PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Raja Akhirat


__ADS_3

***


Hari sudah pagi saat rombongan para prajurit datang dari Medan perang, kembalinya mereka di sambut dengan semangat oleh para prajurit yang menunggu di istana, namun dari wajah para prajurit yang baru tiba tidak terlihat senang, justru terlihat berkabung.


"Kerajaan Bumi Barat akan tetap selalu jaya! Hidup Para Jendral...!"


"Hidup..!"


Semua prajurit yang menyambut mereka datang memberikan semangat dan pujian kehormatan kepada keempat Jendral yang berada di depan, tidak lama kemudian suasana berubah menjadi hening saat melihat beberapa kereta tahanan di bagian belakang.


Salah satu prajurit mengambil batu dan melemparkan batu tersebut ke arah salah satu kereta yang di dalamnya ada Fu Shen.


"Penghianat! Kau pantas mendapatkan hukuman mati," kata prajurit tersebut kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan melempari Fu Shen dengan batu.


Anehnya Fu Shen justru terdiam tak bersuara, bahkan sesekali Fu Shen senyum-senyum sendiri seolah tidak peduli terhadap batu yang terus menghujani dirinya serta seolah tidak mendengar olokan sekaligus cacian pedas dari para prajurit.


Fu Shen, Huang Sing dan para tahanan lain segera dihadapkan kepada Raja Tao yang sudah lama menunggu.


Para tahanan kini duduk berlutut di atas bangunan kayu dengan tinggi satu meter dan lebar tiga meter persegi.


Tempat tersebut adalah tempat untuk mengeksekusi seseorang yang sudah divonis hukuman mati oleh hakim kerajaan.


Raja Tao keluar dengan dikawal oleh beberapa pasukan, dia menuju ke kursi besar yang sudah di sediakan.


Semua para prajurit dan warga yang datang untuk melihat segera berlutut memberi hormat akan kedatangan Raja mereka.


Raja Tao segera bangkit dan mempersilahkan mereka untuk bangkit kemudian dia mulai berbicara di hadapan semua orang.


"Hari ini kerajaan kita telah melewati masa kehancuran! Hari ini kerajaan kita telah menulis sejarah besar, dimana kerajaan kita telah memenangkan pertempuran melawan sekte-sekte besar aliran hitam, dan hari ini juga dewa telah mengembalikan penghianat ini ke kerajaan kita!" kata Raja Tao kepada Fu Shen.


Fu Shen menoleh ke arah Raja Tao kemudian dia meludah kesamping, "Cuih..! Apa kamu pikir kamu sudah menang? Raja bodoh, ini hanyalah kekacauan kecil saja dari rencana kekacauan besar yang sebenarnya, jadi persiapkan para prajurit dan juga jendral kesayangan mu itu, karena jika kekacauan yang sebenarnya sampai terjadi, bahkan keempat kerajaan sekalipun tidak akan cukup mampu untuk menghentikannya!" kata Fu Shen.


"Apapun yang akan kamu katakan Fu Shen, ini tidak mengubah apapun akan siapa dirimu, apakah nanti akan ada kekacauan besar atau kecil, bagi ku kamu tetap penghianat kerajaan ini dan itu tidak akan mengubah keputusan ku untuk menghukum mati dirimu!" kata Raja Tao yang geram terhadap sikap Fu Shen.


"Yang Mulia, sebaiknya kita bawa Fu Shen ke pengadilan untuk divonis, biar hakim yang memberi keputusan!" kata Li Xiang.


Sebenarnya Raja Tao sendiri sudah bisa memutuskan, dan semua perintahnya wajib dilaksanakan, namun demi peraturan yang sudah ia tetapkan sendiri bahwa semua proses hukum akan di tetapkan di pengadilan.


"Bawa Fu Shen ke pengadilan, dan sisanya masukkan kepenjara untuk menunggu giliran mereka!" perintah Raja Tao.


Huang Sing dan yang pasukan lainnya yang sudah tertangkap dibawa ke penjara, sedangkan Fu Shen di bawa kepengadilan.


