
Chinmi dan Li Fang tiba di depan rumah Li Xiang atau rumahnya Chinmi. Mata Chinmi berkaca-kaca saat melihat halaman rumahnya.
Sama sekali tidak ada yang berubah dari halaman rumahnya sehingga membuat Chinmi teringat masa kecilnya dahulu.
"Selamat datang kembali Chinmi!" kata Li Fang setelah tiba di depan halaman rumahnya.
"Paman, tempat ini sama sekali tidak berubah," kata Chinmi dengan sedikit mengeluarkan air matanya.
"Tentu saja karena ibumu tidak mau mengubah apapun untuk terus bisa mengingat dirimu," kata Li Fang
"Aku akan memanggil Ayah dan ibumu dulu, jadi tunggulah disini," kata Li Fang.
Walau itu rumah Chinmi, namun tetap saja Li Fang harus memanggil Li Xiang dan Zhinie terlebih dahulu. Mereka berdua akan terkejut jika sampai Chinmi tiba-tiba saja nyelonong masuk, apa lagi fisik Chinmi yang sudah berubah.
Chinmi hanya mengangguk dan membiarkan Li Fang untuk masuk kedalam. Li Fang berjalan kedalam dengan perasaan senang, sedangkan Chinmi berdiri di depan pintu dengan menghadapkan ke arah halaman rumah.
Chinmi melihat sebuah kuda-kudaan yang terbuat dari kayu berdiri di samping bunga berwarna ungu dan kuning. Kuda kayu tersebut adalah kuda yang sering Chinmi mainkan saat masih kecil.
"Mereka benar-benar tidak merubah apapun," gumam Chinmi.
Saat Chinmi masih memandangi kuda kayu tersebut, terdengar suara dari dalam rumah, Chinmi bisa mendengar suara dua orang laki-laki dari dalam.
"Memangnya siapa yang datang, kenapa kamu senang seperti itu?"
"Kakak nanti akan melihat sendiri!" kata Li Fang, dan suara tersebut adalah Li Xiang.
Chinmi berbalik dan melihat ayahnya yang sudah mulai sedikit menua, Chinmi ingin menyapanya namun Li Xiang lebih dulu bicara padanya.
"Kamu siapa?" tanya Li Xiang sehingga membuat Chinmi mematung.
Li Fang sendiri menepuk jidatnya sendiri, dia tidak menduga jika kakak nya juga tidak mengenali wajah anak nya sendiri.
"Ayah, ini aku Chinmi," kata Chinmi.
Li Xiang terdiam sejenak dengan expresi terkejut sekaligus mengamati Chinmi dengan seksama. Setelah beberapa saat, barulah dia mengingat wajah anak kandungnya tersebut.
Li Xiang tanpa berbicara apa-apa langsung memeluk tubuh Chinmi dengan sangat erat, setelah itu barulah dia berbicara sambil memeluk anaknya.
"Chinmi, kemana saja kamu selama ini Nak?" kata Li Xiang yang sudah tidak mampu lagi untuk melepaskan rasa rindu nya kepada anaknya tersebut.
"A...Aku. Ti... tidak bisa bernafas!" kata Chinmi dengan suara sesak karena Li Xiang memeluk tubunya dengan sangat erat.
"Owh..!" Li Xiang langsung melepaskan pelukannya saat sadar jika dirinya memeluk anaknya terlalu erat.
"Maafkan Ayah, ini karena ayah sangat senang!" kata Li Xiang.
Chinmi mengangguk pelan, dia kembali bisa bernafas lega saat Li Xiang sudah melepaskan pelukannya, "Beruntung kamu tidak membawaku," kata Bing Long saat melihat Chinmi yang sesak nafas akibat dipeluk oleh Ayahnya.
Dia merasa beruntung karena Chinmi meninggalkan dirinya di kudanya, jika dirinya berada di tengah-tengah pelukan mereka, pastinya dia akan menampakkan dirinya jika sampai dia benar-benar berada di tengah-tengah pelukan erat Li Xiang itu.
"Ayah kemana Ibu?" tanya Chinmi sambil masuk ke dalam.
"Ibumu sedang keluar, mungkin sebentar lagi dia akan datang!" kata Li Xiang sambil berjalan sambil memegang pundak anaknya.
