PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Penyamaran Ming Zai


__ADS_3

"Aku ingat kamu pernah menceritakan kepada kami saat itu dimana ketika kamu menceritakan akan kematian kedua orang tuamu yang di bunuh oleh guru mu sendiri!" kata Lio Long yang melanjutkan ceritanya kepada Qie Yin.


"Apa! Guru ku yang membunuhnya?" tanya Qie Yin yang terkejut saat mendengar akan cerita penyebab kematian kedua orang tuanya.


Qie Yin melirik Yinfei dan menatapnya dengan dingin, sedangkan Yinfei yang mengetahui akan tatapan dingin Qie Yin segera bertanya.


"Apakah kamu pikir aku sekejam itu? Aku memang gurumu, namun aku menjadi gurumu saat kamu dan Lio Long sudah berada di dunia Ciptaan nya, jadi guru pertamamu pelakunya!" kata Yinfei menjelaskan kepada Qie Yin agar tidak salah paham dan menuduh dirinya sebagai pembunuh.


"Benar juga! Tapi aku tidak tahu siapa guru pertama ku? Apakah Senior tahu namanya?" tanya lagi Qie Yin kepada Lio Long.


"Aku tidak ingat namanya bahkan Sekte nya pun aku juga lupa! Akan tetapi Chinmi pasti tahu nama guru pertama mu!" kata Lio Long menjelaskan.


"Dia lagi! Jika nunggu dia datang, butuh waktu berapa lagi aku harus menunggunya?"


"Seharusnya tidak lama!" jawab Yinfei.


"Kalau begitu aku masih harus bersabar lagi! Baiklah aku akan menganggap ini sebagai ujian untuk melatih kesabaran ku! Sekarang ceritakan lagi ceritamu Senior," pinta Qie Yin.


"Aku ingin keluar dulu! Jendral Lang, apa kamu mau ikut?" Xi Liyi yang merasa bosan mengajak Jendral Lang Yu untuk keluar.


"Tuan Putri, aku disini saja!" kata Lang Yu yang sebenarnya tertarik ingin mendengarkan cerita masa lalu Qie Yin dari Lio Long.


"Terserah kamu saja, aku mau mencari ibu nya Chinmi saja agar aku bisa mendapatkan teman untuk mengobrol!" kata Xi Liyi kemudian dia pergi meninggalkan mereka semua.


"Biarkan saja Tuan Putri pergi, dia memang cepat bosan jika terlalu lama duduk di satu tempat! Jadi silahkan senior lanjutkan lagi ceritanya," kata Jendral Lang Yu.


Lio Long kembali melanjutkan ceritamya akan Mesa lalu Qie Yin yang ia ketahui dan pada akhirnya cerita Lio Long berakhir di cerita ketika She Long berhasil menangkap dan membawa Qie Yin.


"Itu artinya, She Long itu pasti tahu akan siapa guruku! Aku akan mencarinya sekaligus akan menangkapnya karena berani menghilangkan ingatanku!" kata Qie Yin.


"Tidak Qie Yin! Aku tahu kekuatan mu sangat besar, dan mungkin saja kamu bisa mengalahkan She Long dengan mudah, namun kamu tidak tahu betapa liciknya dia itu!" kata Yinfei.


"Tapi aku tidak bisa terus menunggu kedatangan pemuda itu!" kata Qie Yin.


"Sabarlah, aku yakin dia akan segera datang!" kata Lio Long.


Qie Yin hanya terdiam, namun diam bukan tidak berpikir, "Aku harus menemukan She Long, dia harus menjawab akan semua pertanyaan ku, jika tidak maka aku akan melenyapkannya dari dunia ini!" batin Qie Yin.


"Terima kasih Senior, aku akan pergi untuk mencari udara segar!" kata Qie Yin.


"Pergilah..!" kata Yinfei.


Qie Yin segera bangkit dan kemudian dia pergi sendiri keluar. Qie Yin berpikir keras bagaimana caranya dia bisa menemukan She Long.


Qie Yin bisa saja pergi dari rumah Li Xiang jika dia mau, namun karena Yue Hua, dia tidak ingin pergi kemanapun.


Namun saat ini hatinya mulai memberontak dan ingin pergi untuk mencari keberadaan She Long.


"Kata Senior Lio Long, kamu dulu selalu berusaha ingin menangkap ku, kau selalu mengejar dan memburuku, sekarang sudah tiba giliran ku untuk memburumu!" gumam Qie Yin kemudian dia membuat Lorong waktu nya dan pergi tanpa sepengetahuan siapapun.


