
"Maafkan saya Yang Mulia! Nama saya adalah Chinmi, saya tidak sengaja terdampar di sebuah pulau, karena itu saya bisa berada di sini!" kata Chinmi.
"Hem Bahasa mu sangat kental, itu berarti kamu benar-benar dari Benua Daratan Tengah! Aku hanya heran kenapa kamu bisa selamat jika melewati laut hingga sampai di tempat ini!" kata Raja tersebut.
"Maksud Yang Mulia?" tanya Chinmi.
"Di lautan lepas sana tepatnya di Samudra Naga Biru, banyak sekali kapal yang tenggelam, menurut berita yang beredar, monster gurita raksasa di sana, sudah banyak para pendekar yang mati di sana, bahkan ada dua Pertapa yang juga mati terbunuh saat berusaha untuk menaklukan gurita itu!"
Penjelasan Raja tersebut membuat Chinmi berpikir jika kemungkinan mahluk tersebut bukanlah mahluk biasa, jika dua pertapa saja bisa di bunuh, berarti kekuatannya melebihi kekuatan para Pertapa.
"Saya tidak tahu akan masalah itu Yang Mulia, namun maaf jika saya lancang bertanya, apakah Yang Mulia juga berasal dari Benua Daratan Tengah, dan benarkah Yang Mulia bermarga Li?" tanya Chinmi.
"Benar Nama ku adalah Li Zhi Yin. Dulu kakek buyut ku berasal dari Benua Daratan Tengah, mereka pindah kesini saat Kakek ku masih sangat kecil dan menetap di sini. Kakek ku yang sudah berkeluarga mendirikan istana hingga akhirnya aku yang menjadi keturunan terakhir yang menduduki istana ini," kata Raja Li.
"Dahulu kala? Apakah Yang Mulia mengetahui nama-nama orang kerabat Yang Mulia di Benua Daratan Tengah?" tanya Chinmi, dia berpikir jika Raja Li Shi Yin mungkin masih ada hubungan dengan keluarganya.
"Aku tidak tahu, sudahlah apakah kamu kesini hanya untuk mengetahui silsilah keluargaku?" tanya Raja Li dengan wajah malas.
"Ehh maafkan Hamba Yang Mulia, baiklah mari kita kembali ke topik awal, kearah mana jika ingin kembali ke Benua Daratan Tengah?" tanya Chinmi yang kembali ke topik awal.
"Jika kamu ingin kembali, kamu harus pergi kearah Selatan, namun kamu butuh kapal untuk bisa menyebrangi lautan, seperti yang aku ceritakan tadi kamu tidak akan mungkin bisa sampai karena di Samudra Naga Biru ada gurita Raksasa yang mungkin akan menyerang mu!" kata Raja Li.
"Apakah tidak ada kapal penumpang atau barang yang pergi kesana?"
"Apa kau bergurau, sudah lebih dari lima tahun kapal dari sini tidak menyebrang ke Benua Daratan Tengah, lagi pula siapa yang berani menyebrang dan melewati Samudra Naga Biru itu?"
Chinmi hanya terdiam, dia hanya bertanya saja namun dia tidak berencana untuk menaiki kapal karena hanya akan memperlambat waktu saja.
"Ke arah selatan ya! Kalau begitu terima kasih atas petunjuk dari Yang Mulia, saya mohon pamit untuk segera kembali ke Benua Daratan Tengah!" kata Chinmi yang membungkukkan badan dan berencana untuk pergi.
"Tunggu dulu! Apakah kamu yakin ingin kembali? Dengan apa dan bagaimana caranya kamu kembali?" tanya Raja Li.
"Emm.. mungkin saya akan merakit perahu kecil dan akan berlayar kesana!" kata Chinmi dengan tenang.
"Hah...!?"
Raja Li dan Alkin sama-sama saling berpandangan, namun kedua orang yang sejak tadi terlihat kebingungan dengan bahasa mereka sehingga tidak menunjukan keterkejutan seperti Raja Li dan Alkin.
"Jika demikian ijinkan hamba untuk pergi!" kata Chinmi.
Melihat tidak ada jawaban dan reaksi dari Raja Li dan Alkin, Chinmi segera keluar dari dalam istana.
Saat Chinmi sudah tidak ada, barulah Raja Li tersadar, "Panglima Alkin, apakah dia itu serius ingin menggunakan perahu rakitan?" tanya Raja Li dengan bahasa Benua Daratan Utara.
