PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pertanggung jawaban


__ADS_3

Kesepuluh perampok tersebut saling berpandangan sambil memutar-mutar tali mereka, "Kemana perginya mereka berdua?" tanya salah satu dari mereka.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita katakan kepada pangeran Ming nanti?" seru yang lain kemudian menghentikan putaran talinya.


"Mau bagaimana lagi, pangeran Ming pasti mengerti akan seberapa kuat dan hebat pendekar yang memiliki Pedang Naga Langit itu!" jawab yang lain.


"Aku tahu itu, tapi kita sama sekali tidak bertarung dengan mereka, apakah kita akan bilang kalau kita gagal dan mereka berhasil kabur tanpa bertarung sama sekali?"


"Tidak perlu, kita cukup bilang saja kalau kita kehilangan jejaknya!"


"Benar juga, kalau begitu mari kita kembali dan pergi melapor kepada pangeran Ming!"


Mereka bersepuluh pergi meninggalkan tempat itu, namun mereka tidak mengetahui jika sebenarnya Chinmi tidak kemana-mana, dia hanya berada dibalik tembok bersama Lio Long sambil menguping pembicaraan mereka semua.


"Ternyata mereka bukan para perampok yang sengaja dikirim oleh Pangeran sialan itu!" kata Chinmi.


Lio Long sudah mengatahui akan siapa yang menyuruh mereka, karena itu dia membawa Chinmi pergi dengan cara berpindah tempat, namun jaraknya pindahnya ternyata hanya beberapa meter saja dari lokasi mereka.


"Pangeran itu memang harus diberi pelajaran!" kata Chinmi kemudian menoleh kearah Lio Long.


"Senior, sebaiknya senior memindahkan ku ketempat pangeran itu berada!" kata Chinmi meminta Lio Long untuk memindahkan dirinya ketempat Pangeran Ming Zai berada.


"Sudah lupakan saja, sebaiknya kita sesegera mungkin pergi dari sini!" kata Lio Long.


"Tidak senior, jika dia tetap dibiarkan, maka dimasa depan dia akan semakin menjadi-jadi!" kata Chinmi.


"Baiklah terserah kamu saja, namun jika boleh aku mau memberikan rencana dan sebaiknya kamu mengikuti rencanaku saja!" kata Lio Long, Chinmi mengangguk dan akan mengikuti rencana Lio Long


***


"Ming Zai ini selalu saja bikin masalah dan bikin malu kerajaan saja!" gerutu Raja Ming.


Dia tidak menduga jika Ming Zai akan mempermalukan dirinya di hadapan rakyatnya sendiri, "Panggil Pangeran Ming Zai untuk datang kesini!" kata Raja Ming memerintahkan prajuritnya untuk memanggil Ming Zai.


Sekitar Empat orang prajurit pergi memanggil Ming Zai. Beberapa saat kemudian, para prajurit tersebut datang kembali menemui Raja Ming


"Maaf Yang Mulia, pangeran Ming tidak ada di tempatnya!" kata prajurit tersebut.


Raja Ming terkejut mendengarnya dan segera menoleh kearah Jendral Jin Hang, "Jendral, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membawa pangeran Ming Zai kembali kesini?"


Jendral Jin Hang segera maju dan berlutut dihadapan Raja Ming, "Hamba sudah melakukannya sesuai perintah Yang Mulia!" kata Jendral Jin Hang.


"Lalu sekarang dimana dia?"


"Hamba juga tidak tahu Yang Mulia, mungkin pangeran berada dikamar atau di tempat lain!" jawab Jin Hang.


"Cepat cari dan bawa dia ke hadapanku sekarang!" kata Raja memerah karena naik darah.


Jendral Jin Hang ingin segera pergi untuk melaksanakan perintah Raja Ming mencari Ming Zai. Namun belum sempat ia beranjak, Ming Zai datang lebih dulu kesana.


"Ayah tidak perlu repot-repot menyuruh orang untuk mencariku," kata Ming Zai yang baru tiba.


"Dari mana saja kamu pangeran Ming Zai?" tanya Raja Ming.

__ADS_1


"Owh, sekarang ayah mau perhatian padaku? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin ayah menunjukkan perhatian ayah padaku!" kata Ming Zai.


Semua yang ada di tempat tersebut hanya menunduk, tidak ada yang berani memotong pembicaraan antara ayah dan anak tersebut.


"Hentikan ocehan mu Ming Zai, kamu sudah melewati batas kesabaran ku!" kata Raja Ming.


"Ayah ingat, ayah selalu saja sibuk dengan urusan kerajaan, namun apakah ayah memiliki kesempatan untuk menemaniku? Jadi jangan salahkan aku jika aku seperti ini!" kata Ming Zai.


Raja Ming ingin bangkit dari tempat duduknya, walau dia tahu jika dia memang tidak pernah memberikan kasih sayang yang tepat kepada anaknya semenjak Ming Zai baru dilahirkan.


