PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
malam yang panjang


__ADS_3

"Guru, Chinmi makan malam sudah siap, mari kita makan malam bersama!"


Saat hari sudah mulai gelap, Bing Mei sudah mempersiapkan makan malam untuk mereka bertiga.


Sudah lama Chinmi tidak pernah makan bersama seperti ini sejak terakhir kalinya dirinya makan bersama di Dunia ciptaan Lio Long, hal itu membuat dirinya teringat ketika makan bertiga di bawah pohon bersama Lio Long dan juga Qie Yin.


Chinmi tersenyum tipis saat mengingat hal itu, secara perlahan perasaan akan kehilangan seseorang mulai mengisi hatinya.


"Guru! Guru belum memberitahuku sejak tadi!" ucap Bing Mei membuat Xie Wen keheranan.


"Memberi tahu soal apa?" tanya balik Xie Wen.


"Bukankah guru pergi menemui guru yang lain, apakah guru mendapatkan informasi yang berhubungan dengan ramalan guru?"


"Benar juga, aku sampai lupa untuk memberitahukan mu, ini adalah pesan dari nenek mu!" kata Xie Wen sehingga membuat Bing Mei terlihat bersemangat saat dia mendengar Xie Wen menyebut nenek nya.


"Bing'er, untuk beberapa hari ke depan, kamu jangan dulu kembali ke sekte mu!" kata Xie Wen.


"Ada apa guru, apa semua baik-baik saja?" tanya Bing Mei.


Xie Wen menggelengkan kepala kemudian dia menjawab pertanyaan Bing Mei, "Tidak, situasi saat ini tidak dalam baik-baik saja!" kata Xie Wen.


Bing Mei sangat penasaran sampai-sampai dia berhenti makan, sedangkan Chinmi hanya mendengarkan sambil menikmati makan malam nya yang menurutnya masakan Bing Mei sangat lezat walau sederhana.


"Dalam waktu dekat ini seluruh kerajaan akan mengalami gejolak besar, akan ada peperangan yang akan melibat keempat kerajaan dan pusat pertempurannya di kerajaan Bumi Barat!"


Seketika itu juga Chinmi berhenti mengunyah makanannya saat mendengar hal itu, dia menatap Xie Wen dengan tatapan serius.


"Senior, apakah Kerajaan Bumi Barat akan di serang?" tanya Chinmi.


"Benar sekali, Kerajaan Bumi Barat memang akan diserang oleh gabungan sekte besar aliran hitam, mereka juga mendapatkan bantuan dari Kerajaan Angin Selatan, sedangkan Kerajaan Bumi Barat mendapatkan dukungan dari sekte besar aliran Putih dan mereka juga meminta bantuan dari Kerajaan Es Utara dan Api Timur!" kata Xie Wen.


Xie Wen memperdeksi jika Kerajaan Bumi Barat mendapatkan bantuan dari kedua Kerajaan besar dan gabungan dari sekte besar aliran Putih, maka kekuatan mereka akan berkali-kali lipat, dan sudah jelas kemenangan akan berpihak kepada Kerajaan Bumi Barat.


"Tidak sesederhana itu Senior!" kata Chinmi.


"Apa kamu juga mengetahui sesuatu?" Xie Wen bertanya sambil mengangkat alisnya.


"Senior, tidak semua mau memberikan bantuan, walau kedua kerajaan besar mau membantu, mereka tidak mungkin mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk membantu Kerajaan lain, seumpama mereka memiliki pasukan seratus prajurit, maka yang akan mereka kirim kemungkian hanya sepuluh saja."


Xie Wen terdiam memikirkan perkataan Chinmi, menurutnya mungkin saja yang dikatakan oleh Chinmi itu ada benarnya.


Mana mungkin kedua Kerajaan akan memberikan bantuan penuh untuk kerajaan lain, jelas mereka akan memikirkan masa depan kerajaan mereka sendiri.


"Senior, apakah senior tahu kapan peperangan akan terjadi?" tanya Chinmi.


"Aku tidak tahu, namun menurut informasi dari yang ku dengar, mungkin tidak lama lagi!" jawab Xie Wen.

