
***
"Dasar tidak berguna..!"
Permaisuri sangat marah saat mendengar kabar jika pendekar yang ia sewa telah gagal untuk membunuh Chinmi.
Bukan hanya gagal, salah satu dari mereka justru harus kehilangan satu kaki mereka hanya karena melawan seorang kakek tua.
Permaisuri melempar barang-barang yang ada di depan cermin hingga berantakan di lantai. Tidak ada orang disana, bahkan pelayan pun juga tidak ada.
Namun teriakan dan suara barang-barang yang pecah terdengar hingga sampai diluar kamar. Para pengawal yang ada diluar hanya bisa saling berpandangan satu denga yang lainnya, dan tidak seorang pun yang berani masuk untuk melihat keadaan Permaisuri yang sedang marah tanpa ada yang tahu akan penyebab kemarahan sang Permaisuri.
"Apa mungkin Permaisuri marah karena pangeran Ming yang di penjara oleh Paduka Raja?" tanya salah satu prajurit kepada rekannya.
"Sssst...! Pelankan suaramu, jika sampai Permaisuri mendengar maka kamu bisa dihukum berat olehnya!" kata rekannya mengingatkan agar rekannya tidak sembarangan jika berbicara.
"Aku tahu itu, namun aku katakan ada benarnya kan?" kata prjurit tersebut yang masih tetap ingin berbicara tentang kemarahan sang Permaisuri.
"Jika kamu ingin mati, sebaiknya kamu tidak perlu mengajakku," kata rekannya kemudian dia menjauhinya karena takut ketahuan oleh Permaisuri.
Pada saat yang bersamaan, Permaisuri Pei Ling keluar dari kamarnya dan berjalan kearah sang prajurit yang tadi membicarakan namanya.
Kedua prajurit tersebut menelan ludah karena khawatir jika pembicaraan mereka berdua tadi terdengar oleh sang Permaisuri.
Nyatanya tidak seperti yang mereka khawatirkan, setelah Permaisuri tiba di dekat mereka berdua, sang Permaisuri justru berbicara hal yang lain.
"Kalian berdua, jika kalian melihat salah satu pelayan kesini, suruh pelayan itu untuk membersihkan kamarku!" kata Sang Permaisuri sehingga membuat keduanya bernafas lega.
Mereka berdua membungkuk tanpa menjawab sepatah katapun setelah itu Permaisuri Pei Ling pergi meninggalkan mereka berdua.
"Huff.. Hampir saja jantungku berhenti berdetak! Kau jangan kau ulangi lagi perkataan mu tadi!" kata prajurit tersebut sambil menatap rekannya.
Permaisuri pergi kearah perkemahan latihan prajurit untuk mencari Jendral Jin Hang, dia ingin meminta Jendral Jin Hang untuk pergi mencari Chinmi, karena selain suaminya yang terkuat, Jendral Jin Hang adalah orang terkuat kedua setelah Raja Ming.
"Permaisuri datang..!" salah satu prajurit penjaga pintu masuk perkemahan berseru keras sebagai tanda jika Permaisuri akan segera masuk.
__ADS_1
Semua prajurit yang ada di sana segera berkumpul untuk memberi Hormat kepada Permaisuri. Setelah Permaisuri memasuki perkemahan latihan, semua prjurit segera berlutut.
Permaisuri hanya diam sambil memperhatikan kesekelilingnya, dia mencari keberadaan Jendral Jin Hang dari semua yang ada disana, namun dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Jendral Jin Hang.
"Kemana Jendral Jin Hang?" tanya Permaisuri.
"Maaf ibu Permaisuri, jendral Jin Hang tidak ada disini, katanya dia menjaga pangeran langsung di penjara bawah tanah!" jawab salah satu prajurit tersebut.
"Kenapa harus dijaga seperti itu? Anakku tidak mungkin akan kabur," kata Permaisuri yang semakin kesal.
Merasa tidak ada keperluan lagi disana, Permaisuri segera pergi ke penjara bawah tanah untuk menemui jendral Jin Hang yang saat ini berada disana menjaga Ming Zai.
"Permaisuri, kenapa anda datang kesini?" tanya Jendral Jin Hang setelah Pei Ling tiba disana.
"Kenapa kamu diam saja saat Zai'er akan dihukum, dan kenapa kamu menjaganya seperti ini, dia tidak akan mungkin kabur dari penjara," kata Pei Ling dengan nada kesal sambil menatap Ming Zai yang sudah tidak sadarkan diri karena seluruh energinya sudah habis akibat efek dari ilmu Tubuh Iblis Neraka.
"Permaisuri..!"
"Sudahlah Jin Hang, tidak ada orang lain selain kita disini, sebaiknya kamu panggil aku seperti biasanya saja!" kata Pei Ling.
Jendral Jin Hang menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap Permaisuri dengan tatapan lain, "Apa sebenarnya yang kamu inginkan Ling'er?" tanya Jendral Jin Hang.
