PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Bantuan Feng Ying


__ADS_3

Merasa tidak nyaman karena di awasi terus-menerus oleh pria asing tersebut, Feng Ying langsung bangkit dan menghampirinya.


"Tuan maaf sebelumnya, kami ingin menikmati makanan kami dengan tenang, jadi tolong berhenti mengawasi kami!" kata Feng Ying.


"Hai orang tua, kamu pikir aku mengawasimu? Aku tidak sedang mengawasi kakek jompo sepertimu, menyingkir lah dari hadapanku! Kau menghalangi pandanganku saja!" kata pria tersebut dengan mengibaskan tangannya.


"Kau masih muda namun sepertinya kamu tidak tahu bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua!" kata Feng Ying kemudian dia berniat kembali ketempat Hanzi berada.


"Apa katamu? Kamu ingin tahu bagaimana caraku menghormati orang tua sepertimu?" kata pria tersebut dengan memukul meja hingga hancur berkeping-keping.


Feng Ying hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian dia berjalan kembali ke arah kursinya dan mengabaikan pria tersebut.


Pria tersebut merasa kesal karena Feng Ying terkesan meremehkannya, dia segara mengambil satu mangkok dan kemudian dengan cepat melempar mangkok tersebut tepat kearah kepala Feng Ying.


Mungkin bagi pendekar biasa, kecepatan mangkok tersebut hanya lemparan biasa yang memiliki kecepatan dan energi biasa, namun lemparan pria tersebut mengandung energi yang besar membuat sesuatu yang dilewati oleh mangkok tersebut akan terhempas.


Keempat Jendral melihat itu ingin bangkit menolong Feng Ying, namun belum sempat mereka bangkit, Feng Ying sudah lebih dulu menangkap mangkok tersebut.


Sebuah dorongan energi yang begitu kuat menyebar dan membuat meja-meja berserakan setelah Feng Ying menahan mangkok tersebut.


Semua pelanggan yang berada di sana segera keluar karena takut dan hanya menyisakan Keempat Jenderal Feng Ying dan Hanzi, dan tentu saja Pria yang menyerang Feng Ying.


Pria tersebut terkejut ketika Feng Ying dengan mudahnya menangkap mangkok kecil yang ia lempar, dia yakin tidak akan ada satupun pendekar di Benua Daratan Tengah yang mampu menangkap mangkok yang ia lempar, bahkan seorang pertapa sekalipun akan mengalami cidera di tangan nya jika tetap menahan mangkok yang ia lempar.


"Siapa kamu sebenarnya orang tua?" tanya pria tersebut dengan penasaran.


"Aku hanya orang tua yang kebetulan merasa lapar, namun merasa terganggu dengan tatapan mu tadi!" kata Feng Ying.


"Apa kamu bisa mengurusnya sendiri!" Hanzi bersuara sekaligus menyantap makan di hadapannya.


"Senior, apa maksud pertanyaanmu?" tanya Feng Ying dengan heran.


Hanzi menyelesaikan kunyahannya kemudian dia menjawabnya dengan santai, "Aku hanya bertanya saja!" jawabnya dengan tenang.


"Orang tua sialan, berani-beraninya kamu mengalihkan perhatianmu saat berhadapan dengan ku," seru pria tersebut kemudian dia melesat dan mengarahkan pukulan kearah Feng Ying.


Feng Ying hanya menghela nafas kemudian dia menatap keseluruh ruangan rumah makan tersebut, "Aku tidak memiliki uang untuk mengganti rugi rumah makan ini jika sampai rumah makan ini harus hancur!" kata Feng Ying.


Pukulan pria tersebut hampir mengenai wajah Feng Ying, namun Feng Ying menghindarinya dengan sangat mudah dan kemudian menangkap pergelangan tangan pria tersebut.


"Mari kita lanjutkan di luar!" kata Feng Ying kemudian dia membawa pria tersebut menghilang dari pandangan semua orang.


Keempat Jendral langsung bangkit karena terkejut setelah melihat Feng Ying menghilang bersama pendekar yang mereka ketahui berasal dari Benua Daratan Selatan.


"Kemana perginya mereka berdua?" tanya Tio Li.


Hanzi masih terlihat santai-santai saja mengunyah makanan dihadapannya membuat keempat Jendral sangat keheranan.


