
***
Seluruh rakyat di kerajaan Bumi Barat terpaksa mengungsi karena pertempuran besar yang akan terjadi.
Saat ini sudah berbaris sekitar tiga puluh ribu pasukan dari gabungan sekte aliran hitam yang bergabung dengan para pasukan dari Kerajaan Angin Selatan.
Di barisan terdepan, She Chin dan ketua sekte lainnya sedang menunggangi kuda mereka, dan di atas mereka ada dua puluh pendekar dengan mengenakan pakaian berwarna merah dan lengan kain mereka semua sangatlah pendek.
Sedangkan dari pasukan Kerajaan Bumi Barat, prajurit yang berbaris sebanyak lima belas ribu orang, itu sudah termasuk gabungan dari sekte aliran putih.
Di barisan depan pasukan kerajaan Bumi Barat, Li Xiang dan semua jendral lainnya bersama dengan para ketua sekte aliran putih seperti Ji Long, Bai Zhuxian dan ketua sekte lainnya.
Raja Tao sendiri berada di tengah-tengah, dia juga ikut datang dalam pertempuran tersebut, walau dia seorang Raja yang biasa duduk di istana dan hanya bisa memberi perintah, namun dia tetap ingin ikut bertempur bersama dengan semua prajuritnya.
Raja Tao sendiri kabarnya juga seorang pendekar yang tidak di ketahui seberapa kuat sebenarnya dirinya, bahkan Li Xiang dan para Pertapa tidak tahu apakah Raja Tao adalah seorang pendekar atau tidak.
Tong Liung datang kearah Li Xiang seorang diri dengan menaiki kudanya dan saat ini dia berada dihadapan Li Xiang dan yang lainnya.
"Sebaiknya kalian menyerah saja, percuma kalian tidak akan bisa menang melawan kami! Lihat saja sendiri dalam jumlah pasukan saja kami lebih banyak dan lebih kuat!" kata Tong Liung.
"Tong Liung, aku tahu jika pasukan kami tidak sebanyak dan sekuat pasukan mu, namun kami tidak takut karena kami semua bersatu untuk melawan kejahatan kalian semua!" kata Li Xiang.
Tong Liung tertawa terbahak-bahak kemudian dia menatap Li Xiang dengan tajam, "Kamu dan pasukan mu akan aku binasakan, dan sisanya aku akan mengambil alih Kerajaan Bumi Barat setelah membunuh si Raja bodoh itu, bersiaplah!" kata Tong Liung kemudian dia berbalik dan kembali ke pasukannya.
"Apakah sekarang kita bisa menyerang!" tanya Bai Zhuxian dengan membawa pedang yang gagangnya memiliki ukiran bunga.
"Tunggu dulu, biar mereka duluan yang memulainya terlebih dahulu!" kata Li Xiang.
Sebenarnya semua para ketua sekte di pihak Raja Tao lebih mengamati ke dua puluh pendekar yang melayang di atas pasukan lawan, mereka yakin jika kedua puluh pendekar dengan pakaian anehnya itu adalah pendekar dari Benua Daratan Selatan yang dimaksud.
She Chin mengangkat gadah batunya keatas pertanda untuk menyerang sekaligus memerintahkan semua pasukan Hewan Iblis untuk segera maju menyerang karena gadah batu panas tersebut berfungsi sebagai pengendali para pasukan Hewan Iblis.
"Serang dan habisi semuanya..!" seru She Chin yang diikuti oleh teriakan pasukannya sekaligus Pasukan Hewan Iblis yang datang secara tiba-tiba ikut berbaur dan maju ke arah pasukan Li Xiang.
Semua ketua sekte dan Li Xiang terkejut karena munculnya para Pasukan Hewan Iblis, di tambah lagi ke dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan juga mulai terbang ke arah mereka.
"Bagaimana ini?" tanya salah satu murid sekte aliran putih yang terlihat mulai takut melihat pasukan lawan yang semakin banyak.
"Sialan, bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan para Hewan Iblis?" Ji Long menjadi murka.
"Tidak ada pilihan lain, demi kebenaran kita akan tetap maju sampai nafas terakhir kita..! Serang...!" seru Li Xiang dan semua pasukannya segera maju.
Kedua pasukan sama-sama berlari kearah lawan mereka dan pertempuran pun di mulai. Pertempuran kali ini berbeda dari pertempuran biasanya, yang membedakannya tidak ada aturan perangnya karena yang sedang bertempur adalah para sekte-sekte gabungan dari ketiga pihak, aliran Putih, Netral dan Hitam.