Semua warga dan prajurit juga ikut pergi ke pengedilan untuk mengetahui keputusan Hakim, apakah Fu Shen akan di hukum mati dengan cara di pancung, atau digantung. Namun yang jelas, Fu Shen pasti akan di hukum mati.


***


Sudah lebih dari Enam bulan di dunia ciptaan Lio Long, sedang kan Chinmi belum memberikan tanda-tanda apapun sehingga membuat Qie Yin mulai khawatir.


"Guru, apakah guru yakin jika Chinmi pasti baik-baik saja?" tanya Qie Yin.


Semenjak dia berlatih di bawah bimbingan Yinfei, Qie Yin akhirnya memanggilnya guru, tidak seperti Chinmi yang masih memanggil Lio Long dengan sebutan senior.


"Apakah kamu sangat mengakhawatirkan nya?" tanya Yinfei.


"Tidak! Eh.. Tapi..! I-iya!" Qie Yin kebingungan untuk menjawab jujur namun pada akhirnya dia tetap menjawab jujur.


Yinfei tertawa kecil melihat Qie Yin yang seperti salah tingkah dan kesulitan untuk menjawab jujur, walau demikian dia masih menyayangkan atas sikap Chinmi yang masih acuh terhadap Qie Yin.


"Tenanglah dia akan baik-baik saja, kamu sekarang harus fokus sama latihanmu sendiri!" kata Yinfei.


Walau Yinfei sudah berkata demikian, namun Qie Yin tetap merasa tidak tenang sehingga membuat Yinfei hanya menggelengkan kepala.


"Aku akan pergi kesana untuk memastikan keadaannya!" kata Qie Yin kemudian dia berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Yinfei.

__ADS_1


"Sepertinya persaan Qie Yin sudah semakin dalam kepada Chinmi, namun Chinmi sendiri!Ah sudahlah, jika mereka memang berjodoh pasti akan bersatu juga!" batin Yinfei.


Qie Yin segera berlari kearah hutan tempat Chinmi berada, saat ini Qie Yin sudah mencapai tingkat Sihir Elemen alam atau biasa disebut Sihir Tingkat 3.


Kekuatannya kali ini murni dari latihan bersama Yinfei, dan hanya beberapa bulan saja kekuatannya sudah meningkat pesat.


Sesampainya di hutan, Qie Yin segera pergi kearah Lio Long yang terlihat sedang duduk bersila agak jauh dari tempat Chinmi.


"Senior Lio bagaimana, apakah sudah ada perubahan padanya?" tanya Qie Yin sambil menatap tubuh Chinmi yang terbaring di atas batu.


Lio Long menatap Qie Yin dengan heran lalu bertanya padanya, "Perubahan yang bagaimana yang kamu tanyakan?" tanya Lio Long.


"Perubahan ee.. Seperti mulai siuman atau bergerak mungkin!" kata Qie Yin.


"Tidak, aku juga tidak mengerti kenapa bisa selama ini, aku juga khawatir dia akan gagal dalam ujian terkahirnya ini!" kata Lio Long dengan wajah terlihat khawatir.


"Jika sampai gagal apa yang akan terjadi senior?" tanya Qie Yin.


Lio Long menarik nafas sejenak kemudian menjawabnya, "Kemungkinan dia akan lumpuh seumur hidup!" kata Lio Long sambil menekan suaranya.


Nafas Qie Yin sampai tertahan saat mendengarnya, dia tidak bisa membayangkan jika sampai Chinmi gagal dalam ujian terakhirnya tersebut.


Lio Long tersenyum saat mengetahui akan apa yang Qie Yin pikirkan, namun dia pura-pura tidak mengetahui jika dirinya mengetahui akan apa yang Qie Yin pikirkan.


"Senior, bisakah aku pergi melihat nya kesana?" tanya Qie Yin sambil menatap kearah Chinmi.


"Tidak bisa, saat ini di sama sekali tidak bisa diganggu ataupun menyentuh tubuhnya, jika kamu sampai kesana, maka seluruh qi yang aku simpan di dalam perisai itu akan keluar dan itu akan membuat tulang-tulang Chinmi tidak akan bisa terbentuk lagi!" kata Lio Long.


"Benarkah?" Qie Yin merasa tidak percaya akan perkataan Lio Long, namun dia juga tidak bisa membantah.


