PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
kematian Fu Shen


__ADS_3

Li Xiang duduk sendiri di halaman rumah, sedangkan Zhinie sudah masuk kedalam untuk mengambilkan senjata Li Xiang untuk berjaga-jaga.


"Ini pedang mu!" kata Zhinie sembari menyerahkan pedang Li Xiang.


"Terima kasih," kata Li Xiang sambil tersenyum lembut.


Zhinie ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi karena merasakan ada sesuatu di atas mereka berdua.


Li Xiang dan Zhinie segera menoleh ke atas dan mereka melihat Ho Chen yang sudah mengenakan topengnya turun dari langit.


"Pe..! Eh.. maksud saya Tuan Pendekar, apakah tuan datang atas permintaan Ho Chen?" tanya Li Xiang.


Ho Chen mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun karena khawatir jika Li Xiang mengenali suaranya.


Li Xiang tersenyum lebar, dia ingin sekali mengenal lebih jauh terhadap pendekar bertopeng tersebut, namun masalahnya pendekar bertopeng tersebut sama sekali tidak bersuara.


"Baiklah kalau begitu, saya akan masuk kedalam untuk berpamitan kepada Ho Chen sekaligus ingin mengucapkan terima kasih padanya."


Li Xiang segera masuk dan mengetuk pintu kamar Ho Chen. Tidak lama kemudian Ho Chen membukakan pintunya dan terlihat mata Ho Chen terlihat sangat mengantuk.


"Ada apa paman?" tanya Ho Chen.


"Maafkan karena aku sudah mengganggu istirahatmu, kami akan pergi jadi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan pengawal mu!" kata Li Xiang.


"Paman, semua ini aku lakukan demi Chinmi, jadi paman tidak perlu sesungkan itu!" kata Ho Chen yang sesekali menguap.


"Baiklah kalau bergitu, kamu lanjutkan lagi istirahatmu dan kami akan segera berangkat!" kata Li Xiang kemudian dia pergi meninggalkan bayangan Ho Chen.


Li Xiang segera menemui pengawal Ho Chen dan mereka segera pergi menuju ketempat di mana Fu Shen akan di eksekusi.


Perjalanan menuju tempat eksekusi tidaklah jauh sehingga mereka berdua tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana.


Tempat hukuman eksekusi sangat luas dengan panggung kayu yang memiliki beberapa tali gantungan dan ada satu balok melintang khusus untuk hukuman pancung.


Li Xiang dan Ho Chen hanya berdiri di pintu khusus untuk Raja, kehadiran Ho Chen yang mengenakan topeng putih dan baju putih menyita banyak perhatian.


Ketenaran sosok pria bertopeng sudah hampir tersebar ke seluruh istana, namun ada juga yang tidak mengetahuinya.


"Yang Mulia telah tiba..!" suara keras pengawal raja terdengar ke seluruh penjuru tempat eksekusi tersebut.


Li Xiang segera berlutut dan diikuti oleh semua orang kecuali Ho Chen yang tetap berdiri.


"Bangunlah Jendral Li Xiang!" kata Raja Tao.


Tatapan Raja Tao jatuh kepada Ho Chen yang tidak ikut berlutut seperti yang lainnya, namun Raja Tao tidak memper masalahkannya karena dia juga sudah mendengar akan sosok tersebut walau tidak mengetahui namanya.


"Ternyata tuan bertopeng ini adalah kenalanmu Jendral!" kata Raja Tao kepada Li Xiang.


"Tidak Yang Mulia, tuan ini adalah pengawal teman anak hamba yang menginap dirumah!" jawab Li Xiang.


Raja Tao mengangguk sambil berjalan kearah kursi khusus untuknya dan di dampingi oleh dua menterinya.


"Teman anak mu? Lalu apakah dia juga ada di sini?" tanya Raja Tao.


"Dia tidak ikut Yang Mulia!" jawab Li Xiang.


Mereka semua saling mengobrol kecuali Ho Chen yang sama sekali tidak bicara Sapatah katapun.


Setelah menunggu beberapa, hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Semua orang bersorak sorai melempari kearah sesuatu yang baru keluar dari sebuah pintu.


