PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Sang Penunggu Samudra Naga Biru


__ADS_3

Chinmi menatap ketiga Pertapa tersebut dengan tatapan dingin, "Kalian bertiga tidak punya rasa malu, dengan kekuatan kalian yang berada di tingkat Pertapa, seharusnya kalian melindungi yang lemah, namun nyatanya kalian bertindak di luar batas dan tidak sesuai dengan gelar kalian!" kata Chinmi.


Ke tiga Pertapa tertawa lantang dan diikuti oleh ke Lima Belas anggotanya, "Memangnya apa yang akan kamu lakukan Ha? Jangankan melawan kita semua, kamu saja belum tentu bisa mengalahkan ku!" kata salah satu Pertapa dengan tawanya yang semakin kencang.


"Baiklah, bagaimana jika kita bertaruh, aku akan melawan kalian semua secara bersamaan, jika aku kalah kalian bisa membawa mereka berdua, namun jika kalian yang kalah, maka kalian hentikan semua ini! bagaimana apakah kalian setuju?" tanya Chinmi.


Tawa mereka bertiga seketika terhenti saat mendengar taruhan Chinmi, "Hah tidak menarik, bagaimana jika kita tambahin taruhannya, jika kamu kalah, biarkan mereka berdua bersama kami, dan juga tubuhmu juga akan kami potong-potong dan akan kami buang potongan tubuhmu ke lautan! Apa kamu setuju?"


Chinmi menaikkan alisnya kemudian melirik ke arah Jian Jing Mi yang seperti tidak setuju dengan syarat tersebut.


"Baik aku setuju, namun jika kalian yang kalah, kalian juga akan mendapatkan hal yang sama!"


"Hahaha...! Ini baru menarik ayo kita buktikan sekarang!" kata salah satu pertapa dan dia mulai meningkatkan energinya.


"Tunggu, bukan di sini tapi di tempat lain!" kata Chinmi.


"Terserah kamu saja!"


Dari semua kerumunan tenyata Alkin juga melihat kejadian tersebut, dia sebenarnya juga sudah lama tahu akan adanya kelompok Darah Hitam, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak menemukan bukti yang kuat jika mereka sebenarnya di lindungi oleh salah satu pejabat yang memiliki pengaruh kuat Wilayah Kerajaan Mutiara Emas tersebut.


Chinmi juga melihat kearah Alkin namun dia tidak terlalu mengenalinya karena wajah dan kulit semua orang terlihat sama.


"Nona Jian, maaf aku harus menyelesaikan ini dengan cara lama, jadi tunggulah di sini, namun Nona tidak perlu khawatir karena bayanganku akan melindungi mu!" kata Chinmi kemudian dia menoleh kepada ketiga pertapa dan ke Lima Belas anggotanya.


Jian Jing Mi kebingungan akan maksud perkataan Chinmi, namun belum sempat dia bertanya, tiba-tiba saja pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang.


Secara refleks Jian Jing Mi segera menoleh dan dia melihat Chinmi satu lagi, "Tu-tuan muda! Bagaimana bisa?" Jian Jing Mi tidak bisa berpikir lagi setelah melihat dua Chinmi yang sama.


"Bukankah aku sudah bilang jika bayanganku akan melindungi mu hingga aku tiba!" kata bayangan Chinmi yang berdiri di belakang Jian Jing Mi sehingga ketiga Pertapa dan semua anggotanya tidak ada yang menyadarinya.


"Baiklah ikuti aku jika kalian berani!" kata Chinmi kemudian dia mulai melayang di udara.


Ketiga pertapa dan kelima belas anggotanya juga mulai melayang dan mereka semua segera terbang mencari tempat yang tepat untuk bertarung.


Alkin melihat semua itu juga terkejut saat mengetahui jika Chinmi tenyata juga bisa terbang, dia mengira mungkin Chinmi adalah seorang pendekar Sihir Elemen Alam.


Namun ketika melihat Chinmi berani menantang ketiga Petapa yang terkenal kejam itu, dia yakin Chinmi mungkin lebih kuat dari yang ia pikirkan.


"Hah..! Itu.. Bukankah tadi dia sudah pergi! Tapi itu siapa?" Alkin terkejut ketika melihat Chinmi yang lain yang terlihat sedang menemani kedua wanita tersebut.


Alkin Sebenarnya ingin menemui Chinmi, namun dia masih memiliki tugas dari Raja Li yang harus dia selesaikan. Alkin berencana akan menceritakan akan apa yang ia lihat kepada Raja Li setelah semua urusannya selesai.


Saat Alkin ingin pergi, tiba-tiba seluruh Kerajaan Mutiara Emas mulai bergetar dan awan menjadi sangat gelap, semakin lama getaran yang dirasakan semakin keras hingga bumi serasa berguncang hebat.