Xie Ying ingin sekali bertanya, namun dia tidak berani sehingga hanya bisa menahan rasa penasarannya, namun setelah beberapa saat kemudian, suara getaran pertarungan mulia terdengar dari luar wilayah desa yang mereka singgahi.


"Mereka berada diluar!" seru Lu Xinxi.


"Kalian tenang saja, mari duduk bersamaku disini! Aku ingin menanyakan sesuatu kepada kalian," kata Hanzi.


Mereka berempat saling berpandangan karena tidak mengerti sama sekali, mereka tidak habis pikir kenapa Hanzi terlihat tenang-tenang saja walau rekannya sudah menghilang dan bertarung di luar dengan salah satu pendekar yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh para pertapa sekalipun.


Walau merasa bingung, mereka berempat tetap menurut dan duduk bersama Hanzi, sedangkan Hanzi menggunakan kesempatan tersebut untuk mengetahui akan apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa Pria yang sedang bertarung dengan Feng Ying.


***


Pendekar dari Benua Daratan Selatan terkejut ketika sadar jika dirinya sudah berada di sebuah bukit gersang tanpa ada satu pohon yang hidup.


Pendekar tersebut berniat melepaskan tangannya dari genggaman Feng Ying, namun Feng Ying justru menariknya dan memukul kepala pendekar tersebut dengan keras.


Pendekar tersebut langsung tersungkur dan mencium tanah sekaligus tanah tempat jatuhnya wajahnya langsung membentuk lubang kecil.

__ADS_1


Pendekar tersebut segera bangkit dan mundur menjaga jarak dari Feng Ying dan tangannya memegang wajah serta kepalanya yang terasa sakit.


"Kamu pasti bukan berasal dari Benua ini,siapa kamu sebenarnya dan dari mana asalmu?" tanya Pendekar tersebut dengan menahan rasa sakitnya.


"Aku sudah mengatakan nya tadi padamu bukan? Kenapa aku harus menjawab lagi?" kata Feng Ying.


"Kau..! Baiklah kau yang memaksaku orang tua, kau akan tahu seberapa kuat aku ini!" kata Pendekar tersebut kemudian dia melepaskan energinya yang berada di tingkat Raja Bumi, atau mereka menyebutnya tingkat Suci.


Seluruh bukit bergetar hebat dan bebatuan kecil secara perlahan-lahan mulai melayang ketika Pendekar tersebut melepaskan energinya.


Getarannya semakin lama semakin besar hingga terasa ketempat Hanzi dan keempat Jendral berada.


"Kau akan menyesali perbuatan mu orang tua, setelah ini kau akan tahu siapa seberapa kuat diriku ini!" seru pendekar tersebut kemudian dia mengeluarkan sebuah senjata seperti pedang namun bentuknya lebih kecil dan tipis.


"Rasakan ini..! Jurus Pedang Kematian."


Pendekar tersebut melesat dengan sangat cepat dan menebas kearah Feng Ying dengan seluruh energinya.


Ketika tebasan pedangnya hampir sampai ke tubuh Feng Ying, Pendekar tersebut terkejut kerena tebasannya ternyata menembus tubuh Feng Ying.


Tebasan pedang yang tidak mengenai tubuh Feng Ying justru mengenai sebuah batu hingga batu tersebut hancur berkeping-keping.


Feng Ying tenyata tidak ada di sana, dan yah ada hanyalah bayangannya saja yang mulai menghilang.


"Apa ini, apakah ini bayangan, atau ilusi?" batin pendekar tersebut kemudian dia melihat Feng Ying sedang berdiri di atas batu yang lain.


"Apakah sudah kamu selesai main-mainnya?" tanya Feng Ying dengan tenang.


"Selesai kepalamu!" gerutu pendekar tersebut kemudian dia kembali menyerang Feng Ying dengan jurus yang sama.


"Jurus Tapak Matahari-Cahaya Suci."


Feng Ying mengarahkan telapak tangannya kemudian cahaya menyilaukan muncul dari telapak tangan tersebut.


Mata Pendekar tersebut merasa silau saat melihat cahaya yang begitu terang dan pendekar tersebut langsung menghentikan serangannya dan menutup matanya.


Feng Ying bukan berniat menyerangnya, namun hanya berniat menghentikan serangannya saja, dan alhasil sesederhana tersebut sangat berhasil.


Pendekar tersebut membuka matanya dan ternyata pandangannya sangat buram dan dia tidak bisa melihat dengan jelas.