***


"Jin Hang, kenapa kamu tidak berusaha untuk mengikuti Ming Zai?"


"Permaisuri, Jika aku mengikuti nya dan dia menyadarinya, maka dia akan menganggap jika aku akan menangkap nya, lagi pula saat ini dia baik-baik saja di tempat persembunyiannya," kata Jin Hang.


"Kau tahu dimana dia berada! Tapi kamu tahu tidak memberitahuku."


"Jika aku memberitahumu, aku yakin kamu akan menyuruh kelompok Singa Api untuk menjemput nya," jawab Jin Hang.


"Hanya di kelompok Singa Api dia bisa aman, jika diluar sana bahaya akan terus mendatanginya dan dia akan pernah merasa aman!" kata Pei Ling.


"Mungkin menurutmu jika dia tinggal di kelompok Singa Api akan aman, namun sekarang Ratu Mu Liyi dari Kerajaan Angin Selatan sudah meminta bantuan kepada Yang Mulia untuk mencari Zu Chin!" kata Jin Hang.


Zu Chin sudah menjadi buronan Kerajaan Angin Selatan akinya pengianat nya terhadap Raja Shao.

__ADS_1


Setelah Kerajaan berhasil di rebut kembali, Mu Liyi meminta Raja Ming untuk mencari dan menangkap Zu Chin.


Zu Chin sendiri kembali ke Kelompok Singa Api, namun dia juga tidak berani keluar dan terus bersembunyi agar pihak Kerajaan Api Timur tidak menemukan kemudian menangkapnya dan Mu Liyi meminta untuk menyerahkannya kepada Kerajaan Angin Selatan dan Zu Chin akan diberi hukuman berat atas perbuatannya.


Raja Ming tidak menolaknya, bagaimanapun juga Mu Liyi pernah sempat menjalin hubungan dengan Kerajaan Api Timur, walau sekarang sudah tidak lagi menjadi tunangan Ming Zai, namun Raja Ming tetap menganggap Mu Liyi sebagai bagian anggota keluarga.


"Zu Chin, dia tidak hanya gagal, sekarang dia justru membuat masalah! Dia sama sekali tidak cocok menjadi pemimpin Singa Api!" gumam Pei Ling.


"Aku ingin tahu, sampai kapan kita bisa menyembunyikan kebenaran ini dari semua orang! Perlu kamu tahu, hingga saat ini aku masih sangat mencintaimu Jin Hang!" kata Pei Ling.


"Jika dulu sebelum kamu menikah dengan Raja Ming, mungkin aku sangat senang mendengarnya, namun sekarang sudah tidak mungkin, karena saat ini aku hanya ingin menyayangi Ming Zai saja!" kata Jin Hang kemudian dia berniat pergi.


"Jika memang Raja Ming yang menjadi alasanmu atas hilangnya perasaan mu, apakah kamu mau menerimaku jika Raja Ming sudah bukan lagi suami ku?"


Jin Hang mengurungkan niatnya untuk pergi karena terkejut saat mendengar pertanyaan Pei Ling.


"Apa yang kamu katakan? Jangan bicara sembarangan!" kata Jin Hang.


"Aku tidak berkata sembarangan! Aku ingin kau menjadi raja di istana ini dan duduk bersamaku di singgasana," kata Pei Ling.


"Jangan bicara omong kosong lagi, sebaiknya kita pergi sebelum ada yang melihat kita berdua di sini!" kata Jin Hang.


"Kamu masih seperti dulu Jin Hang, tapi kamu tenang saja, ambisi ku akan segera terwujud, Ming Shan akan mati, dan kau akan segera menjadi penggantinya!"


Jin Hang menatap Pei Ling dengan tatapan tajam dan kemudian berkata, "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Walau kamu berhasil, aku tidak akan sudi untuk menggantikan Yang Mulia apalagi harus duduk bersanding dengan wanita seperti mu!" kata Jin Hang sambil menunjuk ke wajah Pei Ling.


Pei Ling tersenyum dan menurunkan jari telunjuk Jin Hang, "Aku sudah bukan lagi Pei Ling yang dulu, namun kamu tetap Jin Hang yang dulu, selalu setia akan kepercayaannya, namun kenapa kamu tidak setia lagi pada cinta kita?"


"Kamu bicara akan kesetiaan yang mana? Kamulah yang telah menghianatiku, aku tahu jika pernikahan mu bukan karena perjodohan semata, melainkan ambisi mu demi sebuah tahta, jadi jangan bicara akan kesetiaan padaku!" kata Jin Hang.


