
"Kera ini tahu dimana mereka menyekap Tie Long beserta dengan gurumu."
"Benarkah, kalau begitu kita pergi sekarang saja untuk menyelamatkan mereka," Chinmi sudah tidak sabar ingin segera pergi menyelamatkan gurunya.
"Tidak bisa!"
Chinmi menoleh kearah Bing Long dengan tatapan heran, "Kenapa senior Bing, apa senior tidak mau menyelamatkan mereka?" tanya Chinmi.
"Kita tidak bisa pergi begitu saja, harus ada rencana terlebih dahulu, apa lagi kita hanya berdua! Jika Tie Long dan Huo Long ditambah dengan gurumu saja bisa dikalahkan dengan mudah, apa kita berdua juga akan mampu menolong mereka?"
"Tapi senior!" Chinmi tetap tidak setuju dan masih ingin pergi untuk menyelamatkan gurunya.
"Aku tahu perasaanmu, namun semangat dan keberanian saja tidak akan cukup untuk pergi kesana, pintu masuk kesana dijaga oleh satu mahluk yang kekuatannya setara dengan She Long, jadi bersabarlah! Sebaiknya kita kembali dulu ke rumahmu untuk mengatur rencana," kata Bing Long menjelaskan.
Chinmi yang awalnya bersemangat terlihat lesu. Andai dirinya tahu dimana tempat yang dimaksud, mungkin dia sudah pergi kesana sendiri.
Tanpa berbicara apapun, Chinmi melangkahkan kakinya dengan pelan, dia berusaha mencari solusi agar bisa menemukan cara untuk pergi menyelamatkan gurunya.
"Tu-Tuan Bing, aku sudah memberitahu semuanya, apa aku boleh pergi?" Kera Putih bertanya karena semua informasi yang Bing Long butuhkan.
"Siapa bilang kamu boleh pergi, kamu ikut denganku, setelah aku menemukan cara, kamu harus mengantarkan ku ketempat itu!" kata Bing Long.
"Ta-tapi tuan saya tidak mungkin berkeliaran atau berbaur dengan manusia."
"Kamu lupa kalau kami para ras Naga memiliki Sihir Dewa? Aku bisa ke merubah mu menjadi kera biasa, jadi kamu bisa ikut pergi denganku!" kata Bing Long.
Kera Putih terkejut mendengarnya, dia hampir lupa jika Naga bisa berubah wujud dan juga mengubah wujud mahluk yang ia inginkan.
"Aku tidak lupa tuan, jika tuan Bing memang memaksa, baiklah aku akan mengikuti tuan!" kata Kera tersebut yang sudah pasrah.
Bing Long menyentuh pundak kera putih tersebut, setelah itu tubuhnya sang kera bercahaya putih dan kemudian tubunya mengecil dan dia menjadi seekor kera normal seperti Hewan biasa.
"Sekarang ikutlah denganku!" kata Bing Long kemudian menyusul Chinmi yang saat ini sudah bersama dengan Ayah nya.
"Chinmi, mari kita kembali dulu, nanti kita pikirkan cara menyelamatkan gurumu disana!" kata Bing Long.
"Senior duluan saja dengan Ayah, nanti aku akan menyusul," jawab Chinmi.
"Kenapa? kamu tidak berencana untuk pergi ketempat gurumu disekap bukan?" tanya Bing Long.
"Senior Bing, bagaimana caranya aku pergi ke sana, sedangkan tempatnya saja aku tidak tahu," kata Chinmi.
"Jadi kenapa kamu tidak mau ikut pulang?"
"Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan disini," kata Chinmi.
"Urusan apa?" tanya Bing Long
"Chinmi, kalau kamu tidak ikut pulang denganku, bisa-bisa aku jadi bahan omelan ibumu," kata Li Xiang dengan berbisik karena tidak mau didengar oleh para prajurit.
"Ayah tidak perlu risau, aku janji tidak akan lama! Jadi ayah bisa kasih tahu ibu jika aku mampir di kota," kata Chinmi.
"Terserah kamu saja," ucap Bing Long kemudian dia bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Kalian semua bisa berjaga bergantian, dan sebagian makamkan para prajurit yang gugur dan ambil plat nama mereka dan kirimkan ke istana agar nama mereka bisa dikenang sebagai pahlawan!" kata Li Xiang kepada sisa prajurit yang selamat untuk tetap di sana dan bertahan.
"Baik Jendral!" kata salah satu dari mereka dengan membungkukkan badan.
