PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Rencana pertemuan besar


__ADS_3

Raja Li berusaha untuk tetap tenang sebelum akhirnya menemukan bukti baru akan keterlibatan Basel, yaitu sebuah tanda gambar tato di hitam bergelombang yang melambangkan tanda lautan Darah Hitam.


"Basel, aku tidak menduga jika selama ini kamu sudah membuat bencana di negeri ini, sekarang apakah kamu ingin mengajukan pembelaan?" tanya Raja Li sebelum memfonis Basel beserta ketiga pendekar tersebut.


Basel terdiam sambil menatap kearah Chinmi dengan tatapan penuh dengan kebencian kemudian dia mendekati Chinmi dan berbicara kepada Chinmi.


"Kau bukan berasal dari Benua ini, kenapa kami ikut campur urusan?" kata Basel kepada Chinmi yang tidak mengerti akan bahasa Bandel padanya.


"Basel, sebaiknya kamu membuat pembelaan dan bukan menyalahkan orang lain!" Alkin menegur Basel sekaligus segera berdiri di samping Chinmi.


"Basel, karena kamu tidak mengajukan pembelaan jadi aku akan menghukum mu beserta dengan ketiga orang-orang mu ini! Prajurit bawa mereka semua kepenjara!" seru Raja Li.


"Hahahaha...! Kamu pikir kamu bisa menangkap ku begitu saja Raja bodoh, perlu kamu tahu seharusnya akulah yang pantas menjadi Raja di kerajaan ini bukan kamu!" kata Basel dengan menunjuk Raja Li.


"Basel jaga ucapan mu, jika tidak hari ini juga aku akan menghukum mati atas ke lancangan mu itu!" Alkin langsung berdiri di hadapan Basel.


"Panglima Alkin apakah kamu masih mau menuruti perintah Raja itu? Apa kamu lupa jika kita ini adalah penduduk asli Benua Daratan Utara ini, sedangkan dia adalah pendatang yang berusaha untuk merebut wilayah kita!" kata Basel.


"Basel keserakahan telah membuat mu kehilangan akal, Paduka Raja adalah keturunan asli pendiri kerajaan kita ini, tanpa beliau kita tidak akan menjadi seperti sekarang ini, dan tanah kita tidak akan pernah maju!" kata Alkin berusaha mengingatkan Basel.


"Aku tidak peduli, jika kamu mau mendukung ku, ayo kita bersama-sama melawan Raja ini!" kata Basel.


"Maaf Basel, aku akan tetap bersama Raja, jadi sebaiknya kamu menyerahkan dirimu," kata Alkin.


"Menyerahkan diri? Jangan mimpi, ayo tangkap aku jika kau mampu!" kata Basel kemudian dia mengeluarkan energinya.


"Kau..! Sejak kapan kamu memiliki kekuatan Sihir Elemen Alam?" tanya Alkin setelah merasakan kekuatan Basel yang selama ini ternyata dia sembunyikan.


Para pejabat yang lain dan dua orang Panglima bergegas melindungi Raja Li karena mereka khawatir jika Basel nanti menyerangnya.


Walau Chinmi tidak mengerti akan pembicaraan mereka, namun cukup melihatnya saja dia sudah paham jika Basel berencana untuk melawan.


Basel tanpa banyak bicara segara menyerang Alkin dengan serangan tinju yang sangat kuat, Alkin menahan serangan tinju Basel, namun tenyata serangan Basel sangat kuat sehingga Alkin terseret mundur satu meter kebelakang.


"Aku akan membunuh kalian semua terutama kamu! Aku akan membunuhmu terlebih dahulu," kata Basel menunjuk kearah Chinmi.


Chinmi mengerutkan alisnya saat Basel menunjuk ke arahnya, dia segera mengerti saat merasakan nafsu membunuh Basel mengarah padanya.


Basel tidak menunggu lama, dia langsung menyerang Chinmi dengan pukulan tinjunya yang sangat kuat kearah dada Chinmi.


Bamm!!!


Pukulan Basel tertahan oleh tangan kiri Chinmi karena arah pukulan Basel mengarah ke jantungnya dan sedikit daya kejut yang membuat angin berhembus di dalam istana.