"Mataku..! Kenapa dengan mataku, apa yang terjadi?" Pendekar tersebut mengusap-usap matanya berkali-kali, walau tidak buta, namun pandangannya sangat buram, bahkan dia melihat Feng Ying seperti melihat bayang-bayang saja.


"Apa yang kamu lakukan pada mataku?" tanya Pendekar tersebut, namun pandangannya masih sangat buram.


"Aku tidak melakukan apa-apa, sekarang kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan kondisimu itu, jadi ingatlah jika berbicara dengan orang yang lebih tua harus lebih sopan!" kata Feng Ying.


"Bangsat, akan ku bunuh kamu kakek tua...!" seru pendekar tersebut kemudian dia melepaskan tebasan yang mengandung energi yang sangat besar.


Pendekar tersebut menyerang dengan menggunakan instingnya saja, karena dia tidak bisa melihat dengan jelas dimana posisi Feng Ying.


Setiap tebasan yang ia lepaskan mampu memotong batu menjadi dua, bahkan batu yang terbesar sekalipun langsung terbelah dan jatuh menggelinding kebawah bukit.


"Percuma saja, dengan kondisi mu itu tidak akan bisa melukai ku, jadi kita sudahi saja pertarungan bodoh ini!" kata Feng Ying.


Pendekar tersebut semakin gila setelah mendengar perkataan Feng Ying yang seolah-olah meremehkannya.


"Kau belum tahu siapa aku! Aku adalah pendekar Pedang lentur, salah satu pendekar terkuat dari kelompok Sungai Darah, kau akan segera menyesal karena berani menghina ku!" kata Pendekar tersebut yang masih berusaha menyerang kearah Feng Ying, namun sebenarnya yang ia serang hanyalah bayangan Feng Ying.


Pendekar tersebut jelas tidak tahu karena pandangannya yang sangat buram sehingga mengira yang ia serang adalah Feng Ying.


"Kamu ini masih belum sadar juga? Baiklah jika itu mau mu!" kata Feng Ying kemudian dia menahan Pedang Pendekar tersebut dengan tangan kosong saja.


Pendekar tersebut berusaha menarik pedangnya, namun tidak berhasil. Dia justru merasakan hawa panas dari pedangnya sebelum dia sadar jika pedangnya ternyata sudah tinggal gagangnya saja.


Pendekar tersebut meraba pedangnya karena merasa ringan saat dia ayunkan, "Kemana pedang ku?" tanya pendekar tersebut dan dia mulai merasa panik.

__ADS_1


Pendekar tersebut masih belum menyadari jika sebenarnya kekuatan Feng Ying jauh lebih kuat dari pada dirinya, itu karena Feng Ying tidak melepaskan semua energinya.


"Seharusnya kamu menyadari kesalahanmu, namun bukannya menyadari kamu justru semakin bodoh!" kata Feng Ying kemudian dia memberikan satu pukulan telak ke arah perut pendekar tersebut.


Pukulan Feng Ying membuatnya terpental jauh dan jatuh dengan posisi telungkup dan muntah darah. Dia merasa perutnya seperti terbakar dan isinya seperti terkoyak.


"Ba-bagaiman bisa I-ini terjadi?" batin pendekar tersebut dan sesekali ter batuk-batuk memuntahkan darah segar.


"Dulu kekuatan seperti mu sangatlah langka di duniaku, bahkan hingga saat ini masih di anggap sangat kuat, namun sayang kamu menyalah gunakan kekuatan tersebut untuk menindas orang lain, dan kamu terlalu sombong hingga tidak bisa menghargai orang yang lebih tua," kata Feng Ying.


Pendekar tersebut ingin memaki dan melototi Feng Ying namun rasa sakit membuatnya sulit untuk bersuara lebih banyak dan pandangannya juga sangat tidak jelas.


"Sekarang apakah kamu sudah menyadari kesalahanmu?" tanya Feng Ying namun tidak ada jawaban suara dari pendekar tersebut.


"Diam artinya iya, jadi mulai sekarang lebih sopan lah kepada orang yang lebih tua!" kata Feng Ying kemudian dia memberikan sedikit pukulan kembali ke perut pendekar tersebut.


Pendekar tersebut yang masih merasakan sakit kini ditambah lagi sehingga dia tergeletak tak sadarkan diri karena tidak sanggup menahan sakit.


