuan yang juga ikut mengantar mereka ke Paviliun mereka masing-masing.
Semua Dewa mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat sekaligus berinteraksi dengan mereka berdua.
Ho Chen dan Chinmi dengan terpaksa tinggal cukup lama demi membiasakan diri dengan semua itu, dan tanpa terasa mereka sudah tiga bulan berada di sana jika dihitung dari hari di Dunia.
Kini sudah waktunya bagi mereka untuk turun ke dunia sekaligus memeriksa seluruh Alam Semesta.
Selain Kaisar Langit dan Cao Yuan, tidak ada yang mengetahui jika Ho Chen dan Chinmi memiliki kekuatan Dewa Agung, mereka beranggapan jika kekuatan Ho Chen dan Chinmi setara dengan para Dewa lainnya seperti Cao Yuan, Dewa Mata Tiga, Dewa Roda Api, dan Dewa-dewa lainnya.
Kaisar langit tidak sembarang memberikan jabatan dan penobatan tersebut kepada Ho Chen dan Chinmi, semuanya itu juga atas permintaan Buddha Rullai agar mereka menjadi Dewa Pelindung Alam Semesta.
Dengan kekuatan mereka berdua sekaligus tugas mereka sebagai Dewa Pelindung Alam Semesta, Cepat atau lambat Chinmi dan Ho Chen akan segera berhadapan dengan She Long dan Ye Shi, dan itulah tugas mereka menghentikan She Long.
***
Dalam waktu selama itu juga, She Long tidak juga muncul di Sekte itu, bukan karena tidak muncul, namun dia dan Ye Shi muncul di bawah tanah tempat dia merubah Qie Yin menjadi Dewi Kegelapan.
Saat muncul kepermukaan tanah, She Long di sambut oleh para Pejabat Kerajaan Api Timur yang mengenali Ming Zai, namun sayang nasib buruk harus menimpa pejabat tersebut karena Ming Zai atau She Long menghabisi mereka semua dengan keji.
She Long akhinya mengetahui jika tubuh manusia yang ia gunakan saat ini memilki latar belakang yang tidak biasa sehingga dia sendiri segera pergi Ke Kerajaan Api Timur untuk menguasai Kerajaan itu.
Ye Shi sendiri memiliki rencana lain, awalnya dia ingin pergi ke She Chin untuk meminta bantuan mencarikan tubuh manusia sebagai wadah, namun She Long menghentikannya karena dia sudah mendengar dari para pejabat yang di buahnya jika She Long sudah tiada dan yang membunuhnya adalah mantan muridnya sendiri.
Ciri-ciri yang di ceritakan oleh para Pejabat itu sama persis dengan ciri-ciri Qie Yin atau Dewi Kegelapan.
Saat ini She Long ingin menikmati tubuh barunya dengan berpura-pura masih sebagai seorang pangeran dan setelah itu dia akan membumi hanguskan Kerajaan Api Timur.
Sedangkan Ye Shi terpaksa mencari sendiri tubuh manusia yang memiliki Pusat Roh Elemen Petir.
Di saat yang sama, Meng Ling sudah berhasil menyempurnakan ritualnya, dia dan para ketua Sekte aliran hitam yang lain sedang berkumpul untuk melihat kebangkitan dua pendekar Pertapa terkuat Aliran Hitam dan juga semua pendekar-pendekar yang sudah gugur, baik itu dari aliran hitam, maupun aliran putih dan netral.
"Apakah yakin jika semua mayat ini akan kamu gunakan untuk membangkitkan para pendekar?" tanya Tong Liung.
"Apa kamu meragukan kemampuanku? Apa kamu lupa kalau kami sangat mahir dalam mengendalikan Jiwa dan Roh yang tersesat, bahkan aku mampu mengambil Roh yang berada di akhirat!" kata Meng Ling yang terlihat tidak terima karena Tong Liung terlihat meragukannya.
"Kamu tahu, selain dari She Chin dan Fu Shen, aku juga sudah mencuri banyak Sempel pendekar yang sudah mati selama beberapa bulan ini, dan kamu ingin tahu Sempel siapa saja yang sudah aku dapatkan?"
Tong Liung hanya menggelengkan kepala karena tidak tahu, sedangkan yang lain juga sama penasaran nya.
"Baiklah, aku harap kalian tidak lupa untuk menutup mulut kalian jika terkejut!" kata Meng Ling kemudian dia mendekati salah satu jasad dari ratusan jasad yang ada di hadapannya.
Meng Ling meletakkan sedikit abu bakar kemudian dia menempelkan sebuah kertas mantra buatannya sendiri ke tubuh jasad tersebut kemudian dia seperti membuat mantra tangan.