Li Xiang tidak henti-hentinya memuji Chinmi yang terlihat begitu gagah dan juga tampan, "Chinmi, aku pernah menitipkan sesuatu kepada gurumu, apakah sudah sampai?" tanya Li Xiang.
"Maksud ayah seruling giok itu?"
"Benar!"
Chinmi mengeluarkan seruling giok tersebut yang ia simpan dibalik bajunya, "Seruling ini sangat bagus, kenapa ayah memberikannya padaku?" tanya Chinmi.
"Kamu adalah keturunan laki-laki dari keluarga Li, andai Li Fang memiliki anak laki-laki, tetap kamu sebagai sepupu tertua yang bisa memiliki seruling tersebut," kata Li Xiang.
"Itu benar Chinmi, hanya satu dari anggota keluarga keturunan tertua yang dapat mewarisi seruling tersebut," kata Li Fang meyakinkan.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" Chinmi kebingungan.
Menurutnya seruling tersebut memang sangat bagus, namun tetap saja itu hanyalah sebuah seruling biasa yang terbuat dari giok.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Awalnya aku juga sama bingungnya denganmu, namun itu sudah peraturan dan tradisi keluarga secara turun-temurun."
Li Xiang menjelaskan jika Seruling tersebut memiliki kelebihan, namun selama ini Li Xiang sendiri tidak mengetahui kelebihan apa yang dimiliki oleh seruling tersebut.
Begitu juga dengan aturan siapa yang berhak untuk memiliki seruling tersebut. Yang bisa memiliki tersebut dalam anggota keluarga hanyalah satu saja dari keturunan asli keluarga Li.
Namun tetap pewaris dari seruling tersebut harus laki-laki, jika ada lebih dari satu keturunan laki-laki dalam satu keluarga, maka yang berhak adalah yang tertua, seperti Li Xiang dan Li Fang. Jadi Li Xiang lah yang berhak memegang seruling tersebut.
"Sampai segitunya aturan keluarga ini," batin Chinmi sambil memperhatikan seruling tersebut dengan seksama.
Chinmi memutar-mutar seruling tersebut, namun dia tidak menemukan kelebihan dari seruling tersebut. Karena seruling tersebut adalah pemberian ayahnya, Chinmi tetap akan menjaganya sekaligus mencari tahu apa kelebihan dari seruling giok tersebut.
"Sudah kita hentikan perbincangan seruling itu, sekarang kamu ceritakan padaku bagaimana pengalaman mu di luar kerajaan?" kata Li Xiang.
Chinmi menceritakan kisah pengalamannya kepada ayahnya, "Senior Fan menghilang? Kanapa kamu tidak menceritakan itu padaku sebelumnya?" tanya Li Fang yang terkejut saat Chinmi menceritakan akan menghilangnya Fan Yuzhen.
Saat Chinmi menceritakan pengalaman hidupnya kepada Li Fang, Chinmi memang tidak menceritakan padanya akan menghilangnya Fan Yuzhen.
"Jadi kamu masih akan pergi lagi?" tanya Li Xiang.
"Tentu saja Ayah, mungkin aku hanya akan menginap di sini selama satu hari saja, dan paling lama adalah dua hari," kata Chinmi.
Chinmi tidak mungkin mengabaikan gurunya begitu saja, jika bukan karena Fan Yuzhen, dia tidak akan menjadi pendekar seperti saat ini, dan mungkin juga tidak mungkin bisa hidup mengingat dulu dirinya pernah menjadi buronan kerajaan dan diincar oleh banyak pendekar dan bahkan sekte-sekte besar juga mengincarnya.
"Ayah, bagaimana dengan Jenderal Fu Shen?" tanya Chinmi saat teringat akan Fu Shen.
Li Fang hanya menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya kepada Chinmi termasuk terbongkarnya kebusukan dan kelicikan Fu Shen oleh Li Fang.
"Akhirnya orang itu kena batunya," gumam Chinmi.
"Aku pulang..!" suara seorang wanita dari arah pintu terdengar.
"Eh maaf ternyata ada ta...!" Zhinie belum selesai menyelesaikan kaliamatnya saat tatapannya tertuju kepada Chinmi.
Zhinie sampai menjatuhkan barang-barang bawaannya sambil berjalan kearah Chinmi, "Chinmi."