Basel terkejut saat melihat Chinmi menahan serangan tinju terkuatnya dapat ditahan begitu saja tanpa beban oleh Chinmi, sedangkan ketiga mantan Pertapa tidak terkejut sama sekali karena mereka sudah tahu jika Chinmi memanglah sangat kuat.


Basel segera melompat mundur kebelakang, dia menoleh kearah ketiga mantan Pertapa sesaat dan kemudian dia kembali menoleh kearah Chinmi.


Basel baru sadar jika Chinmi mungkin adalah seorang Pertapa, karena ketiga mantan Pertapa saja bisa ia kalahkan.


Alkin dan semua orang dari para pejabat, Panglima perang dan Raja Li sendiri juga tidak kalah terkejut melihat semua itu.


Chinmi berjalan mendekati Basel sehingga membuat Basel semakin mundur dan berusaha menjaga jarak dari Chinmi.


"Aku tidak tahu apa masalah mu denganku, namun karena kamu sudah menyerang ku, maka jangan pernah berharap kamu akan mendapatkan pengampunan dariku!" kata Chinmi kemudian dia begitu saja muncul lebih dekat setengah meter dari Basel.


"Kau harus merasakan pukulan ku juga!" kata Chinmi kemudian dia segera mengarahkan serangan tinju yang sama seperti milik Basel.


Basel yang terlihat panik juga terpaksa menyambut serangan Chinmi dengan tinju yang sama.

__ADS_1


Kedua tinju saling membentur sehingga membuat gelombang kejut yang lebih besar dari sebelumnya.


Basel terlempar jauh dan tubuhnya membentur tiang besar hingga tiang tersebut retak. Basel jatuh ke lantai dan mengerang kesakitan. Dia memegang tangan kanannya dan ternyata tangan kanannya sudah tidak ada karena lengannya sudah hancur.


"A..apa yang.. ter-tarjadi padaku?" gumam Basel sambil menahan rasa sakit di lengannya yang baru ia rasakan.


Alkin dengan cepat menghampiri Basel yang sudah tidak berdaya, dia segera menahannya. dan tidak peduli akan erangan kesakitan yang dirasakan oleh Basel.


"Aku tidak akan melupakanmu, suatu saat nanti aku akan mencari mu dan akan membunuhmu!" kata Basel yang mulai di bawa penjara dengan kondisi luka parah, namun Chinmi terlihat tidak khawatir karena dia sama sekali tidak mengerti atas ucapan Basel.


Setalah beberapa saat, semua sudah kembali tenang. Raja Li kembali duduk di singgasana nya, sedangkan Alkin yang baru datang dari penjara segera menyapa Chinmi.


"Terima kasih atas bantuan mu saudara ku!" kata Alkin.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu kepadaku, lagi pula aku melakukan itu karena sebelumnya dia telah menyerang ku, dan aku hanya membalas sedikit serangannya!" kata Chinmi.


"Sedikit!?" gumam Alkin sambil tersenyum kecut.


"Yang Mulia, jika tidak keberatan bisakah Yang Mulia membantu ku?" tanya Chinmi kepada Raja Li.


"Kamu sudah banyak membantu kami, jadi bagaimana bisa kami menolak untuk membatu mu? Katakan apa yang bisa aku bantu?" tanya Raja Li.


"Yang Mulia, jika yang mulia benar-benar tidak keberatan, tolong bantu kedua Nona yang sudah menjadi korban Darah Hitam itu, pulihkan Nona Jian Ling Kiew dan bantu mereka kembali mendapatkan kehormatan mereka kembali!" kata Chinmi.


"Itu bukan bantuan, mereka berdua adalah rakyat ku, jadi sudah sewajarnya bagiku sebagai Raja untuk menolong mereka, namun karena ini adalah permintaan mu, maka mereka pasti akan mendapatkan kehormatan mereka kembali!" kata Raja Li.


Chinmi mengangguk karena merasa puas atas jawaban Raja Li, dia kemudian berbalik dan berbicara kepada Alkin.


"Suatu saat jika ada waktu datanglah berkunjung ke Benua Daratan Tengah!" kata Chinmi.


