PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Desa Jizhi


__ADS_3

Xian Fai dan Chinmi dan juga yang lainnya terharu setelah mendengarkan cerita Xuao Lan. Chinmi sendiri merasa bersyukur karena kedua orang tuanya masih ada walau masih belum bertemu karena jauh.


"Sungguh kehidupan yang sangat sulit," gumam Chinmi.


Yue Yin mendengar gumaman Chinmi kemudian ikut meberikan pendapat yang sama, "Benar, aku masih cukup beruntung karena masih memiliki Ayah dan juga Ibu!" kata Yue Yin.


Dari semuanya yang memberikan pendapat hanya Xian Fai yang terdiam, dia terlihat merenung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa senior Xian?" Chinmi bertanya.


"Tidak apa-apa!" jawab Xian Fai dengan tersenyum tipis disertai dengan gelengan kepala.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kalian tidur agar besok bisa bangun lebih pagi untuk melanjutkan perjalanan," kata Xuao Lan.


"Kamu sendiri?" Yue Rong bertanya.


"Aku akan berjaga, sekarang lekaslah kalian tidur."


"Baiklah namun jangan dipaksakan, walau kamu seorang pendekar hebat, kamu tetap harus istirahat," ucap Yue Rong kemudian masuk ketendanya yang didalam sudah ada Yue Yin.


"Kenapa kamu tidak pergi tidur?" Xuao bertanya kepada Chinmi karena Chinmi sama sekali belum beranjak masuk kedalam tendanya.


"Aku belum ngantuk!" jawab Chinmi dengan singkat, namun alasan yang sebenarnya dia ingin menemani Xuao Lan untuk berjaga.


"Terserah kamu saja, namun jika kamu sudah mengantuk sebaiknya kamu tidur."


Chinmi mengangguk dan akhirnya duduk menemani Xuao Lan. Mereka berdua duduk tanpa banyak bicara karena Xuao Lan masih belum terlalu mengenal Chinmi.


Setelah malam sudah melewati tengah malamnya, Chinmi merasa bosan karena duduk tanpa melakukan apapun sehingga berencana untuk memeriksa Qi yang ada disekitarnya.


"Sangat tipis, bahkan untuk mengisi seperdua Energi ku saja akan butuh waktu sampai pagi," Chinmi merasa kesal, karena tidak ada yang bisa ia lakukan bahkan meditasi sekalipun tidak akan mendapatkan apa-apa sehingga hanya bisa duduk begadang menemani Xuao Lan hingga pagi hari namun tanpa bicara sepatah katapun.


***


"Lian Cao, ayo cepat bangun, kita akan bersiap untuk berangkat," Yue Yin datang membangunkan Lian Cao yang masih belum bangun juga, padahal matahari sudah menampakkan dirinya.


Dengan sedikit malas Lian Cao bangun dari tempat tidurnya kemudian bangkit dan mencuci mukanya yang terlihat kusut.


"Dasar pemalas..!" kata Yue Yin.

__ADS_1


"Hai aku dengar itu," kata Lian Cao sambil mencuci mukanya.


"Lian Cao ayo cepat bereskan semuanya setelah itu makanlah roti ini dan kita akan segera berangkat," Yue Rong memberikan satu roti kering kepada Lian Cao.


Lian Cao menerima Roti tersebut kemudian menyimpannya untuk dimakan setelah selesai membereskan tendanya dan kemudian menyimpannya di buntilan kain.


Chinmi membantu Lian Cao begitu juga dengan Xian Fai, setelah semuanya sudah selesai, mereka sarapan roti kering untuk mengisi sedikit perut mereka dan setelah itu mereka bersama-sama kembali melanjutkan perjalanan mereka.


***


"Ayo cepat bayar upeti kalian."


"Ampun tuan, kami tidak memiliki uang untuk membayarnya, tuan sudah lihat sendiri kalau untuk tahun kami semua gagal panen."


"Aku tidak mau alasan apapun, jika kalian tidak juga membayar upeti kalian maka jangan salahkan kami jika kami mengambil barang kalian yang paling berharga."


"Ampun tuan, tolong kasihan kami."


disebuah desa yang bernama Desa Jizhi. terlihat rombongan orang membawa pedang dengan 10 orang menaiki kuda dan sekitar 20 orang berjalan kaki.


Mereka semua membawa senjata berbentuk gadah berukuran 1 meter dan di ujungnya memiliki beberapa duri besi yang sangat tajam.


Terlihat sekitar 300 orang berlutut dihadapan 10 orang yang sedang menaiki kuda, mereka semua dipaksa untuk membayar upeti.


Dengan tidak berdaya kepala desa mereka memohon belas kasih dari para perampok itu karena mereka saat ini sedang gagal panen.