Tidak seperti Li Xiang, Zhinie langsung mengenali wajah Chinmi dalam satu kali lihat saja sehingga membuat hati Chinmi sangat tersentuh.
Zhinie memegang pipi Chinmi dengan lembut, senyum lembut Zhinie menyejukkan hati Chinmi, dan mata Zhinie berkaca-kaca sambil menatap wajah putra satu-satunya.
"Nak, ibu sangat merindukan mu," kata Zhinie kemudian memeluk tubuh Chinmi dengan air mata mulai membasahi pipinya.
"Aku juga merindukan Ibu!" kata Chinmi kemudian membalas pelukan ibunya.
Chinmi merasakan kehangatan dan kelembutan Zhinie, Chinmi selalu merindukan pelukan hangat ibunya. Kasih sayang ibu memang tidak bisa di utarakan dengan kata-kata apalagi membayarnya.
Li Xiang dan Zhinie adalah sama-sama seorang Pendekar, namun tingkat kekuatan Zhinie hanya sampai di tingkat Pendekar Puncak 1, sedangkan Li Xiang adalah seorang pendekar Sihir Elemen Alam.
Walau mereka adalah seorang pendekar, namun sifat mereka sangat lembut dan juga ramah, terutama Li Xiang.
Li Xiang terkenal sangat menakutkan jika berada di medan perang. Namun jika berada di rumah, sifat Li Xiang yang sangat mengerikan berubah menjadi sangat baik dan juga sangat lembut. Sifatnya tersebut bertolak belakang ketika dia berada di medan pertempuran.
"Chinmi, maafkan ibu yang telah membuatmu menjalani kehidupan yang sangat sulit, mulai sekarang kamu tidak boleh pergi lagi meninggalkan Ibu!" kata Zhinie.
Chinmi tidak menjawab perkataan ibunya yang sepetinya tidak ingin lagi berpisah dengan dirinya. Chinmi bingung dan ragu untuk mengatakan jika dirinya sebenarnya hanya sebentar saja berada bersama mereka.
"Zhinie, Chinmi sekarang sudah besar, jadi biarkanlah dia sendiri yang memutuskan akan apa yang akan ia lakukan!" kata Li Xiang yang sudah mengetahui akan rencana Chinmi.
Zhinie mendengar itu langsung melepaskan pelukannya terhadap Chinmi kemudian menatap Li Xiang sesaat dan berbalik lagi menatap Chinmi.
"Chinmi, katakan pada Ibu jika kamu tidak ingin pergi lagi bukan?" tanya Zhinie sambil menatap Chinmi penuh harap.
__ADS_1
"Maafkan Chinmi Ibu, Chinmi tidak...!"
Zhinie memejamkan matanya saat Chinmi mulai menjelaskan akan keputusannya setelah bertemu dengan mereka berdua.
"Xiang benar, sekarang kamu bukan lagi anak kecil seperti dulu, sekarang kamu terlihat sangat kuat, dan kamu juga pantas untuk menentukan apa yang ingin kamu lakukan," kata Zhinie dengan wajah sedih.
Chinmi membantu ibunya yang terlihat mulai lemas untuk duduk di kursi. Zhinie terlihat mulai lemas setelah mendengar akan apa yang telah Chinmi katakan.
"Maafkan Chinmi Ibu, Chinmi bukan tidak mau berbakti atau ingin membantah perintah Ibu, Chinmi hanya ingin membalas jasa kepada Guru Fan yang telah menolong Chinmi dan juga membuat Chinmi menjadi seperti sekarang ini," kata Chinmi sambil berlutut di hadapan Zhinie.
Zhinie mengusap air matanya kemudian memegang pundak Chinmi dan mengangkatnya agar Chinmi berdiri.
"Seharusnya ibu lah yang meminta maaf, Ibu sangat bersyukur dan bangga kerena memiliki anak yang berbakti dan juga tidak melupakan kebaikan dan jasa orang yang telah menolong mu. Ibu tidak akan melarangmu pergi, namun ibu hanya minta menginaplah satu atau dua hari disini agar rasa rindu ibu bisa terobati!" kata Zhinie.
"Tentu Ibu, Chinmi akan menginap disini hingga lusa!" kata Chinmi sehingga senyum hangat kembali terlihat dari bibir Zhinie.
