
Li Xiang penasaran akan isi dari surat yang dibaca oleh Raja Tao, dia tidak mau menganggu Raja Tao yang masih membaca surat dari Xian Fai dengan wajah serius.
Li Xiang bisa melihat senyum di wajah Raja Tao.Setelah selesai membaca isi surat tersebut, wajah Raja Tao lebih terlihat bahagia dari sebelumnya sehingga membuat Li Xiang semakin penasaran.
"Ada apa Yang Mulia, apa isi surat itu sehingga Yang Mulia terlihat sangat senang?" tanya Li Xiang.
"Xiang, yang kamu katakan memang benar, apa yang ingin aku lakukan ternyata sudah terwujud, aku yakin ini mungkin adalah bantuan yang diberikan oleh Dewa pada kita!" kata Raja Tao kemudian dia menyerahkan surat tersebut kepada Li Xiang agar dia juga mengetahuinya.
Li Xiang yang sudah sangat penasaran segera membuka surat tersebut dan membacanya.
"Ini..!" Li Xiang sedikit terkejut setelah membaca surat tersebut, namun setelah itu dia juga ikut tersenyum lebar.
"Yang Mulia, mungkin memang benar jika adalah bantuan dari Dewa," kata Li Xiang kemudian dia menatap kearah Xian Fai.
"Nama mu tadi adalah Xian Fai bukan?" tanya Li Xiang.
"Benar Jendral Li, nama hamba salah Xian Fai!" jawab Xian Fai.
"Aku tidak menduga jika semua sekte akan bersatu untuk membantu kerajaan kami, aku sungguh tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia ku ini!" kata Li Xiang.
"Xian Fai, aku akan mengirimkan Jendral Li Xiang untuk pergi ke pertemuan itu, jadi kamu bisa pergi bersamanya!" kata Raja Tao.
"Yang Mulia, kenapa harus hamba? Jika sampai hamba pergi juga, lalu siapa yang akan menjaga istana?" tanya Li Xiang.
"Aku sudah memutuskan, lagi pula pertemuan itu juga lebih penting dari apapun, aku yakin dalam waktu dekat ini kerajaan pasti akan aman, jadi pergilah ke pertemuan itu!" kata Raja Tao.
Li Xiang merasa keberatan atas permintaan Raja Tao, namun dia juga tidak mungkin menolak perintah rajanya sehingga hanya bisa menyetujuinya.
Li Xiang dan Xian Fai segera keluar dari dalam istana, dia tidak langsung pergi karena Li Xiang harus mengganti pakaiannya terlebih dahulu sekaligus memberi tahu Zhinie kalah dia akan pergi untuk beberapa waktu.
Mereka berdua segera pergi untuk melakukan pertemuan antar sekte aliran putih dan netral. Pertemuan tersebut akan di adakan di sekte Seribu Bunga yang ada di perbatasan Kerajaan Es Utara.
Berbeda dengan Zuo Yujiu dan Mei Xin, Li Xiang seharusnya bisa kesana dengan cara terbang, namun dia tidak melakukannya karena Xian Fai juga ikut bersamanya, sehingga mereka berdua pergi dengan menunggangi kuda tercepat di kerajaan Bumi Barat.
***
"Sedikit lagi kamu akan segera mampu mencapai puncak dari kekuatan Sihir Elemen Alam Bing'er!"
"Guru, aku ingin melebihi batasan kekuatan ku sendiri, jadi aku akan melakukannya lagi!"
Xie Wen dan Bing Mei berada di sebuah pulau kecil yang sangat jauh. Pulau tersebut menyerupai sebuah bukit, dan Xie Wen sedang melatih Bing Mei di puncak bukit tersebut.
Xie Wen tidak menduga jika kekuatan Bing Mei bisa meningkat dengan sangat cepat, sudah lebih dari setahun mereka berlatih dan Bing Mei mampu mencapai ke tingkat Pendekar Sihir Elemen Alam hanya dalam waktu singkat.
Semua latihan yang ia berikan semuanya di selesaikan oleh Bing Mei dengan cepat, bahkan dia menjadi Pendekar Sihir Elemen Alam saat usianya masih 19 tahun, dan kini dia akan mencapai puncak dari kekuatan tersebut.