Raja Ming Shan hanya memberikan perhatian dengan cara memberi uang kebutuhan Ming Zai, jika bertemu hanya berbicara sebentar dan kemudian Ming Shan kembali mengurus Kerajaannya.


Hal ini yang membuat Ming Zai kurang perhatian dan kasih sayang menyeluruh dari ayahnya, hal yang membuat Ming Zai memilih cara hidupnya sendiri dengan menghambur-hamburkan uang dan memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk kepentingan dan kepuasan dirinya sendiri.


"Maaf ayah jika selama ini aku menyusahkan mu, aku tahu perbuatan ku salah, namun aku melakukan semua itu agar bisa mendapatkan perhatian darimu!" kata Ming Zai.


"Kamu melakukan itu demi mendapatkan perhatian ayahmu? Lalu bagaimana dengan para perampok yang kamu kirim untuk merebut pedang dariku Ming Zai? Mau mencari perhatian siapa sekarang?"


Tiba-tiba saja Chinmi dan Lio Long muncul dari arah pintu dengan membawa satu orang dengan tubuh terikat tali.


"Kau, bagaimana kamu bisa berada disini? Pengawal tangkap mereka berdua!" kata Ming Zai.


"Hanya pengawal mu saja tidak akan cukup untuk menangkapku," kata Chinmi kemudian menatap para prajurit yang berniat menuju kearahnya.


Prajurit tersebut tidak bergerak sama sekali, kakinya bergetar dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Bukan Chinmi yang melakukan itu, melainkan Lio Long yang menekan para prajurit yang ingin menangkap Chinmi serta dirinya.


"Maaf Yang Mulia, kedatangan hamba kesini hanya ingin meminta pertanggung jawaban atas perbuatan pangeran Ming Zai yang telah menyuruh sepuluh orang perampok untuk mengambil pedang Naga Langit," kata Chinmi kepada Raja Ming yang masih tertegun melihat tubuh beberapa prajurit yang gemetar.


Ming Shan menoleh kearah Ming Zai kemudian bertanya kepadanya, "Apa yang dikatakannya benar Ming Zai?" tanya Raja Ming.


"Jawab saja, benar atau Tidak?" tanya lagi Raja Ming dengan tegas.


"Bagaimana kau mau bilang iya jika tidak ada bukti atau salah, jika hanya membawa orang kesini dalam kondisi diikat seperti itu tidak akan cukup sebagai saksi jika aku yang menyuruh nya."


Chinmi menaikan alis ketika Ming Zai berkata seperti itu, "Apa kamu berusaha untuk mengelak?" tanya Chinmi.


"Hahaha...! Kamu pikir aku ini bodoh, bisa saja kamu menyewa orang untuk berpura-pura agar bisa menjatuhkan ku di hadapan Raja dan juga semua orang disini bukan?" kata Ming Zai dengan senyum sinis.


"Kamu benar Ming Zai, satu orang saja tidak akan cukup untuk membuktikan jika kamu bersalah, bahkan dengan membawa kesepuluh orang pun juga tidak bisa membuat dirimu terbukti bersalah," kata Chinmi kemudian berjalan kearah orang tersebut dan mengambil sesuatu dari balik baju orang tersebut.


"Sekarang bagaimana dengan ini, bukankah hanya kamu yang memiliki benda ini?" tanya Chinmi kemudian melempar sebuah kantong kecil yang berisi koin emas.


Katong kecil tersebut berwarna merah dengan lambang kerajaan Api Timur di tengahnya, dan ada tulisan nama Ming Zai di sampingnya dengan tinta yang juga berwarna emas dan disertai tanda Stempel Kerajaan.


Ming Zai kesulitan untuk menjawab semua itu, dia berusaha agar bisa mencari cara untuk membela diri di hadapan ayahnya.


"Bagaimana sekarang, apakah kamu masih tidak mau mengakuinya?" tanya Chinmi.


"Tidak! Eh maksudku iya kantong itu memang punyaku, namun aku kehilangan kantong itu sejak tiga hari yang lalu!" kata Ming Zai.


Raja Ming hanya bisa mendengarkan pembelaan Ming Zai dan tuduhan Chinmi tanpa berbuat apa-apa karena dia masih menunggu mereka berdua menyelesaikan debat mereka terlebih dahulu.


"Owh, kamu kehilangan kantong itu sudah tiga hari ya! Kalau begitu seharunya kamu memilik kantong lain kan?" tanya lagi Chinmi.

__ADS_1


"Tidak, Aku hanya punya satu saja!" jawab Ming Zai


Chinmi tersenyum lebar mendengarnya kemudian dia menatap para prajurit dan mencari prajurit yang tadi sempat mengawal Ming Zai.


"Kamu kemarilah!" kata Chinmi.


Prajurit tesebut segera menghampiri Chinmi dengan perasaan gugup serta takut, "A-ada apa Tu-Tuan muda?" tanya prajurit tersebut dengan suara takut.


