
***
Sekte Pulau Es saat ini juga sangat berbeda dari biasanya, dari pintu gerbang yang terbuat dari es dan setiap bangunannya di hiasi banyak bendera berwarna biru bergambarkan Naga.
Gambar tersebut sebagai simbol sebagai Dewi Naga Es yaitu gelar Zhihui. Saat pertempuran di Kerajaan Bumi Barat, Zhihui sudah melihat Bing Mei yang tenyata sudah menjadi seorang Pertapa.
Dan saat ini mereka semua sedang menunggu kedatangan Bing Mei yang akan datang, dan semua anggota murid sekte sudah berkumpul di depan pintu gerbang termasuk para pendekar yang menjadi pilar Sekte Pulau Es termasuk Zhihui dan dua pendekar sihir lainnya.
Mereka semua dapat melihat dua orang yang datang terbang kearah mereka, mereka adalah Bing Mei dan Xie Wen.
"Senior Xie!" sapa Zhihui setalah Xie Wen dan Bing Mei sampai di depan gerbang es dan di sambut langsung oleh Zhihui.
"Selamat datang kembali Bing'er, aku senang kau sudah berhasil menjadi seorang Pertapa di usia yang masih sangat muda," kata Zhihui.
Zhihui hanya membalas perkataan Zhihui dengan senyuman kecil, terlihat jelas di wajah Bing Mei jika dia sedang memikirkan sesuatu.
"Bing'er, ada apa? Kenapa..!" Zhihui ingin menanyakan akan apa yang sedang terjadi, namun Xie Wen segera memotongnya.
"Zhihui, sebaiknya kita bawa Bing'er masuk kedalam, dia saat ini sangat lelah setelah melakukan pertempuran!" kata Xie Wen.
"Owh maaf aku jadi lupa, ayo masuk dan istirahatlah di kamar mu!" kata Zhihui.
Mereka bertiga segera masuk kedalam dan diikuti oleh para murid yang lain, semuanya ingin menyapa dan menyambut Bing Mei, namun mereka sadar jika Bing Mei saat ini seperti butuh istirahat.
Bing Mei tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera pergi ke kamarnya yang sudah di bersihkan oleh para murid-murid lain, sedangkan Xie Wen dan Zhihui memilih berbincang di aula utama.
"Senior Xie Wen, saya tidak tahu harus membalas kebaikan senior dengan cara bagaimana, tanpa senior Xie, mana mungkin Bing'er akan menjadi seorang Pertapa!" kata Zhihui.
"Sebenarnya ini karena bakatnya, jika tidak walau kami berempat memaksanya, tidak akan mungkin dia bisa menjadi seorang Pertapa secepat ini," jawab Xie Wen.
"Senior, mungkin ini terlihat biasa bagi senior, namun bagi saya ini sungguh sangat luar biasa, dan kekuatan yang Bing'er miliki saat ini akan membuat masa depan Sekte lebih kuat!" Zhihui sudah tidak bisa menutupi lagi rasa bahagianya.
"Apa yang ingin kamu rencanakan pada Bing'er?" tanya Xie Wen setalah melihat rasa senang di wajah Zhihui.
"Senior memang cepat tanggap! Senior, semua ketua sekte menginginkan sekte mereka lebih kuat. Sekarang Bing'er sudah menjadi seorang Pertapa, dan dalam tiga hari dari sekarang aku akan mengumumkan pengunduran diriku dan akan mengangkat Bing'er sebagai ketua sekte yang baru!" kata Zhihui.
"Zhihui, Bing'er masih terlalu muda untuk menjadi seorang ketua sekte, apalagi sekte sebesar ini. Dia masih butuh pengalaman yang banyak untuk menjadi seorang Pemimpin," kata Xie Wen.
Zhihui terdiam sejenak, dia baru sadar jika Bing Mei masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin, dan sekaligus Bing Mei masih belum memiliki pengalaman.
"Senior benar, namun saya sudah semakin tua, jadi saya sudah memutuskannya, dan nanti saya akan membimbing Bing"Er dari belakang," kata Zhihui.
Xie Wen hanya mengangguk-angguk kepalanya, setelah memikirkan perkataan Zhihui, "Baiklah sebagai meneknya semua keputusan ada padamu," kata Xie Wen yang menyetujui atas keputusan Zhihui.
Zhihui tersenyum lebar saat Xie Wen ternyata sependapat dengannya, namun berikutnya dia terlihat seperti mengingat sesuatu.
"Senior, bagaiamana dengan para pendekar dari Benua Daratan Selatan itu, menurut informasi, mereka semuanya berjumlah 23 Pendekar, dan yang telah gugur sudah 20 orang, itu berarti masih tersisa tiga lagi yang masih hidup? Itu akan sangat membahayakan Benua Daratan Tengah ini," kata Zhihui.