"Bing'er, sebaiknya hari ini kita hentikan dulu latihan ini!" kata Xie Wen.
Bing Mei segera menoleh kearah Xie Wen, dia terkejut kerena tiba-tiba saja Xie Wen mengentikan latihannya.
"Ada apa guru?" tanya Bing Mei.
Xie Wen terdiam dengan memejamkan kedua matanya, jari-jarinya bergerak menghitung setiap perut jarinya dan kemudian kembali membuka matanya.
"Bing'er lihatlah cahaya di langit itu, ini masih sore dan terlihat cahaya seperti bintang jatuh ke arah barat!" kata Xie Wen.
Bing Mei segera menoleh kearah yang dimaksud, namun dia tidak melihat Cahaya yang dimaksud.
Bing Mei berniat ingin bertanya kembali, namun kemudian dia bisa melihat cahaya yang di maksud, tidak hanya satu melainkan ada beberapa cahaya menyerupai bintang jatuh.
"Jika ramalanku tidak salah, ini pertanda akan ada kekacauan besar, aku tidak tahu di mana pastinya kekacauan ini akan terjadi, namun kekacauan ini akan melibatkan banyak tokoh-tokoh penting akan ikut dalam kekacauan tersebut dan kehancuran sepertinya tidak bisa dihindari!" kata Xie Wen.
"Guru, apakah itu akan benar-benar terjadi?" tanya Bing Mei.
__ADS_1
Xie Wen tersenyum lembut dan kemudian dia mengelus rambut Bing Mei yang halus dan panjang.
"Bing'er setiap ramalan tidak selalu benar, namun aku juga tidak tahu apakah ramalanku ini akan jadi kenyataan atau tidak!" kata Xie Wen.
Xie Wen memang bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, namun dia juga tidak berharap agar Bing Mei tidak terlalu bergantung kepada ramalan, apa lagi akan ramalan masa depan yang seharusnya hanya dewa lah yang mengetahuinya.
"Guru, jika guru ingin istirahat silahkan istirahat terlebih dahulu, aku akan meneruskan latihanmu sendiri!" kata Bing Mei.
"Baiklah Bing Mei, namun ingat jangan melakukan latihan di luar batas kemampuan mu!" kata Xie Wen.
Bing Mei mengangguk, namun di hatinya dia berniat untuk berlatih hingga batas kemampuannya sendiri.
"Bing'er, aku akan pergi menemui para pertapa yang lain, mungkin hanya seminggu!" kata Xie Wen.
Bing Mei sudah terbiasa di tinggal sendiri oleh Xie Wen setelah memberikan arahan latihan, biasanya Xie Wen akan pergi selama lebih dari dua Minggu dan kali ini dia hanya berniat pergi selama seminggu.
"Jaga diri baik-baik, ingatlah pesanku jangan berlatih melebihi batas kemampuan mu!" kaya Xie Wen.
"Murid mengerti guru dan akan selalu mengigat pesan guru!" kata Bing Mei.
Xie Wen segera terbang ke udara meninggalkan Bing Mei di pulau itu seorang diri. Xie Wen sama sekali tidak khawatir akan terjadi hal buruk kepada Bing Mei, karena pulau yang ia tempati berada di tengah laut yang sangat luas.
Pulau tersebut sebenarnya adalah Pulau Bukit Harapan yang ada di perbatasan Benua Daratan Utara dan Benua Daratan Tengah dan nama pulau tersebut di ambil dari situasi di sekitarnya.
Gelombang besar di luar pulau Bukit Harapan sangatlah besar dan akan sangat sulit bagi perahu atau kapal akan melewatinya, dan jika ada kapal yang tetap berusaha menyebrangi lautan tersebut, maka mereka pasti akan tenggelam dan akan mati.
Karena itu pulau itu di juluki sebagai Pulau Bukit harapan, karena jika beruntung orang-orang pelaut akan segera menepi saat ada badai laut, karena hanya pulau tersebut yang bisa dijadikan harapan untuk selamat.
"Aku harus bisa menembus ke tingkat Pertapa sebelum guru kembali!" kata Bing Mei.
Bing Mei sudah mendapatkan arahan sebelumnya akan cara menembus ke tingkat Pertapa, sehingga dia ingin melakukannya sendiri.