Saat pertama bentrok saja sudah mulai jatuh korban jiwa, sedangkan Li Xiang segera mengeluarkan Cambuk Akar Bumi yang ia selipkan di balik zirahnya.
Li Xiang segera mencambuk kan kearah pasukan lawan dan sekitar puluhan pasukan lawan harus terlempar jauh, bahkan ada yang sampai tewas.
Kekuatan yang terpancar dari Cambuk tersebut sangat kuat bahkan seorang pendekar Sihir sekalipun berusaha menghindarinya.
Saat perang sudah pecah, salah satu pendekar dari Benua Daratan Selatan melihat Raja Tao yang memanah beberapa pasukan musuhnya dari atas kudanya dan dia lindungi oleh beberapa pasukan elit yang terlatih.
"Aku akan membunuh Raja itu!" kata salah satu pendekar dari Benua Daratan Selatan dan dengan secepat kilat dia menuju ke arah Raja Tao dan berniat membunuh Raja Tao hanya dengan satu serangan saja.
"Gawat, Raja sedang dalam bahaya!" Zuo Yujiu terkejut saat melihat salah satu pendekar dari Benua Daratan Selatan melesat kearah Raja Tao.
Dia ingin bergegas menuju ke arah Raja Tao dan berniat melindunginya, namun salah satu ketua dari sekte Bukit Tengkorak menghadangnya.
"Kaulah yang akan menjadi lawan ku!" kata pendekar tersebut yang tidak lain adalah Huan Sing.
Zuo Yujiu akhirnya tidak punya pilihan lain lagi selain melawan Huan Sing, sedangkan Pendekar dari Benua Daratan Selatan sudah memberikan serangan terkuatnya untuk membunuh Raja Tao.
"Yang mulia tidak...!"
__ADS_1
Li Xiang yang berada jauh berteriak keras saat melihat pendekar dari Benua Daratan Selatan menyerang Raja Tao, bahkan semua jendral dan para ketua yang lain juga tidak sempat untuk menyelamatkan Raja Tao.
Jdarrr!"
Pukulan pendekar tersebut meledak dan membinasakan ratusan pasukan di dekatnya bahkan pendekar tersebut mengira jika Raja Tao pasti mati dengan serangan kejutan tersebut, namun ternyata Raja Tao masih duduk diatas kudanya dengan menahan serangan tendangan dari pendekar tersebut dengan sebelah tangannya saja.
"Tidak ku sangka aku harus menunjukkan kekuatan ku yang sesungguhnya hanya demi melawan mu!" seru Raja Tao.
"Yang Mulia..!?''
Semuanya terkejut melihat Raja Tao yang berhasil menahan serangan Pendekar yang diyakini memiliki kekuatan melebihi kekuatan para Pertapa bisa ditahan dengan mudah oleh Raja Tao.
"Kelompok Sungai Darah dari Benua Daratan Selatan ingin mencoba membunuh seorang Raja dari Benua Daratan Tengah? Baiklah, selama ini aku diam saja, namun sepertinya kalian semua ingin mengetahui akan siapa sebenarnya diriku ini!" kata Raja Tao.
Tao Xi Lun mengarahkan pukulannya ke tubuh pendekar tersebut, dan pendekar tersebut yang tidak percaya jika serangannya dengan sangat mudah di tahan oleh Tao Xi Lun berusaha menahan serangan Tao Xi Lun.
Jdarrr!!!
Pukulan Tao Xi Lun ternyata sangat kuat sehingga membuat seluruh tempat peperangan berguncang hebat, dan pendekar yang ia serang terpental jauh.
"Apa, bagaimana mungkin dia bisa menahan serangan Pendekar itu?" She Chin terkejut melihat hal itu.
Tidak hanya dia, bahkan semuanya juga ikut terkejut dan pertempuran sempat terhenti sesaat sebelum akhirnya kembali bertempur.
"Siapa sebenarnya raja itu?" tanya salah satu pendekar dari Benua Daratan Selatan tersebut.
"Dia memiliki kekuatan yang sama dengan kita, apa mungkin di juga berasal dari Benua Daratan Selatan?"
Kedua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan sama-sama yakin jika Tao Xi Lun pasti bukan berasal dari Benua Daratan Tengah, karena Tao Xi Lun mengetahui nama kelompok mereka yaitu Kelompok Sungai Darah.