"Aku tidak tahu soal itu! Urusan ini seharusnya menjadi urusan para Raja kalian!" kata Xie Wen.
"Tidak senior, ini juga menjadi urusan kita juga, bagaimanapun ini tempat kita, dan mereka berasal dia luar Benua ini, jadi sudah seharusnya bagi kita untuk mempertahankan tanah kita dari orang asing yang ingin menjajah tanah kita ini!" kata Zhihui.
Xie Wen hanya terdiam, perkataan Zhihui hampir sama dengan perkataan Chinmi yang sudah menyadarkannya ketika dia menolak untuk ikut membantu perang.
"Kamu benar nanti aku akan membicarakan ini kepada para Pertapa lainnya, dan untuk saat ini kita sebaiknya menemui Bing'er dahulu!"
Zhihui mengangguk dan mereka berdua pergi ke kamar Bing Mei untuk melihat kondisinya, sedangkan Bing Mei tidak istirahat melainkan duduk melamun seorang diri.
"Bing'er, aku pikir kamu sedang istirahat, apa yang sedang kamu lamunin Cucu ku?" tanya Zhihui.
Bing Mei segera tersadar dari lamunannya dan menatap kearah Zhihui dan Xie Wen yang berada di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa nenek, aku hanya teringat saat pertempuran itu!" jawab Bing Mei.
Sebenarnya itu hanya alasan Bing Mei saja, dia tidak mungkin berkata jika sebenarnya dirinya sedang memikirkan Chinmi.
Dia merasa cemburu kepada Qie Yin ketika Chinmi menyelamatkannya dari She Long. Saat itu Qie Yin melihat sendiri jika Chinmi membantu Qie Yin untuk lolos.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat Qie Yin tidak bisa melupakan semuanya, saat ini baru ia sadari jika dirinya juga memiliki perasaan kepada Chinmi, dan dia baru sadar jika sejak dahulu dia sudah membohongi perasaannya sendiri.
"Itu wajar saja, ini adalah pertempuran terbesar pertama bagimu, jadi kamu harus membiasakan diri!" kata Xie Wen.
"Baik guru, saya akan usahakan membiasakan diri."
"Bing'er sebenarnya kami kesini hanya untuk melihat kondisimu saja, karena kamu baik-baik saja, aku akan kembali Ke Pulau Bukit Harapan," kata Xie Wen.
"Guru, kenapa buru-buru, sebaiknya menginap lah dulu disini semalam,' pinta Bing Mei.
"Tidak Bing'er, lain kali saja jika aku kesini aku akan menginap, jadi aku permisi kembali, jangan lupa untuk terus berlatih agar kekuatanmu semakin besar," kata Xie Wen berpesan.
"Aku akan mengingat nya guru," Bing Mei memberi hormat.
Bing Mei dan Zhihui keluar mengantarkan Xie Wen. Setelah berada di depan gerbang, Es, Xie Wen segera terbang kerah Pulau Bukit Harapan.
Bing Mei dan Zhihui berdiri di sana untuk beberapa saat dan kemudian kembali masuk kedalam.
Sebenarnya Zhihui ingin menyampaikan keinginannya kepada Bing Mei akan niatnya untuk mengundurkan diri, namun dia membatalkan dan berniat akan menyampaikannya esok hari saja.
***
Chinmi saat ini sedikit demi sedikit mulai kembali pulih. Walau tidak sepenuhnya pulih, namun dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya dan tetap saja terlihat kaku.
Selama seminggu dia lumpuh, bukan hanya efek dari Long Wang saja, namun ini juga akibat dirinya memaksakan diri untuk yang kedua kalinya melepaskan kekuatan puncak dari Raja Alam.
Karena itu kondisi Chinmi terlihat buruk, dia harus kembali berlatih berjalan bagai anak kecil, andai saja saat itu Qie Yin tidak memberikan energinya, mungkin Chinmi akan lumpuh selamanya.
Selama seminggu juga Qie Yin lah yang merawat nya, membantu Chinmi dan semua keperluan Qie Yin yang melakukannya.
"Nona Yin, terima kasih banyak atas semuanya bantuan mu, aku tidak akan melupakan semua yang kamu lakukan padaku, dan aku minta maaf atas sikapku terdahulu," kata Chinmi.
"Aku melakukan semua ini untuk membalas kebaikanmu yang rela mempertaruhkan diri demi menolongku!" jawab Qie Yin.
"Apa maksudmu, aku..!"
