
Chinmi segera menahan nafasnya agar tidak menghirup asap merah tersebut kemudian mencabut pedangnya dan mengalirkan Qi ke pedangnya, Chinmi yakin hanya ada satu cara untuk menghilangkan asap merah tersebut.
"Pedang Badai Angin."
Chinmi menebaskan pedangnya ke udara dan tercipta badai angin yang cukup besar dan menyapu semua asap merah tersebut kelangit.
Semua kembali jernih dan kembali terlihat setelah asap merah tersebut terbawa oleh badai angin ke atas. Namun pemandangan berikutnya sangat mengejutkan Chinmi dan semua orang yang masih berdiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi..!"
Chinmi menahan nafas setelah merlihat banyak mayat yang bergelimpangan di kursi penonton, ada yang mati keracunan dan ada juga yang mati karena dibunuh dan sebagian masih membantai para pendekar yang berusaha menahan nafasnya dari sisa racun asap merah
"Ini pasti sudah direncanakan!" kata Chinmi setelah itu dia melihat ada asap hijau di dalam prisai.
"Chinmi, apa kamu tidak baik-baik saja?" tanya Yue Rong setelah dirinya tiba di dekatnya bersama dangan Xuao Lan.
"Aku tidak apa-apa Bibi, sebaiknya kita harus menyelamatkan yang ada didalam sana," kata Chinmi sambil menunjuk kearah dalam prisai.
Chinmi ingin melangkah namun mendadak dadanya serasa sakit tidak lama dia memuntahkan darah.
"Kamu keracunan..!" Xuao Lan segera memegang tubuh Chinmi yang wajahnya mulai memucat.
Chinmi sempat menghirup sedikit asap merah tersebut sehingga dia terkena sedikit Racun dari asap merah. Xuao Lan segera mengalirkan Qi yang dimilikinya untuk mencegah racun di dalam tubuh Chinmi agar tidak menyebar.
"Bertahanlah dan jangan menolak Qi yang akan aku alirkan ke pembuluh darahmu!" kata Xuao Lan yang telah meletakkan Chinmi dengan posisi duduk bersila.
Xuao Lan segera mengalirkan Qi untuk menetralkan dan mencegah racun tersebut agar tidak terus menjalar ke jantung.
Saat Xuao Lan masih berusaha untuk mengobati Chinmi, ada sekitar 3 orang muncul untuk menyerangnya, beruntungnya Yue Rong masih berada disana dan berusaha melindungi Xuao Lan yang sedang mengobati Chinmi.
Perisai es mulai menghilang karena keempat Jendral sudah membukanya setelah berhasil membunuh bebarapa orang yang diduga sebagai penyusup.
Begitu perisai es terbuka, asap hijau segera terbang dibawa angin, namun setelah semuanya sudah bisa dilihat, ternyata hanya tersisa beberapa peserta saja, dan peserta yang lainnya sudah menghilang entah kemana termasuk gadis kecil bercadar.
__ADS_1
Xuao Lan mengalirkan Qi kepada Chinmi selama Lima menit dan setelah itu Chinmi memuntahkan darah hitam dari mulutnya.
"Minumlah pil ini, nanti kondisimu akan pulih dengan cepat!" kata Xuao Lan sambil menyerahkan pil berwarna putih salju kepada Chinmi.
Chinmi tidak bertanya apapun dan segera meminum pil tersebut karena saat ini waktunya cukup mendesak.
Setalah meminum pil tersebut selama 2 menit, wajah Chinmi terlihat kembali segar dan pil tersebut ternyata sangat efektif.
Xuao Lan memiliki pil tersebut karena membelinya saat sedang melakukan misi, dia membeli pil tersebut di Asosiasi Tujuh Bintang, namun dia hanya mampu membeli 3 pil saja karena harganya sangat mahal.
"Terimakasih senior, nanti akan aku ganti kembali pilnya!" kata Chinmi, dia yakin jika pil yang ia minum pastilah sebuah pil berharga dan juga mahal.
"Kamu tidak perlu memikirkannya karena saat ini yang harus kita pikirkan adalah para peserta yang menghilang," jawab Xuao Lan.
"Menghilang..?" Chinmi segera menoleh ke arena pertandingan dan benar saja yang tersisa hanya tujuh peserta saja.