"Kalau begitu aku pergi dulu, mungkin tiga hari lagi bala bantuan akan tiba, dan aku yakin Jendral Mei Xin juga akan datang. Jadi selama kalian menunggu mereka berhati-hatilah."
"Kami mengerti Jendral, kami akan berusaha untuk melindungi perbatasan!" ucap prajurit tersebut.
"Baik jaga diri kalian," Li Xiang menaiki pundak Bing Long kemudian menoleh kearah Chinmi.
"Cepat pulang agar ibumu tenang!" kata Li Xiang kemudian Bing Long segera terbang dengan membawa kera putih yang kini sudah mengecil dan berada di sebelah Li Xiang.
Chinmi melihat kepergian Bing Long hingga tidak lagi terlihat kemudian menghela nafas panjang, "Sekaranglah waktunya bagiku untuk mengumpulkannya!" gumam Chinmi sambil menatap jasad ribuan Hewan Iblis.
***
"Akhirnya aku mencapai tingkat puncak!" gumam seorang pria berumur hampir 27 tahun.
"Kakak, aku juga sudah mencapai ke tingkat menengah!" ucap salah satu lagi yang terlihat berumur 21 tahun.
"Zang, kemana yang lain?" tanya pria berumur 27 tahun itu.
"Entahlah, mungkin mereka berada di desa lain," jawab pemuda tersebut.
Pemuda tersebut adalah Zang Gang dan kakak seperguruannya, mereka adalah murid sekte Golok Setan, dan mereka adalah murid langsung dari ketua Sekte Golok Setan Tong Liung.
Dihadapan mereka tergelak sekitar tiga mayat, ketiga mayat tersebut terlihat terbunuh dengan sangat mengenaskan. Satu mayat tubunya terpotong menjadi dua bagian, satu lagi adalah seorang wanita yang kehilangan kepalanya, dan yang satunya semua kulit tubuhnya habis seperti habis dikuliti seperti kambing.
"Aku puas sekali menikmati mereka mati, kamu lihat wanita itu, dia meminta untuk tidak dibunuh karena sedang hamil, namun aku sangat senang ketika golokku ini mulai mengiris kulit lehernya itu, rasanya aku ingin melihat kembali wajahnya yang terus-menerus menangis hingga lehernya terputus," kata Zang Gang.
Cara yang mereka lakukan sejak dulu, kini sudah mendarah daging tubuh mereka, cara mereka membunuh ternyata bisa membuat mereka semakin kuat dan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Itu adalah cara teraneh selain dari cara yang dilakukan oleh She Chin.
"Itu mereka, ayo kita tangkap!"
Saat mereka berdua sedang memandangi ketiga mayat mengenaskan tersebut, tiba-tiba muncul banyak orang dan berseru dengan keras.
"Gawat sepertinya itu adalah para warga desa!" kata Kakak seperguruan Zang Gang.
"Kenapa harus takut, mereka hanya warga desa biasa, jadi ini akan semakin membuat kita berpesta," kata Zang Gang.
Sekitar 200 orang laki-laki datang dengan membawa beberapa alat seperti cangkul, kapak, parang, dan kayu. Wajah mereka terlihat marah dan berjalan kearah Zang Gang.
"Istriku tidak...!" teriak salah satu pria kurus sambil berlari kearah mayat perempuan yang sudah tidak berkepala itu.
Pria tersebut langsung memeluk tubuh wanita tersebut yang ternyata adalah istrinya, dia tidak peduli terhadap Zang Gang dan kakaknya yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kejamnya! Kalian berdua harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian, ayo tangkap mereka berdua!" kata seorang pria berumur 45 tahun.
"Hahaha.. kalian mau menangkap kami? Coba saja kalau kalian bisa, aku ingin lihat sehebat apa kalian yang berani ingin menangkap kami, ayo maju!" kata Zang Gang dengan mengeluarkan goloknya.
Semua warga yang ada disana sedikit ragu, mereka tahu jika kedua orang itu adalah Pendekar, namun salah satu dari mereka berbicara kepada Zang Gang.
"Aku tahu jika kami semua hanyalah orang biasa yang tidak bisa mengalahkan kalian, namun kami sudah mempersiapkan semuanya," kata pria tersebut kemudian dia menoleh kebelakang dan melihat Tiga orang muncul dari belakang mereka, satu laki-laki berumur 21 tahun dan pemuda satunya berumur 19 tahun, dan yang terakhir seorang gadis cantik berumur 19 tahun.