"Saudaraku, bagaimana caraku kesana, bukankah sebelumya kami sudah bilang jika kami tidak bisa kesana karena di Samudra Naga Biru ada monster Gurita yang bisa membahayakan siapa saja yang melewatinya!" kata Alkin.


Raja Li langsung bangkit dari singgasananya karena terkejut atas perkataan Chinmi, begitu juga dengan Alkin.


"Benarkah? Siapa yang membunuhnya?" tanya Alkin.


"Seorang Pendekar yang telah membantuku melawan para kelompok Darah Hitam dan sekaligus dia pergi ke Samudra Naga Biru dan membunuh monster yang meresahkan itu!" kata Chinmi.


Raja Li langsung menghampiri Chinmi dan dia masih merasa belum yakin, "Bagaimana aku bisa mempercayai itu jika tidak ada buktinya!" kata Raja Li.


"Yang Mulia, Gurita itu sangat besar, tidak mungkin Pendekar yang membantuku membawa jasad Gurita tersebut kemari!" kata Chinmi kemudian dia berjalan kearah pintu.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak, sekarang aku akan pergi dulu, tapi ingat akan janjimu untuk menolong kedua Nona itu!" kata Chinmi sambil menatap kearah Jian Jing Mi.


"Nona Jian aku akan kembali, mulai sekarang kamu dan sauadarimu akan aman!" kata Chinmi.


"Terima kasih atas bantuan Tuan Muda,saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Tuan Muda!" kata Jian Jing Mi.


"Kamu tidak perlu memikirkan akan hal itu, lagi pula itu sudah menjadi tugasku, jadi sampai jumpa dan jaga diri kalian baik-baik!" kata Chinmi.


Chinmi segera keluar dari istana setelah selesai berpamitan kepada Raja dan yang lainnya.


Alkin sendiri merasa yakin jika sebenarnya Chinmi sedang berbohong, menurutnya pendekar yang ia katakan itu kemungkinan adalah dirinya sendiri, namun dia tidak tahu kenapa Chinmi menyembunyikan akan kekuatannya.


"Panglima Alkin, suruh beberapa orang untuk pergi berlayar menuju ke Samudra Naga Biru!" perintah Raja Li yang ingin memastikan kebenaran perkataan Chinmi.


"Hamba akan melaksanakan nya Yang Mulia!" kata Alkin kemudian dia pergi.


Sedangkan Chinmi berjalan kearah selatan dengan perasaan senang karena sebentar lagi dia akan segara menemui keluarganya yang sudah lama ia rindukan.

__ADS_1


Chinmi terus berjalan mecari tempat yang sepi untuk bisa terbang menuju ke Benua Daratan Tengah. Setalah dia berada di tempat sepi, Chinmi segara terbang dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.


***


Di sekte Pedang Suci Ji Long berkali-kali menghela nafas panjang, semenjak ia mendengar penyerangan kerajaan Bumi Barat yang di lakukan oleh beberapa sekte aliran hitam serta kabar She Chin yang ternyata sudah menjadi seorang Pertapa.


Ji Long selama ini sudah berusaha untuk bisa menembus ke tingkat Pertapa, namun dia sama sekali tidak bisa menembusnya.


"Bagaimana caranya She Chin bisa menembus ke tingkat Pertapa?" gumam She Chin sambil menghela nafas berkali-kali.


"Ketua Ji, selama satu bulan ini aku lihat ketua seperti sedang memikirkan sesuatu! Apakah ada yang menganggu pikiran ketua?" Yong Chun datang dan menegur Ji Long.


"Ah.. Tidak ada, aku hanya berpikir bagaimana caranya agar sekte kita ini bisa lebih kuat dan besar!" kata Ji Long.


"Bukankah sekte kita sudah kuat, memangnya ketua ingin sekte kita sekuat apa?" tanya lagi Yong Chun dengan kebingungan.


"Aku hanya ingin meningkatkan kekuatan para murid-murid kita yang sudah berada di tingkat Menengah 3 bisa secepatnya menembus ke tingkat Puncak!" kata Ji Long.


"Ketua Ji bisa saja, bukankah ketua sudah tahu jika untuk bisa mencapai ketingkat Puncak membutuhkan waktu, hanya murid-murid berbakat saja yang bisa melakukan nya, dan sepanjang yang aku tahu hanya ada beberapa anak murid saja yang bisa melakukan itu!" kata Yong Chun.


