
***
Sudah dua bulan berlalu setelah kematian Hu Mochu, saat ini Hantu Merah bersama beberapa anggotanya sedang berada di perbatasan Kerajaan Bumi Barat.
"Apa kamu menemukan petunjuk senior?" tanya salah satu bawahannya.
Hantu Merah mencium kain yang diberikan She Chin kepada Meng Yi. Hantu merah mengambil sedikit tanah dan mencium tanah tersebut.
Dia pernah lewat sini, tapi tidak melewati darat, melainkan dia terbang di udara, dan dia menuju kearah kerajaan Api Timur,'' kata Hantu merah.
Walau She Chin tidak memberikan kabar informasi yang lengkap kepada Meng Yi, namun bagi Hantu Merah, itu tidak diperlukan.
"Apakah kita akan ke sana?"
"Hai...! Jika kamu tidak mau ikut, sana kembali ke sekte,"
Para anggota bawahan Hantu Merah saling meledek dan bertengkar satu sama lain.
"Diam kalian semua!" bentak Hantu merah.
Hantu merah merasakan ada langkah kaki menuju kearahnya, "Cepat bersembunyi!" kata Hantu Merah dan dia lebih dulu menghilang.
Semua anggotanya juga dengan cepat menghilang bagai hantu, mereka semua bersembunyi di balik bayangan kayu, karena keahlian mereka adalah bersembunyi.
Setelah beberapa saat, mereka melihat seorang gadis memakai penutup wajah, gadis tersebut hanya seorang diri saja, namun mereka mengenali kain yang dipakai oleh gadis tersebut.
"Murid dari sekte Pulau Es!" batin Hantu merah.
Mereka semua juga mengenali baju gadis tersebut, namun mereka tidak mengenalinya karena gadis tersebut memakai penutup wajah.
Tidak satupun dari mereka yang berani keluar dari persembunyian jika tidak ada perintah dari Hantu Merah. Sedangkan Hantu Merah juga menunggu waktu yang tepat untuk menyerang gadis tersebut.
Hantu Merah merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan salah satu anggota sekte Pulau Es, menurutnya ini waktu yang tepat untuk mengurangi jumlah kekuatan sekte tesebut.
Dengan membunuh calon pendekar dari sekte Pulau Es, itu akan menjadi langkah awal untuk mengurangi kekuatan masa depan.
Gadis tersebut tidak lain adalah Bing Mei yang sedang menuju kearah Kerajaan Bumi Barat.
Bing Mei sedikit melambatkan jalannya, dia dapat merasakan ada mata yang sedang memperhatikannya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Ada enam orang yang sedang mengawasi ku!" gumam Bing Mei sambil memperlambat langkahnya.
Bing Mei sangat waspada, dia melihat ke sekelilingnya, walau tidak melihat mereka, namun Bing Mei bisa merasakan jika ada enam pasang mata yang sedang mengawasinya.
"Sepertinya dia menyadari keberadaan kami!" batin Hantu Merah yang juga bersembunyi di bayangan kayu.
"Aku tahu kalian bersembunyi, keluarlah!" kata Bing Mei kemudian dia mencabut pedangnya.
"Hahaha...! Aku tidak menduga jika murid dari sekte Pulau Es bisa merasakan keberadaan kami, itu artinya kamu adalah murid berbakat dan calon pendekar hebat dimasa depan! Hari ini adalah hari keberuntunganku."
__ADS_1
Hantu Merah menampakkan dirinya sekaligus memberikan kode kepada kelima anggotanya, dia tidak menyangka jika gadis tersebut benar-benar mengetahui keberadaan nya saat bersembunyi.
"Siapa kalian, dan apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Bing Mei sambil mengalirkan qi ke pedangnya.
"Aku adalah orang yang akan membuat dirimu senang, aku janji jika kamu menurut dan tidak melawan, maka kamu akan mati tanpa merasakan sakit sedikitpun," kata Hantu Merah.
Wajah Bing Mei terlihat buruk, masalahnya dia sama sekali tidak mengenali mereka semua karena mereka semua memakai topeng.