Yang mereka lempari tidak lain adalah Fu Shen yang saat ini berjalan kearah panggung pemancungan dengan kedua tangan terikat di belakang, dan dia dikawal oleh banyak prajurit.


"Lihatlah wajahnya, sebentar lagi dia akan mati namun tidak ada tanda-tanda ketakutan sama sekali di wajahnya!" kata salah seorang yang mengamati wajah Fu Shen yang terlihat tenang-tenang saja.


"Memang aneh sekali, mungkin dia sudah pasrah," teman orang tersebut menjawab.

__ADS_1


Tidak hanya mereka saja yang keheranan, bahkan Li Xiang dan Raja Tao juga merasa heran melihat expresi wajah Fu Shen yang tampak tenang.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar!" batin Li Xiang.


Kekhawatiran dihatinya kembali muncul, padahal sebelumnya perasaan tersebut sudah hilang, namun entah mengapa kini perasaan tersebut kembali menyelimuti hatinya.


Ho Chen menepuk pundak Li Xiang karena mengetahui apa yang Li Xiang khawtirkan. Li Xiang menoleh kearah Ho Chen yang mengangguk memberi isyrat agar tenang.


"Yang Mulia, sekarang saatnya bagi Yang Mulia untuk memberi titah!" kata Penasehat Yen Wong.


Raja Tao segera bangkit dengan memegang sebuah papan kecil dengan tali merah di bagian atas dan ada tulisan huruf yang berbunyi "Mati."


"Wahai para rakyat ku yang hadir! Hari ini kita akan menyaksikan hukuman mati terhadap penghianat kerajaan kita! Lihatlah dia, ini sebagai teguran dan pelajaran untuk kalian semua bahwa siapa saja yang terbukti mengianati kerajaan, maka nasibnya akan sama, yaitu berakhir di tangan Algojo," kata Raja Tao dan dia melangkah maju tiga langkah ke depan.


Fu Shen hanya tersenyum sinis saat Raja Tao menunjuk kearah wajahnya, "Hai Raja cepatlah, kedua tanganku rasanya sudah sangat pegal diikat seperti ini terlalu lama, dan pastikan golok yang akan digunakan adalah golok yang...!" perkataan Fu Shen tersangkut di tenggorokan nya ketika dia melihat sosok yang berdiri di samping Li Xiang.


"Di-dia berada di sini?" gumam Fu Shen dengan keringat dingin mulai keluar dari keningnya.


Li Fang mengepalkan kedua tangannya karena merasa kesal atas perkataan Fu Shen, walau sebenarnya dia juga ikut terkejut kepada sosok bertopeng yang berdiri di samping Li Xiang.


Raja Tao hanya menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak emosi, "Algojo sekarang kau lakukan tugasmu!" kata Raja Tao yang memberi titahnya sekaligus melempar papan kayu yang di pemgannya ke hadapan Fu Shen.


Semuanya menjadi tegang saat Fu Shen di dudukkan dalam posisi berlutut dan kepala menunduk.


Walau mereka semua ingin melihat secara langsung proses pemancungan, namun tetap saja mereka merasa ngeri dan takut.


Golok Algojo yang besar berat dan tajam mulai di ayunkan, sedangqkan sebagian orang ada yang menutup mata bahkan sampai menyembunyikan wajah mereka dengan kedua telapak tangan mereka, namun sedikit demi sedikit mereka mengintip dengan membuka sedikit jari mereka.


Golok Algojo akhirnya menyentuh leher Fu Shen, semua menutup mata kecuali Ho Chen dan para Jendral, mereka beranggapan jika kepala Fu Shen pasti akan terpisah dari tubuhnya.


Namun ternyata setelah golok Algojo jatuh mengenai kulit leher Fu Shen, suara yang sangat keras terdengar ke seluruh area.


Suaranya bagai benturan dua besi yang sangat keras. Setelah semua orang membuka mata, mereka semua terkejut karena bukan leher Fu Shen yang terpotong, melainkan golok Algojo yang patah menjadi dua.


"Kok bisa?"


Semua orang saling berbicara karena kaget dan merasa tidak percaya akan apa yang mereka lihat.