"Hanya dia saja yang memiliki kekuatan yang sama dengan kita, sedangkan kita ada dua puluh, jadi cukup dua orang saja untuk melawannya, dan yang lainnya akan menyelesaikan sisanya dengan cepat," kata salah satu dari mereka yang terlihat lebih sepuh dari yang lainnya.
She Chin tersenyum sinis, dia juga tidak mengerti mengapa Tao Xi Lun menyembunyikan kekuatan besarnya, bukankah seharusnya dengan kekuatannya dia bisa saja menguasai semua kerajaan yang ada di Benua Daratan Tengah.
Namun She Chin sama sekali tidak mengerti kenapa dia tidak melakukannya dan bahkan berpura-pura seperti Raja Bodoh.
She Chin yakin jika Ke dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan pasti bisa mengalahkannya karena Raja Tao hanyalah seorang diri.
She Chin sudah membunuh banyak para pasukan dari lawannya, dan setiap orang yang ia serang pasti mati dengan kondisi tubuh menghitam.
Tidak satupun dari mereka semua yang bisa menandinginya, She Chin yang sudah berada di puncak Pertapa tidak terlalu banyak mengeluarkan energinya, karena menurutnya semua lawannya tidak lebih dari sekedar semut.
Walau sudah mengetahui jika kekuatan Raja Tao berada di tingkat yang sama dengan para pendekar dari Benua Daratan Selatan, namun dia tetap yakin jika kemenangan tetap berada di pihaknya.
Seluruh dunia mulai berguncang saat Tao Xi Lun menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya dan bertarung di langit melawan dua orang pendekar dari Benua Daratan Selatan.
She Chin kembali melanjutkan serangannya namun saat dia hendak mengayunkan gadahnya, tiba-tiba sebuah selendang berwarna biru muda menahan tangannya.
She Chin segera menoleh kearah pemilik selendang tersebut dan ternyata dia adalah murid nya yang selama ini dia tunggu-tunggu, dia tidak lain adalah Qie Yin.
"Owh lihatlah, tenyata anak murid ku sudah datang sendiri menemui ku, apakah kamu merindukan gurumu ini?" kata She Chin dengan tertawa.
"Kau benar sekali guru, aku datang menemui mu karena aku merindukan mu, aku sangat merindukan kematian mu di tanganku!" kata Qie Yin.
"Hahaha...! Apa kamu lupa siapa yang kamu hadapi sekarang? Sekarang kau tidak lebih dari sekedar semut bagiku!" kata She Chin.
"Tidak perlu banyak bicara She Chin, ayo kita buktikan siapa semut yang sesungguhnya!" kata Qie Yin dengan tatapan dinginnya.
She Chin langsung melepaskan semua energinya sehingga para pasukan yang berada dalam jarak 100 meter darinya terhempas begitu saja.
"Apakah hanya segitu saja kekuatan yang kamu banggakan itu? Ternyata kamu sendiri yang seperti semut bagiku!" kata Qie Yin kemudian dia menghilang dari hadapan She Chin.
She Chin terkejut karena Qie Yin bisa menghilang begitu saja dari hadapannya, saat dia menyadari jika Qie Yin berada di belakangnya, dia terlambat karena Qie Yin sudah melilit selendang nya ke tubuh She Chin dan dia membawanya melayang ke udara.
__ADS_1
She Chin melepaskan diri dari lilitan selendang Qie Yin dengan gadahnya yang memiliki hawa panas dan membakar selendang Qie Yin.
Mereka berdua kini melayang di udara dan saling berhadapan. Setelah mereka berdua berada cukup tinggi, barulah Qie Yin melepaskan kekuatannya.
Sama seperti Tao Xi Lun, saat Qie Yin melepaskan semua energinya, seluruh dunia berguncang dan kekuatan Qie Yin ternyata sudah melebihi kekuatan para Pertapa dan kekuatan nya sama besarnya dengan para pendekar dari Benua Daratan Selatan.
"Ba-bagaimana mungkin?" She Chin sulit untuk mengutarakan rasa keterkejutan nya setelah mengetahui jika Qie Yin memiliki kekuatan jauh lebih tinggi.
"Sekarang kamu sudah tahu siapa semut yang sesungguh nya! Sekarang saatnya bagimu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu kepada kedua orang tuaku She Chin..!" kata Qie Yin dengan amarah yang meluap-luap.
Debu mulai beterbangan kearahnya dan mengelilingi tubuhnya bagai sebuah perisai namun juga terlihat seperti sebuah senjata yang bisa mematikan.
Qie Yin mengarahkan jarinya ke arah She Chin dan debu mulai berkumpul di jari telunjuknya membetuk seperti ujung anak panah.