"Terserah apa yang kamu pikirkan akan diriku, namun aku melakukan semua ini demi anak kita di masa depan dan nantinya adalah giliran mu!" kata Pie Ling kemudian dia melangkahkan pergi.


Jin Hang hanya bisa menahan amarahnya, dia sama sekali sudah menutup hatinya terhadap Pei Ling, awalnya dia mengira jika Pei Ling menikah karena di jodohkan, sehingga dia selalu diam-diam bertemu walau Pei Ling sudah menjadi seorang Ratu.


Setelah bertahun-tahun berlalu barulah Jin Hang tahu akan kebenarannya. Pei Ling menikah dengan Ming Shan bukan karena dijodohkan, melainkan karena Pei Ling sendiri yang terus menggoda Ming Shan sehingga Ming Shan melamarnya dan Pei Ling tidak menolaknya, padahal saat itu dia sedang mengandung bayi berumur kurang dari dua Minggu, dan bayi tersebut adalah anak dari hubungan gelap Pie Ling dan Jin Hang.


Andai saja tidak ada Ming Zai, mungkin dia sudah lama pergi meninggalkan Kerajaan Api Timur, namun sekarang dia tidak akan kemana-mana demi anaknya sekaligus bersumpah akan setia dan melindungi Raja Ming yang sudah memberikan nama Marga nya kepada anaknya.


Saat ini baik itu Jin Hang atau Pie Ling tidak tahu jika Ming Zai sedang dalam bahaya karena She Chin sedang mencarinya dan akan menangkap nya untuk di serahkan kepada She Long.


***


"Tempat ini sungguh sangat buruk!" gerutu Ming Zai sambil memperhatikan ke sekelilingnya yang terlihat kacau berantakan.


Saat ini Ming Zai bersembunyi di tempat yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun, dia bersembunyi dan menyamar sebagai rakyat biasa. Saat ini dia mendapatkan kerjaan sebagai perawat kuda milik pedagang tua di salah satu Desa yang letaknya sangat jauh dari pusat kota.


Kandang kuda tempat dirinya bekerja sangat berantakan, banyak kotoran kuda dimana-mana dan Ming Zai di tugaskan untuk membersihkan semua kotoran tersebut.


Ming Zai terpaksa melakukan itu agar tidak ada yang mengenalinya, dia yakin jika seluruh rakyat Kerajaan Api Timur sudah mengetahui jika dirinya sudah menjadi buronan, karena itu dia terpaksa menyamar.


"Sao Chu Ji, cepat kesini bantu aku..!"


Pedangang tua yang menerima Ming Zai bekerja berteriak memanggil Ming Zai, dia memperkenalkan dirinya kepada pedagang tersebut dengan nama Sao Chu Ji.


"Orang tua ini mau apa lagi..! Aku bakar tubuhmu nanti baru tahu rasa kamu!" gerutu Ming Zai.


"Sao Chu Ji..! Ah dimana dia?"


"Iya tuan...!" jawab Ming Zai dan kemudian dia datang di hadapan pedagang tua tersebut.


"Apa telingamu tidak dengar aku memanggilmu dari tadi?" bentak pedagang tersebut kepada Ming Zai.


Ming Zai menggenggam tangannya erat-erat, ingin rasanya dia melenyapkan pedagang tua tersebut, namun dia terpaksa menahannya demi penyamarannya.


"Ma-maafkan aku tuan, tadi aku sedang mengisi makanan kuda!" jawab Ming Zai.

__ADS_1


"Sudahlah, lain kali jika aku memanggilmu, cepat datang! Sekarang tolong angkat dua karung ini kedalam!" kata Pedagang tua tersebut.


"Baik!" jawab Ming Zai kemudian dia mengangkat karung tersebut yang ternyata isinya adalah beras yang baru dia beli dari pedagang yang datang dari Kerajaan Angin Selatan.


"Adu-adu pinggang ku sakit sekali! Gara-gara bencana ini, aku hampir rugi besar, dan pekerja ku semuanya kabur dan tidak kembali lagi!" kata pedangang tua tersebut sambil memegang pinggang nya.


"Hai Jangan membantingnya, taruh yang benar agar karungnya tidak robek!" bentak lagi Pedagang tersebut.


Ming Zai hanya bisa menghela nafas dan menuruti perintah pedagang tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Eh ada orang datang! Baiklah aku akan menawarkan kudaku padanya!" kata Pedagang tersebut saat melihat ada satu orang yang datang dengan berjalan kaki.