"Bukankah kamu tadi ikut mengawal Ming Zai Bukan?" tanya Chinmi yang di jawab dengan anggukan oleh prajurit tersebut.


"Kalau begitu katakan, kapan terakhir kali kamu melihat kantong uang ini?" tanya Chinmi.


Prajurit tersebut hanya diam, seluruh tubuhnya gemetar karena takut untuk menjawab. Prajurit tersebut menoleh kearah Ming Zai yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan tajam membuat dirinya semakin ketakutan dan tertekan harus menjawab apa.


"Katakanlah prjurit, aku sebagai Raja mu akan menjamin keselematan mu jika kamu mau berkata jujur. Namun jika kamu berkata bohong, maka hukumannya adalah mati!" kata Raja Ming.


Mendengar hal itu prajurit tersebut merasa sangat ketakutan. Mungkin benar Raja Ming akan menjamin keselamatannya, namun tidak dengan putra nya yang sangat kejam.


Prajurit tersebut yakin jika suatu saat dia pergi menemani Pangeran Ming Zai, dia pasti akan dibunuh diluar kerajaan.


Namun yang dipikirkan oleh sang prajurit diketahui oleh Lio Long dan menyampaikan kepada Chinmi melewati pikirannya akan kenapa prajurit tersebut tidak mau menjawab.


"Prajurit, tugasmu adalah menuruti perintah Raja, jika kamu takut untuk mengatakan hal yang menurutmu benar, maka kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang karena dihantui rasa kebohonganmu sendiri."


Chinmi berjalan mendekati prajurit tersebut dan menepuk pundaknya pelan sambil berbicara, " Aku Li Chinmi, jika kamu berkata jujur, maka aku akan menjamin keselamatan mu dan juga seluruh keluargamu," kata Chinmi sehingga membuat Ming Zai tertawa keras.


"Hahaha...! Bagaimana caramu melindunginya? Kamu bukan rakyat kerajaan ku, dan jika kamu sudah keluar dari wilayah Kerajaanku, apa kamu masih bisa melindunginya saat aku akan membunuhnya?"


Senyum Chinmi melebar mendengar perkataan Ming Zai kemudian menatap Ming Zai dengan tatapan dingin.


"Berarti kamu memang benar ingin membunuhnya jika dia berkata jujur?" tanya Chinmi sehingga membuat Ming Zai terkejut dan sadar jika sudah salah bicara.


"Aku..! Tidak aku hanya..!" Ming Zai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Chinmi.


"Yang Mulia sudah dengar sendiri bukan? Sekarang sudah jelas jika putra mahkota kerajaan Api Timur ingin mengambil barang yang bukan miliknya dengan cara menyewa para perampok ini! Sekarang Yang Mulia silahkan memutuskan akan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Raja, tegakkan keadilan tanpa harus memandang reputasi dan juga kekeluargaan."


Ucapan Chinmi membuat suasana menjadi riuh karena mereka saling berbicara dan berdebat sendiri-sendiri.


Sebenarnya Chinmi juga tidak mungkin bisa melindungi prajurit tersebut nantinya, namun dia melakukan hal itu agar Ming Zai mau buka suara. Walau tidak mengakuinya, namun dari perkataan Ming Zai saja sudah jelas jika Ming Zai berencana mencelakai prajurit tersebut jika dia berkata yang sebenarnya, dan itu menunjukkan jika Ming Zai memang bersalah.


"Semuanya mohon untuk tetap tenang!" kata Raja Ming berusaha membuat suasana kembali tenang.


semuanya terdiam membuat suasana hening cukup lama. Raja Ming menatap Ming Zai dengan tatapan tidak percaya jika putranya melakukan hal yang mempermalukan seperti itu.


"Zai'er, Ayah akui jika Ayah kurang memberikan kasih sayang dan perhatian kepadamu, namun Ayah tidak menduga jika kamu bisa melakukan hal kotor seperti ini!" kata Raja Ming yang terdengar sangat kecewa terhadap putranya.


"Ayah jangan mendengarkan dia! Aku ini putramu, percayalah padaku!"


"Zai'er, kamu sudah mempermalukan keluarga kita, maafkan aku. Sebagai Raja aku tetap akan memberikan hukuman padamu, walau kamu adalah putra ku, putra seorang Raja! Prajurit, bawa Pangeran Ming Zai ketahanan, dia akan di tahan sesuai peraturan kerajaan kita!" kata Raja Ming sambil memalingkan wajahnya karena tidak tega untuk melihat putranya akan diseret ke penjara.


"Tidak Ayah!" kata Ming Zai kemudian menoleh kearah Chinmi.


"Ini semua karena dirimu, kau harus mati sekarang!" kata Ming Zai kemudian tubuhnya mengeluarkan Api yang sangat panas.

__ADS_1


"Pangeran jangan lakukan itu!" Jendral Jin Hang terkejut karena Ming Zai tiba-tiba menutupi tubuhnya dengan energi Api.


"Sihir Api Tubuh Iblis Neraka."


__ADS_2