PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Keselamatan seluruh Alam Semesta


__ADS_3

Chinmi sebenarnya sudah mengetahui nama-nama keempat pondasi itu, namun dia tidak tahu cari membangun dan memperkuat keempat pondasi tersebut.


Saat ini Pondasi yang dimiliki oleh Chinmi adalah Pondasi Tubuh, itupun baru sekitar 70 persen, sedangkan pondasi otot, jiwa dan tulang dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya.


Ke Enam gerbang itu sendiri adalah,


Gerbang Kemurnian.


Gerbang Kekuatan.


Gerbang Kebijakan.


Gerbang Kematian.


Gerbang Kehidupan.


Gerbang Keabadian.


Masing-masing gerbang memiliki pengaruh yang besar bagi jiwa seorang pendekar, namun untuk bisa membuka semua gerbang tidaklah mudah karena seorang Pendekar harus bisa membangun pondasinya hingga sempurna. Jika tidak! maka jangan harap keenam gerbang itu bisa terbuka dengan sempurna juga.


Kebanyakan pendekar keliru dalam membuka keenam gerbang tersebut, ada yang berhenti di Gerbang Kebijakan dan ada juga yang berhenti di Gerbang Kematian.


Namun ada juga yang berhasil membuka semua gerbang namun tidak sempurna karena pondasi mereka tidaklah sempurna.


Gerbang Keabadian Contohnya, seorang pertapa sudah bisa membukanya namun kebanyakan baru 20 dan 30 persen saja begitu juga dengan yang lainnya.


"Jadi sangat sulit ya?" batin Chinmi setelah mendengar semua itu.


Li Wiefu tersenyum tipis mendengar suara batin Chinmi kemudian berkata, "Segala sesuatu yang besar harus bisa didapatkan dengan cara yang sulit. Jika semua orang memahami betapa beratnya hidup didunia yang fana ini, maka mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan kehidupan mereka dangan sia-sia."


"Maksud Kakek?" tanya Chinmi.


Li Wiefu mengatakan jika seluruh manusia di dunia ini kebanyakan hanya menuruti hawa nafsu sepeti harta, ingin lebih kuat, ingin membalas dendam, ingin menguasai, Ingin membunuh dan masih banyak lagi.


Semua orang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri tidak akan pernah bisa menemukan jalan yang ia tuju, mereka justru akan tersesat dan akhirnya dirinya dikendalikan oleh nafsunya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa membuka apapun saat ini karena dirimu masih dikendalikan oleh nafsumu."


Chinmi mengerti akan perkataan Li Wiefu, nafsu yang mengendalikan Chinmi saat ini adalah, dia ingin secepatnya memiliki kekuatan keabadian seperti yang di sampaikan oleh Xi Liyi.


"Ternyata masih belum bisa juga!" gumam Chinmi pelan.


"Iya untuk saat ini kamu memang masih belum bisa. Sebaiknya kamu bersabar dan berlatihlah untuk mengendalikan Hawa nafsumu, jika sudah berhasil mengendalikan hawa nafsumu maka kamu tidak akan kesulitan lagi untuk membangun pondasimu serta keenam Gerbang."


Wajah Chinmi terlihat lesu, "Terimakasih Kakek atas penjelasannya!" ucap Chinmi.


"Tunggu Chinmi, sebelum kamu kembali ke duniamu, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," kata Li Wiefu kemudian berjalan mendekatinya.


"Apa yang Kakek ingin lakukan?" Chinmi terkejut karena tiba-tiba saja Li Wiefu menyentuh kepalanya dengan telapak tangannya.


"Aku akan menunjukkan padamu akan masalaluku hingga aku berakhir menjadi Roh dan sekaligus bahaya yang akan datang di masa depan," ucap Li Wiefu yang masih menyentuh kapala Chinmi.


Chinmi merasakan sesuatu yang hangat masuk kedalam otaknya, dan seketika itu juga dia merasa seperti berada di tempat asing seperti berada dilangit malam yang dipenuhi cahaya bintang, namun kakinya melayang tidak menginjak apapun.


"Dimana lagi ini?" Chinmi kebingungan bercampur takut karena dia sama sekali tidak menginjak apapun.


"Ini adalah ingatanku yang aku kirimkan padamu, karena itu kamu tidak perlu takut karena ini hanya pandangan akan ingatanku saja." kata Li Wiefu.


