PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Tiga Jiwa Tersesat


__ADS_3

Hantu Merah membunuh banyak anggota sekte Pulau Es dengan sangat sadis, dia tidak seperti para Meng Yi yang membawa tongkat kemana-mana untuk pergi, namun tongkat kayu Meng Yi sebenarnya adalah pusaka bumi berbentuk sabit yang bisa dilipat.


Seperti biasa Hantu Merah membunuh anggota sekte Pulau Es dengan cara merobek tenggorokan mereka dengan kuku panjangnya.


Gerakannya begitu cepat dan gesit hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan lawan yang seimbang.


"Hantu Merah sudah cukup, sekarang kau harus menghadapi ku!"


"Hah, kamu pikir bisa mengalahkan ku dengan mudah ha? Ingat aku tidak terkalahkan jika sudah malam, jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi lawan tanding ku."


"Kesombongan mu itu akan segera ku hapus di sini!"


"Coba saja Cao Xie, mari kita buktikan siapa diantara kita yang lebih hebat!"


Hantu Merah memanjangkan kuku merahnya beberapa senti dan kemudian kuku-kuku tersebut mengeluarkan aura kematian.


Cao Xie sendiri menggunakan senjata bumerang yang agak besar dan juga secara terus menerus mengeluarkan hawa dingin.


"Cakar Setan Merah."


Hantu Merah bergerak dengan berpindah-pindah posisi dan semakin lama semakin dekat, Sedangkan Cao Xie mengarahkan bumerang ke depan.


"Di sana..!" Cao Xie melempar bumerang nya kearah depan, Cao Xie hanya mengandalkan insting jika Hantu Merah pasti akan muncul di tempat itu.


Dan benar saja, Hantu Merah muncul tepat di depan bumerang tersebut kemudian membungkukkan badan menghindari serangan bumerang yang mengarah ke leher Hantu Merah.


Hantu Merah kembali bangun setelah bumerang tersebut sudah melewati dirinya, Hantu Merah segera maju dan menggunakan cakarnya untuk menyerang Cao Xie.


Namun dia lupa jika senjata Cao Xie adalah bumerang yang bisa kembali ke pemiliknya sehingga bumerang yang berputar balik mengenai kepalanya, dan Hantu Merah tersungkur di atas es.


"Aku tahu jika saat malam adalah kekuatanmu, namun itu adalah para hantu mu, sedangkan fisik mu tidak!" kata Cao Xie.


Mata Hantu Merah memerah karena tidak terima akan perkataan Cao Xie. Dia bangkit kembali dengan kepalanya yang masih ia rasa sakit kemudian menancapkan kukunya di atas es.


Sebuah retakan mulai muncul di bawah es akibat tancapan kuku Hantu Merah, setelah itu muncul asap hitam dari bawah dan secara perlahan-lahan asap hitam tersebut berubah menjadi beberapa hantu.


"Kau akan merasakan kemarahan ku Cao Xie, rasakanlah kekuatan ku ini!"


"Roh Sesat Pembunuh."

__ADS_1


Sekitar lebih dari dua puluh hantu berkekuatan tingkat Menengah menyerang Cao Xie secara bersamaan, mereka semua memiliki cakar hitam yang tajam dan juga panjang.


Cao Xie mengalirkan qi ke bumerang nya, kemudian melempar bumerang nya kearah para Hantu tersebut.


Setelah bumerang nya berada di tengah-tengah para hantu tersebut, bumerang tersebut berputar di tempat dengan sangat kencang hingga menciptakan energi angin yang sangat dingin.


Namun mereka terlihat tidak terpengaruh oleh angin dingin tersebut. Dan bahkan salah satu dari mereka ada sudah sampai di hadapan Cao Xie.


Cao Xie terpaksa melawan hantu tersebut dengan tangan kosong, walau hanya Hantu yang berada di tingkat menengah, namun melawannya bagai melawan pendekar tingkat Sihir.


Serangan Cao Xie sama sekali tidak bisa mengenai ataupun menyentuh tubuh hantu tersebut, namun serangan cakar hantu tersebut bisa melukai Cao Xie.


Cao Xie menarik kembali bumerang nya kemudian membuat bumerang tersebut sebagai pertahanan dari serangan para hantu yang kini sudah menyerangnya kembali.


"Bagaimana, apakah kamu sudah melihat kekuatanku ini?" kata Hantu Merah.


Cao Xie hanya berdecak kesal karena serangan dan pertahanannya sama sekali tidak bisa menghentikan para hantu-hantu tersebut, andai lawannya adalah manusia maupun Hewan Iblis, mungkin dia bisa melawannya.


Hantu Merah berniat menyelesaikan pertarungannya, namun petir tiba-tiba menyambar ke berbagai arah dan disertai awan yang sangat gelap.


Hantu Merah tersenyum lebar karena mengetahui akan fenomena tersebut, "Ini adalah Tiga Jiwa Tersesat milik ketua Meng!" gumam Hantu Merah.