Namun sepertinya para perampok itu tidak mau tahu dan memaksa mereka untuk tetap membayar upeti mereka tanpa peduli para penduduk ada atau tidak ada uang.


"Cepat ambil hewan peliharaan mereka!" salah satu orang yang terlihat berumur 40 tahun dengan tubuh kekar dan kuat memerintah beberapa orang-orangnya untuk mengambil hewan ternak yang dimiliki oleh para penduduk.


"Jangan ambil hewan ternak kami tuan saya mohon..!" Salah seorang nenek berumur 60 tahunan menangis dan berusaha menahan dombanya agar tidak dibawa oleh para perampok tersebut.


"Minggir nenek tua..."


Orang yang membawa domba tersebut mendorong nenek tersebut dengan sangat kuat sehingga nenek tersebut terjungkal kebelakang.


Nenek tersebut jatuh terlentang kemudin kepala desa datang membantunya untuk berdiri. Sang nenek menangis histeris kerena tidak bisa menahan dombanya agar tidak dibawa pergi oleh mereka.


Semuanya hanya bisa memandangi para perampok tersebut yang satu persatu muncul dengan membawa beberapa hewan ternak para penduduk desa.

__ADS_1


Mereka merasa geram, sedih dan ingin sekali marah, namun tidak ada yang berani menyuarakannya atau pun menghentikan ulah para perampok tersebut sebelum akhirnya seorang pria paruh baya berseru dengan lantang dengan menggenggam parang di tangannya.


"Hentikan, kalian tidak bisa seenaknya mengambil hewan-hewan ternak kami!" seru pria tersebut.


Para perampok tersebut tertawa terbahak-bahak mendengar seruan dari pria paruh baya tersebut, "Jika kami tidak mau kamu mau apa hah? Hahaha!"


"Aku akan membunuh kalian," ucapnya dengan menunjukkan parangnya yang pendek.


"Berhenti Low Gwo, jangan di teruskan! Biarkan saja mereka membawa hewan-hewan itu," kepala desa mencoba menghentikan pria paruh baya itu.


"Tuan Zhao, jangan halangi aku, mereka sudah bertindak keterlaluan. Kali ini aku sudah tidak bisa memaafkan mereka lagi," pria paruh baya tersebut tetap tidak mau mengalah.


"Hahaha! Bagus sekali, aku mau lihat sekuat apa dirimu sehingga berani sekali untuk melawanku!" pria berbadan kekar itu menyeringai dengan menoleh kesamping.


"Urus dia!" ucap pria kekar itu.


"Baik pimpinan," orang yang disuruh tersebut mengangkat gadahnya yang dipenuhi dengan duri-duri besi di ujungnya.


Semua warga menyaksikan orang tersebut yang turun dari kudanya semakin ketakutan, mereka tidak berani untuk melihat orang itu menyerang orang yang memegang parang itu.


"Jika kamu ingin menghentikan kami, maka kamu harus bisa mengalahkan kami dulu!" orang yang sudah turun dari kudanya berjalan ke arah Low Gwo dengan mengayun-ayunkan gadahnya.


"Walau aku harus mati, aku tetap tidak akan membiarkan kalian membawa hewan-hewan itu," Low Gwo yang sadar jika dirinya tidak akan mungkin menang melawan perampok tersebut, namun tetap dia tidak terlihat rasa takut di wajahnya.


"Hahaha! Baiklah sekarang bersiaplah untuk menemui ajalmu!" pria tersebut segera bergerak dengan cepat kearah Low Gwo dengan mengayunkan gadahnya kearah kepala Low Gwo.


Low Gwo berusaha menghindar ke samping dan membalas dengan serangan tebasan parang pendeknya kearah perut perampok tersebut, namun si perampok dengan sigap menahannya dengan gadahnya.


"Terlalu lambat..!" ucap perampok tersebut kemudian memukul perut Low Gwo dengan kepalan tangannya.


Low Gwo terlempar beberapa meter kebelakang dengan posisi memegang perutnya dengan mengerang menahan sakit di perutnya.


"Matilah..!" Low Gwo yang masih belum sempat berdiri dengan tegap terkejut ketika perampok tersebut ternyata sudah berada di hadapannya dengan gadahnya yang mengarah kembali ke kepalanya.


Dengan sekali hantam, kepala Low Gwo hancur dan darahnya keluar menghujani tanah kering.


Low Gwo tewas seketika dengan kondisi kepala hancur, dan tidak lama seorang anak berumur 14 tahun berteriak dengan sangat keras.


"Ayah, tidak...!" teriaknya dan berencana berlari ke arah Low Gwo yang sudah tidak bernyawa namun para warga menahannya agar anak itu tidak kesana.

__ADS_1


__ADS_2