"Pertempuran mereka sudah di mulai!" kata bayangan Chinmi.


Alkin terkejut bukan main saat mendengar perkataan bayangan Chinmi, "Apakah dia benar-benar seorang pendekar sakti yang melebihi kekuatan para pertapa, jika benar demikian dia pasti bisa mengalahkan monster gurita di Samudra Naga Biru," batin Alkin.


Alkin membatalkan rencana dan segera kembali untuk memberitahukan akan kejadian tersebut kepada Raja Li.


Bumi semakin berguncang lebih besar dan petir mulai menyambar ke berbagai arah disertai angin badai yang begitu kencang berhembus menerbangkan apapun yang ringan.


***


Chinmi terbang kearah selatan, namun dia tidak menggunakan seluruh kecepatannya karena dia yakin jika ketiga Pertapa dan para anggotanya tidak akan bisa menyaingi kecepatannya.


Ketiga Pertapa yang sudah tidak sabar ingin segera menghabisi Chinmi menambah kecepatan terbangnya untuk menghentikan Chinmi, namun walau mereka sudah menambah kecepatan mereka, nyata nya tidak satupun dari mereka yang berhasil menyusul Chinmi.


Setelah berada di tengah lautan luas, barulah Chinmi berhenti di udara dan menunggu kedatangan mereka semua.


"Jadi kamu ingin bertarung di tengah lautan luas ini? Kamu memang sangat pintar! Sekarang kami tidak perlu repot-repot mengubur tubuhmu, kami tinggal menenggelamkan potongan tubuhmu nanti lautan ini!" kata salah satu Pertapa.


"Aku membawa kalian semua ketempat ini bukan untuk bicara, melainkan bertarung! Ayo tunjukkan kekuatan penuh kalian semua dan serang aku secara bersama-sama," kata Chinmi.


"Sombong..!" seru salah satu pertapa kemudian dia melepaskan energinya.


Kedua Pertapa lainnya yang juga kesal ikut melepaskan energinya dan diikuti oleh para anggotanya yang berada di tingkat Sihir Elemen Alam.


Karena kekuatan energi ke delapan belas pendekar tersebut, seluruh Benua Daratan Utara bergetar sangat keras dan kemudian awan gelap disertai petir dan angin semakin membuat bumi berguncang dan ombak besar menggulung tidak beraturan.

__ADS_1


Chinmi hanya tersenyum licik melihat hal itu, "Kalian mudah terpancing oleh ku, sekarang hadapilah musuh kalian yang sesungguhnya!" gumam Chinmi kemudian dia terbang lebih tinggi.


"Mau lari kemana kamu anak muda!" seru salah satu pertapa dan berniat menyusul Chinmi.


Saat mereka semua ingin menyusul Chinmi, tiba-tiba ada pusaran air laut yang sangat besar, mereka juga bisa merasakan ada energi yang begitu kuat dari dalam air laut.


"Ini..! Sialan kita berada di Samudra Naga Biru!" seru salah satu dari mereka setalah sadar jika mereka saat ini berada di Samudra Naga Biru.


Semuanya langsung tersadar dan sama-sama menoleh kearah pusaran air yang berada di bawahnya. Setelah beberapa saat muncul sebuah benda yang sangat besar dan panjang dari dalam air dan menyerang mereka semuanya.


Kecepatan benda tersebut sangat sulit untuk dihindari sehingga semuanya hanya bisa menahan serangan tersebut dengan menggabungkan energi mereka.


Namun tetap saja serangan tersebut terlalu kuat untuk ditahan, bahkan dengan kekuatan ketiga Pertapa sekalipun tenyata tidak mampu menahannya sehingga mereka semua terhempas ke Air Laut.


Mereka semua berusaha untuk kembali melayang ke udara agar tidak terkena serangan itu lagi.


Setelah berhasil terbang lebih tinggi, ternyata tidak satu benda raksasa saja, melainkan ada sekitar lebih dari delapan benda mirip kaki cumi atau gurita yang bergulung-gulung.


"Ini adalah tangan moster gurita, dia adalah Sang Penunggu Samudra Naga Biru!" kata salah satu pertapa.


"Kurang ajar! Anak muda sialan itu telah menjebak kita!" gerutu salah pertapa sambil menatap kearah Chinmi yang tersenyum lebar kearahnya.


Salah satu pertapa ingin menyerang Chinmi secara diam-diam namun gerakannya terhenti Setelah munculnya sosok gurita raksasa seutuhnya di udara.


Gurita raksasa tesebut ternyata juga bisa melayang di udara, dan kali ini matanya yang bercahaya merah tersebut menatap kearah salah satu Pertapa yang ingin menyerang Chinmi dengan tajam.


