PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pertarungan 2


__ADS_3

"Pedang Membelah Angin."


Chinmi menyerang dalam satu kali ayunan pedangnya, pria kekar tersebut yang melihat tebasan Chinmi dan berniat menahannya dengan gadahnya, namun naas, tenyata energi Angin tersebut sangat kuat dan membuat semuanya menahan nafas melihat kejadian itu.


"Kau tidak akan bisa melukaiku dengan jurus seperti itu!" ucap pria kekar tersebut kemudian menahan energi Angin tersebut dengan gadahnya.


Energi Angin yang Chinmi lepaskan ternyata sangat tajam, bahkan mampu membelah Gadah Hitam tersebut menjadi dua.


Pria tersebut kaget dan mundur beberapa langkah setelah melihat gadah yang iya banggakan selama ini terbelah menjadi dua.


"Tidak...!! Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi, Gadah ku!"


Pria kekar tersebut merangkul Gadahnya yang sudah terbelah. Gadah yang dimilikinya adalah salah satu Pusaka Bumi, tidak mudah untuk menghancurkan atau membelah sebuah Pusaka Bumi kecuali jika terkena sebuah jurus yang memiliki energi besar.


Chinmi tidak menunggu lebih lama, dia kembali melesat dan memberikan serangan susulan.


"Pedang Mata Angin."


Chinmi berniat memberikan serangan tusukan beruntun kepada pria tersebut, pria tersebut yang masih belum bisa menerima kenyataan jika senjata pusakanya telah rusak juga tidak bisa menghindar.


"Hentikan Chinmi, jangan bunuh dia!" seru Xuao Lan yang tidak sempat bergerak cepat untuk menghentikan Chinmi.


Trankk!!!


!!?"


Pedang Chinmi terlepas dari genggamannya dan terlempar jauh dan jatuh di depan para penduduk desa yang sedang melihat pertarungan mereka dari jauh.


Semuanya terkejut melihat itu termasuk Chinmi yang saat ini tangannya sedang dipegang oleh seorang pria paruh baya yang memegang sebuah Gadah Putih besar dengan duri-duri yang lebih panjang di ujungnya.


"Kwe Xhang, ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa kalah sama bocah kecil seperti ini?" kata Pria paruh baya tersebut.


Xuao Lan dan Yue Rong segera bergerak cepat untuk membantu Chinmi, bukan tanpa alasan, mereka merasakan jika Pria paruh baya yang memegang lengan Chinmi adalah seorang Pendekar berkekuatan Pendekar Puncak Tingkat 3, kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan Xuao Lan.


Lian Cao, Yue Yin dan Xian Fai yang kelelahan setelah bertarung kini hanya bisa menatap mereka semua tanpa bisa berbuat apa-apa. Walau mereka berhasil menang dan tidak mendapatkan luka sedikitpun, namun mereka kehabisan energi saat melawan musuh sebanyak itu.


Chinmi menatap pria paruh baya tersebut yang masih menggenggam lengannya, Chinmi segera teringat jurus yang ia pelajari dari Li Fang.

__ADS_1


Chinmi mengepalkan tangan kirinya kemudian berseru keras.


"Sihir Bumi, Pukulan Penghancur Bumi."


"Sihir Bumi!" pria paruh baya tersebut terkejut setelah Chinmi dengan cepat mengarahkan pukulannya keperutnya.


Dengan cepat pria paruh baya tersebut melepaskan lengan Chinmi dan melompat mundur lebih jauh karena khawatir terkena pukulan Sihir Bumi.


Xuao Lan dan Yue Rong yang hampir sampai terkejut karena Chinmi ternyata bisa menggunakan Sihir Elemen, namun bukan Elemen Angin seperti yang ia gunakan sebelumnya, melainkan Elemen Bumi.


Chinmi memberikan pukulan yang tidak ada efek apapun, dia hanya mengertak saja agar pria paruh baya tersebut melepaskan genggamannya.


"Kau!!" pria paruh baya tersebut melotot setelah mengetahui jika dirinya ditipu.


"Chinmi, kau mengagetkan kami saja!" kata Xuao Lan setelah tiba disamping Chinmi dan hanya ditanggapi tawa kecil oleh Chinmi.


"Chinmi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Yue Rong yang terlihat khawatir.


"Bibi, aku baik-baik saja," kata Chinmi dengan tenang.


"Kami hanya pendekar biasa yang kebetulan lewat di desa ini, kami hanya sekedar membantu dan tidak lebih dari itu," jawab Xuao Lan.