"Sudahlah, lagi pula roh pedang itu sudah menjelaskannya padaku!" kata Qie Yin memotong perkataan Chinmi.
Namun Chinmi tidak tahu jika sebenarnya Long Wang mampu berbicara kepada siapapun yang ia kehendaki.
Melihat kondisi Chinmi yang saat itu sangat kristis, Long Wang terpaksa berbicara kepada Qie Yin melalui pikirannya.
Qie Yin awalnya terkejut dan tidak percaya jika Pedang Naga Langit bisa berbicara, namun setelah Long Wang menjelaskan semuanya dia baru paham.
Long Wang membimbing Qie Yin akan bagaimana caranya agar bisa menolong Chinmi setelah menyerap energi dari Qie Yin.
"Chinmi pelan-pelan!" Qie Yin memegang Chinmi yang hampir terjatuh saat berjalan.
"Terima kasih aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit tergelincir," kata Chinmi dan kemudian bergumam kembali dalam hatinya, "Sungguh menyedihkan, aku menjadi lemah seperti ini hanya karena memaksakan diri menembus batasan dari puncak Raja Alam!"
"Aku akan memanaskan air untuk mu, jadi tunggulah sebentar!" kata Qie Yin.
Chinmi hanya mengangguk dan kemudian dia pergi memanaskan air untuk Chinmi. Setelah Qie Yin sudah mulai sibuk memanaskan air, Chinmi diam-diam bermeditasi.
"Aku harus mencobanya!" batin Chinmi kemudian dia mulai bermeditasi.
Selama ini dia hanya menggunakan cabang Pusat Roh Elemen Kayu nya untuk bisa memulihkan diri, namun sekarang dia akan mencoba menggunakan cabang Pusat Roh Elemen Api nya kerena sebelumnya dia tidak terpikirkan untuk mencobanya.
Chinmi ingin mencoba apakah peredaran darahnya akan kembali setelah dia mengalirkan elemen Api nya. Chinmi mengalirkan qi yang mulai terasa panas.
Butuh waktu beberapa saat bagi Chinmi untuk melakukan semua itu, dan beruntungnya Qie Yin belum selesai akan kesibukannya sehingga dia tidak mengetahui akan apa yang Chinmi lakukan saat ini.
Api adalah yang paling kuat dari semua elemen, sifatnya sangat arogan namun juga bijak dan tidak memandang bulu pada apapun, semua bisa ia bakar, dan karena itu Api dianggap sebagai Pemusnah yang tidak pilih-pilih.
Walau Api terkenal sangat arogan dan tidak pandang bulu, namun dibalik semua itu ada kebaikan di balik semuanya, seperti kehangatan yang ia pancarkan bisa membuat apapun yang kedinginan bisa merasakan kehangatannya.
Api tidak hanya bisa memusnahkan, namun juga bisa memulihkan, hal itu yang ingin Chinmi coba apakah itu akan berhasil atau tidak.
__ADS_1
Cahaya keemasan samar-samar mulai terpancar kembali menyelimuti tubuh Chinmi, rasa hangat yang mengalir di setiap nadi nya tenyata berhasil memperlancar peredaran darahnya.
Energi Chinmi perlahan-lahan mulai kembali, walau belum sepenuhnya, namun energinya akan bisa pulih hanya menunggu hitungan waktu saja.
Di saat yang sama Qie Yin sudah selesai membuatkan air panas dan mempersiapkannya untuk Chinmi, tanpa Qie Yin sadari jika Chinmi kini sudah tidak ada di sana, melainkan dia berada di udara.
"Chinmi, air panas mu sudah siap, jadi sekarang...!" Qie Yin berhenti berbicara karena tidak melihat Chinmi.
"Chinmi...! Kamu berada dimana?" panggil Qie Yin.
Merasa tidak ada jawaban dan tidak melihat Chinmi disekitarnya, dia mencari nya dengan merasakan energinya.
Karena Chinmi sudah mendapatkan kembali kekuatannya, Qie Yin pun juga tidak bisa merasakannya, dia sungguh tidak mengerti dan tidak tahu dimana Chinmi saat ini berada.
"Apa kamu memanggilku Nona Yin?"
Qie Yin menoleh keatas di mana suara Chinmi berasal, dia terkejut setelah melihat Chinmi yang sudah bisa kembali melayang.
"Chinmi, apa yang terjadi padamu?" tanya Qie Yin sambil menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Chinmi secara perlahan-lahan mulai turun dan turun tepat dihadapan Qie Yin, "Nona Yin, aku sudah berhasil memulihkan kondisiku, dan sekarang aku sudah pulih sepenuh nya," kata Chinmi.