"Baiklah kalau begitu aku hanya akan melihat dan memantaunya dari jauh saja!" kata Qie Yin yang pada akhirnya hanya bisa mempercayai perkataan Lio Long.


Qie Yin merasa tidak bisa berbuat apa-apa sehingga memilih untuk kembali lagi kepada Yinfei, sedangkan Lio Long menutup kembali matanya.


***


"Kakek buyut, apakah ini akan berhasil?" tanya Chinmi yang saat ini berada di alam Roh bersama Li Wiefu.


"Kamu sudah membuka satu pintu hati mu, jadi ini akan sangat berhasil walau aku akui akan memakan waktu sedikit lama!" kata Li Wiefu.


Chinmi saat ini sudah berhasil membuka salah satu dari keenam pintu di dalam jiwanya, yaitu pintu Hati.


Li Wiefu sengaja memberi petunjuk kepada Chinmi untuk membuka terlebih dahulu salah satu dari keenam pintu agar proses pembentukan tulangnya lebih sempurna dan Chinmi akan memiliki kekuatan tambahan.


Chinmi duduk bersila dan mengkonsentrasikan qi nya untuk mengisi jiwanya agar bisa tersambung dengan raga nya.


Tulang-tulang yang sudah hancur di tubuh Chinmi kini mulai bergerak, awalnya dari ekor tulangnya kemudian sedikit demi sedikit mulai membentuk tulang yang lainnya.


"Kakek, kenapa pinggangku terasa sangat panas?" tanya Chinmi.


Li Wiefu tersenyum lembut kemudian mejelaskan kepada Chinmi akan penyebab panas pinggang yang Chinmi rasakan.


"Itu pertanda tulang-tulang di tubuhmu sudah mulai membentuk! Tulang pertama yang akan lebih dulu terbentuk adalah tulang ekormu, karena itu kamu juga akan merasakan rasa panas di bawah pinggang mu!" kata Li Wiefu.


"Aku mengerti!" kata Li Chinmi kemudian dia kembali berkonsentrasi.


Walau dia hanya sebuah roh, namun dia juga bisa merasakan jika tubuhnya sudah mulai membentuk tulang baru, andai rohnya berada di tubuhnya, Chinmi yakin dia pasti akan merasakan rasa sakit yang mungkin lebih hebat dari rasa sakit ketika proses peleburan tulang nya.


"Chinmi sudahi dulu! Biarkan sedikit dari tulang-tulang yang sudah membentuk tulang baru membiasakan diri, jadi kemarilah." kata Li Wiefu.


Chinmi segera menurut, dia juga tidak mau memaksakan diri, karena takut akan berakibat fatal pada dirinya.


"Chinmi, dari pada kamu menunggu tanpa berbuat apa-apa, aku akan menceritakan sedikit kisahku ini, apakah kamu mau mendengarnya?" tanya Li Wiefu.

__ADS_1


"Aku...!" Chinmi ingin menolak, bukan karena tidak mau, namun dia Li Wiefu sudah menceritakan kisah yang sama berulang-ulang, karena itu dia berencana ingin memperkuat kekuatan roh nya saja.


"Chinmi aku tahu apa yang ingin kamu lakukan, namun aku ingatkan sekali lagi, kamu tidak bisa terus menerus memaksakan diri, jadi istirahatlah dan dengarkan cerita kisahku yang mungkin akan membuat dirimu tidak merasa bosan!"


"Kakek, apa selain dari cerita kisah mu tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, bukankah kakek sudah menceritakan kisah yang sama sampai tujuh kali, apa lagi yang harus aku dengar lagi?" tanya Chinmi.


Li Wiefu tersenyum kecut, dia memang sering menceritakan masa mudanya kepada Chinmi berkali-kali.


"Bagaimana kalau aku ceritakan akan kisah ketika aku bertemu dengan Yinfei dan manusia dewa lainya?" tanya Li Wiefu.


Chinmi menghela nafas panjang, "Hah... Sepertinya memang tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendengarkan kisahnya lagi!" gumam Chinmi.