"Ah sebentar, aku melupakan barang-barang ku diluar!" kata Chinmi berniat pergi keluar.
"Chinmi, biar Meiyi yang mengambilnya, kamu disini saja!" kata Zhinie.
"Tapi ibu...!" Chinmi ingin menolak dan ingin mengambil sendiri barang yang ia maksud, bukan barang melainkan Bing Long.
Melihat tatapan ibunya, Chinmi tidak jadi memaksakan diri karena tidak mau membantahnya. Chinmi duduk di kursi dengan perasaan was-was.
"Meiyi, ambilkan barang tuan muda di depan dan bawa langsung ke kamar tuan muda!" kata Zhinie menyuruh Meiyi untuk mengambilkan barang milik Chinmi.
Meiyi adalah pelayan pribadi milik Zhinie, sebenarnya masih ada beberapa pelayan yang lain, namun saat ini mereka masih sibuk dengan tugas masing-masing.
Meiyi segera keluar untuk mengambil buntilan kain yang berada diatas kuda milik Chinmi, karena hanya itu satu-satunya barang yang ada di luar.
Meiyi langsung mengambil buntilan kain tersebut, dia membawa buntilan tersebut dengan suara di peluk dan kemudian berjalan kearah pintu. Saat hampir masuk kadalam pintu, dia merasakan buntilan tersebut bergerak-gerak pelan.
Meiyi merasakan gerakan tersebut sehingga berhenti melangkah sambil memperhatikan buntilan tersebut, "Perasaanku saja atau kain ini memang bergerak-gerak!" batin Meiyi.
Karena merasa penasaran, Meiyi memberanikan diri untuk membuka dan melihat isi yang berada di dalam kain tersebut. Setelah dia membukanya, wajah Meiyi menjadi pucat dan kemudian berteriak sangat kencang.
"Kyaaaaa...!!!"
Teriakan Meiyi membuat semua yang berada di dalam terkejut bukan main, Chinmi menepuk jidatnya sendiri, hal yang ia khawatirkan sepertinya benar-benar terjadi.
"Meiyi, ada apa dengan mu, kenapa kamu...!"
Zhinie ingin bertanya lebih terhadap Meiyi saat sudah berada di depan Meiyi, namun pertanyaan tersebut terhenti seketika saat melihat seekor ular bersayap dan memiliki kaki berada diatas kain.
"Anak Naga, Hewan Iblis!" kata Zhihui membuat Li Xiang dan Li Fang bergegas keluar untuk melihatnya.
"Hewan Iblis, berani sekali kamu memasuki rumahku, akan ku bunuh kau," kata Li Xiang kemudian mengeluarkan sebilah pisau kebun yang berada tidak jauh dari tempatnya dan berniat untuk menyerang Bing Long.
"Hewan Iblis kepalamu!" kata Bing Long.
Li Xiang dan Li Fang yang hampir menyerangnya langsung terhenti saat mendengar naga putih kecil tersebut bisa berbicara.
"Ayah, Paman dan semuanya, maaf ini bukanlah Hewan Iblis, namun dia adalah salah satu Naga dari ke delapan Naga yang melatihku, aku yakin paman Fang pernah melihatnya salah satu dari mereka ketika berada di Kerajaan Es Utara!" kata Chinmi.
Li Xiang mendengar hal itu tetap tidak menurunkan waapadanya, walau tubuh Bing Long kecil, namun Li Xiang dapat merasakan kekuatan besar dari tubuh Bing Long.
"Dia salah satu dari kedelapan Naga? Kenapa tubunya sangat kecil?" kata Li Fang.
"Semua Naga bisa merubah wujudnya menjadi kecil dan juga bisa merubah apa saja yang mereka inginkan," kata Bing Long.
Li Fang tidak terkejut karena dia sudah sempat melihat sekaligus mengetahui jika naga ada yang bisa bicara.
"Senior, kamu tidak pernah cerita kepadaku jika kamu bisa berubah menjadi apa saja yang senior inginkan! Apa senior tidak membual?" tanya Chinmi yang baru mengetahui jika Naga bisa berubah jadi hewan apa saja.
"Itu salah satu Anugerah dari dewa untuk kami," kata Bing Long.
__ADS_1
***