Feng Ying hanya menatap tubuh pendekar tersebut sesaat kemudian bergumam pelan, "Mulai saat ini, kamu sudah bukan lagi seorang pendekar!" gumam Feng Ying kemudian dia pergi meninggalkan pendekar tersebut yang tidak sadarkan diri, namun Feng Ying tahu jika sebentar lagi pendekar tersebut akan segara siuman karena dia tidak sadarkan diri karena efek kekuatannya yang menghilang.


Feng Ying menghilang dan muncul kembali di rumah makan tersebut dan disana Hanzi dan keempat Jendral sedang berbincang-bincang.


Melihat kemunculan Feng Ying yang muncul secara mendadak membuat keempat Jendral kaget dan melompat dari kursi mereka.


"Tu-tuan...!" kata Xie Ying dengan sedikit gugup.


"Tenanglah!" kata Hanzi.


Feng Ying hanya terdiam dan dia hanya duduk di kursinya, namun selera makannya sudah menghilang.


"Bagaimana, apakah kamu sudah mengalahkannya?" tanya Hanzi.


"Aku memang sudah mengalahkannya, namun aku tidak membunuhnya, dan hanya menghilangkan semua kekuatannya," jawab Feng Ying.


Lu Xinxi dan ketiga Jendral lainnya terkejut, mereka semua tahu jika pendekar yang dihadapi oleh Feng Ying sangatlah kuat.


"Feng Ying, apa kamu tahu siapa orang yang sudah kamu kalahkan itu?" tanya Hanzi.


"Aku tahu, dia adalah Pendekar Pedang Lentur, salah satu pendekar dari Sungai Darah," jawab Feng Ying.


"Kamu benar, mereka tadi menceritakan padaku jika kelompok Sungai Darah berasal dari Benua lain, dan mereka kesini untuk menjajah Benua ini, bahkan Raja mereka sudah di bunuh oleh anggota Sungai Darah itu!" kata Hanzi.


Dahi Feng Ying mengerut, dia sebelumnya tidak tahu jika kelompok Sungai Darah itu adalah biang keladi dari semua kekacauan tersebut, dan Feng Ying sadar jika kedatangan dirinya dan yang lainnya ada hubungannya dengan semua itu.


Hanzi mengangguk karena mengerti akan apa yang saat Feng Ying pikirkan, "Bagaimana, apakah kita akan langsung kesana?" tanya Hanzi.


"Tunggu jangan dulu gegabah! Aku tahu mereka bukan lawan yang kuat, namun apa kamu lupa jika di dunia ini ada mahluk itu!" kata Feng Ying.


"Owh aku hampir lupa, kalau begitu kita harus menyusun rencana agar mahluk itu tidak muncul saat kita menghadapi kelompok Sungai Darah itu!" kata Hanzi.


Keempat Jendral hanya bisa melihat mereka berdua secara bergantian karena sama sekali tidak mengerti akan arah pembicaraan mereka.


Hanzi menatap mereka berempat sesaat sebelum akhirnya dia menemukan ide, "Jika kalian tidak keberatan, maukah kalian semua membatu kami? Ini semua juga demi menyelamatkan dan merebut Kerajaan kalian kembali!" kata Hanzi.


"Maafkan kami, bukannya kami tidak mau, namun saat ini kami masih harus mencari Tuan Putri yang saat ini menghilang!" kata Xio Tao.


Feng Ying menoleh kearah mereka dan kemudian bertanya, "Jika Tuan Putri yang kalian cari bisa ditemukan, apakah kalian bersedia membatu kami?" tanya Feng Ying.


"Te-tentu saja!" jawab Xio Tao.


"Baiklah, kalau begitu kami saat ini akan membantu kalian! Sekarang gambar lah wajah Tuan Putri kalian, dan berikan gambar itu padaku!" kata Feng Ying.


Feng Ying berencana mencari Mu Liyi dengan mata dewa nya, namun dia butuh gambar wajah Mu Liyi untuk bisa mengenalinya.


Yang paling jago melukis adalah Lu Xinxi, dia sangat mahir dalam seni lukis sehingga di juluki sebagai Jendral Panah Berukir.

__ADS_1


Butuh waktu untuk menggambar wajah Mu Liyi dengan sempurna sehingga mereka menyewa penginapan untuk menyelesaikan lukisan tersebut, dan mereka berharap bantuan Feng Ying akan berhasil.


__ADS_2