
"Dari Sekte mana gadis kecil itu berasal?"
"Aku tidak tahu!
"Iya aku juga."
Semua mulai saling bertanya akan siapa gadis kecil tersebut dan dari sekte mana, namun tidak ada yang mengetahui akan identitas gadis tersebut.
"Sungguh beruntung sekte yang memiliki murid itu, namun caranya agak sedikit keterlaluan terhadap lawannya," salah satu penonton meberikan argumennya.
"Sejak tadi aku perhatikan dia mengalahkan lawan-lawannya dengan sangat mudah seolah-olah dia seperti seorang pendekar menengah!"
"Mana mungkin gadis semuda itu memiliki kekuatan tingkat menengah, kamu ini ada-ada saja!"
"Benar, mungkin saja sihir elemen debu nya itu memang benar-benar kuat, benar tidak?"
Kini penonton semakin riuh dengan membicarakan gadis kecil tersebut yang entah dari sekte mana gadis tersebut berasal.
Kini mereka sudah memiliki pemikiran untuk memastikan siapa yang akan menjadi pemenang hingga diakhir pertandingan nanti.
Gadis kecil tersebut tidak peduli akan orang-orang yang menatapnya bahkan sampai mendapatkan perhatian dari Raja Bao yang juga ikut mengamati dirinya.
"Sepertinya jaman sudah berubah, banyak sekali anak-anak berbakat di berbagai sekte, semoga mereka bisa menjadi pendekar yang baik!" gumam Raja Bao.
Melihat betapa mudanya gadis kecil tersebut, Raja Bao berharap gadis tersebut bisa mendapatkan bimbingan yang baik, karena anak yang masih berkembang sangat disayangkan jika jatuh ketangan orang-orang jahat.
Di sisi lain para murid dari sekte Bukit Matahari sedang berhadapan dengan dua peserta yang terlihat berumur sama dengan mereka.
"Siapa kalian sebenarnya, dan dari sekte mana kalian berasal?" tanya Jiu Heng yang terlihat kesulitan menghadapi kedua pemuda tersebut bahkan dengan gabungan ketiganya sekalipun, mereka masih kesulitan untuk mengalahkan dua lawannya tersebut.
"Kami berdua hanya dari sekte kecil saja! Lagi pula biarpun kami memberitahukan nama sekte kami kepada kalian, kalian belum tentu mengetahuinya," kata salah satu dari mereka.
"Sudahlah Jiu, sebaiknya kita serang lagi secara bersamaan!" kata Fai Han kemudian bergerak dengan cepat untuk mengalahkan dua lawannya.
"Rui Ling ayo maju bersama," ajak Jiu Heng kepada Rui Ling.
Mereka bertiga kembali menyerang dengan kedua lawannya secara bersamaan, sedangkan kedua lawannya dengan tenang menyambut serangan mereka berdua.
__ADS_1
Jiu Heng menyerang mengunakan telapak tangannya yang kini sedikit merah menyala.
"Sihir Api Tapak Melebur Jiwa."
Jiu Heng mengarahkan tapaknya ke arah punggung salah satu lawannya, namun dengan mudah serangan tersebut dipatahkan.
"Sihir Api Tarian Burung Api."
Rui Ling juga mengeluarkan Sihir apinya dengan cara mengalirkan api selendangnya namun selendang tersebut tidak hangus terbakar dan justru terlihat seperti sayap burung yang ber api-api setelah Rui Ling memainkannya.
Rui Ling menyerang secara terus menerus mengibaskan selendang apinya yang menyala kearah lawan yang di hadapi oleh Jiu Heng.
Sang lawan berusaha menghindari serangan selendang tersebut dengan cara bergerak mundur dan sebisa mungkin menghindar agar tidak terkena api dari selendang tersebut.
"Kau lumayan juga cantik, apakah kamu masih memiliki tarian yang lain?" ucap lawannya sembari menjilati bibirnya seolah-olah menginginkan tubuh Rui Ling.
Rui Ling melihat itu merasa jijik dan sebisa mungkin menjaga jarak dengan menyerang menggunakan selendangnya karena hanya itu yang bisa membuat jarak antara mereka sedikit menjauh.
Jiu Heng merasa tidak tahan lagi melihat Rui Ling seperti dipermainkan oleh lawannya, "Rui Ling aku percayakan sisanya padamu!" kata Jiu Heng yang berlari dan melewati Rui Ling menuju ke arah lawannya.
"Ini..!" Rui Ling menangkap giok tersebut dan menyadari akan apa yang akan dilakukan oleh Jiu Heng.