"Saya tidak tahu Paduka Raja, mungkin saja dia hanya asal bicara saja!" jawab Alkin.
"Jika sampai dia berhasil melewati Samudra Naga Biru, itu artinya moster gurita itu mungkin sudah tidak ada,"
"Paduka Raja, jika menggunakan kapal besar saja membutuhkan waktu hingga Tiga Tahun, lalu bagaimana jika dia hanya menggunakan perahu kecil? Bukankah akan memakan waktu hingga Lima tahun untuk bisa sampai, itupun jika dia selamat!" kata Alkin.
Dia juga tidak habis pikir jika Chinmi akan benar-benar menyebrangi Samudra hanya dengan perahu rakitan, itu sama seja dengan mengantar nyawa, belum lagi ombak besar yang akan di lewatinya.
"Dari pada Paduka Raja Memikirkan Hal itu, lebih baik Paduka Raja Memikirkan para prajurit kita yang saat ini sudah terkepung di perbatasan!" salah seorang yang sejak tadi diam kini ikut angkat bicara.
"Ah aku sampai lupa! Panglima Alkin, segara kamu berangkat untuk menjemput para pasukan kita yang terluka di perbatasan, pastikan kamu juga membawa Seribu pasukan untuk memberikan kekuatan tambahan kepada para pasukan kita di sana!" kata Raja Li.
Alkin segera pergi setelah mendapat kan perintah kembali dari Raja Li untuk menjemput para pasukan yang terluka karena perang di perbatasan wilayah.
Tidak hanya di Benua Daratan Tengah saja yang terjadi perang antar Kerajaan, bahkan di Benua Daratan Utara juga sedang terjadi perang perebutan batas wilayah.
Lawan dari kerajaan Mutiara Emas adalah Kerajaan Bulan yang di pimpin oleh seorang Ratu bengis dan sombong. Ratu tersebut bernama Ratu Adama.
Sesampainya di luar, Alkin berusaha mencari keberadaan Chinmi terlebih dahulu, namun dia tidak melihatnya, "Mungkin dia sudah jauh!' batin Alkin kemudian pergi untuk membawa seribu pasukan menuju ke perbatasan.
__ADS_1
***
Saat keluar dari dalam istana, Chinmi ingin segera terbang ke selatan, namun masalahnya masih banyak para prajurit yang berlalu lalang membawa tombak mereka.
Chinmi terpaksa berjalan kaki keluar dan berencana untuk terbang di tempat sepi.
Setelah berada di luar istana, Chinmi melihat ada kerumunan orang seperti sedang melihat sesuatu.
Karena dia juga merasa ingin tahu, Chinmi mencoba untuk melihat dan menerobos masuk di kerumunan orang-orang berkulit hitam dan bertubuh tinggi dan berotot tersebut.
Setalah berhasil menembus kerumunan Chinmi terkejut setelah bukan main melihat pemandangan di hadapannya.
"Apa-apaan!?" jerit Chinmi saat melihat hal itu.
Chinmi melihat seorang wanita berusia kurang lebih 25 tahunan sedang di ikat dengan baju yang robek-robek, bahkan paha serta berbagi kulit dalamnya hampir terlihat.
Yang bikin terkejut lagi, wanita tersebut seperti berasal dari Benua Daratan Tengah, kemungkinan besar wanita tersebut memang berasal dari sana.
"Tuan dan Nyonya semua, ini adalah gadis yang kami tangkap dari salah satu pulau di dekat Kampung Induk Pulau, ayo siapa yang berani membayar mahal, aku akan menyerahkannya, aku akan membuka harga 10 lembar kertas merah!" kata orang tersebut.
Chinmi sama sekali tidak mengerti akan perkataannya, dia berusaha mengamati semua orang yang ada di sana dan pandangannya jatuh kepada salah seorang bertubuh pendek sama dengannya dan berkulit putih.
Chinmi yakin walau wajahnya tertutupi kain, dia mungkin adalah salah satu orang yang akan mengerti bahasanya.
"Maaf, apakah tuan bisa mengerti bahasa saya?" tanya Chinmi.
Orang tersebut kaget dan menoleh ke arah Chinmi, "Ssstt, kecilkan suaramu, aku mengerti bahasa mu jadi pelankan suaramu agar mereka tidak mencurigai ku!" kata orang tersebut yang ternyata seorang wanita.
