PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pendekar Racun Benang Hitam


__ADS_3

Chinmi tiba di depan pintu gerbang sekte Bukit Matahari. Ada sekitar Empat orang yang berada di depan pintu, dan mereka berempat berjalan mondar-mandir bagai seorang prajurit.


"Maaf siapa kalian, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka dengan sopan.


"Namaku Chinmi, dan ini adalah kakek ku, kami datang kesini ingin menemui temanku Jiu Heng," kata Chinmi.


"Owh tuan adalah teman Tuan Muda Jiu, maaf karena sebelumnya kami tidak mengetahuinya! Mari silahkan masuk kedalam, saat ini tuan muda Jiu sedang latihan di dalam," jawab salah satu dari mereka.


"Tuan Muda Jiu?" Chinmi sedikit terkejut setelah mendengar mereka menyebut Jiu Heng dengan sebutan Tuan Muda.


Keempat penjaga tesebut mempersilahkan Chinmi untuk masuk kedalam. Namun saat Chinmi dan Lio Long ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia mendengar sebuah pertarungan dari bawah bukit.


"Apakah ada yang sedang berlatih dibawah Bukit?" tanya Chinmi.


"Tidak ada tuan, kami tidak pernah melakukan latihan diluar sekte," jawab penjaga tersebut.


"Itu artinya sedang ada pertarungan dibawah sana, sebaiknya kita segera kesana!" kata Chinmi yang berniat untuk pergi kebawah.


"Chinmi, sebaiknya kamu jangan ikut campur sesuatu yang bukan urusanmu, selesaikan saja urusanmu sendiri agar kita segera pergi latihan," kata Lio Long yang menginginkan Chinmi agar tidak ikut campur urusan orang lain.


"Senior, aku tahu jika itu bukanlah urusanku, namun sebagai sesama pendekar, aku harus melihat kesana, siapa tahu salah satu dari mereka adalah orang baik yang membutuhkan bantuan ku," kata Chinmi kemudian dia melompat ke udara dan terbang menuju ke arah pertempuran tersebut.


"Hahh...! Jika begini terus bisa tidak kelar-kelar urusannya," gumam Lio Long sambil menghela nafas panjang.


Keempat penjaga hanya bisa melihat Chinmi yang sudah menghilang di udara, saat mereka masih menatap Chinmi yang sudah menghilang, mereka dikejutkan oleh Lio Long yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mereka berempat.


Mereka sebenarnya terkejut ketika melihat Chinmi yang masih muda ternyata sudah memiliki kekuatan tingkat Sihir, namun mereka lebih terkejut lagi ketika melihat Lio Long yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.


"Apakah mungkin kakek tua tadi itu seorang pertapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak mungkin, seorang pertapa tidak akan bisa menghilang secara tiba-tiba seperti itu," jawab rekannya.


"Kalau begitu apakah kita akan melaporkan hal ini kepada ketua?"


"Tentu saja, ayo cepat melapor ke ketua!"


Salah satu dari mereka segera berlari kedalam untuk melaporkan kepada ketua mereka, sedangkan ketiga rekannya menunggu di depan pintu.


***


"Kemana aku harus mencari pemuda itu, dan seperti apa wajahnya?" Qie Yin berjalan sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa menemukan pemuda seperti yang dikatakan oleh Ayahnya.

__ADS_1


Qie Yin saat ini sudah berada tepat di kaki bukit, dia membuka penutup wajahnya kemudian duduk sebentar dibalik batu besar sambil menyandarkan tubuhnya.


"Ayah, kemana aku harus mencarinya? Aku mohon berilah aku petunjuk."


Qie Yin yang kelelahan mulai memejamkan matanya, dia ingin istirahat walau sebentar karena dia yakin jika She Chin tidak mungkin mengejarnya.


Qie Yin membuka matanya lebar-lebar saat merasakan adanya beberapa orang yang mendekat kearahnya.


Karena penasaran Qie Yin bangkit dan melihat kearah sumber langkah kaki tersebut. Alangkah terkejutnya dia setelah melihat beberapa orang yang berjalan kearahnya.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa mereka mengikutiku sampai kesini?" batin Qie Yin.


"Nona Yin jangan lari lagi, mari ikut dengan kami pulang menemui ketua She Chin."


"Senior Hu, apa guru She yang menyuruh senior untuk menangkapku?" tanya Qie Yin kepada pria paruh baya di hadapannya yang tidak lain adalah Hu Mochu, salah satu Pendekar tingkat Sihir Elemen yang dimiliki oleh Sekte Kalajengking Merah.


"Benar sekali, aku mengikuti mu saat kamu terbang dan hingga tiba di tempat ini!" kata Hu Mochu sambil memberikan perintah kepada dua orang pendekar Tingkat Puncak untuk menangkap Qie Yin.


"Aku tidak akan pulang dan kembali ketempat pembunuh kedua orang tuaku," Qie Yin berbalik dan melesat dengan cepat menjauhi Hu Mochu dengan menggunakan Debu nya.


