
***
Di Kerajaan Bumi Barat, Raja Tao bersama dengan seluruh pejabat istana sekaligus dengan para prajurit sedang membagikan kain tebal kepada seluruh rakyat di Kerajaan Bumi Barat.
Kain tersebut khusus untuk menahan dingin, dan kain tersebut adalah sumbangan dari Kerajaan Es Utara, namun sebagian juga di beli langsung oleh Raja Tao.
Raja Tao sebenarnya ingin pergi ke rumah Li Xiang karena disana ada Chinmi dan beberapa pendekar hebat sedang berkumpul di rumah Li Xiang.
Namun dia ingat jika prioritasnya sebagai Raja untuk menstabilkan kondisi rakyat nya yang saat ini di landa krisis, terlebih lagi kondisi wilayah Kerajaan Bumi Barat yang saat ini membeku.
Li Xiang juga ada di sana ikut membantu Raja Tao, begitu juga dengan Jenderal-jenderal lainnya dan bahkan mantan jendral juga terlihat disana, dia adalah Yue Chan, ayah Yue Rong atau mertua dari Li Fang.
"Jendral Li, aku kehabisan kain, apakah di kereta masih ada yang tersisa?" Jendral Mei Xin bertanya kepada Li Xiang.
"Eeee.. Sepertinya masih ada beberapa lembar lagi, coba saja kamu bertanya kepada mereka!" kata Li Xiang sambil menunjuk kearah prajurit yang sedang berdiri di depan kereta barang.
Yue Chan juga datang menghampiri Li Xiang, "Junior Li, aku juga kehabisan kain untuk di bagi, sepertinya masih banyak warga yang belum mendapatkan bagian!" kata Yue Chan.
"Kakek, ayah dan ibu kan juga punya kain, kenapa tidak milik mereka saja di bagikan kepada mereka?" Yue Hua sejak awal sudah menemani kakek nya sejak awal dan dia merasa kain milik ayah dan ibunya juga tidak pernah di pakai.
Yue Chan tersenyum lembut sambil mengusap kepala cucunya, "Hua'er, jika kain mereka juga diberikan kepada para warga, lalu ayah dan ibumu bagaimana? Apakah mereka juga tidak akan kedinginan?" tanya Yue Chan dengan duduk agar tubuhnya bisa sejajar dengan cucunya.
"Tidak tahu..!" jawab Yue Hua dengan polos nya.
"Hua'er ada hal yang belum kamu ketahui, jadi sebaiknya kamu pergi membantu ayah disana!" kata Li Fang menunjuk kearah Li Fang.
"Em-em! Ayah terlalu sibuk dan dia jarang sekali berbicara saat sedang sibuk dan itu sangat membosankan bagiku!" kata Yue Hua sambil menggelengkan kepalanya.
Yue Chan dan Li Xiang sama-sama tertawa mendengar jawaban Yue Hua, mereka merasa senang sesaat sehingga mereka bisa sedikit melupakan masalah berat yang sedang mereka hadapi.
Di sisi lain Li Fang dan Raja Tao juga bersama-sama membagikan semua pakaian kepada para semua orang.
"Jendral Li Fang, sepertinya ini semua tidak akan cukup, aku akan menggunakan seluruh uang untuk membeli lebih banyak baju lagi," kata Raja Tao.
Dia merasa semua pakaian yang ia miliki tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh rakyat di Kerajaan Bumi Barat.
"Yang Mulia, sepertinya semua pakaian di Kerajaan Es Utara juga sudah habis!" kata Li Fang.
Saat ini yang membeli pakaian tersebut tidak hanya Kerajaan Bumi Barat saja, namun dua Kerajaan lain juga melakukan hal yang sama.
Oleh karena itu tidak mungkin Kerajaan Es Utara memiliki pakaian sebanyak itu untuk mencukupi seluruh rakyat di seluruh Benua Daratan Tengah.
