
***
Raja Bao yang sejak kekacauan dimulai sudah berada di dalam istana dengan pengawalan. Raja Bao sangat sulit mencerna semua kekacauan yang terjadi.
Raja Bao terkejut setelah mendapatkan laporan jika Pedang Naga Langit saat ini dipegang oleh salah satu Pendekar yang masih sangat muda, bahkan anak muda tersebut bisa menggunakan kemampuan dari pedang Naga Langit.
"Apakah pendekar muda itu salah satu dari peserta yang mengikuti pertandingan?" tanya Raja Bao kepada prajurit yang melapor.
"Tidak tahu Yang Mulia, saya sama sekali tidak mengenali pemuda tersebut, namun yang jelas kita bisa memenangkan pertarungan ini karena para Pertapa dan juga Naga Hitam, di tambah dengan pendekar muda yang menggunakan pedang Naga Langit itu Yang Mulia," kata Prajurit tersebut namun dengan menundukkan kepalanya.
"Aku akan pergi untuk menemui Para Pertapa dan juga Pendekar muda yang memegang Pedang Naga Langit itu, sedangkan kau panggil para tabib istana untuk mengobati para Prajurit dan juga pendekar yang sedang terluka," kata Raja Bao kemudian ingin keluar untuk menemui Pendekar muda yang dimaksud.
"Yang Mulia, sebaiknya anda jangan dulu keluar, biar saya saja yang pergi kesana!" Long Peng menghentikan langkah Raja Bao.
"Perdana menteri, tidak apa-apa biar aku saja yang pergi untuk menemui mereka, sebaiknya kamu membantu para korban yang terluka."
Raja Bao melangkah pergi keluar dan kawal oleh 10 prajurit elit pilihan yang memiliki kekuatan Menengah 3.
Sesampainya diluar, Raja Bao terkejut melihat seluruh lapangan pertandingan yang sebelumnya terang, rapi dan banyak orang yang berkumpul untuk menyaksikan jalannya pertandingan kini porak-poranda akibat kekacauan yang terjadi.
Tembok yang berdiri kokoh dan tinggi kini terlihat hancur bagai terkena tembakan meriam yang sangat besar, dan banyak sekali jeritan tangis orang-orang yang terluka, dan ada juga yang menangis kerena di rekan atau saudara mereka yang meninggal, bahkan ada yang terus-menerus menatap langit sambil menangisi teman mereka yang sudah terhisap oleh pusaran hitam.
Raja Bao merasa sangat bersalah, bagaimana mungkin acara pertandingan yang ia adakan yang seharusnya berakhir dengan suka cita kini berakhir dengan duka.
"Yang Mulia, seharusnya anda jangan dulu keluar!" Jendral Lao Shi menghampiri Raja Bao.
Jendral Lao Shi sendiri mengalami banyak luka du sekujur tubuhnya, Zirah yang ia kenakan juga hanya tinggal sebelah saja.
__ADS_1
"Jendral Lao, aku hanya ingin bertemu dengan para Pertapa yang telah menolong kita, dan juga aku ingin bertemu dengan pendekar muda yang bisa menggunakan Pedang Naga Langit itu, jadi dimana mereka?" kata Raja Bao.
"Mereka berada di luar tembok Yang Mulia," kata Jendral Lao Shi dengan menahan beberapa lukanya.
"Baiklah terimakasih Jendral Lao, aku akan kesana!"
"Yang Mulia, ijinkan saya ikut menemani Yang Mulia!" pinta Jendral Lao Shi.
Raja Bao menatap jendral Lao Shi dari atas sampai bawah kemudian tersenyum lembut padanya, "Terimakasih Jendral Lao, namun sebaiknya kamu beristirahat dan mengobati luka-lukamu itu, lagi pula aku sudah di temani oleh meraka, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."
"Tapi Yang Mulia..!"
"Jendral, apa yang kamu khawatirkan, lagi pula pertempuran telah usai, dan yang akan aku temui ini adalah para Pertapa, jika mereka ingin mencelakai aku, jangankan kamu, bahkan seluruh pendekar kuat yang berada di wilayah Kerajaanku tidak akan sanggup menghentikan salah satu dari mereka semua," kata Raja Bao.
"Ma-maafkan hamba Yang Mulia!" Jendral Lao Shi merasa tidak enak hati karena ke khawatirannya memang terlalu berlebihan.
