PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pinggiran pasar


__ADS_3

***


Chinmi bagun pagi-pagi sekali. Tubuhnya terasa begitu segar setelah selesai mandi pagi, sedangkan Zhinie juga bangun lebih pagi dari Chinmi.


"Chinmi, kamu mau kemana?" Zhinie bertanya saat melihat Chinmi berjalan ke arah pintu.


"Aku hanya mau keluar sebentar Bu, aku ingin melihat-lihat suasana diluar!" kata Chinmi.


"Ibu tahu jika kamu sangat merindukan suasana diluar, namun apa Naga itu juga akan ikut?" Zhinie menunjuk kearah Bing Long yang sudah lebih dulu berada di pintu.


"Iya, saya akan membawa senior Bing," kata Chinmi kemudian berjalan ke pintu,"


"Terserah kamu saja, tapi hati-hati jangan sampai orang-orang melihat Naga mu itu, dan juga cepat pulang karena ibu akan mempersiapkan makanan kesuakaan mu pagi ini!" kata Zhinie.


"Tentu, ibu tenang saja!" kata Chinmi kemudian keluar bersama Bing Long.


Sesampainya di depan pintu halaman, Chinmi bertanya kepada Bing Long, "Senior, kamu bilang kemarin jika senior bisa berubah menjadi apa saja bukan?" tanya Chinmi.


"Iya, itu memang benar!" jawab Bing Long.


"Kalau begitu sekarang berubahlah menjadi seekor kuda agar orang-orang tidak ketakuatan saat melihat senior nantinya!" kata Chinmi.


"Tidak masalah," kata Bing Long kemudian tubunya mulai berubah menjadi seekor kuda berwarna putih bersih.


Chinmi melongo saat melihat Bing Long berubah menjadi seekor kuda putih yang sangat perkasa, "Kenapa tidak sejak awal saja senior berubah menjadi kuda, kalau begini kan tidak perlu berada di dalam kain!" kata Chinmi.


"Sudahlah jangan membahas yang sudah berlalu, sekarang naiklah keatas punggung ku!" kata Bing Long yang tidak berniat untuk membahas akan pengalamannya saat berada di dalam buntilan kain.


Chinmi menurut dan segera menaiki punggung Bing Long. Mereka berdua menuju kearah pusat kota, Chinmi terus memandangi kota tersebut.


Kota tersebut sudah tidak seperti dulu, kini banyak bangunan-bangunan besar menjulang tinggi, dan juga jaraknya semakin rapat dan juga terasa sempit.


Chinmi berhenti didepan sebuah bangunan besar yang memiliki Empat lantai. Bangunan tersebut adalah tempat Asosiasi Tujuh Bintang.


Dulu bangunan tersebut hanya memiliki dua lantai saja, namun kini bangunan tersebut sudah semakin besar, itu artinya usaha perdagangan mereka sangat untung besar.


Sayangnya saat ini asosiasi tersebut masih belum buka karena hari terlalu pagi. Chinmi melanjutkan lagi berkeliling kota, rasa nostalgia yang ia rindukan kini sirna karena perubahan kota tersebut.


"Pencuri berhenti..!" seorang pemuda seumuran dengan Chinmi berteriak dengan dan mengejar seorang pria paruh baya yang memakai pakaian kusut sedang berlari ke arah Chinmi.


"Hai hentikan dia! orang sudah mencuri uangku" kata Pemuda tersebut kepada Chinmi yang berada di punggung Bing Long.


Saat pencuri tersebut melewati Chinmi, Chinmi menahan kerah baju si pencuri sehingga bajunya robek.


Chinmi turun dari kudanya dan menahan lengan si pencuri tersebut. Sang pencuri terkejut bukan main karena tenaga Chinmi sangat kuat sekali, dia berusaha memberontak, namun cengkraman tangan Chinmi benar-benar sangat kuat.


"Tuan muda, saya mohon lepaskan diriku!" kata pencuri tersebut yang panik saat melihat pemuda yang ia curi sudah semakin mendekat.


"Paman, kamu mengambil barang yang bukan milikmu, aku akan melepaskan mu jika kamu mengembalikan uang tuan muda itu," kata Chinmi.