Tiga Jiwa Tersesat adalah sebuah julukan kepada ketiga sosok yang baru muncul, Mereka bertiga adalah mahluk yang selalu menyerap jiwa manusia sehingga di juluki Tiga Jiwa Tersesat.


Hantu Merah merasa senang karena kemunculan mereka bertiga, namun Hantu Merah terkejut ketika tiba-tiba Xie Wen muncul dan melempar ketiga mahluk tersebut hingga menghantam es hingga pecah.


"Sudah kuduga ini adalah serangan dari kalian!"


Xie Wen menoleh kearah Hantu Merah sehingga membuat Hantu Merah menelan ludah.


"Kenapa kamu ikut campur urusan kami?" kata Meng Yi.


"Kenapa aku mau ikut campur urusan mu? Aku memang tidak berhak untuk ikut campur masalah ini, namun aku tidak akan membiarkan kalian semua melenyapkan sekte ini!" kata Xie Wen tanpa memberikan alasan yang jelas.


"Kamu pikir aku takut walau kamu adalah seorang pertapa?"


Meng Yi mengarahkan satu telapak tangannya ke depan dan kemudian terlihat sebuah energi yang membentuk pola rumit, setelah itu ketiga mahluk yang tadi sudah terlempar kembali muncul di hadapan Meng Yi tanpa terlihat terluka sedikitpun.


"Mereka bertiga sudah lebih dari cukup untuk melawan mu!" kata Meng Yi yang merasa yakin jika ketiga sosok yang ia panggil akan bisa mengimbangi Meng Yi.

__ADS_1


Xie Wen turun secara perlahan dan mendarat tepat di samping Zhihui. Dia hanya menggelengkan kepala melihat situasi yang terlihat kacau.


"Kalian sungguh keji, apa kalian pikir mereka bertiga akan mampu mengalahkan ku? Jangan salah, kedatanganku kesini juga untuk melenyapkan kalian semua!" kata Xie Wen.


"Hai manusia beraninya kamu meremehkan kami! Apa kamu tahu siapa kami? Kami adalah Tiga Mahluk terkuat di dunia Hitam, dan kami dijuluki sebagai Tiga Jiwa Tersesat!" kata salah satu dari mereka kemudian menyerang Xie Wen.


Dua mahluk lainnya juga ikut menyerang Xie Xie Wen dengan tangan mereka yang sangat besar.


Xie Wen menghilang dari hadapan mereka bertiga ketika serangan mereka hampir mengenai tubuh Xie Wen.


Xie Wen muncul kembali di tempat yang lebih jauh kemudian meramalkan mantra tangan dan melepaskan tapak kearah mereka bertiga.


Energi Angin membentuk sabit melesat ke arah mereka, namun mereka bertiga berhasil menghindar. Walau tubuh mereka mencapai lima meter, namun kecepatan mereka bertiga sungguh luar biasa.


Mereka bertiga kembali menyerang Xie Wen, kali ini mereka juga melepaskan sebuah benda aneh yang sangat banyak kearah Xie Wen.


Benda tersebut sangat halus sehingga tidak bisa dilihat oleh mata, namun Xie Wen bisa merasakan energi dari puluhan benda halus tersebut dan kemudian melepaskan pusaran angin untuk menghalaunya.


Benda-benda kecil yang tidak terlihat oleh mata tersebut hanyalah sebuah pengalihan saja, karena mereka bertiga berencana mendekati Xie Wen untuk bisa memberikan serangan mematikan mereka.


Xie Wen sudah menyadari akan hal itu kemudian membuat beberapa gelembung kecil di sekelilingnya.


"Sihir Tahap Satu, Segel Gelembung."


Gelembung-gelembung kecil tersebut mulai beterbangan dan kemudian mulai menabrak tubuh mereka bertiga


Semua gelembung kecil tersebut setiap kali menabrak mereka bertiga tidak langsung meledak, melainkan menempel satu persatu.


Semakin lama semakin besar sehingga tubuh mereka bertiga tidak bisa untuk digerakkan, "Ilmu apa ini, kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?" seru salah satu dari mereka dengan suara panik.


Andai mereka bertiga adalah Roh, mungkin mereka tidak terpengaruh dengan gelembung tersebut.


Xie Wen tidak banyak bicara, dia memperbanyak gelembungnya dan menyatukan dengan ketiga gelembung yang sudah menyatu dengan tubuh mereka bertiga.


"Apa yang terjadi, kenapa mereka tidak memberikan perlawanan?" gumam Meng Yi sambil memperhatikan mereka bertiga.


"Kamu tidak perlu memperhatikan mereka!"


Zhihui menyerang Meng Yi yang saat ini sedang memperhatikan pertarungan Xie Wen dan ketiga Jiwa Tersesat.

__ADS_1


Meng Yi lengah sehingga serangan Zhihui berhasil mengenai pundak Meng Yi hingga tubuh Meng Yi terlempar jauh.


Meng Yi menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh, dia melihat bahunya dan juga merasakan dingin di bagian bahunya.


__ADS_2