
Lio Long dan Yinfei menikmati hidangan yang disuguhkan di atas meja besar yang terbuat dari emas.
Awalnya mereka terlihat sangat lapar sehingga para pelayan mengeluarkan makanan yang cukup banyak.
Namun nyatanya setelah semua makanan dengan berbagai lauk di keluarkan, mereka berdua justru hanya mengambil sedikit makanan saja sehingga membuat para pelayan istana keheranan.
Xi Liyi dan Lang Yu sudah tahu jika se lapar-laparnya mereka, mereka berdua tidak akan mungkin makan sebanyak yang dibayangkan.
"Senior Yinfei! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu hanya mengirimkan pesan singkat lewat senior Lio Long tanpa ada penjelasan apapun?" tanya Xi Liyi.
Xi Liyi sudah meminta para pelayannya untuk meninggalkan mereka berempat sehingga mereka bisa leluasa untuk berbicara.
"Ini semua tentang mahluk itu yang ternyata selama ini bersembunyi di dunia tempat Chinmi berada!" kata Yinfei.
Xi Liyi dan Lang Yu saling berpandangan dan kemudian Xi Liyi kembali bertanya, "Apakah salah satu mahluk atau..!"
"Semuanya!" Yinfei lebih dulu berbicara dan menjawab pernyataan Xi Liyi.
"Ini terlalu berbahaya, jika sampai si Naga Batu tersebut menyadari keberadaan Chinmi dan sekaligus mengetahui jika Chinmi adalah calon dari salah satu manusia Dewa, maka keselamatan Chinmi akan sangat berbahaya baginya," kata Lang Yu.
"Untuk saat ini sepertinya masih aman karena Ho Chen juga bersamanya!" kata Yinfei.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Xi Liyi.
"Ho Chen memintamu untuk mengawasi Dunia Chinmi saat Ho Chen nanti mulai melatih Chinmi, pastikan tidak satu pun dari mahluk itu pergi dari Dunia itu atau keluar ke galaxy lain, namun kalian tetap harus waspada," kata Yinfei.
"Baiklah aku mengerti, jadi kapan kita kesana?" tanya Lang Yu.
"Sekarang kalian tunggu saja di dunia buatan Lio Long, setelah Ho Chen dan Chinmi kembali, kalian berdua bergegas pergi ke dunia Chinmi dan awasi dunia itu dengan mata Dewa. kalian!" kata Yinfei memberi penjelasan.
"Baiklah mari kita pergi sekarang!" kata Xi Liyi yang tidak ingin berlama-lama berada di sana.
Yinfei mengangguk dan setelah itu Lang Yu pergi sejenak untuk menemui para jendral dan pejabat untuk menyampaikan kepergian mereka berdua.
Jika Xi Liyi dan Lang Yu pergi, Istana akan di jaga oleh beberapa jendral dan satu pendekar hebat, pendekar tersebut adalah murid Lang Yu yang kesaktian nya sangat tinggi.
Setelah semua urusan selesai, Xi Liyi dan Lang Yu pergi bersama Yinfei dan Lio Long untuk pergi ke dunia ciptaan Lio Long.
***
Chinmi saat ini sudah berada di dunianya sendiri, namun masalahnya dia tidak tahu sedang berada di mana.
"Tempat apa ini?"
Chinmi menoleh keberbagai arah, namun dia tetap tidak bisa mengenali tempat tersebut.
Chinmi berada di pinggir pantai, namun bukan wilayah di kerajaan Es Utara melainkan wilayah yang belum pernah ia kunjungi.
Sambil menggaruk kepala kebingungan, Chinmi mulai melayang di udara untuk melihat semuanya dari ketinggian.
Chinmi terbang cukup tinggi hingga daratan di bawahnya terlihat sangat kecil, ini untuk pertama kalinya Chinmi bisa melayang lebih tinggi dari biasanya.
"Sepertinya ini bukanlah wilayah kerajaan Es Utara, tapi pulau apa?" batin Chinmi.
Seingatnya hanya di kerajaan Es Utara saja yang memiliki banyak pulau kecil, namun di kerajaan Es Utara lebih banyak pulau yang tertutupi oleh salju dan juga sebagian ada pulau yang terbuat dari Bongkahan Es yang di satukan.