Setalah selesai membuat mantra tangan, Meng Ling meletakkan satu telapak tangannya ke tubuh jasad tersebut dan kemudian aura hitam keluar dari tangannya dan membungkus jasad tersebut selama beberapa saat.
Aura hitam menghilang dari tubuh jasad tersebut dan kemudian tubuh jasad tersebut berubah wujud ke tubuh milik orang lain.
Meng Ling kembali ketempat semula sambil menatap ke arah jasad yang sudah berubah itu namun masih terbaring.
"Lihatlah siapa orang itu, aku yakin kalian tidak akan melupakan teman lama kita!" kata Meng Ling kemudian dia kembali berbicara, namun kali ini bicara dengan nada perintah kepada jasad tersebut.
__ADS_1
"Bagunlah dan menghadap kesini!" kata Meng Ling.
Jasad tersebut bergerak secara perlahan-lahan seperti hidup kembali dan kemudian dia mulai berdiri dengan membelakangi mereka semua sehingga Tong Liung dan yang lainnya semakin penasaran akan sosok mayat hidup tersebut, namun melihat dari pakainnya, Tong Liung merasa seperti mengenalinya.
Mayat hidup tersebut berbalik dan menghadap kearah Tong Liung dan Meng Ling serta semua ketua Sekte aliran hitam.
Semua terkejut bukan main melihat wajah dari sosok mayat hidup tersebut yang tidak asing bagi mereka semua.
Sosok mayat hidup tersebut adalah sosok terkenal sebelum akhinya tewas terbunuh dalam satu pertempuran yang terjadi di Kerajaan Es Utara, dan yang membunuh sosok terkenal itu adalah sang Dewi Naga Es Zhihui.
"Ketua Lung Wai!" seru Tong Liung dengan mata melotot.
"Dia ketua Lung Wai, Sang Raja Kelelawar dari Sekte Kelelawar Hitam yang sudah musnah!" seru salah satu ketua sekte.
Semuanya terkejut melihat Lung Wai yang hidup kembali sebagai mayat hidup dengan kedua bola mata yang seluruhnya menghitam, namun energi kekuatannya masih sama besarnya seperti kekuatan Lung Wai yang dulu.
"Aku bilang jangan lupa untuk menutup mulut kalian jika sedang terkejut!" kata Meng Ling sehingga semuanya tersadar dan segera menutup mulut mereka yang terbuka lebar.
Meng Ling tertawa kecil melihat itu kemudian dia kembali berbicara, "Ini hanya sebagian kecil dan Pendekar dari Ketua Sekte pertama yang aku bangkitkan, bagaimana jika aku membangkitkan yang para pendekar selanjutnya? Kalian pasti akan lebih terkejut dari yang kalian lihat saat ini!" kata Meng Ling.
"Aku percaya jika dia adalah Sang Raja Kelelawar, namun bagaimana dengan cara bertarung nya, apakah masih sama seperti dia waktu masih hidup?" tanya Tong Liung.
"Lung Wai, apakah kamu bisa mendengar ku?" Meng Ling justru berbicara kepada Mayat Hidup tersebut.
"Aku mendengarnya, namun siapa kamu dan kenapa kamu bersama dengan Tong Liung dan semua Ketua Sekte?" tanya Lung Wai.
Lung Wai berbicara seperti memiliki kesadaran atas pikirannya sendiri, namun saat berbicara, ada dabu yang berjatuhan dari wajahnya yang terlihat bagai kulit yang retak.
"Aku adalah Meng Ling, ketua Sekte Lembah Hantu sekaligus adik dari Meng Yi!" jawab Meng Ling.
"Hem..? Apakah Nenek Tua Meng Yi itu juga sudah mati?" tanya Lung Wai.
"Iya! Dia sudah mati terbunuh dan sekarang aku yang menggantikan nya!" jawab Meng Ling.
Lung Wai menatap semuanya sekaligus menatap tubuhnya sendiri, "Aku ingat, aku sudah mati saat bertarung dengan Zhihui, lalu sekarang apa yang terjadi dengan ku? dan kenapa tubuhku seperti terbuat dari tanah? Dan..!!!"
Lung Wai ingin menggerakkan tubuhnya namun tubuhnya tidak bisa di gerakkan sama sekali, "Aku tidak bisa bergerak! Ada apa ini?" tanya Lung Wai.
"Saat ini kamu sudah aku hidupkan kembali, namun kamu tidak ada bedanya dengan mayat hidup, kamu hanya bisa mengendalikan pikiranmu sendiri, sedangkan tubuhmu bisa bergerak jika aku menginginkannya! Jadi sekarang bergeraklah dan tunjukkan padaku kekutan mu, aku dan semuanya ingin melihat nya!" kata Meng Ling.
"Kurang ajar kau Meng Ling, aku tidak mau hidup lagi, dan aku tidak mau menuruti perintah...!"