"Situasinya semakin rumit saja! Sampai kapan situasi ini akan berakhir?" kata Raja Tao dengan wajah kusut.
"Hamba juga tidak tahu Yang Mulia!" kata Li Fang.
Ketika mereka sedang berbincang sambil membagikan pakaian, Kun dan Niu datang dan menghampiri Li Xiang.
__ADS_1
"Tuan Li, apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Niu.
"Hei.. Wanita tidak boleh bicara lebih dulu!" Kun menegur Niu.
Semua perhatian mereka semua tertuju kepada mereka berdua. Raja Tao dan Li Fang juga segera menyerahkan sisa pembagian baju kepada para prajurit, dan mereka berdua segera menghampiri Kun dan Niu.
"Paman, Bibi! Apakah kalian tidak merasa dingin?" tanya Yue Hua.
"Hai gadis kecil! Bukan kah kamu adik sepupunya Chinmi?" tanya Niu sekaligus mengusap kepala Yue Hua.
"Em! Aku adiknya!" jawab Yue Hua dengan di sertai anggukan.
"Kami tidak akan merasa dingin, jadi kami tidak membutuhkan pakaian seperti itu," kata Kun yang masih berdiri.
"Kun, bisakah kamu bicara sedikit lembut kepada anak kecil?" Niu menatap Kun dengan tatapan kesal.
"Aku sudah berbicara lembut, hanya perasaanmu saja yang mengira jika aku berbicara kasar padanya!" kata Kun sambil memalingkan wajahnya dari Niu.
"Benarkah? Seingatku kamu tidak pernah bisa bicara lembut kepada anak kecil, bahkan dulu anak Tuan Ho Chen sampai menangis gara-gara kamu!" kata Niu.
"Jangan membicarakan masalah yang sudah sangat lama berlalu."
Niu tertawa kecil melihat expresi wajah Kun yang mulai terlihat merah saat dia mengungkit kembali masa lalu Kun yang pernah membuat anak pertama Ho Chen menangis.
"Tuan dan Nona, maaf karena aku tidak tahu jika kalian akan datang ke tempat ini!" Raja Tao datang dan memotong pembicaraan mereka berdua.
Perkataan Niu membuat semua yang mendengarnya terkejut, namun Raja Tao tidak marah mendengar Niu memanggilnya Raja tua.
"Hahahaha...! Tentu saja aku harus datang, bagaimana pun ini juga adalah tanggung jawabku," jawab Raja Tao.
"Tuan Li, kami berdua datang kesini atas perintah tuan Ho Chen, kekuatan kami sudah pulih jadi kami akan membantu untuk membuat hawa di sini sedikit lebih hangat, namun ini hanya bisa bertahan untuk beberapa hari saja," kata Kun.
"Bagaimana caranya?" tanya Li Xiang.
"Dengan energi kami tentunya!" jawab Kun.
"Jika benar kalian bisa melakukannya, aku sebagai Raja di Kerajaan ini mengucapkan banyak terima kasih!" kata Raja Tao.
"Niu, sudah cukup main-mainnya! Ayo segera kita lakukan akan apa yang di perintahkan oleh Tuan Ho Chen!" kata Kun.
"Siapa yang bermain-main?" Niu memasang wajah masam dengan nada manjanya.
Mereka berdua segera berdiri bersama dan kemudian mereka berdua melepaskan energi mereka masing-masing.
Niu memiliki Elemen kayu, dan Kun memiliki Elemen api. Kun melepaskan aura panas sehingga seluruh area menjadi lebih hangat.
Setelah sedikit hangat, Niu membuat akar pohon kecil tumbuh dari bawah bongkahan es, dan akar-akar tersebut merambat dan menutupi sebagian es agar wilayah tersebut jauh lebih hangat.
__ADS_1
Teori tersebut cukup sederhana, dilihat dari manapun kayu akan sangat mudah terbakar jika terkena api, karena itu dengan energi api dari Kun, seharusnya kayu-kayu tersebut akan terbakar, namun karena ada es dibawahnya kayu-kayu tersebut tidak terbakar.
