
Qie Yin berjalan secara perlahan-lahan menuju kearah meja kerja She Chin, dia bergerak secara hati-hati dan waspada agar tidak diketahui oleh siapapun.
Di tengah derasnya suara air Hujan yang mengguyur atap bangunan, sangat mustahil akan mencurigai suara kecil yang Qie Yin timbulkan.
Dengan lampu minyak sebagai penerangan meja, Qie Yin membaca setiap laporan yang ada diatas meja. Semua catatan sudah ia baca, namun tidak ada informasi apapun mengenai tragedi kematian kedua orang tuanya.
Qie Yin melihat kesekelilingnya, cukup banyak buku catatan yang ada rak kayu di dekat jendela. Qie Yin merasa mustahil jika harus memeriksa setiap dari buku yang banyak tersebut.
Namun dia tetap akan berusaha sebisa mungkin untuk membaca semua catatan, karena waktu hanya sampai saat hampir menjelang fajar saja.
Qie Yin mengambil setiap buku dan membaca satu persatu. Setiap selesai membaca, dia akan merapikan kembali buku tersebut ke tempat semula agar tidak ketahuan jika buku tersebut sudah ia baca.
Waktu-waktu sudah berlalu, sudah puluhan buku yang Qie Yin buka, namun tetap saja tidak menemukan satu petunjuk pun, sedangkan sisa buku masih puluhan juga yang belum terbaca.
Qie Yin menyandarkan dirinya ke dinding kerena lelah, dia sampai berpikir untuk menghentikan dulu membaca laporan yang ada di rak kayu tersebut hingga akhirnya dia melihat buku yang kulit sampulnya terbuat dari kulit hewan.
Karena hari sudah hampir pagi, Qie Yin memilih untuk membawa satu buku tersebut untuk ia lihat di kamarnya. Qie Yin takut jika berada disana hingga pagi, karena She Chin biasanya akan kembali saat sudah hampir terbit fajar.
Qie Yin bergegas meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju ke kamarnya dengan membawa Buku catatan bersamaku kulit hewan tersebut.
Qie Yin segera mengunci pintu kamarnya dan segera membuka buku tersebut. Selembar demi selembar sudah ia buka, namun dia sama sekali tidak menemukan catatan yang ia cari, bahkan hingga sampai di lembaran terakhir.
"Apa mungkin Guru She memang tidak mengetahui apa-apa akan kematian kedua orang tuaku," batin Qie Yin sekaligus menutup bukunya.
Qie Yin yang merasa lelah akhirnya ingin beristirahat dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Tanpa terasa ia tertidur dengan nyenyak.
Saat hampir terlelap, Qie Yin sempat menyebut nama Ayah dan ibunya dan kemudian Qie Yin pun terlelap.
"Yin'er...!"
__ADS_1
Qie Yin tiba-tiba tersadar saat mendengar suara wanita memanggil namanya. Qie Yin membuka matanya dan ia terkejut setelah melihat kesekelilingnya.
Qie Yin ingat jika dirinya berada di dalam kamarnya, namun saat ini dia tiba-tiba saja berada ditempat yang asing, tanahnya penuh kabut putih yang tebal, dan wangi bunga juga ia rasa.
"Dimana ini?" Qie Yin kebingungan sambil melihat kesekelilingnya, namun ia tidak melihat ujung dari pandangannya, seolah-olah dirinya berada di tempat yang tak berujung.
"Yin'er...!" suara wanita tersebut kembali terdengar sedangkan Qie Yin berusaha untuk mencari sumber dari suara tersebut.
"Siapa yang memanggilku?" tanya Qie Yin sambil tetap berusaha menemukan sumber dari suara tersebut.
"Ini aku nak ibumu!" kata suara tersebut kemudian mulai menampakkan dirinya dari kabut yang begitu tebal.
"Ibu!" Qie Yin terkejut setelah melihat wujud tersebut dengan sempurna, wujud tersebut tidak lain adalah ibunya Qie Yin yang sudah lama meninggal.
Qie Yin mendekati tubuh ibunya dan secara perlahan-lahan dia memegang tangan ibunya, "Apakah ini nyata?" tanya Qie Yin.
