PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Putra mahkota yang bodoh


__ADS_3

***


Lio Long tidak menduga jika yang akan dilakukan oleh Chinmi sebelum pergi adalah pergi ke Asosiasi Tujuh Bintang, Chinmi kesana untuk menjual Mustika Hewan Iblis yang ia dapatkan dari dua pertempuran.


"Kenapa kamu tidak menjual batu hitam itu?" tanya Lio Long sambil menunjuk satu Mustika berwarna hitam yang Chinmi genggam.


"Benda ini berbeda senior, ini akan saya gunakan sendiri jika dalam situasi terdesak saja," jawab Chinmi yang juga memperhatikan Mustika hitam tersebut.


"Jangan keseringan menyerap qi dari batu itu, aku merasa ada energi negatif dari yang terpancar dari batu itu."


"Saya sudah tahu itu senior, karena itu saya hanya menyimpan satu ini saja!"


Lio Long mengangguk dan berbalik menatap kearah para pekerja Asosiasi yang sibuk menghitung mustika abu-abu dan mustika merah yang jumlahnya mencapai ribuan.


"Tuan muda, total jumlah keseluruhan Mustika dari keduanya adalah Dua ratus tiga puluh tiga ribu empat ratus koin emas. Jumlah Mustika abu-abu sebanyak Tiga ribu empat ratus biji dikalikan 1 koin emas, dan mustika merah sebanyak Dua ribu tiga ratus biji dikalikan 100 koin emas, bagaimana?"


Seorang Wanita berusia 27 tahun memberikan laporan hasil dari penjualan mustika milik Chinmi sekaligus dengan harga nya.


Chinmi hanya mengangguk, dia tidak mau repot-repot menghitung ulang atau menghitung jumlah keseluruhan dari harga tersebut. Sekuat-kuatnya Chinmi dan sepintar apapun dia, namun ada beberapa yang ia tidak mampu untuk dipikirkan, apa lagi kalau bukan masalah penghitungan jumlah yang menurutnya selalu membuat kepalanya pusing jika harus hitung menghitung.


"Baiklah tuan muda kalau begitu silahkan tunggu sebentar, saya akan segera kembali kesini untuk membawa uangnya!" kata Wanita tersebut yang ternyata adalah Manager Asosiasi Tujuh Bintang yang berada di Kerajaan Api Timur.


"Baiklah, kami berdua akan menunggu di saja!" kata Chinmi menunjuk kearah luar ruangan.


"Tapi Tuan muda..!" wanita tersebut merasa berat hati ingin membiarkan Chinmi untuk menunggu di tempat penjualan barang-barang karena Chinmi adalah tamu istimewa.


"Nona, disini sangat pengap dan juga sempit karena mustika-mustika ini," Chinmi menunjuk kearah mustika yang hampir memenuhi ruangan manager yang besar dan lebar tersebut.


"Baiklah Tuan Muda, jika nanti semua uangnya sudah terkumpul, saya akan memanggil tuan muda kembali!" kata manager wanita tersebut.


Chinmi mengangguk dan kemudian dia keluar menuju ke tempat barang-barang yang dijual oleh asosiasi.


"Banyak sekali barang yang dijual disini," Lio Long memandangi barang-barang yang di jual dan tertata rapi di atas rak kayu.


"Pedang ini mirip seperti pedang pertamaku saat aku baru pertama kali berlatih dan memasuki dunia kultivator!" Lio Long mengambil pedang panjang dan mengayunkannya.

__ADS_1


"Kul.. Apa?" tanya Chinmi sambil memiringkan kepala.


"Kultivator, apa kamu tidak tahu itu?" Lio Long balik bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Chinmi.


"Melihat ilmu yang kamu kuasai, seharusnya kamu adalah seorang kultivator juga, jika kamu tidak disebut kultivator, lalu kalian disebut Apa?"


Chinmi berpikir sesaat sebelum akhirnya mengerti akan maksudnya, "Pendekar! Begitulah kami menyebutnya," jawab Chinmi.


Lio Long mengenal nafas panjang kemudian kembali berbicara dan menjelaskan kepada Chinmi akan apa itu kultivator dan juga pendekar.


"Pendekar itu tidak seperti itu, seorang pendekar dan kultivator itu sangatlah berbeda, seseorang yang di juluki Kultivator akan memiliki kekuatan diluar nalar manusia biasa, mereka akan dianggap sebagai dewa karena bisa memanggil hujan, angin. dan petir."


Lio Long duduk diatas kursi kayu panjang kemudian kembali berbicara, "Sedangkan seoerang pendekar itu berbeda, kekuatan mereka juga berbeda, namun mereka memiliki kelebihan lain, yaitu mengumpulkan tenaga dalam sebagai sumber energi kekuatan mereka, sedangkan Kultivator mengumpulkan qi sebagai sumber energi kekuatannya," kata Lio Long.


"Itu yang digunakan oleh para orang-orang disini dulu sebelum mereka menemukan cara menyerap qi dan mengubahnya menjadi energi kami!" kata Chinmi.