"Kau, kenapa kamu menutup wajah? Dan apakah kamu mengerti perkataan orang itu?" tanya Chinmi.
Wanita tersebut mengangguk kemudian menterjemahkan bahasa orang tersebut sekaligus menjelaskan akan apa yang sudah terjadi.
Nama perempuan tersebut bernama Jian Jing Mi, sedangkan yang wanita yang terikat dengan kondisi memilukan itu bernama Jian Ling Kiew.
Mereka berencana akan dijual sebagai budak, atau jika tidak akan dijadikan wanita penghibur, saat di perjalanan mereka berdua berhasil melarikan diri, namun naas karena Jian Ling Kiew sedang lemah akhirnya tertangkap.
Jiang Jing Mi berniat menolong saudarinya, namun saudarinya menyuruhnya untuk pergi, dengan berat hati, Jiang Jing Mi terpaksa pergi untuk mencari bantuan.
Namun tidak satu orang pun yang berani untuk membantu nya karena penculik tersebut ternyata sangat di kenal dengan kekejaman nya.
Semua penculik tersebut berjumlah 15 orang, dan mereka di kenal sebagai Darah Hitam, mereka adalah organisasi gelap yang sangat liar dan kejam.
Saat Jian Jing Mi sudah tidak memiliki harapan karena tidak mendapatkan bantuan, saat itu dia berniat untuk kembali dan mencari cara untuk menolong saudarinya.
Namun ternyata Jian Jing Mi harus melihat pemandangan yang memilukan, karena kemarahan mereka terhadap saudarinya, di tambah lagi lolosnya dirinya.
Mereka melecehkan Jian Ling Kiew, tidak satupun dari mereka yang peduli akan tatapan dan tangisan Jian Ling Kiew, mereka semua melampiaskan nafsu bejat mereka kepada saudari nya.
Jian Jing Mi ingin menjerit namun dia tidak bisa mengeluarkan suaranya sehingga dia berusaha mencari akal agar bisa menyelamatkan saudarianya.
"Bagaimana dengan Raja Li, apakah dia mengetahui akan masalah ini!" tanya Chinmi.
Jika dilihat-lihat mereka menjualnya Jian Ling Kiew di tempat terbuka, mustahil jika Pihak kerajaan tidak mengetahui akan hal itu.
"Setahuku, mereka dilindungi oleh pejabat istana, kemungkinan laporan yang sampai kepada Raja adalah laporan lain!" jawab Jian Jing Mi.
"Dimana-mana kejahatan pasti ada, aku ingin membantu mu, tapi uang yang kalian pakai berbeda dengan uang ku!" kata Chinmi.
"Tuan, jika tuan bisa tolong selamatkan saudari saya tuan, saya tahu Tuan bukan penduduk dari kerajaan ini!" kata Jian Jing Mi dengan tatapan penuh harap.
"Aku mungkin bisa menolong mu, namun tidak dengan menggunakan uang, melainkan dengan cara lain!" jawab Chinmi.
Mata Jian Jing Mi melebar karena merasa memiliki harapan, "Lakukanlah tuan, aku akan membayar berapapun yang tuan minta, jika aku tidak punya uang, aku siap memberikan tubuhku kepada tuan!" kata Jian Jing Mi.
__ADS_1
Chinmi terkejut mendengarnya, dia memandangi tubuh Jian Jing Mi dari atas sampai bawah.
"Memangnya apa gunanya memberikan tubuhmu padaku?" tanya Chinmi.
Jian Jing Mi tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar pertanyaan Chinmi, "I...i-itu..!"
Jian Jing Mi kehabisan kata-kata, dia tidak menduga jika pria semuda dan setampan Chinmi bisa-bisa tidak mengerti akan hal itu.
"Sudahlah Nona Jian, kamu tidak perlu membayar ku, yang terpenting sekarang adalah menolong saudari mu terlebih dahulu!" kata Chinmi kemudian dia mengamati kesekelingnya.
"Ini mustahil, tidak ku sangka jika di sini Pertapa sebanyak ini!" gumam Chinmi saat merasakan ada sekitar tiga pertapa berada di tempat itu.
Para pertapa akan selalu di agungkan dan di hormati oleh semua pendekar, dan pertapa biasanya akan muncul atau berkumpul bila ada bahaya yang mungkin bisa menghancurkan sebuah wilayah.
Masalahnya tidak ada masalah serius, lalu kenapa ada tiga Pertapa yang berkumpul di tempat yang sama.