"Kedatanganku kesini tentu saja untuk menyuruh mu pergi mencari anak muda itu sekaligus membunuhnya!" kata Pei Ling.
"Itu mustahil! Jujur aku tidak akan mungkin bisa mengalahkannya," kata Jin Hang.
"Kamu menyerah sebelum mencoba? Apakah kamu akan membiarkan anak kita menderita di dalam penjara yang terkutuk ini?" tanya Pei Ling.
"Tentu saja tidak Ling'er, namun kamu harus mengerti akan situasinya, anak muda yang bernama Chinmi itu memiliki Pedang Naga Langit, aku yakin dia akan bisa mengalahkan ku dengan mudah hanya dalam beberapa ilmu saja," kata Jin Hang sambil menatap Ming Zai.
"Kau sungguh sangat menyebalkan Jin Hang, andai saja kau bukan ayah kandung Zai'er pastinya dia tidak akan seperti ini!" kata Pei Ling.
Tidak ada yang akan menduga jika sebenarnya Ming Zai bukankah anak dari Raja Ming, bahkan Raja Ming sekalipun tidak tahu akan hal itu.
Ming Zai adalah hasil dari hubungan gelap antara Jin Hang dan Pei Ling, hal ini tertutup rapat hingga lebih dari 20 tahun.
__ADS_1
Sebelum Pei Ling menikah dengan Raja Ming Shan, Pei Ling dan Jin Hang sudah lama menjadi sepasang kekasih.
Namun ketika Pei Ling mengetahui jika dirinya di lamar oleh Ming Shan, Pei Ling akhirnya memilih untuk memberikan kehormatannya kepada Jin Hang yang sudah lama menjadi kekasihnya.
Pei Ling dan Ming Zai bertunangan selama lebih dari satu tahun, dan selama itu juga Pei Ling dan Jin Hang tetap melakuakan hubungan gelap mereka hingga akhirnya Pei Ling hamil dua minggu.
Saat itulah hari pernikahan Pei Ling dan Ming Shan dilaksanakan, sebenarnya hari kelahiran Ming Zai lebih cepat dari dugaan menurut Raja Ming.
Karena takut ketahuan, Pei Ling beralasan jika anaknya lahir dua bulan lebih cepat, dan dianggap sebagai bayi prematur.
Sebenarnya harinya sudah tepat karena usia kandungan Pei Ling sudah sembilan bulan lebih, namun dia membayar tabib untuk berbohong dan disuruh mengatakan jika kandungannya masih berumur Tujuh Bulan.
Awalnya tabib tersebut menolak, namun karena paksaan dan ancaman dari Pei Ling, akhirnya kebohongan tersebut tertutup rapat hingga Ming Zai dilahirkan, sedangkan tabib tersebut mati terbunuh di rumahnya.
Pelakunya tidak lain adalah Pei Ling yang menyewa kelompok Singa Api untuk membunuh tabib tersebut agar rahasianya tetap terjaga.
Sejak itu Jendral Jin Hang selalu menemani Ming Zai sejak Ming Zai masih kecil hingga dewasa, Jin Hang beralasan demi keamanan Pangeran dia akan selalu menjaga dan menemani Ming Zai, bahkan melatihnya.
Sebenarnya itu semua agar dia bisa menjaga Ming Zai, sebagai seorang ayah, tentu dia tidak akan pernah membiarkan hal buruk terjadi kepada anaknya.
"Kenapa kamu tidak menyewa kelompok Singa Api untuk mencari pemuda itu?" tanya Jin Hang.
"Aku sudah melakukannya, namun mereka justru gagal," jawab Pei Ling.
"Kalau begitu ya sudah, jika pembunuh hebat seprti mereka saja gagal, bagaimana kamu bisa yakin jika aku akan berhasil melakukannya?" tanya lagi Jin Hang.
"Itu karena kamu adalah pendekar terkuat kedua setelah Ming Shan," jawab Pei Ling dengan sangat yakin.
"Aku memang yang terkuat kedua setelah suamimu! Namun kamu harus tahu satu hal, suamimu saja tidak akan sanggup melawan Pemuda itu," kata Jin Hang kembali mengingatkan jika mencari masalah dengan Chinmi hanya akan menambah masalah lebih parah.
"Kamu benar-benar pengecut! Kalau begitu aku aku menyewa pendekar lain yang lebih hebat dari mu maupun Ming Shan." kata Pei Ling kemudian pergi keluar meninggalkan Jin Hang.
"Sifatnya benar-benar tidak berubah, dan sepertinya Zai'er mengikuti sifat ibunya!" gumam Jin Hang yang disertai dengan gelengan kepala.
Jin Hang kembali duduk dan mengamati Ming Zai yang tidak sadarkan diri. Sesekali Jin Hang hanya menghela nafas panjang dan disertai dengan suara hatinya agar putranya bisa berubah mengingat kini dia sudah bertunangan dengan tuan putri dari kerajaan Angin Selatan.
__ADS_1