"Ini tidak mungkin, golok itu sangat tajam dan kuat bagaimana mungkin bisa patah seperti itu?" tanya Raja Tao yang juga tidak percaya.


Dari semua orang hanya satu saja yang terlihat tidak terkejut, dia tidak lain adalah Ho Chen yang hanya tersenyum tipis dibalik topengnya.


Fu Shen menoleh kearah Algojo dengan tersenyum lebar kemudian dia kembali menoleh kearah Ho Chen.


Fu Shen bangkit dan mengeluarkan energi yang sangat besar sehingga Algojo yang berdiri di sampingnya terlempar jauh.


"Kamu pikir bisa memotong leherku semudah itu Raja?" kata Fu Shen kemudian tali yang mengikat tangannya putus.


Fu Shen menatap kearah Ho Chen yang masih berdiri tenang dan kemudia dia menunjuknya, "Aku tahu kamu memang kuat, namun aku yakin kamu tidak akan bisa mengalahkan temanku!" kata Fu Shen.


Ho Chen mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan Fu Shen. Walau Fu Shen tidak menyebut nama temannya, namun Ho Chen sudah tahu siapa yang Fu Shen maksud.


Li Xiang segera meminta kepada para prajurit untuk membawa Raja Tao masuk kedalam, sedangkan Li Fang Zuo Yujiu dan Mei Xin segera melompat ke arah Fu Shen dan disusul oleh Li Xiang.


Fu Shen hanya tersenyum tipis kemudian mengeluarkan energi yang sangat besar sehingga seluruh tempat porak poranda dan benda-benda beterbangan.


Situasi langsung kacau balau dan semua orang yang ada di sana berlarian kesana kemari untuk menyelamatkan diri.


Li Xiang dan yang lainnya juga tidak mampu bertahan sehingga mereka terpental beberapa meter namun tetap bisa menyeimbangkan tubuh mereka.


"Kalian semua bukanlah tandinganku, jadi jangan berharap untuk bisa mengalahkan ku dengan mudah!" kata Fu Shen.


Saat Fu Shen ingin melangkah ke arah Li Xiang, tiba-tiba saja tubuhnya terjatuh karena merasa ada beban yang sangat berat menimpa pundaknya.


"Ka-kau...!" Fu Shen hampir lupa jika masih ada Ho Chen yang mengenakan topeng sedang berdiri menatapnya.

__ADS_1


Ho Chen memang terlihat diam tidak bergerak, namun hanya dengan tatapan nya saja dia sudah mampu membuat Fu Shen jatuh dalam keadaan berlutut.


"Hem..! Sudah kuduga jadi kamu yang sudah mengalahkan Fu Shen."


Ho Chen menoleh ke sumber suara tersebut dan melihat sesosok yang sedang melayang di udara.


"Lan Ying...!" gumam Ho Chen karena mengenali sosok tersebut.


Ho Chen memeriksa kesekelingnya berusaha mencari keberadaan yang lain, namun dia tidak melihat yang lain.


Li Xiang dan yang lainnya terkejut atas kemunculan Lan Ying yang tubuhnya memiliki sayap.


Fu Shen tersenyum lebar melihat Lan Ying yang muncul, dia yakin jika Lan Ying datang untuk menolongnya.


"Baguslah kamu datang sendiri, aku pikir kamu akan datang bersama dengan ketiga temanmu itu Lan Ying!" kata Ho Chen.


Lan Ying dan Fu Shen sama-sama terkejut kerena Ho Chen mengatahui nama Lan Ying, sedangakan Li Xiang mengerutkan dahinya setelah mendengar suara Ho Chen dibalik topengnya.


"Suara ini...!" Li Xiang yakin jika suara tersebut adalah suara Ho Chen, namun dia tidak berani bertanya karena situasinya tidak memungkinkan.


"Siapa kamu, dan kenapa kamu bisa mengetahui namaku?" tanya Lan Ying dan dia mulai turun.


Semua prajurit segera mengelilingi tempat Ho Chen dan Lan Ying yang akan mendarat dengan mengarahkan ujung tombak mereka kearah Lan Ying.