__ADS_1


"Jika senior pergi ke kerajaan Bumi Barat dari sini, butuh waktu berapa lama untuk bisa tiba disana dengan kecepatan yang senior miliki?"


"Jika ke kerajaan Es Utara akan butuh dua hari, dan jika ke kerajaan Bumi Barat paling cepat tiga atau empat hari," jawab Xie Wen.


"Baiklah besok pagi aku akan segera pergi ke kerajaan Bumi Barat untuk membantu dan menolong keluargaku, apakah senior dan yang lainnya mau membantu juga?"


Xie Wen menatap Chinmi dengan heran karena pertanyaannya, "Chinmi, ini urusan politik dan masalah dunia, mana mungkin kami mau ikut campur dan membela salah satu dari mereka?' kata Xie Wen.


"Senior benar, namun ini bukan masalah siapa membantu siapa! Namun ini demi kedamaian dunia. Jika senior ragu untuk memilih siapa yang senior mau bantu, maka ikutilah apa yang senior anggap benar, karena hanya kebenaran yang bisa menciptakan kedamaian di dunia ini," kata Chinmi.


Xie Wen hanya menatap Chinmi dengan tatapan dingin, dia sedikit tidak terima karena mendapatkan teguran, ceramah, dan pencerahan dari seorang anak baru yang bahkan umurnya jauh lebih muda di bandingkan dengan umurnya.


"Apakah kamu pikir aku tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar?" tanya Xie Wen dengan tatapan tajam.


"Senior, aku tahu senior dan yang lainya sudah menjalani hidup lebih lama dari pada aku, namun aku hanya mengatakan akan apa yang menurutku benar, dan jika senior merasa tersinggung atas perkataan ku, maka aku minta maaf!" kata Chinmi.


Bing Mei merasa takjub karena pemikiran Chinmi sungguh sangat bijak sana, dia bisa berpikir sejauh itu di usianya yang masih muda, bahkan dari segi pengalaman saja, Xie Wen jelas lebih berpengalaman.


"Chinmi, aku akan ikut denganmu, aku akan ikut berperang dan akan membela apa yang aku anggap pantas untuk di bantu!" kata Bing Mei.


"Bing'er apa yang kamu katakan? Kita ini adalah para Pertapa, mana mungkin bisa kita ikut campur masalah ini?" Xie Wen jelas terkejut akan keputusan Xie Wen.


"Guru, bukankah kita sebagai Pertapa harus bisa melindungi dunia dari ketidak seimbangan, kali ini akan ada pertempuran besar antara dua kubu aliran yang berlawanan, jika di biarkan akan ada banyak kehancuran dan korban jiwa akan berjatuhan, bahkan rakyat yang tidak bersalah pasti terkena imbasnya, lalu dunia seperti apa yang kita akan jaga?"


Kali ini Xie Wen terdiam, dia tidak bisa menjawab perkataan Bing Mei karena perkataan Bing Mei memang sangat tepat.


Bing Mei merasa kecewa, dia memang ingin ikut karena dia yakin jika sekte Pulau Es pasti akan ada di pertempuran tersebut.


Setelah selesai makan, Xie Wen pergi untuk meditasi, namun sebenarnya dia memikirkan akan apa yang Chinmi dan Bing Mei katakan.


Chinmi sendiri duduk sendiri di pinggir sebuah tebing dan kemudian membaringkan badan di atas rumput halus dengan merasakan hembusan angin yang menerpanya, dia menatap langit malam yang cerah dan di penuhi banyak binatang yang kemerlapan dan tak terhitung jumlahnya.


Yang terlintas dipikiran Chinmi saat ini hanyalah keluarganya yang ada di kerajaan Bumi Barat, perasaan cemas mulai mengisi hatinya.


Sudah beberapa kali perasaan yang menghilang mulai kembali, dan yang terkuat saat ini adalah perasaan khawatir kepada semua keluarganya.


"Chinmi, kenapa kamu berada disini sendirian?" Bing Mei datang menghampiri Chinmi yang sedang berbaring sendirian.


Chinmi segera duduk dan melihat kearah Bing Mei, "Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan akan rencana besok!" jawab Chinmi.