Xie Wen pernah menunjukkan jika di pinggir tebing yang ada di pinggir pantai memiliki sebuah goa yang sangat dalam, di dalam goa tersebut memiliki qi yang sangat padat, andai saja Xie Wen tidak memasang pelindung di dalam goa itu, pasti qi yang ada di dalam goa akan keluar.
Bing Mei segera masuk kedalam goa, setelah cukup dalam, Bing Mei segera membuat obor yang ia persiapkan dan berjalan lebih jauh.
Mulut goa tersebut tidak terlalu besar dan jalan masuknya juga sedikit lebih sempit, namun di tempat yang paling dalam tenyata cukup lebar dan luas.
Dinding menyerupai gelembung air juga terlihat di pintu dekat ruangan goa yang sangat lebar tersebut
"Aku akan menyerap qi yang tebal ini sekarang juga!" kata Bing Mei setelah menyalakan beberapa obor yang ada di setiap dinding goa dan Bing Mei segera bermeditasi dan menyerap qi yang ada di dalam goa itu.
Dahulu kala Xie Wen juga berhasil menembus ketingkat pertapa di goa tersebut. Xie Wen berhasil menembus ketingkat pertapa karena dia juga menyerap qi di dalam goa tersebut.
Namun waktu yang dibutuhkan oleh Xie Wen sangatlah lama bahkan hingga lebih dari seratus tahun baginya untuk bisa menembus ketingkat Pertapa.
Entah apa yang di pikirkan oleh Bing Mei saat ini, dia hanya berharap bisa menembus ketingkat Pertapa dalam waktu kurang dari seminggu.
Bing Mei juga merasa mustahil, namun dia akan tetap mencoba untuk menembus batas kemampuannya sendiri.
Secara perlahan-lahan Bing Mei menyerap qi yang ada di dalam goa tersebut, beruntungnya Bing Mei sudah bisa membangun dua Pondasi walau tidak sempurna, dan juga sedikit bisa membuka dua pintu dari keenam pintu yang ia miliki.
Namun Bing Mei tidak mengetahui jika dirinya tidak berhati-hati maka resikonya akan sangat fatal.
Memang Bing Mei akan bisa menjadi seorang Pertapa, namun dia tidak akan sepenuhnya bisa memiliki kekuatan tersebut karena pondasinya masih ada dua.
Andai keempat pondasinya sudah dibentuk walau tidak sempurna, pastinya dia akan mampu mencapai tingkat Pertapa.
Karena itu Xie Wen tidak mau jika Bing Mei terlalu terburu-buru sehingga melebihi batas kemampuannya.
Kini Bing Mei semakin mempercepat menyerap qi yang terasa tidak terbatas tersebut dan tanpa Bing Mei sadari jika dirinya sudah tiga hari bermeditasi di sana.
Seluruh dinding goa mulai bergetar dan beberapa batu-batu kecil mulai berjatuhan akibat energi yang mulai terpancar dari tubuh Bing Mei.
__ADS_1
Semakin lama qi yang di serap oleh Bing Mei semakin banyak, bahkan Dantian nya seolah-olah sudah tidak mampu lagi untuk menyimpan qi yang begitu banyak.
Bing Mei mulai mengeluarkan darah dari tepi bibirnya, dan tubuhnya mulai terasa seperti mau hancur dan hampir membuat Bing Mei tidak sadarkan diri.
Namun yang berikutnya terjadi justru membuat Bing Mei terkejut dan merasa tidak percaya akan apa yang ia rasakan berikutnya.
Dantian nya yang serasa tidak cukup untuk menampung qi yang ia serap kini membesar sehingga mampu menyerap lebih banyak qi yang ia serap.
Bing Mei tidak mengetahui jika saat ini dia sudah melebihi batasannya sendiri sehingga mampu melewati puncak dari tingkat Sihir Elemen Alam.
Bing Mei baru menyadari saat dirinya merasakan kekuatannya sendiri, dia mencoba mengeluarkan energinya dan tiba-tiba seluruh dinding dalam goa langsung bergetar kencang seakan-akan mau runtuh.