"Tuan, istriku sedang sakit parah, sedangkan aku tidak memiliki uang membelikannya obat!" kata sang pencuri.


Pemuda yang mengejar si pencuri datang dengan nafas terputus-putus karena berlari mengejar si pencuri tersebut.


"Pencuri... Sialan! Cepat... Kembalikan uang ku," kata Pemuda tersebut dengan suara yang juga terputus-putus.


"Ma-maaf kan saya tuan, tolong kasihanilah saya, istri saya sedang sakit, saya tidak punya uang untuk membeli obat, jadi saya mohon belas kasih tuan," kata si pencuri.


"Itu bukan urusanku, salah sendiri kamu tidak mau mencari kerja, sini kembalikan uang ku!" kata pemuda tersebut dengan angkuh.


Si pengemis terlihat sedih, karena tidak punya pilihan lain, si pengemis tersebut menyerahkan kantong uang yang ia curi kepada pemuda tersebut.


Chinmi memperhatikan si pengemis tersebut, dia tidak menemukan tanda-tanda kebohongan dari si pengemis tersebut, artinya pengemis tersebut memang berkata jujur.


"Sekarang sebagai gantinya, kamu harus ikut aku untuk diadili, kamu harus dihukum karena telah berani mencuri uang dari anak perdana mentri kerajaan!" kata Pemuda tersebut.

__ADS_1


"A... Ampuni saya Tuan Muda, tolong jangan hukum saya," kata si pencuri tersebut sambil menangis memohon belas kasih dari pemuda tersebut.


"Sudahlah lepaskan dia, lagi pula dia sudah mengembalikan uang mu, dan kamu tidak dirugikan sedikitpun olehnya!" kata Chinmi berusaha membela si pencuri tersebut.


"Kau..! Kamu berada di pihak siapa? Pencuri ini harus dihukum agar kelak dia tidak mencuri lagi," kata Pemuda tersebut.


"Aku tahu paman ini memang bersalah, namun dia memiliki alasan yang kuat, tidak semua orang ingin menjadi pencuri, kecuali mereka benar-benar melakukannya karena terpaksa, jadi saya juga memohon kepada Tuan muda untuk membebaskannya!" kata Chinmi.


Pemuda tersebut berpikir sesaat kemudian kembali berbicara kepada Chinmi, "Baiklah, ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah membantuku, namun jika lain kali kamu terlihat mencuri lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mu!" kata Pemuda tersebut sambil menunjuk wajah si pengemis tersebut.


Chinmi mengangguk setuju, sedangkan si pencuri terkejut ketika Chinmi membelanya. Pemuda tersebut pergi meninggalkan mereka berdua.


"Terima kasih tuan muda, berkat tuan muda saya bisa selamat dari hukuman itu," kata si pencuri yang berniat untuk bersujud dihadapan Chinmi.


Chinmi segera mengangkat tubuh pencuri tersebut agar tidak bersujud padanya, "Paman tidak perlu bersikap seperti itu!" kata Chinmi kemudian melanjutkan lagi perkataannya.


"Tadi paman bilang istri paman lagi sakit bukan? dia sakit apa!" tanya Chinmi.


"Tuan muda, kata tabib, istri saya terkena penyakit lumpuh, kata tabib dia bisa mengobatinya namun biayanya sangat mahal!'kata si pencuri.


Chinmi mengangguk sesaat, dia paham jika hidup di tengah-tengah kota memang sangat sulit, ditambah lagi jika sampai orang tersebut benar-benar orang yang tidak mampu.


"Hidup ini benar-benar sangat berat! Paman dimana rumah paman, aku ingin melihat istri Paman!" pinta Chinmi.


Si pencuri tersebut terlihat kebingungan, namun dia tetap menuruti permintaan Chinmi mengingat Chinmi sudah menyelamatkan dirinya.


Rumah si pencuri ternyata berada di pinggiran pasar, rumah tersebut sangat kecil, bahkan ukurannya hampir sama dengan gubuk yang ia tempati di Dunia Bawah Laut.


"Maaf Tuan Muda, rumah saya sangat kecil, semoga tuan muda tidak keberatan jika nanti sudah berada di dalam," kata pencuri tersebut yang merasa tidak enak hati terhadap Chinmi.