"Lan Ying, seharusnya kamu datang membawa salah satu temanmu agar kamu bisa selamat, jika kamu sendirian melawanku, kamu tidak akan mampu mengimbangi ku walau kamu sudah berada di tingkat Dewa Suci sekalipun," kata Ho Chen.


"Apakah kamu salah satu dari kelima manusia Dewa? Tidak bahkan kelima manusia Dewa sekalipun tidak akan tahu jika ada tingkat Dewa Suci," kata Lan Ying yang saat ini kaki cakarnya sudah hampir menyentuh tanah.


Saat kaki Lan Ying tepat berada diatas tanah, seluruh wilayah istana mulai bergetar hebat, bahkan para prajurit yang mengarahkan ujung tombak mereka pun tidak bisa menyeimbangkan tubuh mereka.


"Iya, aku memang salah satu dari kelima manusia Dewa, dan aku datang untuk menyelamatkan nya." kata Lan Ying.


Ho Chen melirik kearah Li Xiang yang terus memperhatikannya, dia juga mengetahui jika Li Xiang sudah mengenali dirinya lewat suaranya.


"Sepertinya penyamaran ku harus berakhir di sini!" gumam Ho Chen kemudian dia melepaskan topengnya.


Jantung Li Xiang seperti berhenti berdetak karena terkejut setelah mengetahui jika sosok pria bertopeng itu tenyata adalah Ho Chen sendiri.


"Jika dia Ho Chen, lalu yang di rumahku saat ini siapa?" batin Li Xiang.


Ho Chen sudah tidak lagi memperdulikan Li Xiang yang terkejut, dia kali ini menatap Fu Shen yang saat ini tersenyum lebar kearahnya.


Ho Chen mengangkat tangannya kearah Lan Ying sehingga membuat Lan Ying juga bersiap untuk menyambut serangan Ho Chen.


Namun ternyata Lan Ying keliru, dia tidak tahu jika tangan Ho Chen yang mulai diselimuti api biru mulai membesar.


Ho Chen tersenyum tipis sebelum akhirnya dia melepaskan api tersebut kearah Fu Shen. Lan Ying yang tidak tahu akan maksud Ho Chen terkejut saat api biru tersebut mengarah kearah Fu Shen.


Lan Ying ingin menghentikan gerak laju api tersebut, namun Ho Chen menahannya, "Jangan kamu kira aku akan bisa menyelamatkan nya!" kata Ho Chen.


Senyum lebar Fu Shen langsung menghilang saat melihat api biru melesat kearahnya, dia ingin kabur namun tidak sempat karena api biru tersebut sangat cepat.


Fu Shen mencoba menahan dengan mengalirkan energi sebagai perisai, namun ternyata api biru tersebut melewati perisai nya dengan mudah dan mengenai tubuh Fu Shen.


Fu Shen berteriak kesakitan karena terbakar, namun hanya sesaat karena api tersebut dengan sangat cepat mengubah dirinya menjadi abu.


Li Xiang dan yang lainnya hanya bisa menelan ludah melihat kematian Fu Shen yang sangat mengerikan, bahkan Li Xiang sendiri tidak menyangka jika Ho Chen selama ini menyembunyikan kekuatannya yang sangat besar.


"Kau harus mati!" kata Lan Ying kemudian dia berniat melepaskan energi es yang kuat. Namun belum sempat ia melepasnya Ho Chen sudah berada dihadapan nya.


"Jangan bertarung di sini, mari kita pindah ketempat yang lebih pantas!" kata Ho Chen kemudian dia ingin menyentuh tubuh Lan Ying untuk berpindah tempat.


Lan Ying segera mundur dan tetap melepaskan energinya yang sangat besar tersebut di tempat itu.


"Raja Dewa Api."

__ADS_1


Ho Chen segera membuat perisai dari beberapa api yang berbeda warna dan menutupi tubuh Lan Ying agar energinya yang besar tidak menghancurkan seluruh dunia.


Ho Chen berpindah tempat kebelakang Lan Ying dan menyentuh sayap Lan Ying dan kemudian membawanya ketempat yang pantas untuk bertarung.


__ADS_2