Krakkkk!!!
"Benarkah..? Sekarang apakah kamu mau menuruti perintahku? Jika tidak aku terpaksa akan mengendalikan tubuhmu dengan paksa, dan kamu pasti bisa merasakan seperti apa rasanya bukan?" kata Meng Ling sambil mengerakkan tangannya dan mengendalikan tubuh Lung Wai yang saat ini sedang di tekuk tubuhnya seperti boneka.
"Dasar manusia licik, kamu sudah melanggar Aturan dengan menghidupkan orang yang sudah mati!" kata Lung Wai yang terlihat marah namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan banyak bicara! Sebaiknya kamu segera lakukan perintahku sekarang!" kata Meng Ling.
Lung Wai terpaksa menuruti permintaan Meng Ling karena tidak bisa berbuat apa-apa, sebab dirinya saat ini tidak ada bedanya dengan boneka yang di kendalikan oleh pemiliknya.
Lung Wai melepaskan energinya yang besar sehingga Sekte Lembah Hantu mulai tertutup awan hitam.
Lung Wai mulai menggerakkan tubuhnya yang kaku dan kemudian mulai lemas, dia mulai memperagakan jurus-jurus yang ia kuasai dan juga menggunakan sihir nya di hadapan Meng Ling dan semua Ketua Sekte aliran hitam.
Gerakan, Kecepatan dan kekuatannya masih sama seperti dulu, setiap gerakan selalu mengeluarkan gelombang energi yang mematikan.
"Cukup! Sekarang kamu diam dan tunggu hingga waktu nya tiba untuk bangkit kembali!" kata Meng Ling.
"Meng Ling, apa yang kamu rencanakan, dan apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Lung Wai.
"Baiklah aku akan memberitahukan sedikit informasi pada mayat hidup, anggap saja ini sebagai hadiah! Aku berencana akan menyerang semua Sekte besar Aliran Putih dan Netral sekaligus menyerang semua Kerajaan dan mengambil alih seluruh Benua Daratan Tengah, kamu dan para pendekar mayat hidup lainnya akan manjadi pion ku untuk melaksanakan rencana ku! Ah tidak maksudnya rencana kami!" kata Meng Ling.
"Aku sudah tidak mau membunuh lagi, jadi lepaskan aku dan kembali Roh ku ke Akhirat!" kata Lung Wai.
"Kamu tidak berhak meminta dan memerintah ku, justru kamu yang harus menurut dan mengikuti semua perirahku, jadi sekarang kamu mati dan nanti akan aku bangkitkan lagi jika sudah waktunya!" kata Meng Ling kemudian dia menggunakan mantra tanganhya untuk mematikan Lung Wai.
"Bagaimana? Apakah kamu masih ragu?'' tanya Meng Ling kepada Tong Liung.
"Ini sungguh luar biasa! Apakah nantinya mereka masih bisa mati terbunuh?" tanya Tong Liung yang ingin tahu apakah mayat hidup itu akan mati jika dibunuh saat bertarung.
"Tidak, setiap tubuhnya terpotong atau hancur, maka tubuhnya akan kembali bangkit dari tanah, dan mereka tidak akan pernah bisa di bunuh, namun ada satu kelemahannya! Mayat hidup ini masih bisa di segel dengan segel khusus yang bisa membuat mereka tidak akan bisa bergerak dan pada akhirnya Roh mereka akan kembali ke Akhirat dan mayatnya akan kembali seperti mayat pertama."
"Seperti apa segel itu?" Tong Liung kembali bertanya.
"Segel Sihir milik para Pendekar Sihir dari masing-masing elemen dan kertas seperti milikku ini, namun hanya aku yang bisa membuatnya, dan yang terakhir adalah Segel yang tidak mungkin ada orang yang memiliki, yaitu Segel Sihir Dewa!" kata Meng Ling.
"Kalau begitu mereka akan menjadi Pasukan Mayat Hidup sekaligus senjata yang paling ampuh untuk menguasai Benua ini!' kata Tong Liung.
"Tidak hanya benua ini saja, jika perlu kita akan menguasai seluruh dunia ini!" jawab Meng Ling.
"Aku suka itu! Kalau begitu cepat bangkitkan semua para Pendekar sakti yang sudah kamu dapatkan, aku sudah tidak sabar ingin melihat siapa saja yang akan bangkit kembali dengan kejeniusan mu itu!" kata Tong Liung.
__ADS_1
Tidak hanya Tong Liung saja yang sudah tidak sabar, bahkan semua nya juga sudah tidak sabar dan penasaran.
"Sabar, yang akan aku bangkitkan seterunya adalah para pendekar sakti dan juga Pendekar yang melegenda di masa lalu!" jawab Meng Ling.