Semuanya sudah tahu jika beberapa anak murid yang berbakat hanya di miliki boleh beberapa sekte saja, seperti Bing Mei, Qie Yin, dan Xian Fai.


Namun semua sudah tahu jika generasi baru yang paling berbakat adalah Li Chinmi yang sempat belajar di sekte Pedang Suci.


"Dari semua orang generasi baru yang paling berbakat hanya anak itu saja, aku sendiri tidak menduga jika yang sebelumnya kita anggap tidak berbakat tenyata akan menjadi pendekar hebat," kata Yong Chun.


Ji Long hanya mengangguk walau dari awal dia sudah tahu jika Chinmi pasti akan menjadi seorang pendekar hebat, namun dia tidak menduga jika Chinmi akan memiliki kekuatan besar di saat usianya masih muda.


"Ketua Ji, apakah ketua Ji sudah menerima surat dari Rong'er?" tanya Yong Chun.


"Aku sudah menerimanya namun belum membacanya, karena terus memikirkan sekte aku sampai lupa untuk membaca surat dari Rong'er," kata Ji Long.


"Sebaiknya ketua membacanya lebih dulu, mungkin ada pesan penting yang di sampaikan Rong'er di dalam surat itu!"


"Benar juga! Kalau begitu aku akan mengambilnya dulu!" kata Ji Long.


Ji Long segera pergi kerumahnya yang tidak terlalu jauh, setelah itu dia kembali keluar dengan membawa sebuah gulungan surat yang masih terikat tali berwarna hijau.


Ji Long segera membuka surat tersebut kemudian mulai membacanya, kedua alis Ji Long naik turun dan terkadang mengerutkan dahi saat membacanya.


Setelah selesai membaca isi surat tersebut, Ji Long hanya menghela nafas panjang, sedangkan Yong Chun sangat penasaran akan isi dari surat Yue Rong.


"Ketua, apakah semua baik-baik saja?" tanya Yong Chun.


"Aku tahu ini akan berlanjut, aku hanya tidak menduga jika sekte aliran hitam secara terang-terangan ingin bersatu dan akan menyerang kerajaan Bumi Barat," kata Ji Long.


"Apa maksudnya?" Yong Chun sama sekali tidak mengerti.


Ji Long menyerahkan surat tersebut kepada Yong Chun agar dia membaca sendiri, setelah Yong Chun membuka surat Yue Rong tenyata surat itu hanya sebuah tulisan singkat yang harus dicari arti dari kalimat yang di tulis oleh Yue Rong.


"Pedang jatuh dari langit, dan bumi akan segera hancur, hanya seikat sapu lidi yang bisa menghentikan kehancuran bumi."


"Ketua apa artinya ini?" tanya Yong Chun.


"Pedang jatuh dari langit artinya adalah perang yang akan terjadi, sedangkan bumi akan segera hancur artinya adalah Kerajaan Bumi Barat akan terjadi perang, sedangkan hanya seikat sapu lidi yang bisa menghentikan kehancuran bumi artinya adalah hanya gabungan sekte aliran putih yang bisa menghentikan perang!" kata Ji Long.


"Benarkah? Jika pesannya seperti itu artinya sekte aliran hitam mungkin sudah bersatu dan Ingin menyerang kerajaan Bumi Barat secara terbuka, jadi hanya sekte aliran putih yang juga harus bersatu untuk menghentikan perang itu! Apakah seperti itu?"


"Benar sekali, namun kita juga tidak bisa memperediksi apakah bersatunya sekte aliran putih bisa menghentikan perang atau tidak, menurutku ini hanya untuk mengimbangi kekuatan meraka saja!" kata Ji Long kemudian dia menoleh kearah Yong Chun.

__ADS_1


"Saudara Yong, aku akan menulis beberapa surat dan segera perintahkan beberapa anggota kita untuk menyerahkan surat-surat itu kepada semua ketua sekte aliran putih dan netral!" kata Ji Long yang berencana untuk melakukan rencana pertemuan besar seluruh sekte.


__ADS_2