Sesampainya diluar tembok, Raja Bao sangat kebingungan, dia melihat diluar tidak ada satu mayat pun yang terlihat, kecuali para prajurit yang sedang berdiri di dekat meriam namun mengalami luka juga.
"Bukankah pasukan Hewan Iblis dibantai diluar, kenapa hanya ada satu mayat Hewan Iblis saja?"
Raja Bao mengira akan ada ratusan atau ribuan mayat Hewan Iblis yang berada diluar, namun nyatanya hanya ada satu mayat Elang Hitam saja yang tergeletak dikelilingi oleh lima orang dan satu Hewan Iblis berbentuk Naga berwarna Hitam.
Para prajurit yang sedang membantu rekannya yang terluka segera beri memberi hormat kepada Raja Bao, setelah melihat Raja mereka berjalan melewati mereka.
"Terimakasih atas perjuangan kalian yang telah mempertahankan Kerajaan ini, sekarang istirahatlah kalian semua!" kata Raja Bao kepada ratusan prajurit yang berlutut dihadapannya.
"Terimakasih Yang Mulia..!" jawab mereka dengan nada lemah karena lelah.
__ADS_1
Raja Bao kembali berjalan kearah lima orang yang sedang berbicang-bincang dengan seekor Naga Hitam yang berdiri dihadapan kelima orang tersebut, dan salah satu dari mereka yang terlihat berumur belasan tahun menoleh kearahnya yang berjalan kearah mereka.
"Em.. terbuat benar pedang itu ada padanya!" gumam Raja Bao setelah melihat Pedang Naga Langit berada ditangan pendekar muda tersebut, pendekar muda yang ia lihat tidak lain adalah Chinmi.
***
"Anak kecil, apa yang kamu lakukan?" Hei Long bertanya kepada Chinmi dengan nada murka setelah melihat Chinmi membelah leher mayat Hei Ying.
Chinmi mengambil mustika Hei Ying yang berwarna hitam karena Mustika Hewan Iblis yang memiliki tingkat kekuatan Pertapa akan memiliki Mustika yang besar dan berwarna hitam gelap.
Ukuran mustika hitam milik Hei Ying sebesar dua kepalan tangan orang dewasa jika digabungkan, itu karena umur Hei Ying yang sangat tua dan juga kekuatannya yang sangat tinggi.
"Naga Hitam, biarkan saja dia mengambil mustika Elang Hitam, lagi pula Elang Hitam sudah mati!" kata Fan Yuzhen.
"Fan Yuzhen, walau Hei Ying adalah musuh, namun aku tidak akan membiarkan siapapun bertindak seenaknya terhadap mayat saudaraku itu," kata Hei Long dengan nada semakin murka.
"Naga Hitam, maaf jika saya melakukan hal yang membuatmu tidak senang, jika memang Elang Hitam ini sahabat atau saudaramu, namun menurutku dia tetap saja sudah mati. Lagi pula sebagai sahabat tentunya kamu tahu jika sahabat sejati tidak akan benar-benar mati!" kata Chinmi sambil menyimpan Mustika hitam kedalam permata kalungnya.
Semuanya menatap Chinmi dengan heran, bukan karena ucapannya, melainkan karena Mustika Hitam yang menghilang dari mata mereka.
Para Pertapa lain sebenarnya ingin memiliki Mustika Hitam tersebut, namun karena yang membunuhnya adalah Naga Hitam, mereka sedikit ragu untuk mengambilnya.
Namun Chinmi tanpa ada rasa sungkan mengambil mustika hitam tersebut kerena menurutnya, Naga Hitam tidak mungkin membutuhkannya.
"Apa maksudmu?" Hei Long terlihat tidak peduli akan kemana mustika hitam milik sahabatnya itu menghilang dari tangan Chinmi.
"Yang aku maksud, jika memang dia itu sahabat sejatimu, maka sahabatmu itu masih lah belum mati, setidaknya selama kamu masih menganggap Elang Hitam Sebagai sahabatmu, maka dia akan terus hidup didalam hatimu, dan selamanya akan tetap hidup! Begitulah yang dikatakan ayahku," kata Chinmi sambil menatap Naga Hitam.
__ADS_1
Hei Long terdiam sesaat, yang dikatakan Chinmi memang cukup masuk akal. Hei Ying mungkin sudah mati, namun sosoknya sebagai sahabat akan tetap ia ingat selamanya.