Li Wiefu akhirnya kembali menceritakan kisah akan bertemunya dirinya dengan keempat manusia dewa lainnya. sedang kan Chinmi dengan berat hati hanya bisa menjadi pendengar setia tanpa bisa berbuat apa-apa.


***


"Sekaranglah saatnya Chinmi!" kata Li Wiefu.


"Baik Kakek, terima kasih atas bantuan kakek selama ini."


"Apa yang kamu katakan, ini sudah menjadi tugasku untuk membantumu!" kata Li Wiefu.


Kali ini tulang Chinmi sudah hampir terbentuk dengan sempurna setelah cukup lama berada di tempat Li Wiefu.


Li Wiefu sudah membantu membuka salah satu pintu dalam diri Chinmi, dan dia juga membantu memberi cara kepada Chinmi akan bagaimana caranya membentuk tulang barunya.


"Apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Chinmi.


"Emm...! Apakah kamu merindukan cerita kisahku?" tanya Li Wiefu sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Eee...!" Chinmi sulit untuk menjawab, walau dia merasa bosan, namun setidaknya dia mengetahui jika Kakek leluhur itu adalah manusia kedua setelah Yinfei, dan yang ketiga adalah Lio Long.


"Hahaha..! Aku hanya bercanda. Ini adalah pertemuan kita yang terakhir, setalah ini aku akan segera pergi dan melakukan putaran Rinkarnasi baruku, aku berharap bisa kembali lahir di salah satu keluarga Li, atau mungkin menjadi anakmu!" kata Li Wiefu sambil tertawa.


Perkataan Li Wiefu bukanlah candaan, dia memang sudah waktunya berinkarnasi, karena tugasnya sudah selesai.


Li Wiefu berharap bisa terlahir kembali di salah satu keluarga Li, atau terlahir sebagai anak Li Chinmi, jika itu juga tidak terwujud, maka dia berharap bisa menjadi murid Chinmi di masa depan.


"Kakek, semoga semua yang kamu impikan di dengar oleh para dewa, dan jika aku bisa memilih, aku juga berharap kakek bisa terlahir dari salah satu dari keluarga kami!" kata Chinmi dengan suara menggema dan disertai dengan suara Sambaran petir di dunia Chinmi saat ini mulai bergemuruh.


Semua keempat kerajaan sangat terheran-heran karena meraka tidak pernah melihat petir yang bergemuruh dan saling bersahut-sahutan seperti mau memecahkan telinga dan seolah-olah akan ada sesuatu yang sangat besar.


Tidak hanya semua orang, para Pendekar, dan juga keempat pertapa, melainkan She Long dan Huo Lang juga ikut melihat fenomena aneh tersebut.


Sebagian pendekar yang ahli dalam meramal sama-sama memiliki hasil ramalan yang sama, yaitu ada sebuah perkataan seseorang yang akan segera dikabulkan oleh para dewa.


Namun masalahnya Chinmi tidak mengetahui hal itu, karena dia berada di alam roh.


"Selamat tinggal kakek!" kata Chinmi yang rohnya mulai terlihat transparan.


"Selamat tinggal, dan semoga aku bisa melihatmu lagi di kehidupan ku yang berikutnya," kata Li Wiefu.


Seiring dengan berakhirnya perkataan Li Wiefu, roh Chinmi juga menghilang dan kini hanya tinggal dia sendiri saja disana.


"Li Wiefu, sekarang permitaanmu sudah aku kabulkan, maka inilah saatnya bagimu untuk kembali ke akhirat untuk berinkarnasi!"


Li Wiefu tersenyum puas dan dia menoleh ke arah belakang, "Raja akhirat, aku sudah sangat siap untuk pergi keputaran hidupku yang berikutnya," kata Li Wiefu.


Sosok tersebut berbaju hitam dengan kumis hitam tebal dan jenggot hitamnya yang menutupi pinggir pipinya hingga dagunya, dia adalah Sang Raja Akhirat.


"Baiklah ini sudah terlalu lama, ayo kita pergi dari sini!" ajak Raja Akhirat.


Li Wiefu hanya mengangguk kemudian dia dipegang oleh Raja Akhirat dan setelah itu mereka berdua menghilang dari alam Roh.

__ADS_1


__ADS_2