Pencuri tersebut bernama Luo Jixing. Dia adalah satu dari banyaknya orang miskin yang tinggal di pinggiran pasar.


Chinmi memasuki rumah Luo Jixing yang kecil tersebut. Tidak ada kamar di dalam rumah tersebut sehingga Chinmi bisa melihat seorang wanita paruh baya sedang terbaring di tanah yang beralaskan kain.


"Banar, istriku lumpuh dan dia juga tidak bisa bicara!" kata Luo Jixing.


Chinmi menghela nafas panjang, dia memandang keluar dan yang ia lihat hanyalah gubuk yang sama besarnya dengan milik Luo Jixing. Bukan hanya gubuk kecil saja yang menjadi perhatian Chinmi, melainkan tempat tersebut sangat kumuh dan banyak bangkai hewan berserakan ditambah lagi serangga dari nyamuk hingga lalat pun menambah suasana semakin bertambah kumuh.


"Paman, aku ini bukan tabib, jadi aku tidak bisa mengobati istri Paman," kata Chinmi kemudian dia mengeluarkan sekantong koin emas yang ia persiapkan sebelum keluar dari rumah.


"Semoga ini bisa membantu paman untuk mengobati istri Paman!" kata Chinmi.


Luo Jixing membuka kantong uang tersebut dan melihat isinya, tangan Luo Jixing gemetar saat melihat isi dari kantong tersebut, ada sekitar 100 koin emas di dalamnya.


"Tu-Tuan muda, ini terlalu banyak, saya tidak pantas menerima uang sebanyak ini," kata Luo Jixing yang mengembalikan koin emas tersebut.


Selama ini dia tidak pernah memiliki koin emas sebanyak itu, bahkan dirinya bekerja menjadi buruh pasar sekalipun hanya mendapatkan upah sebesar 20 keping perunggu saja sehari.


"Paman, jika paman benar-benar menginginkan istri paman cepat sembuh, sebaiknya paman jangan menolak rejeki ini," kata Chinmi dan menyerahkan kembali kantong uang tersebut kepada Luo Jixing.


Luo Jixing akhirnya mau menerima uang tersebut. Namun dia bingung, dia dan Chinmi masih baru bertemu, bahkan Luo Jixing sama sekali tidak tahu akan siapa Chinmi sekaligus latar belakangnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu pulang dulu Paman, semoga uang itu cukup untuk mengobati istri Paman," kata Chinmi.


"Ini lebih dari cukup Tuan, dan mungkin untuk kebutuhan kami selama satu tahun kedepan mungkin masih lebih," kata Luo Jixing yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Istri Luo Jixing juga mendengar hal itu sehingga air matanya keluar membasahi pipinya, dia juga ingin berterima kasih kepada Chinmi, namun dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.


"Sukurlah! Kalau begitu saya pergi dulu, dan semoga istri paman cepat sembuh!" kata Chinmi kemudian keluar dari dalam rumah Luo Jixing.


"Tuan muda, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak, saya tidak tahu bagaimana cara untuk membalas kebaikan Tuan muda ini," kata Luo Jixing.


"Jika paman ingin membalas kebaikan ku, itu cukup mudah! Paman jangan pernah lagi mencuri, itu saja sudah cukup bagiku!" kata Chinmi kemudian berjalan kearah Bing Long yang menunggunya di depan rumah Luo Jixing.


"Tentu Tuan, saya berjanji tidak akan mencuri lagi!" kata Luo Jixing dengan semangat.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu!" kata Chinmi kemudian dia pergi meninggalkan Luo Jixing.


Chinmi sempat memperhatikan wilayah tersebut yang kumuh kemudian segera meninggalkan tempat tersebut dan pulang kerumah, karena Ibunya pasti sudah menunggunya.


"Ah.. Aku lupa menanyakan nama tuan muda tadi!" kata Luo Jixing ketika sadar jika dirinya belum mengetahui nama Chinmi.


Luo Jixing segera masuk menemui istrinya dan menceritakan kepada istrinya akan pertemuannya dengan Chinmi.