Pertapa tersebut langsung memucat karena tatapan mata Gurita yang tajam mampu membuat dirinya tidak bisa bergerak.


"Kalian semua telah menganggu ketenangan ku, jadi hari ini kalian harus menjadi makananku!" kata gurita tersebut.


"Di-dia bisa bicara!"


"Tidak hanya itu, sepertinya dia juga bisa bertahan walau sudah keluar dari dalam air laut!"


"Sebaiknya kita serang secara bersamaan!"


Mereka semua segera berpencar dan menyerang gurita tersebut dari berbagai arah, namun ternyata serangan sihir mereka semua tidak berpengaruh sama sekali terhadapnya.


"Sekarang giliran ku!" ucap sang gurita dengan suara yang membuat air laut semakin bergejolak.


Gurita tersebut menggerakkan lengan-lengan tentakelnya yang memiliki banyak bundaran yang mampu membuat benda apapun yang terkena akan menempel dan tidak akan bisa terlepas.


Sekitar Lima orang anggota Darah Hitam harus tertangkap oleh tentakelnya dan mereka berlima menempel di kaki gurita tersebut tanpa bisa melepaskan diri, dan sang gurita dengan cepat memakan kelima orang tersebut dan kelimanya lenyap dimakan sang Gurita.


"Sialan, sebenarnya sekuat apa monster ini?" kata salah satu Pertapa dengan nada Kesal.


Gurita tersebut tenyata tidak mau menjawab pertanyaan tersebut, dia kembali menyerang dengan mengeluarkan semburan cairan hitam yang sangat banyak kearah mereka semua.


Beberapa orang harus terkena serangan tersebut dan seketika tubuh mereka tertutupi oleh cairan hitam dan tubuh mereka mengeluarkan asap hingga akhirnya mereka mati.


Setelah bertarung cukup lama, kini hanya tersisa tiga orang saja di mana kondisi mereka semua terlihat buruk karena sudah sangat kelelahan.


Mereka bertiga sama-sama menoleh kearah Chinmi yang terlihat sangat menikmati ketika melihat para anggotanya harus mati mengenaskan dan berakhir di mulut sang moster.


"Aku tidak menduga akan tertipu dan berakhir di sini!" kata salah satu pertapa dengan terlihat lesu.


"Aku ingin sekali mencabik-cabik tubuh pemuda itu dan ingin rasanya aku memakan hatinya!"


Mereka merasa tidak terima karena Chinmi sudah menjebak mereka semua sehingga seluruh anggotanya terbunuh sia-sia.


Mereka bertiga sadar jika mereka tidak akan mungkin bisa mengalahkan Sang Penunggu Samudra Naga Biru tersebut.


Sedangkan sang Gurita terlihat sudah ingin secepatnya menghabisi ketiga Pertapa tersebut yang terlihat sudah ingin menyerah.


Saat ketiga Pertapa menyadari jika hidup mereka mungkin akan berakhir di tangan sang moster, tiba-tiba saja Chinmi sudah berdiri di hadapan gurita dan menahan serangan tentakelnya.


Chinmi yang berhasil menahan serangan tentakel sang gurita yang begitu kuat itu membuat daya kejut yang sangat kuat, sehingga membuat seluruh air laut seperti kejatuhan benda yang sangat besar dan membuat gelombang super besar.


"Meraka bertiga adalah bagian ku, jadi biar aku yang mengurusnya!" kata Chinmi.

__ADS_1


"Kau bisa menahan serangan ku? Hem sepertinya kamu bukan manusia biasa. Aku tidak mau tahu apapun yang ingin kamu katakan aku akan tetap memakan mereka termasuk kamu!" kata sang gurita.


Ketiga Pertapa hanya bisa menganga saat melihat Chinmi bisa menahan serangan dari moster Gurita tersebut dengan mudah, namun tidak satupun dari mereka yang berbicara.


"Maaf sebenarnya kedatangan mereka kesini itu juga karena aku, dan sekalian aku ingin melihat moster yang katanya selalu mencelakai banyak orang yang menyebrang di sini!" kata Chinmi.


"Akulah monster yang kamu maksud, sekarang kau sudah melihatnya bukan, ayo kita bertarung saja karena aku sudah tidak sabar ingin memakan daging mu itu!" kata sang Gurita dan kemudian dia mengeluarkan seluruh energinya.


Kini guncangan semakin dahsyat hanya karena energi dari sang Mosnter saja, bahkan angin bertiup lebih dahsyat dan air laut bergejolak.


Gurita tersebut yakin jika Chinmi mungkin memilki kekuatan yang sama dengan dirinya, karena itu dia berniat menyerang Chinmi dengan kekuatan penuh.