"Emm! Aku tidak peduli apakah kalian Pendekar Biasa atau tidak biasa, karena kalian telah berani menyerang anggotaku maka kalian semua harus menerima akibatnya," kata pria tersebut dan mulai mengangkat gadah putihnya.


"Chinmi mundurlah, biar aku yang menghadapinya!" kata Xuao Lan dan mulai menarik pedang ditanganya dan hanya satu pedang di punggungnya yang masih belum ia cabut.


"Apa senior yakin? Aku lihat orang itu lebih kuat dari senior!" kata Chinmi.


"Aku tahu, namun orang itu juga bukan orang yang pantas untuk kamu lawan," jawab Xuao Lan.


"Kalian tidak perlu memilih siapa yang akan menjadi lawanku, maju saja kalian semua agar aku bisa memberi pelajaran kapada kalian semuanya sekaligus."


Chinmi menatap gadah pria tersebut kemudian berkata, "Kenapa gadahmu putih, bukankah seharusnya gadahmu hitam? Atau mungkin kamu hanya mengaku-ngaku sebagai anggotanya?" kata Chinmi yang teringat jika nama kelompok mereka adalah kelompok Gadah Hitam.


"Chinmi, untuk apa kamu bertanya hal yang tidak perlu?" tanya Yue Rong dengan sedikit kesal karena menurutnya Chinmi tidak perlu bertanya hal yang tidak penting.


"Aku hanya ingin tahu saja," jawab Chinmi dengan singkat.

__ADS_1


"Kwe Xhang, sampai kapan kamu mau duduk bermalas-malasan seperti itu, cepat bangun atau gadahku ini akan menghancurkan kepalamu!" bentak pria paruh baya tersebut dengan suara keras.


Pria kekar yang bernama Kwe Xhang itu langsung bangkit dan menghindar beberapa meter agar tidak mengganggu pertarungan Pria paruh baya itu dengan Xuao Lan.


Pria paruh baya tersebut segera maju menyerang Xuao Lan setelah Kwe Xhang menjauh, dengan gadah besarnya dia lansung memberikan serangan kuat.


"Gadah Perak Penghancur Bumi."


Dengan serangan yang sangat kuat, Pria paruh baya tersebut menghantam tubuh Xuao Lan, namun Xuao Lan tidak tinggal diam begitu saja.


Dengan sebilah pedang ditanganya dia segera menahan pukulan gadah tersebut. Serangan Gadah tersebut begitu kuat sehingga membuat Xuao Lan sedikit mundur saat menahan pukulan tersebut dengan gadahnya.


"Benar-benar serangan yang kuat!" gumam Xuao Lan kemudian mulai bersiap untuk memberikan serangan balasan.


"Terlalu lambat!" seru pria paruh baya tersebut yang secara tiba-tiba sudah bergerak dan berada dihadapan Xuao Lan dengan posisi gadah terangkat tinggi keatas dan bisa terlihat jika Pria paruh baya itu akan memukul kepala Xuao Lan.


Xuao Lan membalik pedangnya kemudian menebas perut pria tersebut dengan sangat cepat, namun pria tersebut berhasil menghindar membuat dia membatalkan serangannya.


"Lumayan juga kecepatanmu mengingat kamu berada di Pendekar Puncak Tingkat 2, namun bagaimana dengan seranganku yang satu ini, apakah kamu akan mampu untuk menghindarinya?" kata Pria paruh baya tersebut kemudian memutar-mutar gadahnya dengan sangat cepat.


"Gadah Perak, Gelombang Penghancur."


Tiba-tiba keluar sebuah gelombang energi yang sangat besar dari putaran gadah tersebut kemudian bergerak dengan sangat cepat kearah Xuao Lan.


Tanah-tanah yang dilewati Gelombang energi besar tersebut langsung retak bahkan batu-batu kecil langsung hancur begitu gelombang tersebut melewatinya.


Xuao Lan juga melepaskan kekuatannya dengan melepaskan gelombang energi yang sama besar dengan lawannya.


"Pedang Angin, Menghalau Awan."


Gelombang energi besar yang seperti menyerupai angin juga melesat dengan sangat cepat dan bersiap untuk membentur energi lawan.


Jdarrr!!!


Kedua gelombang yang beradu saling dorong beberapa saat dan kemudian meledak dengan cukup kuat membuat seluruh desa sedikit bergetar dan debu beterbangan menutupi pandangan semua orang.


Pertarungan keduanya terhenti sesaat, dan begitu debu yang beterbangan sudah mulai menipis mereka berdua kembali melanjutkan pertarungannya.

__ADS_1


__ADS_2