"Benarkah?" kini giliran Lio Long yang keheranan.


"Benar senior, saya pernah membaca di perpustakaan di Kerajaan Bumi Barat akan sejarah kami sebelum memiliki ilmu pengendalian elemen serta dapat mengendalikan berbagai macam elemen," kata Chinmi.


Arti dari perkataan Lio Long adalah semua orang harus memperlajari sesuatu dari tingkat Nol kemudian akan meningkat dan akan menemukan sesuatu yang baru, dan itu akan di temukan di setiap perjalanan waktu hingga akhirnya seseorang menemukan cara menggunakan sedikit dari kekuatan dewa.


"Jadi bagaimana caramu ber kultivasi?" tanya Lio Long.


"Maaf senior saya tidak paham!" ucap Chinmi.


"Maksudku bagaimana caramu meningkatkan kekuatanmu?"


Chinmi tersenyum malu saat mengetahui arti dari pertanyaan tersebut, "Berlatih dengan giat dan bermeditasi dengan cara menyerap qi agar kekuatan ku bertambah," jawab Chinmi dengan singkat.


Ketika mereka berdua masih asik berbincang akan dunia Kultivator, seorang pemuda berumur 22 tahun memasuki Asosiasi dengan pengawalan prjurit istana berseragam merah.


"Selamat datang pangeran!" kata pelayan penjaga pintu yang menyapa pemuda tersebut dengan penuh hormat.


"Kamu cantik sekali, siapa namamu sayang?" tanya pemuda yang di panggil pangeran tersebut dengan memegang dagu gadis pelayan penjaga meja kasir.

__ADS_1


Alis Chinmi mengerut saat mendengar sapaan dari pemuda yang di panggil pangeran tersebut yang tidak sopan sama sekali, bahkan gadis berumur 20 tahun yang menjaga meja kasir terlihat risih dan mundur beberap senti menghindari sentuhan pemuda tersebut.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka ku sentuh?" tanya Pangeran tersebut.


"Ti-tidak seperti itu pangeran Ming! Ha-hamba hanya!" gadis tersebut merasa takut dan gugup untuk menjawabnya.


"Pangeran Ming?" Chinmi kini mulai mengingat akan siapa pemuda tersebut yang tidak lain adalah Ming Zai.


"Baguslah! Kalau begitu biar aku menyentuh kulitmu yang indah itu," kata Ming Zai kemudian ingin menyentuh dagu gadis tersebut.


"Pangeran Ming, suatu kehormatan bagi kami kedatangan putra mahkota di toko kami!" tiba-tiba suara wanita terdengar dari arah lain.


Ming Zai mengurungkan niatnya untuk menyentuh dagu gadis tersebut, dia menoleh dan melihat seorang wanita berumur 27 tahun yang tidak lain adalah manager Asosiasi.


"Manager Mui, aku kesini hanya ingin melihat-lihat barang bagus, sekaligus para pekerja mu yang cantik-cantik ini," Ming Zai memberi kode agar pengawalnya datang membawakan kursi duduk untuknya dan kemudian dia duduk sambil menaikkan kaki kanannya dan meletakknya diatas paha kirinya.


"Pangeran bisa saja, kalau begitu silahkan pangeran pilih barang yang pangeran inginkan!" kata manager tersebut yang bernama Mui Yin Lie, namun biasa dipanggil Manager Mui.


"Barang disini semuanya bagus-bagus, namun aku mau gadis-gadis nya saja untuk menemaniku malam ini!" kata Ming Zai dengan nada angkuh dan sombong karena merasa paling berkuasa.


"Maaf pangeran, disini kami menjual barang dan kami bukan rumah Bordil yang menjual orang," Mui Yin Lie berusaha untuk menahan kesalnya.


"Apa kamu mau menentang permintaanku?" Ming Zai bangkit dari tempat duduknya dan berteriak lantang dengan nada marah.


Chinmi melihat itu tertawa kecil sehingga tawanya didengar oleh Ming Zai, "Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ming Zai kepada Chinmi dengan mata melotot.


"Ming Zai, aku tidak akan memanggilmu pangeran karena sifat mu tidak menunjukkan kewibawaanmu sebagai seorang pangeran!" kata Chinmi kemudian dia bangkit dari tempat duduknya sedangkan Lio Long seolah-olah tidak mendengarkan mereka dan masih asik melihat-lihat barang yang ada di atas rak.


"Kau! Beraninya kamu bicara begitu padaku, Apa kamu tahu siapa aku?"


"Iya, tentu saja aku tau, seorang putra mahkota yang bodoh, semua orang tahu jika disini hanya menjual barang-barang pusaka, jadi kenapa kamu malah minta orang untuk dibeli?" pertanyaan Chinmi terdengar mengejek.


"Terserah aku mau apa dan beli apa, siapa pun yang berani menghalangi keinginanku dan menghinaku, maka dia harus dihukum mati! Tangkap dia," seru Ming Zai.


"Kau terlalu sombong!" Chinmi juga kesal akan kesombongan Ming Zai sehingga berniat untuk memberinya pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2