Kayu tersebut akan menyerap es yang ada di bawahnya, sedangkan hawa panas akan mempertahankan kayu agar tidak membeku.
"Wah..! Hangat sekali," kata salah satu warga saat merasakan hawa panas yang berubah menjadi hangat.
"Kenapa ini tidak terpikirkan!" kata Zuo Yujiu yang melihat dari jauh.
Memang cara seperti itu mungkin bisa digunakan, namun jika ingin melakukan hal itu di butuhkan energi yang sangat besar, pendekar di tingkat pertapa saja tidak mungkin sanggup bertahan cukup lama.
Kun membuat bola cahaya berwarna merah terbang ke udara dan kemudian bola tersebut hanya berputar-putar saja di udara memberikan hawa panas secara terus menerus.
"Sebenarnya ini bisa dilakuan dengan mudah oleh Tuan Ho Chen maupun Chinmi, kenapa mereka justru menyuruh kami berdua?" batin Kun.
Memang benar cukup Ho Chen atau Chinmi saja sudah cukup untuk melakukan semua ini sendiri mengingat kekuatan mereka berada di tingkat Dewa.
Namun Kun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ho Chen dan para Manusia berkekuatan Dewa lainnya.
Alasan Ho Chen mengutus mereka berdua agar mereka berdua lebih akur saat bersama. Sejak dari dulu baik itu Kun, Niu, dan Yu tidak pernah akur, mereka selalu saja berdebat dan kadang bertengkar.
Namun nyatanya mereka berdua tetap saja saling berdebat dan tetap saja berselisih pendapat.
"Terima kasih atas bantuan Tuan dan Nona berdua!" kata Raja Tao.
"Kalian jangan senang dulu, ini hanya akan bertahan dua sampai tiga hari saja!" kata Kun.
"Itu sudah sangat cukup bagi kami untuk mengumpulkan pakaian sekaligus kami ingin membuat baju sendiri," kata Li Fang.
"Benar sekali! Kalua begitu aku serahkan semua ini padamu Jendral Li Fang!" kata Raja Tao.
"Yang Mulia..!" Li Fang tidak menyangka jika ide yang baru dia sampaikan justru menjadi bumerang baginya.
"Baiklah jika demikian, karena tugas kami sudah selesai, jadi kami akan kembali dulu!" kata Kun.
Tidak ada yang berani menghentikan atau menahan mereka berdua sehingga mereka berdua pergi tanpa ada yang menghalangi.
"Seharunya Chinmi juga bisa melakukan ini!" batin Li Xiang.
Dia yakin seharusnya Chinmi bisa melakukan akan apa yang di lakukan oleh Kun dan Niu. Sekarang Li Xiang sudah tahu jika Chinmi sudah memiliki kekuatan Dewa.
Awalnya Li Xiang sempat terkejut dan tidak percaya jika Lingkaran yang pernah muncul di belakang kepala Chinmi adalah tanda dari kekuatan mode Dewa.
Namun dengan kesaksian sekaligus mengetahui jika dari semua yang ada di rumahnya ada lima manusia yang memiliki kekuatan Dewa yang di juluki sebagai Dewa Abadi.
Sedangkan satu lagi adalah Dewi atau salah satu Dewa yang sesungguhnya, sedangkan masih ada satu lagi yang sudah lebih dulu pergi, dia adalah Cao Yuan yang ternyata adalah Dewa yang asli.
Li Xiang merasa sangat bangga dan juga tidak percaya jika Chinmi bisa memiliki kekuatan Dewa, dan dia juga tidak pernah bermimpi jika akan bertemu dengan Dewa yang sebenarnya.
__ADS_1
Namun Li Xiang tidak memberitahukan atau menceritakan kepada siapapun, dan biarlah ini akan menjadi Rahasia dirinya saja.