She Chin panik bukan main, dia menggunakan segenap kemampuannya untuk bisa menahan serangan Qie Yin yang akan datang.
"Debu Penghancur."
Qie Yin melepaskan panah debunya kearah She Chin, setelah itu debu tersebut berubah menjadi puluhan kemudian ratusan dan semakin menjadi banyak hingga mencapai ribuan.
She Chin benar-benar kesulitan untuk menahan serangan Qie Yin, dia tidak tahu bagaimana caranya Qie Yin bisa menguasai sihir debunya lebih jauh lagi.
She Chin berniat menahannya dengan kekuatan gadahnya, walau dia tidak yakin namun dia tetap akan berusaha semampunya agar tidak mati di tangan muridnya.
Ribuan anak panah debu sudah tidak mungkin bisa di hindari lagi dan sudah pasti akan mampu untuk melenyapkan She Chin.
Namun seorang pendekar wanita sepuh muncul di hadapan Qie Yin dan menahan ribuan anak panah tersebut.
Qie Yin terkejut akan kemunculan wanita sepuh tersebut, dia adalah salah satu dari dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan.
She Chin bernafas lega setelah mendapatkan pertolongan dari pendekar wanita tersebut kemudian dia segera menjauh dari Qie Yin.
"Hihihi...! Seharusnya kamu mencari lawan yang seimbang gadis kecil, aku tidak menduga jika di Benua Daratan Tengah ada dua orang yang memiliki kekuatan Suci, di tambah lagi kamu masih sangat muda!" kata pendekar wanita sepuh tersebut.
"Sebaiknya kamu menyingkir dan jangan ikut campur urusanku dengan nya!" kata Qie Yin menunjuk kearah She Chin.
"Hihihi..! Dia itu adalah bagian dari sekutuku, jadi apapun itu aku akan melindunginya!" kata wanita sepuh.
Tatapan Qie Yin semakin dingin, walau dia tahu jika kekuatan wanita tersebut sama dengan kekuatannya, namun dia sama sekali tidak merasa takut.
Qie Yin mempersiapkan debunya untuk menyerang, namun dua pendekar lagi datang dan melayang di samping pendekar wanita sepuh tersebut.
Sekarang Qie Yin harus melawan tiga pendekar yang memiliki kekuatan yang sama dengannya, "Jadi kalian mau main keroyokan? Tenyata kalian adalah para pendekar pengecut!" kata Qie Yin.
"Tidak ada kata pengecut atau apapun dalam pertarungan, bagi kami kemenangan yang utama apapun itu caranya!" kata salah satu pendekar yang memiliki aura kuat terpancar dari tubuhnya.
"Benarkah? Jika demikian bagaimana jika kalian semua melawanku?"
Tiba-tiba saja ada suara dari atas mereka, secara refleks mereka berempat menoleh keatas dan melihat sorang pemuda mengenakan baju biru tua sedang menatap mereka bertiga.
"Chinmi!" gumam Qie Yin saat mengetahui jika pemuda tersebut adalah Chinmi.
"Nona Qie Yin, maaf aku datang terlambat!" kata Chinmi dengan tersenyum lembut.
Qie Yin hanya bisa bengong, dia mengira jika Chinmi masih terpengaruh oleh Pintu Kematian nya, namun melihat senyum Chinmi yang lembut, itu artinya Chinmi sudah kembali seperti dulu, dan mungkin perasaanya semakin bertambah.
"Tidak, kamu tidak terlambat, lagi pula Pertempuran baru di mulai!" kata Qie Yin.
"Kalau begitu syukurlah, aku juga tidak datang sendirian, lihatlah itu aku membawa bala bantuan!" kata Chinmi.
Qie Yin segera menoleh kearah yang ditunjuk oleh Chinmi, dia melihat ada beberapa Naga berbeda jenis sedang menuju kearah pertempuran yang sedang terjadi.
Tidak sampai disitu saja, Qie Yin juga melihat tiga pendekar sepuh juga datang dari arah lain dan terbang menuju kearah pertempuran yang sedang berlangsung.
__ADS_1
Dari arah lain ada dua pendekar lagi yang satu wanita paruh baya, dan yang satu seorang gadis yang seumuran dengannya, namun kekuatannya berada di tingkat Pertapa juga.
"Sekarang selesaikan saja urusanmu, biar aku yang menghadapi mereka!" kata Chinmi sambil menatap kearah tiga pendekar yang juga sedang menatap dirinya.