"Aku tidak mengenal kalian, sebaiknya menyingkir lah dan jangan ganggu aku!" kata Bing Mei kemudian melepaskan tebasan pedang ketanah.
Tebasan pedang Bing Mei menciptakan es di tanah, dan es tersebut bergerak maju kearah mereka.
Mereka semua melompat menghindari serangan es yang memiliki banyak runcing di atasnya. Hantu Merah sendiri hanya melayang di udara sambil terkekeh.
"Bagus-bagus tenyata kamu lumayan hebat!" kata Hantu Merah kemudian dia terbang kearah Bing Mei.
Hantu Merah berniat menyerang Bing Mei dengan kuku panjang nya yang berwarna merah, dia terbang dengan sangat cepat. Namun Bing Mei juga melepaskan banyak tebasan yang mengandung energi es kearah Hantu Merah.
Hantu merah terpaksa menghindari serangan tersebut dan terkadang menahannya dengan telapak tangannya.
"Apakah hanya segini saja?" tanya Hantu Merah kemudian dia juga melemparkan kuku-kuku panjangnya kearah Bing Mei.
Kelima bawahan Hantu merah juga ikut melepaskan serangan energi sehingga Bing Mei diserang oleh enam orang dari empat penjuru.
Bing Mei membuat perisai es untuk menahan serangan tersebut, namun tiba-tiba saja ada tiga orang yang datang menahan semua serangan tersebut.
"Kalian...!" Bing Mei kaget bukan melihat kemunculan mereka bertiga yang tiba-tiba saja datang dan membantunya.
"Senior Lou We, Senior Bao Lang dan Senior Mao Li, apakah nenek yang menyuruh kalian untuk mengikuti ku?" tanya Bing Mei, namun tetap menahan perisai nya.
"Benar Nona Bing, ketua Zhihui yang meminta kami untuk mengikuti dan melindungi mu," kata Bao Lang.
"Nona Bing, setelah kami menyerang mereka, segeralah tinggalkan tempat ini!" kata Lou We kemudian dia mengeluarkan sebuah busur panah.
Hantu Merah dan kelima bawahannya juga tidak kalah terkejutnya setelah melihat ketiganya.
Walau mereka bertiga hanyalah para pendekar puncak, namun kekuatan mereka sudah cukup untuk mengalahkan dirinya, walau dirinya adalah seorang pendekar Sihir Bumi, namun ilmunya benar-benar tidak efektif saat siang hari. Akan tetapi masih satu keberuntungan mereka, yaitu mereka menang jumlah.
"Cepat pergi dari tempat ini Nona Bing!" seru Mao Li kemudian dia maju menyerang mereka dengan menggunakan cambuk yang mengeluarkan hawa dingin.
"Nona Bing? Owh, jadi dia adalah cucu Zhihui. Jangan biarkan gadis itu lolos!" seru Hantu merah kemudian dia juga maju menyerang Lou We dengan cakarnya.
Lou We menarik busurnya dan kemudian anak panah yang terbuat dari es melesat ke arah Hantu Merah.
Bing Mei yang berniat pergi mengurungkan niatnya ketika melihat ketiga senior nya sedang berhadapan dengan Hantu merah dan kedua bawahannya.
Qie Yin ingin kembali, namun tiga orang bawahan Hantu merah sudah berada di hadapannya.
"Hahaha...! Mau lari kemana kamu Nona?" kata mereka bertiga sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Mereka tidak tahu jika Bing Mei bisa menghadapi mereka bertiga karena mereka berdua adalah pendekar menengah, sedangkan Hantu Merah adalah pendekar Sihir, sedangkan kedua bawahannya yang saat ini berhadapan dengan Bao Lang dan Mao Li adalah pendekar puncak.
Bing Mei tidak banyak bicara, dia langsung menyerang ketiganya dengan pedang yang sejak awal sudah dialiri qi.
Mereka bertiga jelas tidak siap karena terlalu menganggap remeh Bing Mei sehingga salah satu dari mereka harus tertusuk oleh pedang Bing Mei hingga tubuhnya membeku.