"Aku harus mencarinya keluar, tapi..!" Chinmi sudah menggunakan 70 persen energinya untuk melepaskan jurus Pedang Badai Angin, dan sekarang dia harus secepatnya menyerap Mustika abu-abu agar energinya kembali pulih.
Xuao Lan membantu beberapa pendekar aliran putih yang saat ini sedang bertarung dengan Pendekar yang tidak dikenal, sedangkan 3 jendral pergi mencari anak-anak yang menghilang dengan mencarinya keluar lapangan.
Chinmi berhasil memulihkan energinya dengan sangat cepat karena dia menyerap dua mustika sekaligus. Dia tidak mau tahu resiko apa yang akan ia dapatkan jika menyerap Qi dengan cara terburu-buru seperti itu.
setelah merasa energinya kembali pulih, ia lansung bangkit dan menghampiri Lian Cao yang saat ini hanya berdua dengan Xian Fai karena Yue Yin sudah menghilang.
"Chinmi, Nona Yin menghilang!" kata Xian Fai.
"Apakah kamu melihat kemana arah perginya?" tanya Chinmi.
"Tidak, aku tidak bisa melihat karena asap hijau itu sangat perih dimata," kata Xian Fai kemudian dibenarkan oleh Lian Cao.
"Aku akan mencari mereka, kalian segera menghindar dari tempat ini!" kata Chinmi kemudian berencana untuk pergi mencari para peserta yang hilang.
"Mau kamana kamu anak kecil" Chinmi dihadang oleh dua pria yang sejak awal sudah ia curigai.
__ADS_1
"Kalianlah yang membuat kekacauan ini, kemana kalian bawa para peserta itu? Aku tahu kalian pasti mengetahuinya!" kata Chinmi sambil waspada karena dia baru mengetahui jika kedua pria tersebut memiliki kekuatan Pendekar Puncak.
"Ais anak ini masih kecil tapi tidak mau menghormati yang lebih tua, baiklah sebaiknya aku bawa kamu juga untuk ikut dengan mereka!" kata pria tersebut.
"Golok Membelah Gunung."
Jendral Whu Lang muncul dengan melepaskan serangan menggunakan golok panjangnya, "Jadi semua kekacauan ini ulah kalian hah?" tanya Jendela Whu Lang dengan wajah sangarnya.
"Kalian semua cepat pergi biar aku yang mengurus mereka berdua!" kata Jendral Whu Lang.
"Terimakasih Jendral!" kata Chinmi kemudian pergi bersama Xian Fai dan peserta lainnya agar tidak mengganggu Jendral Whu Lang.
"Katakan padaku siapa yang merencanakan kekacauan ini?" tanya Jendral Whu Lang dengan nada membentak.
"Heh, kamu pikir dengan gelar jendral yang kamu miliki kami jadi takut? Jangankan hanya seorang Jendral, bahkan seluruh pendekar di kerajaan Es Utara ini kami tidak takut!" kata salah satu dari mereka dengan tersenyum sinis.
"Benarkah? kalau begitu tunjukkan kemampuan kalian berdua padaku."
Tiba-tiba suara wanita terdengar dari atas mereka bertiga, kedua pendekar tersebut menoleh keatas dan melihat seorang wanita yang mereka kenal.
"Ke-ketua Pulau Es Zhihui!" kata mereka serempak.
"Bagus ternyata kalian mengenalku, sekarang kalian katakan dimana kedua cucuku berada? Jika tidak..!" Zhihui melepaskan sedikit energinya dan menekan mereka berdua.
Mereka berdua kesulitan untuk bergerak namun masih berusaha untuk tetap bertahan. Zhihui memperhatikan mereka lebih teliti dan akhirnya mengenali mereka berdua.
"Hem jadi kalian anggota sekte Kalajengking Merah? Bagus sekarang sudah jelas siapa dalang dari semua ini! Sekarang cepat katakan dimana kedua cucuku berada?" kata Zhihui yang semakin menambah tekanan energinya sehingga bumi sedikit bergetar dan terlihat retakan demi retakan di sekitar lapangan.
Kali ini mereka berdua benar-benar kesulitan untuk bergerak dan keringat mulai membasahi punggung mereka.
"Baik jika kalian masih tidak mau mengatakannya."
Zhihui mengangkat telapak tangannya yang kini bercahaya biru dan mengeluarkan hawa dingin, seketika itu juga suhu dilapangan berubah drastis menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
__ADS_1