__ADS_1
"Murid Sekte Pedang Suci, Kanapa kalian bisa berada disini?" kakak seperguruan Zang Gang terkejut saat melihat ketiganya yang memakai baju dari sekte Pedang Suci.
"Ternyata tebakanku benar jika yang menculik warga adalah murid dari sekte Golok Setan!" kata pemuda berumur 21 tahun.
"Kalian, kenapa kalian bisa berada disini?" tanya Zang Gang dengan penuh kewaspadaan.
"Em, kami adalah para pendekar, jadi wajar jika kami berada dimana saja," jawab pemuda yang berumur 19 tahun kemudian menoleh kearah gadis yang berumur 19 tahun tersebut.
"Yue Yin, apakah kamu mau menghadapi nya?" tanya pemuda tersebut kepada gadis tersebut yang ternyata adalah Ji Yue Yin, putri Ji Sang dan cucu dari ketua Sekte Pedang Suci Ji Long.
"Tidak mau, kalian berdua saja yang menghadapi mereka, biar aku disini saja!" kata Yue Yin kepada kedua pemuda tersebut, mereka adalah Xian Fai dan Lian Cao.
Mereka bertiga mendapatkan tugas untuk mengantarkan sebuah pesan kepada Yue Rong yang ada di Kerajaan Bumi Barat. Namun saat di perjalanan, mereka singgah ke sebuah desa kecil untuk beristirahat.
Saat mereka baru tiba, tiba-tiba para warga desa sedang panik karena tiga warga mereka tiba-tiba saja menghilang.
Xian Fai sudah sering mendengar kabar akan menghilangnya para warga dari berbagai desa, dan setelah dua hari tubuh warga yang menghilang pasti akan di temukan sudah mati dengan kondisi mengenaskan, dan letaknya selalu tidak terlalu jauh dari desa mereka.
Xian Fai pernah mendapatkan informasi dari para senior dan pendekar lainnya jika pelaku penculikan dan pembunuhan tersebut adalah anggota murid Sekte Golok Setan.
Begitu mengetahui jika ada warga yang menghilang, Xian Fai, Lian Cao dan Yue Yin ikut dengan mereka sekaligus mencari tahu dari salah satu warga.
"Kalian semua mundurlah, biar kami berdua yang menghadapinya!" kata Xian Fai kepada para warga.
"Jika kau tidak ingin mati, sebaiknya jangan ikut campur," kata Zang Gang sambil mengarahkan goloknya kearah Lian Cao.
"Kakak Jing, ayo kita habisi mereka!" kata Zang Gang kemudian bersiap untuk bertarung.
Mereka berdua sama-sama bersiap untuk bertarung melawan Xian Fai dan Lian Cao, sedangkan para warga mulai mundur sedikit jauh kecuali pria yang saat ini masih memeluk jasad istrinya.
Kakak seperguruan Zang Gang menoleh kearah pria kurus tersebut kemudian lansung mengangkat goloknya dan menebas kearah leher pria kurus yang masih memeluk jasad istrinya.
"Susul lah istrimu ke alam baka!" serunya kemudian mengayunkan goloknya dengan kuat.
"Pedang Tebasan Angin Malam."
Xian Fa bergerak sangat cepat dan pedangnya langusung menahan gerakan tebasan golok yang mengarah keleher pria kurus tersebut.
"Kak Jing!" Zang Gang segera bergerak dan ingin menyerang Xian Fai yang menahan golok kakaknya yang bernama Jing Yu, namun Lian Cao juga bergerak dan menghadang Zang Gang dengan menggunakan pedangnya kedepan Zang Gang sehingga Zang Gang tidak jadi maju.
"Lawanmu adalah aku," kata Lian Cao.
"Baik aku akan meladenimu!" kata Zang Gang kemudian menyerang Lian Cao.
Xian Fai sudah berdiri di samping pria kurus tersebut dengan ujung pedang menghadap kebawah. Jing Yu yang merasa geram segera mengangkat goloknya dan menyerang Xian Fai.
Pertarungan mereka cukup sengit, setiap serangan yang di lepaskan membuat kerusakan disekitar tempat pertempuran mereka.
Yue Yin segera menghampiri pria kurus tersebut dan menenangkan pria kurus tersebut agar bisa pergi menghindar dari sana. Yue Yin khawatir pria kurus tersebut terkena imbas dari pertarungan mereka sehingga sesegera mungkin untuk membawa pria kurus yang kini sudah sedikit tenang.
***
__ADS_1
Maaf telat, semalam saya pulang kerja larut malam sehingga tidak sempat update karena sangat lelah.