"Sudah sangat lama aku tidak pernah menemukan lawan yang seimbang, semoga kamu tidak mengecewakan ku!" kata sang Gurita.


Chinmi juga tidak mau tinggal diam, dia tahu jika kekuatan Monster tersebut berada di tingkat Raja Alam sehingga gurita tersebut akan menjadi lawan pertamanya.


Chinmi ingin mengetahui seberapa besar kemampuannya saat berhadapan dengan kekuatan yang sama.


Chinmi juga melepaskan energinya sehingga air laut terangkat dan pusaran air laut juga tercipta di bawah Chinmi, bahkan suhu dan udara juga naik secara drastis dan langit seolah-olah mau terbelah.


"I-ini..! Si-siapa.. Se-sebenarnya pemuda itu?"


Ketiga Pertapa sama-sama terkejut setelah merasakan kekuatan Chinmi yang luar biasa besarnya, bahkan mereka tidak percaya jika kekuatan yang terpancar dari tubuh Chinmi melebihi kekuatan mereka bertiga.


Sang gurita segera menyerang Chinmi, namun dia menyerangnya dengan ilmu sihir air, dia membuat dua gelombang raksasa kiri dan kanan Chinmi.


Tinggi gelombang tersebut lebih dari dua puluh meter dan kedua gelombang tersebut berniat menjepit tubuh Chinmi.


"Sihir Naga Es."


Chinmi segera membekukan gelombang tersebut dan melesat kearah mata sang gurita dan ingin menyerang matanya secara langsung.


Gelombang air laut yang lebih besar dan lebih tinggi kini kembali muncul dari belakang gelombang yang membeku dan langsung menggulung gelombang beku tersebut hingga hampir mengenai Chinmi.


Chinmi dengan cepat terbang lebih tinggi dan menatap kearah gurita raksasa tersebut, "Dia sangat kuat dan hebat, namun dia tidak mungkin bisa bergerak cepat!" batin Chinmi.


Dia berusaha mencari titik kelemahan sang Gurita dengan memberikan beberapa serangan sihir.


Walau sudah memberikan berbagai serangan dan berhasil membuat sang Gurita dalam posisi bertahan, namun Chinmi tidak sepenuhnya bisa membuat Sang Gurita terpojok.


"Jika sihir air es dan yang lainnya tidak berhasil, bagaimana jika dengan api!" batin Chinmi kemudian dia mengubah serangan sihir yang terakhir.


"Sihir Naga Api Semburan Nafas Naga."


Chinmi menyemburkan Api yang sangat besar dan juga luas kearah sang Gurita sehingga membuat sang Gurita terpaksa harus masuk kedalam air karena takut kepada api tersebut.


Chinmi segera sadar jika tenyata gurita tersebut takut kepada api, dia segera mengeluarkan Cakram Matahari dari dalam kalungnya dan mulai mengolesi Cakram tersebut dengan darahnya.


"Senior Diyu Hu, aku butuh kekuatan mu!" seru Chinmi sekaligus mengalirkan qi nya ke Cakram tersebut.


Biasanya Cakram tersebut akan langsung membuat sembilan bayangan Cakram dengan di selimuti api, namun kali ini tidak.


Cakram tersebut kini berwarna biru, bahkan terlihat kilatan petir dari pinggir Cakram tersebut yang mulai melayang di udara.


Chinmi tahu jika itu adalah evolusi dari api yang sudah berada di tingkat yang lebih tinggi, kilatan petir tersebut semakin membesar dan kemudian berubah warna menjadi ungu.


Chinmi segera mengarahkan Cakram tersebut yang di selimuti cahaya petir ungu kedalam air laut, setelah Cakram tersebut masuk kedalam air laut, berbagai kilatan ungu menyebar ke seluruh air laut dan kilatan ungu yang lebih besar juga terlihat menghantam tubuh sang gurita yang berada jauh di dalam air laut.


"Arrgggh.. Ampun..!"


Gurita tersebut kembali melayang dengan panik, dia berusaha menghindari serangan sambaran Petir Ungu, namun Chinmi segera menyerangnya kembali.


"Sihir Naga Api, Semburan Nafas Naga."


Chinmi segera menyemburkan api yang lebih besar dan kali ini lebih kuat dari yang pertama.


Sang Gurita panik bukan main, dia mau turun namun sambaran Petir Ungu membuatnya ragu.


Kini dia bingung harus bagaimana, melindungi dirinya dengan air agar tidak terbakar, namun Sambaran petir ungu pasti akan menyambarnya, namun jika tidak, maka dia akan berubah menjadi Gurita panggang dan itu akan membuat akhir hidup dari Sang Penunggu Samudra Naga Biru.

__ADS_1


__ADS_2