"Kurang ajar, akan aku potong-potong tubuhmu!" seru salah satu dari mereka dan kemudian menghilang dari hadapan Bing Mei.
Bing Mei kebingungan karena tidak melihat salah satu dari mereka, sedangkan satu dari mereka berdua masih ada di hadapannya menyerang Bing Mei terlebih dahulu.
Bing Mei berniat melawan, namun kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan, "Apa yang terjadi?" kata Bing Mei dengan kebingungan, namun dia tidak melihat benda apapun yang menahan kakinya.
Bing Mei terpaksa bertahan dari serangan satu pendekar yang tersisa tanpa berpindah kemanapun, nyatanya Bing Mei masih sanggup menahan serangan tersebut walau tanpa berpindah tempat.
Sedangkan lawannya secara terus menerus menyerang dengan menggunakan pisau kecil yang secara terus menerus dilemparkan ke arah Bing Mei.
Bing Mei yang masih bertahan kini menyadari jika ada sesuatu di banyangan nya. Bing Mei melepaskan energi es dari tubuhnya sehingga tanah disekitarnya menjadi beku.
Bing Mei dapat melihat sesuatu mulai bergerak dari bayangannya, "Di situ kamu ternyata!" kata Bing Mei kemudian menancapkan pedangnya ke bayangnya sendiri.
Setelah pedang tersebut menancap ke bayangannya, suara teriakan dan darah mulai mengalir dari bayangannya.
Tidak lama muncul sosok dari bayangannya yang ternyata adalah salah satu lawannya yang tadi menghilang, namun dengan kondisi paha berdarah.
Bing Mei melihat itu menjadi lengah dan tidak sadar jika sebuah pisau melesat dan mengenai pergelangan tangannya.
"Hahaha...! Kamu lengah gadis bodoh!" kata lawan satunya lagi dengan tertawa senang karena berhasil melukai pergelangan tangan Bing Mei.
Namun dia keliru, bukan nya Bing Mei kesakitan namun justru mengeluarkan hawa dingin yang begitu kuat.
Bing Mei mengangkat tangan kirinya ke atas dan kemudian muncul sebuah tombak yang terbuat dari es dan kemudian melempar tombak tersebut kearah lawannya.
Awalnya tombak itu terlihat satu, namun ketika dilempar, tombak tersebut menjadi 10 dan secara bersamaan menyerang pemdekar yang melukai tangannya dengan sangat cepat.
"Celaka! Ternyata dia berada ditingkat puncak!" gumam salah satu rekannya ketika melihat kesepuluh tombak kini menghujam tubuh rekannya hingga tewas.
Sejak awal dia tidak bisa merasakan tingkat kekuatan Bing Mei, namun ketika pergelangan tangannya terluka, Bing Menunjukkan kekuatan aslinya kepada mereka.
Bing Mei kini berbalik kearah satu musuh yang tersisa dan melangkahkan kakinya dengan menggenggam pedang ditangan kirinya.
Namun sebelum dia berhasil sampai, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan mendadak energinya mulai berkurang sehingga tubuhnya mulai lemas.
"Pisau itu mengandung racun!" Bing Mei baru sadar jika pisau yang menggores pergelangan lengannya ternyata mengandung racun.
Bing Mei jatuh berlutut dengan menggunakan pedangnya sebagai penahan agar tidak terbaring ketanah.
Melihat Bing Mei yang mulai lemas, satu pendekar yang tersisa dengan paha terluka melemparkan beberapa jarum kearah Bing Mei yang sudah hampir tidak sadarkan diri karena keracunan.
Namun sebelum sampai, sebuah gelembung mengurung tubuh Bing Mei membuat jarum-jarum tersebut tidak bisa mengenainya.
__ADS_1
"Apa lagi sekarang?" gerutu pendekar tersebut sambil mengerutkan dahinya.
Dia menoleh keatas dan melihat seorang wanita tua sedang turun kearah Bing Mei, "Pe-pertapa Bulan Xie Wen!" seru pendekar tersebut setelah melihat sosok tersebut yang ternyata adalah Xie Wen, satu dari keempat pertapa.