"Lebih baik aku segera bertanya ke salah satu orang penghuni pulau-pulau ini!"
Chinmi segera turun menuju kearah perkampungan besar yang ada di sebuah daratan yang lebih besar dari pulau-pulau yang lain.
Chinmi turun di atas sebuah pohon kecil yang ada di samping Rumah seseorang dan beruntungnya tidak ada yang melihat dirinya ketika dirinya mendarat.
"Maaf tuan saya ingin bertanya, tempat apakah ini dan di desa ini berada di wilayah kerajaan mana?" tanya Chinmi kepada seseorang yang sedang berjalan melewati dirinya.
Orang tersebut mengamati Chinmi sekaligus merasa heran, namun setelah di amati baik-baik dari wajah hingga pakaian Chinmi, dia baru sadar jika Chinmi bukanlah penduduk kampung tersebut.
"Logat bahasa mu sedikit berbeda, apakah berasal dari tempat lain?" tanya orang tersebut.
Chinmi mengerutkan dahinya setelah mengetahui logat bahasa orang di hadapannya agak berbeda dengan logat bahasanya.
__ADS_1
"Benar tuan, tapi saya tidak tahu ini tempat apa dan berada di wilayah mana!" kata Chinmi.
Walau merasa curiga, namun orang tersebut tetap memberi penjelasan jika dirinya berada di kampung Induk Pulau dan wilayahnya berada di Kerajaan Mutiara Emas.
"Kerajaan Mutiara Emas?"
Chinmi sama sekali tidak pernah mendengar nama kerajaan Mutiara Emas, yang ia tahu hanya ada empat kerajaan yaitu, Bumi Barat, Angin Selatan, Es Utara dan Api Timur.
"Tuan, apakah letak kerajaan Bumi Barat masih jauh dari sini?" tanya Chinmi.
"Kerajaan Bumi Barat? Apakah kamu berasal dari kerajaan itu?" tanya orang tersebut karena terkejut.
Chinmi mengangguk pelan, dirinya yakin jika dirinya muncul di tempat yang mungkin jauh dari tempat keempat kerajaan.
"Kerajaan Bumi Barat itu berada di Benua Daratan Tengah, sedangkan di sini adalah Benua Daratan Utara, dan jarak ke Benua Daratan Tengah membutuhkan waktu selama Tiga Tahun untuk bisa sampai kesana!" kata orang tersebut.
"Benua Daratan Utara? Aku pernah membaca nama-nama tiga benua di perpustakaan, jadi sekarang aku nyasar di sini! Senior Ho Chen kenapa kamu mengirim ku ke tempat yang jauh?" batin Chinmi.
Tiga Tahun perjalan pulang tentu sangat lama, namun Chinmi akan mencoba kembali dengan cara terbang, dia yakin mungkin tidak akan membutuhkan waktu selama itu, namun dia harus mencari tahu arah untuk menuju ke Benua Daratan Tengah itu.
Tidak mungkin dia terbang begitu saja menuju ke arah yang ia tidak tahu, "Tuan apakah di Kampung ini ada yang mengetahui letak arah ke Benua Daratan Tengah?" tanya Chinmi.
"Tidak ada karena kami tidak pernah kemana-mana, jika kamu ingin mengetahuinya, kamu bisa pergi ke Kerajaan Mutiara Emas dan bertanya di sana, atau kamu bisa bertanya langsung kepada Raja Li di sana," kata orang tersebut.
"Raja Li?" Chinmi mengangkat alisnya sekaligus bertanya.
"Raja Li adalah Raja di kerajaan ini, nama lengkapnya adalah Li Shi Yin, dan kami memanggilnya Raja Li."
"Apa mungkin dia berasal dari keluarga yang sama dengan ku?" Chinmi justru memikirkan hal lain.
Dia mengira jika Raja Li Shi Yin mungkin masih satu keluarga, atau masih memiliki hubungan keluarga dengannya karena marga Raja tersebut bermarga Li.
"Terima kasih tuan, jika demikian tolong tunjukkan arah letak kerajaan Mutiara Emas itu pada saya!"