Chinmi mencoba memeriksa kembali dan ternyata masih ada tiga lagi, namun mereka terpencar cukup berjauhan.
"Apakah Benua Daratan Utara memiliki kekuatan sebanyak ini?" gumam Chinmi.
Chinmi menatap ke arah Jian Ling Kiew dengan tatapan sedih, dia bisa melihat sorot mata Jian Ling Kiew yang seperti kehilangan harapan untuk hidup.
"Chinmi, dunia mu adalah tanggung jawab mu, tidak peduli daerah manapun, namun tetap itu masih satu dunia dengan mu, jadi tegakkan kebenaran tanpa harus membedakan apakah dia dari golongan orang baik atau buruk, jika memang mereka melakukan kesalahan maka hukumlah lah dia sesuai dengan kesalahannya."
Chinmi terkejut dengan suara yang tiba-tiba terbesit ke telinganya, dia mencoba melihat ke sekelilingnya, namun tetap saja dia tidak melihat atau menemukan orang yang berbicara padanya.
Chinmi tahu jika Long Wang dan Diyu Hu bisa berbicara lewat pikirannya, namun mereka berdua saat ini berada di dalam kalungnya.
"Benar sekali, ini adalah dunia ku, sudah sepantasnya aku melindungi dunia ku dari kejahatan apapun," gumam Chinmi kemudian dia berbicara kepada Jian Jing Mi.
"Nona Jian, tolong terjemahkan bahasa ku ini," kata Chinmi kemudian dia berjalan menuju kerah Jian Ling Kiew.
"Hai tuan, apakah kamu akan membelinya, sejauh ini sudah ada 50 lembar kertas merah yang menawarinya!" kata salah satu orang yang berdiri dan menawarkan kepada semua orang termasuk Chinmi.
Chinmi tidak menghiraukannya, bukan karena tidak menghiraukannya melainkan tidak mengerti akan bahasanya, dia justru melepaskan tali yang mengikat tangan serta kakinya
"Hai...! Apa yang kamu lakukan?" pria hitam tersebut terkejut bukan main melihat Chinmi yang tiba-tiba saja melepaskan tali yang mengikat Jian Ling Kiew.
"Cepat hentikan dia..!" kata orang tersebut.
"Nona Jian, tolong pegang dan terjemahkan bahasa ku!" kata Chinmi.
Jian Jing Mi segera memegang tubuh Jian Ling Kiew yang terlihat seperti trauma, sedangkan Chinmi kini berhadapan dengan ke Lima Belas orang hitam tersebut, dan mereka semua memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar Sihir Elemen Alam, andai ke lima belas orang itu berada di satu sekte saja, maka sekte tersebut pasti akan menjadi sekte yang paling besar dan kuat.
"Aku tahu jika di sini ada tiga pertapa, sebaiknya kalian keluar, jika tidak jangan salahkan aku jika nanti aku yang menghampiri kalian!" kata Chinmi.
Jian Jing Mi segera menterjemahkan bahasa Chinmi dengan kata yang sama sehingga membuat ke Lima Belas Darah Hitam terkejut bukan main.
"Hahaha...! Kamu tidak perlu mencari penerjemah seperti itu karena aku juga bisa berbahasa Benua Daratan Tengah!" kata salah satu orang yang muncul dari tempat kerumunan.
"Tidak ku sangka ada pendekar dari Benua Daratan Tengah yang ikut turun tangan disini!"
Dua orang lagi melayang dari kerumunan dan turun tepat di hadapan Chinmi.
Chinmi mengerutkan dahinya saat melihat ke Lima Belas Darah Hitam serempak berlutut di hadapan Ke tiga Pertapa tersebut.
"Hormat kepada Pimpinan!" kata mereka serempak.
Jian Jing Mi menterjemahkan kepada Chinmi sehingga Chinmi mengerti jika ketiga Pertapa itu kemungkinan adalah pendiri dari Darah Hitam.
"Pantas sejak tadi kalian diam saja, ternyata kalian adalah para pertapa yang gila dunia!" kata Chinmi.
"Jaga ucapan mu anak muda, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa mengetahui jika kami bertiga adalah para Pertapa, namun tetap saja kamu harus berhati-hati jika berbicara kepada kami, jika tidak kamu tidak akan pernah bisa kembali ke Benua Daratan Tengah lagi," kata salah satu dari mereka.
__ADS_1