"Sihir Api Tubuh Api Iblis."
Tubuh Jiu Heng seketika itu juga menyala dan sangat terlihat kobaran api yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang ingin kamu..! Hei tunggu apa kamu sudah gila..!"
Lawan Jiu Heng terkejut setelah melihat api diseluruh tubuh Jiu Heng yang semakin membesar, di tambah lagi Jiu Heng melepaskan api mengitari lawannya sehingga lawan tersebut tidak bisa meloloskan diri.
Jiu Heng mendekap tubuh lawannya sekaligus mengambil lencana milik lawannya yang memiliki 3 lencana dan melemparkannya kepada Rui Ling.
"Tenang saja, kita tidak akan mati, namun kita akan keluar bersama dari sini!" kata Jiu Heng kemudian mendorong lawannya keluar dari arena dan menembus prisai es tersebut.
Seketika itu juga api ditubuh Jiu Heng padam sebelum membakar lawannya. Jiu Heng sudah memperhitungkan sebelumnya jika menyentuh lawannya dan segera mendorongnya bersama dengan dirinya pastinya apinya tidak akan sempat membakar lawannya.
"Kamu benar-benar lawan yang gila!" gerutu orang tersebut kepada Jiu Heng yang sudah ada diluar bersamanya.
__ADS_1
Jiu Heng membalikkan badannya dan terlentang di atas salju dengan baju sebagian sudah hangus terbakar namun tidak seluruhnya.
Rui Ling yang sudah menerima lencana lawannya dari Jiu Heng kini hanya bisa menatap Jiu Heng yang sudah berada diluar kemudian beralih menatap Fai Han yang masih belum mampu mengalahkan lawannya.
"Kami pasti bisa maju ke 10 besar," kata Rui Ling setelah mengikat semua lencana yang ia miliki kemudian pergi membantu Fai Han.
"Rui Ling waspadalah, dia tidak bisa menggunakan ilmu sihir, dan sepertinya dia sangat ahli dalam ilmu bela diri tingkat tinggi," kata Fai Han setelah Rui Ling berada disampingnya.
"Baik aku mengerti, kalau begitu kita batasi ruang geraknya!" kata Rui Ling yang bersiap menggunakan ilmu sihirnya.
"Owh sekarang datang satu lagi yang membantu, kalian pikir kalian berdua bisa mengalahkanku!" ucap lawan mereka setelah melihat Rui Ling yang bersiap melepaskan sihir apinya.
"Lihatlah kekuatanku ini!."
"Jurus Langkah Petir."
Pemuda tersebut lansung melesat dengan kecepatan tinggi bahkan hanya menyisakan angin dibekas pijakannya.
"Cepat sekali aku tidak bisa melihatnya.." kata Rui Ling yang tidak bisa melihat lawannya berlari mengitari mereka berdua.
"Sihir Api Tubuh Api Iblis."
Fai Han berencana mengunakan ilmu seperti yang digunakan oleh Jiu Heng dan berencana untuk melebarkan apinya agar lawannya tidak bisa berlari mengitari mereka berdua.
"Apiku, kenapa aku tidak bisa menggunakan apiku?"
Api ditubuh Fai Han hanya menyala sebentar kemudian mengecil dan padam. Bukan hanya itu saja, bahkan mereka berdua seperti tidak bisa bernafas. Sedangkan lawannya semakin menambah kecepatan larinya.
"A-aku ti-tidak bisa ber-bernafas..!" Rui Ling kesulitan untuk berbicara bahkan bernafaspun juga kesulitan.
"Rui Ling, bertahanlah..!" kata Fai Han namun dia sendiri sebenarnya sulit untuk bernafas.
Sedangkan penonton semakin tertarik melihat pertarungan mereka, karena lawan Fai Han yang berlari memutari mereka berdua terlihat seperti terkurung dibadai yang diselimuti oleh petir.
"Cerdas sekali, walau tidak memiliki Ilmu Sihir Elemen, namun dengan kekuatan fisik yang sangat besar dengan hanya mengandalkan kecepatan kaki saja sudah bisa mengimbangi mereka yang memiliki ilmu sihir Elemen," kata Tian Xing mengamati kedua murid sektenya yang seperti terpojok.
"Owh bukanlah itu salah satu jurus dari sekte Lembah Petir, tidak kusangka sekte kecil itu juga mengikutkan murid mereka dalam pertandingan ini!" kata salah satu penonton yang mengenali jurus pemuda tersebut.
__ADS_1