Bing Mei ikut duduk di samping Chinmi, dia menatap kearah lautan yang gelap, dan sesekali melirik ke arah Chinmi.


"Chinmi, jika sampai perang benar-benar terjadi, apakah kamu akan ikut dalam pertempuran tersebut?" tanya Bing Mei.


Chinmi merasa aneh dengan pertanyaan Bing Mei dia tidak tahu jika Bing Mei hanya memulai awal pembicaraannya dari pada diam tanpa berkata apapun.


"Pertanyaanmu aneh, tentu saja aku akan ikut membantu, dan yang pasti aku akan membantu kerajaan ku dan juga gabungan sekte aliran putih," kata Chinmi.

__ADS_1


"Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan, namun aku tidak tahu apakah guru mengijinkan ku atau tidak?" kata Bing Mei.


"Nona Bing, sudah aku katakan, sebaiknya kamu menuruti apa yang gurumu katakan!" kata Chinmi.


Bing Mei hanya mengangguk dengan perasaan kecewa, walau begitu dia tidak mungkin membantah gurunya sendiri.


Bing Mei kembali melirik Chinmi kemudian dia bertanya sesuatu padanya, "Apakah setelah peperangan berakhir kamu akan pergi lagi?"


Chinmi menatap Bing Mei, dia bingung karena Bing Mei selalu banyak bertanya, padahal yang ia tahu dulu, Bing Mei tidak pernah banyak bicara seperti ini, bahkan bertanya pun jarang.


"Nona Bing, apakah kamu baik-baik saja?" Chinmi justru balik bertanya.


"Aku? Iya aku baik-baik saja!" jawab Bing Mei.


Bing Mei sendiri juga tidak mengerti, dia seperti kehilangan atas kendali dirinya sendiri saat berada di samping Chinmi, dia tidak tahu kenapa, padahal dulu saat pertama dan kedua kalinya bertemu dengan Chinmi, dia tidak pernah merasakan seperti perasaan seperti saat ini.


"Nona Bing..!"


"Sampai kapan kamu akan memanggilku Nona?"


Chinmi ingin mengatakan sesuatu namun Bing Mei lebih dulu memotong perkataan Chinmi.


"Memangnya kamu mau aku memanggil mu apa?" tanya Chinmi.


"Panggil saja namaku, atau panggilan yang lain!" kata Bing Mei.


Chinmi memiringkan kepalanya dia berpikir apakah dia harus memanggilnya dengan namanya saja, walau terdengar tidak sopan, namun itu adalah permintaan Bing Mei sendiri.


"Baiklah Nona..! Eh maksudku Bing Mei!" kata Chinmi.


"Dengan begini kita bisa lebih akrab dan bisa menjadi teman tanpa rasa canggung bukan?" kata Bing Mei.


"Ini memang aneh tapi sepertinya itu benar!" jawab Chinmi.


Mereka berdua duduk di sana menikmati pemandangan bintang malam yang gemerlapan, mereka menikmati malam yang panjang hanya dengan saling bercerita dan tertawa riang sebagai teman akrab, dan itu adalah perasaan pertama Chinmi yang bangkit sejak perasannya menghilang.


Tanpa terasa cahaya senja terlihat saat mereka berdua masih sama-sama berbaring di atas rumput halus, Chinmi tidak tertidur, namun Bing Mei sudah terlelap saat sudah hampir pagi.


Chinmi bangkit dan menatap kebawah tebing, dia bisa merasakan jika dari bawah tebing ada pancaran qi yang sangat banyak.


"Mungkin karena qi itu Bing Mei bisa menjadi seorang Pertapa!" gumam Chinmi.


Qi yang ia rasakan adalah qi yang berada di dalam goa, walau Xie Wen sudah memasang penghalang agar qi tersebut tidak merembes keluar, namun itu tidak berpengaruh kepada Chinmi.


"Aku penasaran seperti apa tempat Senior Wu Tong dan Senior Tian Xiang!" batin Chinmi.


Dia tahu seperti apa tempat rahasia Fan Yuzhen, dan sekarang tempat Xie Wen. Chinmi yakin jika tempat Wu Tong dan Tian Xiang pasti tidak ada bedanya.

__ADS_1


__ADS_2