"Kamu pergi saja kearah timur, namun kamu harus menyebrangi beberapa pulau dengan menaiki kapal, dan kamu akan tiba di sana selama lebih dari Dua bulan," kata orang tersebut.
Chinmi segera meninggalkan orang tersebut, setelah dia berada di tempat sepi, Chinmi dengan sangat cepat terbang ke udara, tidak mungkin baginya membuang-buang waktu selama Dua bulan.
Chinmi lebih memilih terbang karena itu akan lebih cepat dari pada harus menaiki kapal, dan dengan kecepatan dan kekuatan yang dimilikinya, Chinmi melesat dengan kecepatan yang tak kasat mata.
***
"Ini kerajaan Mutiara Emas? Kenapa bentuknya mirip dengan kerajaan Bumi Barat?"
Setelah terbang selama Dua Hari, Chinmi tiba di kerajaan Mutiara Emas, ia mengamati istana kerajaan Bumi Barat dari udara.
Dia tidak bisa membedakan apakah kerajaan yang ia lihat itu adalah Istana kerajaan Bumi Barat atau Istana Kerajaan Mutiara Emas, karena bentuk bangunan dan berbagai macam ukirannya sama dengan istana Bumi Barat.
Chinmi secara perlahan turun kebawah, walau banyak pendekar yang bisa terbang seperti dirinya, namun dia tetap tidak mau mendapatkan perhatian dari negara asing,
Chinmi turun di belakang bangunan besar tidak jauh dari istana, dia lebih memilih berjalan kaki dan ingin mendapatkan informasi dari beberapa orang yang mungkin mengetahui letak arah menuju ke Benua Daratan Tengah.
"Di sini orang-orang nya berbeda dari orang yang aku temui di kampung Induk Pulau!" batin Chinmi.
Semua yang berlalu-lalang memilki wajah dan kulit yang berbeda. kebanyakan yang ia lihat adalah orang-orang yang memilki kulit lebih hitam dar kulitnya, dan tinggi badan mereka ada yang hampir mencapai Dua Meter.
"Eh maaf tuan, apakah saya bisa bertanya sesuatu?" tanya Chinmi kepada salah satu orang di berjalan bersama di sampingnya.
Orang tersebut menoleh dan menatap Chinmi dengan heran seolah-olah dia tidak mengerti akan bahasa Chinmi.
"Tuan..!?" panggil lagi Chinmi.
Nyatanya orang tersebut hanya menatap Chinmi dengan expresi tidak peduli karena tidak mengerti akan bahasa Chinmi.
"Hai apa kamu mengerti apa yang di katakan oleh orang itu?" tanya orang yang ditanya oleh Chinmi kepada orang yang lewat di samping nya.
Chinmi terkejut setelah mendengar bahasa mereka yang benar-benar berbeda sehingga membuat Chinmi terdiam dengan perasaan bingung.
Kedua orang yang berkulit sama sedang membicarakan sesuatu yang Chinmi tidak mengerti, sedangkan mereka berdua sesekali melirik Chinmi.
__ADS_1
"Maaf apakah kamu pengunjung di tempat ini?" tanya orang yang lain kepada Chinmi.
Chinmi hanya membuka tutup mulutnya, namun tidak satu bahasa pun keluar dari mulutnya.
Bukan karena tidak ingin berbicara, namun Chinmi sama sekali tidak mengerti terhadap bahasa mereka dan bingung harus menjawab apa.
Dengan perasaan canggung karena bahasanya dan bahasa mereka berbeda, Chinmi tetap berusaha berkomunikasi dengan bahasanya sekaligus dengan gerakan tangannya.
"Maaf aku tidak mengerti akan apa yang kalian katakan!" kata Chinmi berbicara dan sertai dengan petunjuk tangan.
"Owh..! Ternyata kamu dari Benua Daratan Tengah!" kata orang tersebut sehingga membuat temannya hanya bisa menatap rekannya dan juga Chinmi dengan heran.
"Tuan bisa berbicara dengan bahasa ku?" tanya Chinmi yang terkejut ketika orang berkulit hitam tersebut bisa berbicara dengan bahasanya.