Walau istri Luo Jixing tidak bisa bicara, namun dia bisa mendengar semua yang diceritakan oleh Luo Jixing.


Luo Jixing segera pergi kerumah tabib untuk meminta sang tabib mengobati istrinya, sedangkan para tetangga Luo Jixing hanya bisa melihat keberuntungan yang didapat olehnya.


***


"Chinmi, kanapa kamu sangat lama sekali, lihat sup ayam kesukaanmu sudah mulai dingin!" kata Zhinie yang sejak tadi menunggu kepulangan Chinmi untuk sarapan.


"Maafkan Chinmi ibu, tadi ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu," kata Chinmi.


Bing Long kembali menjadi Naga kecil dan berjalan lebih dulu kadalam, sedangkan Chinmi dan Zhinie berjalan menuju ke meja makan.


"Ayah, kenapa ayah belum berangkat ke tempat latihan yang di katakan oleh jendral Zuo Yujiu?" tanya Chinmi kepada Li Xiang yang ternyata masih berada dirumah.


"Ayah akan pergi bersamamu kesana, jadi ayo kota sarapan bersama dulu!" kata Li Xiang.


"Chinmi, kali ini aku tidak ikut," Bing Long berbicara kepada Chinmi.


"Kenapa senior?" tanya Chinmi.


"Kota itu terlalu ramai dan juga pengap, aku tidak suka saja berada dikota itu," kata Bing Long.


"Terserah Senior saja."


Semuanya sarapan pagi bersama, Chinmi merasa senang karena bisa makan bersama keluarga, namun Chinmi sadar jika kebahagiaannya hanya sampai besok saja, karena dia akan segera pergi meninggalkan ayah dan ibunya untuk mencari gurunya yang tidak tahu dimana saat ini gurunya berada.


Saat sudah selesai sarapan, Chinmi dan Ayahnya segera pergi ke tempat latihan prajurit, karena di sana akan diadakan latihan pertandingan untuk para prajurit baru.


"Ayah, apakah ayah pernah berjalan ke pinggiran pasar?" tanya Chinmi saat di perjalanan.


"Tentu saja, di sana banyak rumah kecil-kecil yang kumuh," kata Li Xiang.


"Jika ayah sudah tahu, bagaiman dengan Yang Mulia, apakah dia juga tahu?" tanya Chinmi.


"Mungkin iya, atau juga tidak, itu karena Yang Mulia jarang pergi untuk melihat situasi rakyatnya! Emm.. Memangnya ada apa?" Li Xiang bertanya balik.


"Tadi aku dari sana..!" Chinmi menceritakan akan pertemuannya dengan Luo Jixing kepada Li Xiang.


Li Xiang merasa senang melihat sikap anaknya yang ternyata sangat peduli terhadap orang yang baru ia kenal.


"Anak seorang mentri ya!" kata Li Xiang yang sepertinya mengatahui pemuda yang sempat tercuri uangnya.


"Apa ayah mengetahui anak tersebut?" tanya Chinmi.


"Aku tahu, dia adalah anak Dong Yun yang saat ini menjadi mentri ekonomi di istana!" kata Li Xiang.


"Jadi benar pemuda itu adalah anak pejabat istana? Pantas dia agak angkuh," kata Chinmi.


"Kamu tenang saja, nanti kita akan menemui Yang Mulia, dan kemungkinan Dong Yun juga akan ada di sana."


"Baiklah, aku juga ingin menemui Raja Tao sekaligus ada yang ingin aku bicarakan padanya!" kata Chinmi.


Mereka berdua sampai di tempat latihan para prajurit. Jendral Zuo Yujiu segera menyapa mereka berdua, dan di sana tenyata juga ada Li Fang.


"Aku kira kamu tidak jadi datang! Sebentar lagi Yang Mulia juga akan datang kesini untuk melihat para prajurit-prajurit barunya sekaligus melihat bakat bertarungnya," kata Zuo Yujiu kemudian menatap Chinmi.


"Bagaimana kondisimu? Aku harap nanti kita bisa minum arak lagi bersama-sama lagi," kata Zuo Yujiu dengan tawa kecilnya saat mengingat Chinmi yang sedang mabuk.

__ADS_1


__ADS_2