Energi yang di pancarkan oleh Bing Mei setara dengan She Chin, Bing Mei berhasil menembus ketingkat Pertapa dan itu baru awal baginya untuk bisa menembus puncak kekuatan Pertapa, dan itu berhasil ia lakukan hanya dalam waktu lima hari saja.
***
"Bing'er..! Bing'er..!"
Xie Wen datang setelah pergi selama seminggu dan mencari-cari keberadaan Bing Mei, namun dia sudah memanggilnya berkali-kali tidak ada jawaban sama sekali.
"Kemana perginya anak itu?" batin Xie Wen sambil berjalan ke menuju kearah kursi kayu tempat biasa ia beristirahat.
Xie Wen ingin duduk namun membatalkannya setelah merasakan kekuatan besar datang menghampirinya.
"Ada kekuatan Pertapa lain di tempatku ini!" gumam Xie Wen kemudian dengan secepat kilat dia bergerak kearah sumber kekuatan yang berasal dari arah bawah.
Xie Wen bersiap menyerang jika ada Pertapa lain yang berniat untuk menyerangnya, karena selain dirinya tidak ada yang tahu tempat nya bahkan Wu Tong, Tian Xiang dan Fan Yuzhen sekalipun tidak mengetahui tempat rahasianya.
Xie Wen segera menemukan orang tersebut yang ternyata adalah Bing Mei yang berjalan dengan tenang kearahnya.
"Guru, maaf aku tidak tahu jika guru sudah datang!" kata Bing Mei.
Xie Wen hanya menatap Bing Mei dengan tatapan tidak percaya, bahkan dia sampai tidak menjawab perkataan Bing Mei yang menyapanya.
"Guru..! Ada apa, kenapa guru memandangiku seperti melihat orang asing?" tanya Bing Mei.
Xie Xie segera tersadar dan segera menjawab sekaligus bertanya kepada Bing Mei, "Bing'er, apa yang terjadi padamu?" tanya Xie Wen.
Bing Mei bingung dengan pertanyaan gurunya, "Memang ada apa? Apakah wajah ku berubah?" tanya Bing Mei sambil meraba wajahnya sendiri.
"Bing'er bagaimana kamu bisa menembus ketingkat Pertapa?" tanya Xie Wen.
Walau hanya awal dari kekuatan Pertapa saja, namun itu tetap saja adalah kekuatan seorang Pertapa yang kekuatannya sangat besar.
Bing Mei segera menceritakan akan apa yang ia lakukan setelah kepergian Xie Wen sedangkan Xie Wen tidak menduga jika muridnya berhasil menembus batas kelautannya sendiri.
"Aku bangga memiliki murid seperti mu Bing'er! Sekarang kamu sudah menjadi Pertapa termuda sepanjang sejarah, namun itupun jika murid si Yuzhen itu belum bisa menjadi Pertapa!" kata Xie Wen.
Bing Mei jelas mengetahui siapa yang di maksud oleh Xie Wen, dia tidak lain adalah Chinmi, dia juga yakin jika Chinmi mungkin sudah lebih dulu menjadi seorang Pertapa.
"Bing'er, sebaiknya kamu menyembunyikan kekuatanmu, tidak semua orang mampu mengukur kekuatanmu kecuali hanya kami para Pertapa saja!" kata Xie Wen.
Bing Mei mengangguk dan kemudian berencana untuk naik puncak bukit sekaligus ingin mengetahui akan kabar yang terjadi di luar sana.
Xie Wen menghentikan langkahnya ketika merasakan ada orang lain lagi selain mereka berdua di sana.
Xie Wen menoleh ke atas dan melihat sosok sedang turun kearah mereka berdua, sedangkan Bing Mei juga ikut menoleh keatas dan melihat sosok yang sama.
Bing Mei menyipitkan matanya karena tidak bisa melihat sosok tersebut dengan jelas, sedangkan Xie Wen sedikit waspada karena dia sama sekali tidak bisa merasakan kekuatan sosok tersebut.
Setelah sosok tersebut mulai bisa dilihat dengan sangat jelas, Bing Mei sangat terkejut karena sosok tersebut sangat tidak asing baginya.
"Dia pasti datang ke Pulau Bukit Harapan karena merasakan kekuatanmu tadi!" kata Xie Wen dan segara berdiri dihadapan Bing Mei untuk melindunginya.
__ADS_1