"Aku hanya sedikit menguasai bahasa Benua Daratan Tengah, namun jika terlalu cepat, aku tidak bisa!" jawab orang tersebut.
Chinmi hanya mengangguk walau bahasa orang tersebut tidak sesempurna dirinya, namun Chinmi bisa memakluminya.
"Saudaraku, kenapa kamu bisa sampai di sini? Aku yakin kamu bukanlah penduduk dari Kampung Induk Pulau bukan? Karena hanya di sana yang bisa berbicara dengan bahasa ini!"
"Kampung Induk Pulau? Owh iya aku sempat berada di tempat itu!" kata Chinmi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar mu menemui Raja, karena Raja Li juga berasal dari Benua Daratan Tengah, mari!" kata orang tersebut kemudian berjalan duluan.
Rekan orang tersebut hanya bisa melongo dan terlihat linglung, dia benar-benar bingung dan tidak menduga jika rekannya bisa berbicara bahasa seperti Chinmi.
Chinmi mengikuti orang tersebut menuju ke istana, sedangkan teman orang tersebut pergi k tempat lain.
Mereka berdua berhenti di depan pintu gerbang istana, ada dua penjaga pintu berdiri tegak di pinggir kanan dan kiri pintu gerbang dengan mengenakan pakaian prajurit berwarna merah.
"Maaf prajurit, aku ingin bertemu dengan Paduka Raja, tolong sampaikan padanya!" kata orang tersebut.
"Baiklah tunggulah kalian berdua di sini!" kata salah satu penjaga kemudian dia masuk kedalam.
"Apakah kamu mengenal penjaga itu?" tanya Chinmi karena merasa mereka seperti saling kenal, dan satu hal lagi, Chinmi tidak bisa membedakan mereka karena mereka terlihat sama-sama berkulit hitam dan tinggi mereka juga sama apa lagi wajahnya yang tidak bisa di bedakan.
Orang tersebut hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya membuat Chinmi heran, biasanya hanya orang yang di kenal saja yang bisa menemui Raja, dan para penjaga juga biasanya akan menanyakan maksud tujuannya.
"Owh iya aku belum mengetahui namamu, namaku Li Chinmi, siapakah nama mu!" tanya Chinmi sambil menunggu penjaga datang.
"Saudaraku, maaf karena aku juga tidak memperkenalkan diri sebelumnya, Namaku adalah Alkin!" kata orang tersebut.
"Alkin! Senang bisa mengenalmu."
"Begitu juga denganku saudaraku," jawab Alkin.
Setelah beberapa saat penjaga pintu gerbang dan segera menyampaikan kepada Alkin dan Chinmi.
"Paduka Raja menunggu kalian di dalam, silahkan masuk!" kata penjaga tersebut.
Alkin dan Chinmi segera masuk setelah mendapatkan ijin dari Raja untuk masuk.
Setibanya di dalam istana, Chinmi melihat ada tiga orang sedang duduk di sana, satu di singgasana dua lagi berada di kursi samping kanan.
"Panglima Alkin, kenapa kamu kembali kesini, bukankah kamu seharusnya pergi menyusul para pasukan di perbatasan?" tanya seorang pria yang duduk di singgasana dengan pakaian serba mewah.
Chinmi dapat melihat jika itu adalah seorang Raja dan melihat dari kulit serta wajahnya, Raja tersebut sepertinya juga berasal dari Benua Daratan Tengah.
"Maafkan hamba Paduka Raja, Hamba kembali karena ada yang ingin bertemu dengan Paduka," kata Alkin.
Raja tersebut menoleh kearah Chinmi, di mengamati baik-baik namun tidak memiliki kecurigaan sama sekali.
Chinmi sendiri bagai orang bodoh karena sama sekali tidak mengerti akan pembicaraan mereka.
"Orang ini berasal dari Benua Daratan Tengah, dia ingin kembali namun tidak tahu arahnya." kata Alkin.
Raja tersebut mengangguk dan menyapa Chinmi dengan bahasa Benua Daratan Tengah juga.
"Siapa Nama mu dan kenapa kamu bisa sampai di Benua Daratan Utara?" tanya sang Raja.
__ADS_1