Ming Zai mendengar hal itu segera mengikuti pedangang tersebut kemudian dia juga melihat orang tersebut.


"Desa ini sangat kecil! Dia tidak mungkin berada di desa sekecil ini?"


Gumaman orang tersebut sedikit di dengar oleh sang pedagang yang saat ini sudah hampir sampai di tempat orang tersebut.


"Apakah anda sedang mencari kuda tuan? Saya memilki banyak kuda yang sehat-sehat, semuanya memiliki stamina yang sangat besar jadi tuan tidak akan kecewa jika ingin membeli kuda dari saya!" kata Pedagang tersebut dengan tersenyum lebar kepada orang baru tersebut.


"Apa kamu penduduk asli di desa kecil ini pak tua?" orang tersebut justru bertanya.


"Benar sekali tuan, saya adalah salah satu penduduk desa ini! Namun saat ini semua penduduk masih belum kembali setelah mereka pergi saat ada bencana beberapa Minggu lalu!" jawab pedagang tersebut.


Ming Zai memperhatikan orang tersebut dari samping kandang kuda, dia melihat orang tersebut pengembara, namun pakaian yang ia kenakan sangat bagus seperti seorang saudagar atau seorang bangsawan.


Ming Zai tidak langsung mendekat karena takut jika orang itu adalah salah satu utusan kerajaan yang mencari dirinya, namun setelah dilihat dengan seksama, Ming Zai tetap tidak mengenalinya.


"Siapa pemuda itu?" tanya orang tersebut saat melihat Ming Zai.


"Dia hanya pekerja saya tuan!"


Orang tersebut memperhatikan Ming Zai yang masih berdiri di samping kandang kuda, tatapannya begitu tajam sehingga membuat Ming Zai curiga jika orang tersebut bukanlah orang sembarangan.


"Hahahaha...! Kau mungkin bisa menipu orang tua ini, namun tidak untuk ku... Pangeran Ming Zai!" kata orang tersebut sehingga membuat Ming Zai terkejut.


"Aiya, apa maksudmu tuan? Dia itu...!"


Pedagang tua tersebut belum sempat menyelesaikan kalimatnya sebelum akhirnya tenggorokannya tiba-tiba saja mengeluarkan darah, dan pedagang tua tersebut tidak bisa bersuara bahkan berteriak, dia jatuh kejang-kejang dengan memegang lehernya yang sudah tergorok oleh sesuatu yang tidak terlihat sebelum akhirnya mati.


Ming Zai melihat pedagang tersebut yang tiba-tiba saja mati tanpa ia ketahui akan apa penyebab luka dilehernya itu mundur sedikit demi sedikit dan kemudian bergegas lari.


"Mau lari kemana kamu pangeran Ming, aku sudah lama mencari mu!" kata orang tersebut.


"Si-siapa kamu, dan mengapa kamu bisa mengetahui ku?" tanya Ming Zai dengan bersiaga karena orang tersebut tiba-tiba sudah berada dihadapannya.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu, sekarang kamu akan aku bawa ke sekte ku karena di sana ada yang menginginkan mu!" kata orang tersebut.


"Jauhi dia..!"


"Sihir Lava - Pisau Bara Lava."


Orang tersebut yang ingin memegang Ming Zai segera mundur setelah melihat pisau yang merah menyala bagai bara menuju kerahnya.


Orang tersebut menoleh dan melihat ada seorang Pria bertopeng yang turun dari langit.


"Dia lagi..!" batin Ming Zai.


"Hem..! Tenyata hanya se-ekor serangga yang berani menghentikan ku!" kata Orang tersebut dengan tersenyum sinis.


"She Chin, kenapa kamu ingin membawa Pangeran Ming?" tanya pria bertopeng tersebut yang ternyata mengetahui jati diri orang yang ingin membawa Ming Zai.


"Bukan urusanmu, namun jika kamu berani ikut campur dan menghalangiku, aku pastikan kau akan bernasib sama seperti orang tua ini!" kata She Chin sambil menunjuk kearah Pedagang Tua yang sudah mati.


"Aku tahu aku bukan tandingan mu, namun aku juga tidak akan membiarkan mu membawa Pengeran Ming!" kata pria bertopeng tersebut.

__ADS_1


She Chin hanya menggelengkan kepala nya dan kemudian dia melempar kan sesuatu kearah pria bertopeng tersebut dan pria bertopeng dengan sigap menghindarinya.


__ADS_2