Qie Yin merasa tidak percaya akan apa yang ia dengar, namun melihat kondisi Chinmi yang sudah pulih sepenuhnya, dia merasa senang melihat nya karena Chinmi benar-benar sudah pulih.
"Nona Yin, selama ini aku sudah merepotkan mu, jadi maafkan diriku yang masih lemah ini, dan terima kasih atas semuanya!" kata Chinmi.
"Chinmi apa yang kamu katakan? Bukankah sebelumnya kamu sudah bilang padaku jika kamu ini adalah temanku, bukankah teman akan selalu membantu temannya yang sedang kesulitan?"
Chinmi tersenyum lembut mendengar perkataan itu, dia tidak tahu dari mana Qie Yin mempelajari akan hubungan ikatan pertemanan.
Selama ini sudah jelas jika Qie Yin sama sekali tidak mengerti akan arti sebuah pertemanan, yang ia ketahui hanyalah kebinasaan dan pembunuhan, bahkan terkahir kali dia masih memiliki sifat membunuh dan yang ingin ia bunuh adalah She Chin.
Namun sebenarnya Qie Yin mendapatkan semua itu dari Chinmi, dimana saat Qie Yin merasa tidak pantas untuk memiliki teman, namun Chinmi hadir dan bersedia untuk menjadi temannya.
Dari awal Qie Yin memang berharap untuk menjadi teman Chinmi, dan bahkan dia juga memiliki perasaan padanya, namun dia malu dan tidak berani untuk mengutarakannya secara langsung, karena dari segi manapun dia adalah seorang wanita.
Tidak benar jika seorang wanita mengatakan perasaannya terlebih dahulu kepada seorang pria, karena itu Qie Yin tidak mengutarakannya dan memilih untuk memendam perasaan nya.
"Aku senang memiliki teman seperti mu Nona Yin, mulia saat ini aku berjanji akan selalu membantu dan melindungimu, ini sebagai Balas Budi ku atas semua pertolongan mu!" kata Chinmi.
"Aku juga akan selalu membantu dan melindungimu," kata Qie Yin kemudian dia melanjutkan di dalam hatinya, "Jika bisa aku ingin selalu bersama selamanya," batin Qie Yin.
"Hah..! Kamu bicara apa?" tanya Chinmi yang merasa Qie Yin mengucapakan sesuatu.
Qie Yin terkejut padahal dia hanya bicara dalam hatinya, jadi menurutnya tidak mungkin jika Chinmi mendengarnya.
"Apa mungkin dia itu memiliki kekuatan untuk membaca pikiran seperti guru Yinfei?" batin Qie Yin.
"Nona Yin, aku sama sekali tidak bisa mendengar ucapan mu yang kecil itu!" kata Chinmi.
Dia merasa Qie berkata sesuatu namun terdengar kecil dan samar-samar, sedangkan Qie Yin semakin curiga jika Chinmi mungkin juga bisa mendengar apa yang orang lain pikirkan.
"Sudah seminggu berlalu sejak kita meninggalkan pertempuran itu, apakah Senior Ho Chen dan yang lainnya berhasil mengalahkan Mahluk itu ya? Hingga saat ini Senior Ho Chen dan yang lainnya tidak juga datang!" kata Chinmi.
"Mungkin mereka tidak mengetahui tempat ini!" jawab Qie Yin.
"Apakah itu mungkin!" ucap Chinmi sekaligus memperhatikan tempat di sekitarnya yang sangat sepi.
Chinmi merasa tidak yakin, mustahil rasanya jika baginya jika Ho Chen dan yang lainnya tidak bisa menemukan tempat mereka berdua, namun itu juga bisa terjadi.
"Senior Long Wang, aku harus bertanya padanya!" kata Chinmi kemudian dia mengambil pedang Naga Langit.
"Senior Long Wang, katakan padaku sekarang kita berada dimana?" tanya Chinmi namun tidak ada jawaban dari Long Wang.
"Roh Pedang mu saat ini tidak bisa di ganggu karena dia bilang saat itu akan tidur panjang setelah memberikan kekuatannya untuk membantumu!"
Qie Yin tiba-tiba berbicara dari belakang Chinmi, "Benarkah, jika demikian kita tidak akan pernah tahu berada dimana," gumam Chinmi.
__ADS_1
"Lebih baik kita sendiri yang keluar dari tempat ini, mungkin setalah berada di luar wilayah ini kita bisa tahu jika kita sedang berada di wilayah mana!" Qie Yin memberi usul.
"Sepertinya memang begitu," Chinmi menyetujui usul Qie Yin dan mereka berdua sepakat akan keluar dari tempat asing tersebut.