"Kekuatan Qie Yin menurun dua tingkat, ayo kejar dan tangkap dia!" seru Hu Mochu kemudian dia dan kedua pendekar yang menemaninya segera mengejar Qie Yin.


Namun saat ini, kekuatan Hu Mochu lebih tinggi satu Tingkat dengan kekuatan yang dimilikinya, jika ditambah dengan dua orang yang ikut mengejarnya, jelas Qie Yin tidak akan bisa menang.


"Mau lari kemana lagi Nona Yin? Sebaiknya sekarang kamu menyerah dan menurut saja," kata Hu Mochu yang sudah berada di hadapan Qie Yin.


"Walau aku harus mati, aku tidak akan pernah kembali kesana, jika kalian masih memaksa maka jangan salahkan aku jika aku harus melawan kalian!" kata Qie Yin yang bersiap untuk menyerang.


"Hahaha... Jika saja kekuatanmu tidak berkurang, mungkin kami bertiga bukanlah tandingan mu, namun sekarang kekuatanmu sudah menurun, apa kamu pikir kamu bisa menghadapi kami bertiga hah?"


"Aku tidak peduli, dari pada aku harus kembali, lebih baik aku mati bertarung disini!"


"Sihir Kabut Debu Merah."


Qie Yin mengarahkan telapak tangannya kearah Hu Mochu, setelah itu debu disekitarnya beterbangan sehingga membuat tempat tersebut tertutup oleh debu merah yang beterbangan menutupi penglihatan mereka tiga.


"Amukan Badai Angin."


Salah satu dari kedua pendekar tersebut melepaskan energi angin dari dua kipas di tangannya.


Debu-debu yang menutupi penglihatan mereka segera tersapu bersih oleh angin tersebut sehingga mereka bisa kembali melihat dengan jelas.

__ADS_1


"Sudahlah, percuma saja kamu melawan kami!" kata Hu Mochu kemudian dia menyerang Qie Yin dengan menggunakan benang berwarna hitam.


Qie Yin sangat mengetahui jika benang tersebut bukan benang biasa, itu adalah benang khusus yang sering digunakan oleh Hu Mochu.


Benang Hitam memang bukan benang biasa bagi Hu Mochu. Namun bagi orang biasa, benang tersebut akan terlihat seperti benang jahit biasa.


Qie Yin membuat perlindungan perisai debu di tubunya agar tidak terkena oleh benang hitam yang pastinya sudah dilumuri oleh racun.


Setiap benang tersebut mengenai batu, maka akan ada bekas goresan di batu tersebut karena terkena benang hitam.


Benang Hitam tersebut sangat tajam di tangan Hu Mochu, setiap serangannya pasti akan mampu membelah kayu menjadi dua, karena itu Hu Mochu dikenal sebagai Pendekar Racun Benang Hitam.


"Sihir Debu Butiran Penghancur."


Qie Yin menembakkan cahaya debu dari telapak tangannya kearah Hu Mochu, dengan mudahnya Hu Mochu dapat menghindari serangan tersebut.


Cahaya debu tersebut mengenai batu hingga membuat batu tersebut hancur berkeping-keping akibat terkena serangan dari Qie Yin.


"Sihir Debu Tahap 3 ya? Aku tidak menyangka kau akan menggunakannya untuk menyerangku, namun itu sangat mudah untuk dihindari!" kata Hu Mochu.


Sihir Debu Tahap 3 memang ilmu sihir yang sangat kuat dan berbahaya, namun untuk bisa mengenai targetnya, maka lawan yang menjadi targetnya harus dilumpuhkan terlebih dahulu sebelum akhirnya di bunuh dengan Ilmu Sihir Debu Tahap 3.


Jika lawannya masih dalam kondisi prima, maka Sihir Debu Tahap 3 masih dapat dihindari dengan mudah, itulah kelemahan dari ilmu tersebut.


"Jerat Jaring Hitam Laba-laba."


Hu Mochu mengeluarkan benang hitam yang begitu banyak dari balik lengan bajunya dan benang tersebut membentuk sebuah jaring dan melilit tubuh Qie Yin.


Untungnya Qie Yin sudah melapisi tubunya dengan debu halus sehingga benang-benang tersebut tidak berhasil menyentuh kulitnya.


"Debu mu itu sungguh merepotkan saja!" gerutu Hu Mochu kemudian berniat untuk memperbanyak lilitan benang hitamnya.


"Aku tidak menyangka jika akan ada sekumpulan laki-laki pengecut yang beraninya mengeroyok seorang wanita saja, sungguh memalukan!"


Hu Mochu yang ingin menambah lilitan benang hitamnya mengurungkan niatnya saat mendengar suara dari atasnya.


"Siapa kamu?" tanya Hu Mochu saat melihat seorang pemuda sedang melayang diatasnya.


Pemuda tersebut tidak lain adalah Chinmi yang baru tiba setalah mendengar suara pertarungan mereka.


Chinmi melihat Hu Mochu dengan memiringkan kepalanya, sedangkan tubuhnya secara perlahan-lahan mulai turun dan mendarat di samping Qie Yin.

__ADS_1


__ADS_2