"Yin'er, nyata atau tidaknya diriku, namun aku adalah ibumu!" kata ibu Qie Yin sambil memegang pipi Qie Yin.
"Ibu, Yin'er sangat rindu sekali kepada Ibu!" kata Qie Yin sambil menangis dipelukan ibunya.
"Kami juga merindukanmu nak, tapi pertemuan kita saat ini hanya sebentar saja," kata Ibu Qie Yin.
"Apa maksud Ibu, apakah ibu berniat pergi lagi?" tanya Qie Yin sambil melepaskan pelukannya.
"Yin'er, ini adalah alam bawa sadar mu, ibu akan bisa masuk ke alam bawa sadarmu jika dirimu sudah memiliki kekuatan ditingkat Pendekar Sihir Elemen Dasar," kata Ibu Qie Yin.
Qie Yin sedikit bingung, namun dia seolah-olah seperti tidak peduli akan hal itu, "Mau Alam sadar atau bukan, aku tidak peduli! Bagiku bisa melihat ibu saja aku sudah sangat senang!" kata Qie Yin.
"Yin'er, sekarang kamu sudah besar, walau aku tidak menduga jika kamu akan sekuat ini diusia muda!" kata ibu Qie Yin.
__ADS_1
"Ibu, aku mendapatkan kekuatan ini berkat Guru She, tanpa Guru She mungkin aku tidak akan seperti ini!" kata Qie Yin.
"Jadi dia telah melakukan uji coba itu," kata Ibu Qie Yin kemudian menatap wajah putrinya dengan serius.
"Yin'er, kau harus pergi sejauh mungkin dari She Chin, pergilah sejauh yang kau bisa, jika perlu carilah orang yang dapat melindungi dirimu darinya!" kata Ibu Qie Yin.
"Tapi kenapa Ibu, Guru She sangat baik padaku!" kata Qie Yin.
"Tidak Yin'er, banyak yang belum kamu ketahui, suatu saat, kamu akan mengetahui akan kebenaran itu! Namun ibu sarankan agar kamu secepatnya pergi menjauh darinya," kata Ibu Qie Yin kemudian tubunya mulai transparan.
"Ibu, ada apa denganmu?" Qie Yin panik saat melihat tubuh ibunya yang mulai transparan.
"Waktu ibu hanya sedikit, jadi sekarang ibu harus kembali, ingatlah pesan Ibu, secepatnya kamu pergi dari tempat itu, carilah orang yang dapat melindungimu!" uacpanya.
"Ibu, tidak! Ibu jangan pergi lagi dariku," kata Qie Yin yang air matanya kembali membasahi pipinya.
"Maafkan Ibu Qie Yin, ibu harus tetap pergi! Namun jangan lupa kalau Ibu sangat menyayangimu!" kata Ibu Qie Yin yang akhirnya tubuhnya lenyap.
Qie Yin berteriak histeris memanggil ibunya, dia hanya berlutut tanpa berbuat apa-apa dengan tangis yang terdengar pilu.
"Ibu..!" ucapan Qie Yin menyandarkan dirinya sendiri.
Qie Yin membuka mata dan melihat dirinya ternyata masih berada di dalam kamarnya, "Mimpi, jadi tadi hanyalah mimpi," kata Qie Yin dengan pelan.
Qie Yin yakin yang dialaminya bukanlah sekedar mimpi saja. Qie Yin bersandar dan wajahnya kembali terlihat dingin. Dia ingat akan pesan ibunya, namun dia sendiri juga bingung.
"Apakah aku harus pergi dari sini? Tapi kemana, dan siapa orang yang bisa membantuku?" Qie Yin kebingungan sendiri.
Dengan hati kebingungan, Qie Yin bangkit dan keluar dari dalam kamarnya, ternyata matahari sudah cukup tinggi, dia melihat She Chin sedang berjalan menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kebenaran apa yang guru She sembunyikan?" batin Qie Yin kemudian dia juga pergi menuju ketempat penelitian, tempat yang selama ini menjadi tempat yang memberinya kekuatan.