"Em!!!?" Chinmi masih sulit untuk bisa mengerti kemudian melihat banyak berbagai bola raksasa yang mengambang sepeti melayang-layang di ruang hampa.


"Itu Bola raksasa apa?" tanya Chinmi.


"Itu bukan bola, melainkan sebuah dunia dan yang disana itu adalah duniamu beserta bulannya," kata Li Wiefu menunjuk kearah bola raksasa yang berwarna biru bercampur putih dan ada gambar abu-abu nya.


Chinmi juga merasa heran melihat bola yang Li Wiefu sebut bulan karena cahayanya tidak sama seperti yang Chinmi lihat dan tidak cahaya bulan ternyata tidak seindah yang Chinmi kira.


Saat Chinmi masih merasa takjub dengan semua pemandangan tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang sangat keras.


Groarrr!!!


Chinmi menoleh kebelakang dan melihat seekor Naga Batu Raksasa yang besarnya sangat tidak masuk akal, disetiap celah batu ada api yang menyala-nyala.

__ADS_1


Namun yang membuat Chinmi ketakuatan adalah ukurannya yang sangat besar, bahkan bola-bola raksasa tersebut terlihat kecil jika dibandingkan dengan Sang Naga.


"Apakah itu Hewan Iblis?" tanya Chinmi kepada Li Wiefu.


"Iya dia adalah pemimpin pertama dari pasukan Hewan Iblis!" jawab Li Wiefu.


"Eh siapa itu?" Chinmi melihat ada lima orang yang sedang terbang kearah Sang Naga dan berhenti tepat di hadapannya.


"Bukankah itu kakek? Dan yang itu...!"


Chinmi melihat dari kelima orang tersebut, dia melihat dua orang yang ia kenal, yaitu Li Wiefu dan satunya lagi wanita yang sangat terlihat muda dan cantik yang Chinmi temui di desa Wo, dia tidak lain adalah Xi Liyi.


"Ini adalah masa-masa saat aku masih hidup dan bertarung bersama-sama dengan Lima Orang Pendekar dari Lima Dunia yang berbeda," kata Li Wiefu.


"Lalu bagaimana dengan Pemimpin Hewan Iblis itu?" tanya Chinmi.


"Kami menyebutnya Naga Batu Meteor, ada empat Mahluk yang seperti itu nama mereka adalah Srigala Api Matahari, Elang Es Galaxi, dan yang terakhir Singa Hitam Halilintar.


Keberadaan mereka sangat berbahaya dan bisa menghancurkan seluruh alam semesta dan galaxi-galaxi lainnya.


Karena itu kami berlima berusaha menyegel mereka berempat dan ini adalah makhluk yang terkahir." kata Li Wiefu.


Chinmi juga memperhatikan mereka berlima yang bertarung dengan sangat sengit, "Apakah Kakek ini adalah salah satu yang disebut Lima Dewa yang memiliki kekuatan keabadian?" tanya Chinmi sambil menyaksikan semuanya.


"Begitulah, namun walau aku memiliki kekuatan itu, nyatanya aku masih mati juga," kata Li Wiefu sambil tersenyum kecut.


Chinmi melihat kelima Pendekar tersebut berhasil menyegel Naga Batu Meteor tersebut, namun yang berikutnya terjadi Chinmi melihat Dua orang terhisap ke mulut sang Naga dan menghilang.


"Itulah akhir hidupku, aku mati karena seluruh energi dan tubuhku dihisap, namun beruntungnya Roh ku tidak menghilang karena sempat keluar dari tubuh makhluk terkutuk itu."


"Bukankah mahluk itu sudah disegel, jadi bahaya apa yang Kakek maksud bahaya yang akan datang dimasa depan?" tanya Chinmi.


"Itulah yang ingin aku beritahukan padamu, segel makhluk itu semakin melemah, dan jika sampai makhluk itu berhasil melepaskan diri dari segel Dewa maka kehancuran Alam semesta tidak akan terhindarkan lagi. Jadi hanya lima pendekar berkekuatan dewalah yang mampu menyegelnya atau membunuh mereka," kata Li Wiefu kemudian dia melepaskan tangannya dari kepala Chinmi dan kemudian semuanya kembali seperti semula.


"Kamu adalah penerusku yang akan memiliki kekuatan Dewa dan keselamatan seluruh Alam Semesta ada ditangan kalian berlima nantinya!" kata Li Wiefu mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2